RAIDEN

RAIDEN
52 - Harapan (Arc 1 - END!)



Yuna, gadis yang merupakan teman seperjalanan Raiden itu nampak berdiri di atas panggung arena. Dia selama ini selalu membawa dua senjata, satu adalah busur dan lainnya merupakan pedang.


Di hadapan Yuna, berdiri seorang gadis berambut hitam panjang dengan rambut poni yang menutupi matanya. Gadis itu mempunyai penampilan yang misterius, apalagi dengan pakaian jubah berwarna hitam.


Sambil menarik napas dalam-dalam, Yuna memegang kuat busurnya. Kasamatsu kembali berseru sebagai tanda dimulainya pertandingan. Yuna pun langsung menarik busur miliknya dan anak panah yang terbuat dari Vit melesat.


Gerakan yang cepat itu langsung mengarah pada lawan dan menciptakan ledakan disertai suara yang keras. Yuna berpikir bahwa lawannya telah terkena serangan, sayangnya itu sama sekali tidak terjadi.


!!


Dalam waktu satu tarikan napas, Yuna entah bagaimana terpental dan nyaris keluar arena saat itu juga. Dia merasakan sakit di punggungnya dan belum sempat mengetahui apa yang terjadi, tubuhnya tiba-tiba terasa ditekan dengan kuat.


Pemain Guild Singa Emas yang berada di luar arena terkejut. Salah seorang ada yang berseru dan mengatakan bahwa lawan Yuna adalah seorang Nergal, profesi yang sedikit mirip dengan sihir.


"Dia tidak akan bisa bertahan,"


"Nergal sulit dihadapi. Mereka ahli dalam membuat jebakan dan karena itu adalah kemampuan mereka, maka ini tentu saja tidak bisa disebut curang."


Raiden mendengar ucapan beberapa pemain saat mendekat untuk melihat pertarungan Yuna. Pergerakan temannya itu sudah terkunci, yang berarti Yuna tidak punya pilihan lain selain menyerah.


Yuna sendiri juga tah bahwa dia telah melakukan kesalahan karena tidak teliti dengan lawannya. Dia tahu sudah kalah, tetapi dia masih tidak ingin menyerah.


Di saat berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang menekan ini, pandangan Yuna tiba-tiba menangkap sosok Raiden yang berdiri dan juga ikut menatap ke arahnya. Pemuda itu terlihat menggeleng pelan dan seakan memberi isyarat agar dia tidak perlu memaksakan diri.


"Aku ... Aku menyerah," suara Yuna pelan. Tetapi mampu didengar oleh lawannya yang mana tekanan pada dirinya pun perlahan menghilang.


Kasamatsu mengumumkan kemenangan gadis aneh berambut hitam itu dan di sisi lain Yuna pun dikalahkan. Raiden melihat temannya itu berusaha menarik kakinya dan turun dari panggung arena.


Yuna menghampiri Raiden. Dia sama sekali tidak peduli pada luka dalamnya dan justru menatap tajam pada pemuda ini tanpa mengatakan apa-apa.


"Kau sebaiknya minum potion," Raiden buka suara dan sama sekali tidak memperhatikan pertandingan berikutnya.


"Kenapa kau memaksaku menyerah?" nada suara Yuna terdengar serius. Dia sudah menunggu saat semacam ini. Dia berkata, "Menyerah pada pertandingan membuatku tidak bisa lagi memiliki kesempatan untuk pergi ke wilayah tengah,"


"Maafkan aku," Raiden berujar. "Tapi lawanmu kuat dan kau tidak bisa mengatasinya. Kau sendiri bisa melihat bahwa kau tidak mempunyai peluang menang. Mengalah adalah satu-satunya pilihan yang harus kau lakukan,"


Melihat Yuna menurunkan pandangan membuat Raiden sedikit tidak enak. Dia pun mengajak gadis itu untuk ke tempat yang lebih baik dan duduk bersama.


Raiden berkata, "Kita sudah mengenal satu sama lain dan cukup banyak mengalami kejadian bersama. Bisa aku katakan bahwa sekarang ini kita sudah berteman. Apa sekarang aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kenapa kau sangat ingin pergi ke wilayah tengah? Tempat itu adalah misi utama di game ini. Kau ... Ini hanya dugaanku, tapi kurasa kau mengincar Big Boss."


Yuna menatap Raiden tanpa ekspresi. Dia menarik napas dalam sebelum memandang lurus ke depan, "Tentu saja pemain yang pergi ke wilayah tengah mengincar Big Boss. Aku juga demikian,"


Yuna berkata, "Siapa pun yang bisa mengalahkan Big Boss. Maka dia akan dapat mengajukan satu keinginan. Aku memiliki sesuatu yang harus terwujud,"


"Dan apa itu?"


"..............." Yuna memperhatikan Raiden cukup lama sebelum berkata, "Apa kau ingat pertemuan pertama kita?"


Raiden berkedip, dia memandang ke langit dan beberapa ingatan terlintas di kepalanya. Dia pun mengangguk pelan, "Kau dikejar oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam."


"Mereka adalah pembunuh bayaran, Kelompok Topeng Tengu. Orang-orang itu adalah suruhan dari pamanku untuk yah ... Kau tahu."


Raiden berkedip, "Aku sepertinya ingat beberapa hal tentangmu. Aku pernah bertemu seorang pemain dari Guild Teratai Putih dan mereka mengatakan bahwa kau adalah putri kerajaan Wisteria. Apakah itu benar?"


Yuna menahan napas dan kemudian mengangguk pelan. "Benar. Aku adalah buronan yang kepalanya sedang dicari. Kerajaan Wisteria sedang terancam dan hanya mengambil misi di wilayah tengah yang bisa membantuku saat ini."


"Misi di wilayah tengah itu sangat sulit. Apa kau pernah ke sana?"


"Sama sekali tidak, tapi aku ingin tetap mencobanya." Yuna berkata, "Aku pernah mendengar bahwa ada banyak pemain yang berhasil menyelesaikan misi di wilayah tengah, beberapa pemain bahkan meminta wilayah dan kekuatan. Aku merasa ... Bahwa tidak ada salahnya mencoba hal ini."


Raiden bernapas pelan dan berkata, "Dengar. Tidak ada pemain yang abadi dalam Elvort Garden, termasuk NPC. Jika kau mati, kau tidak akan bisa kembali lagi."


Yuna menggeleng pelan dan berujar, "Aku tahu hal itu. Tapi ada yang salah dari ucapanmu. Rai, NPC tidak benar-benar mati. Kami akan dihidupkan lagi dengan identitas dan ingatan yang baru. Meski pun begitu, aku juga tidak ingin mati."


"Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu hal ini." Yuna menarik napas dan berkata, "Jika kau punya banyak poin, maka kau bisa membeli apa pun termasuk informasi."


Raiden tersentak, "Berarti bahkan di tempat ini pun kau tidak aman."


"Mn, tapi setidaknya aku bagian dari Guild Singa Emas saat ini. Aku juga memiliki beberapa teman sekarang dan ada guru yang membimbingku. Jika ada orang luar yang datang mengganggu, aku bisa meminta pertolongan mereka."


Raiden mengangguk pelan, "Kau benar sekali. Ini jauh lebih baik daripada saat kau sendirian. Jika mereka datang, aku juga akan melindungimu. Kau tenang saja,"


"Terima kasih," Yuna tersenyum. Dia baru akan bicara kembali saat wasit dalam pertandingan mulai menyerukan nama Raiden. Ini adalah pertandingan ketiga untuk teman barunya tersebut.


Raiden yang mendengar namanya kembali disebut lantas menghela napas. "Ini bukankah tidak adil? Aku sudah lelah sekarang dan kembali dipanggil. Haah ... Rasanya seperti ada orang yang mencurangiku,"


Yuna buka suara, "Jika kau merasa ada musuhnya di Guild ini---bukankah orang itu adalah dia?"


Raiden mengikuti arah pandangan Yuna dan tertuju pada Hide yang sedang duduk tenang di sebuah kursi. Dia pun mengulum senyum dan mengembuskan napas.


Raiden berkata, "Kurasa dia memang suka padaku. Selalu saja membuatku terlibat masalah,"


Raiden menghela napas, "Aku harus menjawab tantangannya. Kalau begitu aku pergi dulu. Dan tentang impianmu, kau jangan khawatir. Aku masih ada untuk membantu,"


Yuna tersentak, namun mencoba untuk tersenyum. Dia memperhatikan Raiden yang mulai berjalan pergi dan pemuda itu pun menaiki panggung arena untuk yang kesekian kalinya.


Raiden kali ini harus berhadapan dengan pemuda yang menggunakan tombak sebagai senjata. Dia pun menarik belati miliknya dan kemudian menatap ke arah lawan. Kasamatsu kembali menyerukan agar pertandingan kembali dimulai.


Raiden melesat lebih dahulu dengan Vit yang menyelimuti belatinya. Pedang lawannya juga dialiri oleh Vit dan sebuah serangan jarak jauh melesat.


Raiden melompat untuk menghindarinya, namun serangan yang lain datang dan nyaris mengenai tubuh pemuda itu andai belatinya tidak digerakkan.


Kondisi Raiden saat ini masih dalam pemulihan, begitu pun dengan lawan bertarungnya. Mereka menggunakan kekuatan yang tersisa, melawan dengan sekuat tenaga dan berusaha keras agar tidak sampai terkena serangan.


Kasamatsu dan para pemain yang menjadi penonton dalam pertarungan itu nampak memperlihatkan wajah yang serius. Mereka merasa bahwa semakin lama, kecepatan Raiden dengan lawan tandingnya kian meningkat.


Sebenarnya, tidak hanya Raiden yang dalam posisi sedang bertarung sekarang ini. Tetapi juga temannya Yun dan Lilulu, mereka sedang menghadapi lawan yang kuat di Guild masing-masing untuk bisa lolos dan menjadi pemain yang pergi ke Wilayah Tengah.


Di antara ketiga orang ini, hanya Lilulu yang memiliki keberuntungan terbaik. Dia bertarung sebanyak tiga kali dan kemudian lawan berikutnya langsung memutuskan menyerah.


Lawan-lawan lain yang dihadapi oleh Lilulu juga ikut mundur. Mereka seakan tidak mau bertarung dengan gadis loli itu karena sejujurnya serangan Lilulu tidak untuk membuat lawannya menyerah, tetapi justru membuat mereka semua sekarat dan kemudian mati.


Larangan membunuh antar sesama Guild tidak berlaku untuk seorang petarung seperti Lilulu. Bahkan jika gadis itu tidak berniat mengambil nyawa siapa pun, tetap saja serangannya amat kuat dan mematikan.


Di sisi lain, Yun punya sedikit kemiripan dengan Raiden. Mereka adalah pemain yang lambat dan memperhitungkan setiap langkah yang akan dilakukan.


Yun dan Raiden juga memikirkan tentang risiko dari tindakan mereka. Keduanya penuh perhitungan dan karena hal inilah yang membuat mereka punya kendala serupa.


Raiden kesusahan menghadapi lawan yang bergerak cepat dan Yun pun begitu. Ketika lawan menggunakan kekuatan yang tidak terduga, maka mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.


Para pemain yang lain pasti akan berpikir bahwa Raiden dan Yun tidak akan bisa menang, keduanya pasti akan kalah. Tapi bagian terbaiknya adalah bahwa sering kali kedua sosok ini melakukan sebuah keajaiban.


Sama seperti sekarang, Raiden awalnya terlihat kesulitan dan nyaris tidak bisa menang----namun setiap kali lawan akan melakukan serangan mematikannya ... Dengan ajaib Raiden bisa membalik keadaan dan menjadi pemenang.


Hide dan anggota Guild Singa Emas yang lain sampai bangun dari tempat duduk mereka. Ekspresi yang terlihat adalah rasa ketidak-percayaan bahwa Raiden selalu berhasil lolos dengan cara yang begitu mengejutkan.


Pertandingan ini berlangsung selama tiga hari dan Raiden sudah dijebak oleh banyak sekali pertandingan di hari pertama. Dia masih bertahan sampai hari kedua dan ini adalah pertarungan terakhir untuknya.


Pemuda bermata merah itu menghadapi lawan yang tidak kalah kuat. Dia merasa kesulitan, namun dari hasil pertandingan dirinya kemarin----banyak anggota Guild ini yang mulai menaruh perhatian padanya.


Di hari ketiga, Raiden berhasil membuat lawannya menyerah dan mengambil salah satu kursi serta tiket untuk bisa pergi ke Wilayah Tengah.


Di sisi lain, keajaiban juga dibuat oleh Yun. Meski tekniknya dalam bertarung tidak cukup baik, namun karen dia tahu cara memanfaatkan kecerdasannya----dia pun berhasil mengalahkan lawan dan ikut dalam misi ke Wilayah Tengah. Tempat di mana pertarungan sesungguhnya dimulai.


Raiden mempunyai keinginannya sendiri akan game ini, namun di hadapan Yuna dia berkata akan menjadi harapan untuk gadis itu. Dialah yang akan mewujudkan keinginan Yuna.


******