
Meski Raiden baru bergabung dengan anggota baru Guild Singa Emas yang lain, namun karena kemampuannya yang mengagumkan----Tuan Kanae pun berada dalam suasana hati yang baik.
Yuna, Nara dan para pemain yang lainnya diizinkan kembali ke kamar mereka masing-masing untuk bersih-bersih sekaligus beristirahat. Kehadiran Raiden dapat dikatakan menjadi penolong bagi mereka.
Raiden sendiri diajak oleh Tuan Kanae untuk berbincang-bincang hanya berdua. Malam itu terlihat sangat indah, apalagi dengan bulan yang bersinar terang.
Tuan Kanae membawa Raiden ke halaman belakang Guild. Itu merupakan sebuah lokasi yang memiliki danau dengan tanaman teratai dan beberapa bunga-bunga air. Terdapat sebuah jembatan yang menjadi penghubung Paviliun Guild Singa Emas dengan bangunan tempat Raiden tinggal.
Di tepi danau, ada sebuah meja dan kursi batu. Raiden memang pernah ke bagian belakang bangunan Guild, tetapi dia tidak pernah berjalan sejauh ini. Jujur, tempat seperti ini belum pernah dia lihat.
Raiden kagum melihat pemandangan di depannya. Lampu-lampu dengan cahaya kuning keemasan semakin menambah keindahan tempat ini. Dia pun duduk di salah satu kursi dan masih dengan raut wajah yang kagum saat Tuan Kanae ikut duduk di seberangnya.
"Ini..." Perhatian Raiden tertuju pada teko dan tiga gelas perak di atas meja. Dia melihat ketika Tuan Kanae mengangkat teko itu dan mulai menuangkan isinya ke dalam gelas.
"Sebelumnya aku sudah menyiapkan ini semua..." Tuan Kanae berujar, dia pun lantas bertanya. "Berapa usiamu?"
"19 Tahun," jawab Raiden.
Tuan Kanae berkata, "Baguslah. Aku jadi tidak merasa bersalah jika mengajakmu minum-minum. Ini adalah anggur terbaik yang bernama 'Senyum Kaisar'. Rasanya seimbang dengan betapa sulitnya anggur ini di dapat,"
"Benarkah?" Raiden terlihat antusias, "Pasti ini sangat mahal? Kenapa Anda mengeluarkan anggur seluar biasa ini?"
"Jadi kau tidak mau?"
"Ah... Aku tidak bilang begitu," Raiden tersenyum dan berterima kasih. Dia pun mencoba mencicipinya sedikit dan terkejut karena rasanya benar-benar enak.
Tuan Kanae juga mulai ikut minum dan kemudian tertawa ringan, "Sebenarnya aku tidak pernah mengeluarkan harta berhargaku ini. Tidak kubiarkan siapa pun mencobanya, tapi berbeda dengan malam ini. Aku sangat kagum padamu,"
"Anda terlalu memuji,"
"Jadi, Raiden?" Tuan Kanae kembali bertanya, "Kau sebelumnya apa pernah bergabung dengan sebuah Guild atau memang hanya Guild Singa Emas ini yang kau masuki?"
"Aku hanya pemain yang sering berkelana ke kebun-kebun lain dan mengumpulkan token. Ini pertama kalinya aku bergabung dengan sebuah Guild. Sebenarnya, aku ingin pergi ke Wilayah Tengah."
"Wilayah Tengah adalah lokasi Pohon Ash. Kau berniat mengambil misi di sana?"
Raiden mengangguk, "Benar. Tapi aku tidak bisa pergi sendirian. Peraturannya, pemain harus masuk sebuah Guild dan bersama-sama membentuk tim agar dapat pergi ke Wilayah Tengah."
Tuan Kanae memang bisa melihat bahwa pemuda di depannya merupakan orang yang mempunyai semangat bertarung. Raiden juga seperti punya lebih banyak ambisi dan sosok yang tidak bisa diam di suatu tempat.
Tuan Kanae menuangkan anggur kembali dan meminumnya sebelum berkata, "Yang kutahu selama ini, para pemain di Elvort Garden adalah mereka yang tidak lagi diharapkan di dunia nyata, mereka yang kecewa dengan manusia di dunia itu, dan mereka yang ingin lari dari masalah. Tapi kau sepertinya tidak masuk dalam ketiga hal umum yang kusebutkan. Apa mungkin seseorang sudah menjebakmu?"
"......" Raiden tidak menjawab. Dia hanya diam sebelum akhirnya ucapan Kenshin Yanji tergiang di kepalanya.
Raiden pun mulai bersuara, "Aku hanya ingin berperan seperti layaknya seorang pemain. Menyelesaikan misi adalah hal yang seharusnya dilakukan. Selain itu, aku punya teman yang sangat ingin ke Wilayah Tengah. Kami berjanji akan bertemu di sana,"
"Kau tidak mau hidup nyaman dan damai di tempat ini? Elvort Garden bisa menjadi dunia yang indah jika para pemain seperti kalian memutuskan untuk tetap tinggal dan menjalani kehidupan normal seperti NPC pada umumnya. Kalian tidak akan kekurangan apa pun,"
"Tidak..." Raiden menggeleng pelan, "Aku merasa hidupku tidak akan sempurna jika melakukannya. Rasanya seperti menyia-nyiakan kemampuanku,"
"Nak..." raut wajah Tuan Kanae terlihat lebih serius dari sebelumnya, "Aku selalu mengagumi bakat-bakat anggota baru. Pengabdianku sebagai 'Pelatih' bukan untuk mencetak pemain yang berbahaya dan haus darah, tetapi mencetak pemain yang bijaksana dalam mengambil setiap tindakan. Banyak pemain yang kuajari telah menjadi kuat, namun tewas satu demi satu karena tertelan dengan ambisi mereka sendiri. Kulihat... Kau mempunyai potensi yang sama, entah sebagai sosok yang kuat dan juga korban yang akan tewas selanjutnya,"
!!
Raiden tersentak, tapi tidak membantah ucapan Tuan Kanae. Dia hanya tidak menyangka ada seseorang yang bisa menilai dirinya sampai seakurat ini.
"Pelatih Kanae, jadi apa yang menurutmu harus kulakukan?"
Kali ini Tuan Kanae-lah yang terkejut. "Aku tidak menyangka kau akan bertanya seperti itu. Ha ha ha,"
"Ke-kenapa Anda tertawa?" Raiden tidak merasa ada yang lucu pada pertanyaan yang dia ajukan tadi. Karena itulah dia gugup melihat Tuan Kanae yang tiba-tiba tertawa lepas.
Tuan Kanae, "Kau orang pertama. Kau adalah orang pertama yang meminta saran dariku setelah apa yang kukatakan tadi,"
"Ah..." Raiden tersenyum, "Aku hanya merasa... Aku ingin menjadi kuat, tapi tidak ingin menjadi korban yang Anda katakan itu."
Tuan Kanae tersenyum mendengarnya, "Jika kau bisa berpikir demikian, maka kau akan tumbuh kuat. Orang yang mau meminta dan mendengar saran orang lain, serta bisa berpikir yang bijak akan baik-baik saja..."
Tuan Kanae melihat potensi Raiden yang besar, apalagi pemuda di depannya ini terlihat sebagai sosok yang baik. Dia tahu dapat memberikan sebuah kepercayaan pada Raiden. Hanya saja sepertinya Tuan Kanae terlalu menyenangi pemuda itu.
Biar bagaimanapun, dia masih sangat awam untuk mengenal pribadi Raiden. Pemuda bermata merah itu dibungkus oleh kemurnian dan kebaikan hati, tapi sebenarnya----Raiden tidak pernah peduli pada orang lain.
Prinsipnya. Jika orang tersebut berguna untuknya, Raiden pasti bersikap baik. Dia akan menunjukkan sifat yang bersahabat dan benar-benar merupakan sosok yang dapat dipercaya. Tetapi sebaliknya, jika orang itu tidak dia sukai atau sama sekali tidak berguna baginya----Raiden akan menunjukkan sikap yang dingin dan permusuhan. Dia memang orang yang seperti itu.
Sikapnya ini belum diketahui siapa pun, termasuk Yun dan Lulu. Hal itu karena Raiden begitu baik pada semua orang. Namun siapa dia yang sebenarnya, kemungkinan besar hanya diketahui oleh mereka yang tidak masuk dalam Elvort Garden----Kenshin Yanji adalah salah satunya.
"Sebenarnya..." Tuan Kanae berkata, "Aku bisa memberikan rekomendasi agar kau ikut dalam pertandingan antar pemain di Guild ini. Meskipun, kau masih anggota baru. Tapi..."
Raiden menunggu ucapan Tuan Kanae berikutnya. Dia memang perlu ikut dalam pertandingan antar pemain jika ingin mencapai tujuannya ke Wilayah Tengah.
"Tapi apa...?" suara Raiden pelan, dia sedikit tidak sabaran.
"Aku masih harus mengujimu lagi." raut wajah Tuan Kanae begitu serius, "Tidak ada yang baik dalam pertandingan antar pemain. Itu seperti pertarungan hidup dan mati, jika tidak mempunyai sesuatu yang bisa kau andalkan----Kau akan mati."
Samar-samar Raiden tersenyum, "Aku memang dapat meragukan siapa pun, tapi aku tidak pernah meragukan diriku. Di dunia ini, penting untuk tidak mengandalkan orang lain. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah diri sendiri."
"Aku siap dengan ujian yang akan Anda berikan. Jadi kapan kita mulai?"
"Kau bahkan tidak bertanya apa ujiannya? Yakin ingin segera memulainya?"
"Tentu. Aku sangat percaya diri,"
Tuan Kanae kembali tertawa ringan, dia senang bersama Raiden. Rasanya seperti ada kecocokan di antara mereka berdua. Dirinya pun menoleh ke arah danau yang ditumbuhi teratai dan tanaman air.
"Danau ini bernama 'Seribu Kisah'. Setiap kedalamannya menyimpan cerita orang yang menyelaminya. Tetapi hal yang paling sering terlihat adalah rasa takut dan penyesalan. Aku ingin kau masuk ke dalam danau ini. Seberapa dalam kau menyelam, akan menjadi pertimbangan untukku apakah kau pantas ikut dalam pertandingan antar pemain atau tidak."
Raiden menatap lekat Tuan Kanae sebelum memperhatikan dengan seksama danau yang begitu indah di sampingnya. Dia berkedip, yakin bahwa air danau sangatlah dingin, apalagi ketika malam hari.
"Kau sangat percaya diri, bukan?" Tuan Kanae tersenyum, "Kenapa? Apa kini kau meragukan dirimu, hm?"
"Tidak. Jika memang ini yang Anda ingin aku lakukan, tentu aku siap." Raiden tersenyum dan kemudian berdiri. Dia berjalan ke pinggir danau dan mulai melepaskan sepatunya.
"Sudah lama aku tidak bermain-main air, mungkin sekitar lima tahun yang lalu..." Raiden memperbaiki letak pedang dan belati miliknya. Dia selalu membawa dua senjatanya tersebut ke mana pun. Tidak boleh sampai meninggalkan mereka.
Tuan Kanae melihat Raiden nampak mengambil napas, sepertinya pemuda bermata merah ini bersiap untuk melompat ke dalam danau. Dia pun berdiri dan berjalan menghampiri Raiden.
Tuan Kanae berkata, "Kau harus berhati-hati. Danau yang tenang, bukan berarti tidak memiliki bahaya."
"Aku mengerti. Jadi berapa lama aku harus menyelam?"
"Itu mudah. Sampai kau menemukan sesuatu di dalam sana atau kau sendiri yang merasa perlu naik ke permukaan,"
Raiden mengangguk, dia berterima kasih kepada Tuan Kanae dan dalam hitungan ke tiga dirinya mulai melompat masuk ke dalam danau. Suara yang tercipta akibat Raiden menceburkan diri mengejutkan banyak serangga terbang.
"......"
Tuan Kanae berdiri dalam diam. Air danau perlahan kembali tenang, namun raut wajahnya agak berubah dari yang sebelumnya.
Sebenarnya, bukan hanya Tuan Kanae yang awam dalam mengenal Raiden. Tetapi Raiden pun awam dalam mengenal Tuan Kanae.
Pria yang merupakan salah satu pelatih di Guild Singa Emas ini memang sosok yang bijaksana dan sejak tadi terlihat dia senang pada Raiden. Tetapi bukan berarti dirinya tidak bersikap tegas dan kejam.
Tuan Kanae menyembunyikan fakta tentang danau di hadapannya. Raiden hanya bisa terus menyelam sekarang, pemuda itu perlu melewati ujian tersulit di dalam danau dan tidak bisa naik ke permukaan.
Pilihannya, Raiden harus menyelesaikan ujian itu atau dia akan tenggelam dan mati. Langit yang indah di atas sana dan sinar bulan yang lembut memang sangat cocok menjadi saksi kematian.
Bersamaan saat Tuan Kanae memandangi langit----Wakil Ketua Guild Armonia nampak berteriak kesal di dalam ruangannya.
Sosoknya tinggi besar, memiliki mata tajam dan aura pekat yang membuat tidak nyaman di sekelilingnya. Dia terlihat begitu marah, bahkan urat-urat terbentuk di dahinya.
"Cari tahu! Cepat cari tahu keberadaan Eder berada! Jika sampai dia dan yang lainnya mati, maka cari siapa pelaku yang membunuh mereka! Aku akan membunuh kalian jika sampai tidak membawa kabar yang pasti. Pergi...!"
"Ba-baik Tuan,"
Ada enam orang pemain yang wajah dan pakaian mereka terselimut kegelapan. Suara yang terdengar agak bergetar itu menjadi bukti betapa menakutkannya sosok di hadapan mereka tersebut. Enam orang itu pun mundur dan perlahan menghilang.
***