RAIDEN

RAIDEN
28 - Manusia Dengan Mata Merah



Raiden kembali meludahkan darah. Darah yang menetes di kepalanya bercampur dengan keringat dan nampak mengucur di pipinya. Wajahnya pucat, tetapi dia masih berusaha tidak mempedulikan kondisinya. Belum saatnya untuk dia beristirahat apalagi menyerah.


Mina benar-benar berubah menjadi monster. Kaki dan tangannya nampak memanjang, tubuhnya pun membesar. Anak perempuan yang awalnya terlihat manis itu telah berubah menjadi laba-laba raksasa berwarna hitam kelam dengan mata hijau yang menyala.


Raiden melempar belatinya sebagai pengalih perhatian dan mulai melesat sambil tangan kanannya menyentuh pedangnya yang seakan siap untuk ditarik kembali.


Pedang yang memiliki sarung berwarna hitam dengan ukiran naga itu merupakan item yang didapatkan Raiden saat berada di Desa Petir---jauh sebelum dia bertemu Yun dan Lulu. Senjata itu berada dalam level yang tinggi dan sebenarnya sampai sekarang tidak teridentifikasi.


Tidak ada NPC yang tahu siapa pembuat pedang itu dan tidak pernah ada misi yang terkait dengan pencarian pedang tersebut. Yun dan Lulu awalnya juga sangat penasaran, tetapi saat mereka bertanya pada Raiden---pemuda bermata merah itu hanya mengatakan bahwa dia mendapatkan pedangnya di Desa Petir. Entah bagaimana kejadiannya... Raiden tidak berniat menceritakan apa pun.


!!


Mina yang telah berwujud monster melesatkan cairan asam berwarna hitam ke arah Raiden. Jangkauan serangannya cukup luas, namun keberadaan Karin dan seorang pemain lain berpakaian merah telah membantu Raiden menangkis serangan yang datang.


Di sisi lain, Yun berhasil menemukan kelemahan dari asap hitam yang melilit tubuh para pemain. Kerjasama antara dirinya dengan Ogiwara, Hide, dan Liyan berlangsung baik hingga membuat keadaan mulai berpihak pada mereka.


Hanya saja, tidak ada yang bisa menafik fakta bahwa pertarungan ini mengambil cukup banyak korban. Mei yang berada dalam kendali lawan bahkan berteriak kesakitan ketika tubuhnya dipaksa melakukan gerakan yang tidak wajar.


Asap hitam yang melilitnya membuat tangan kanan Mei terpelintir lebih dahulu ke belakang sebelum tubuhnya dibalik untuk menyerang lawan. Pedangnya berbenturan dengan milik Shoyo dan setiap gerakannya cepat, namun penuh celah. Beberapa kali dirinya bahkan terkena sayatan dari temannya tersebut.


"Bertahanlah, Mei..! Semua akan baik-baik saja," Shoyo memang menyukai pertarungan yang membuat darahnya mendidih, tetapi bukan berarti dia sengaja melukai temannya.


Shoyo baru saja melompat untuk menghindari serangan Mei ketika terdengar gemuruh petir yang memekakkan telinga. Suara tersebut sangat keras hingga membuat dinding bergetar.


Gemuruh itu berasal dari bilah pedang Raiden. Dia telah menarik senjatanya melebihi batas dari yang biasa dirinya tahan. Dalam tiga gerakan, Raiden berhasil menebas wujud monster dari Mina termasuk makhluk yang merupakan perubahan dari boneka beruang anak perempuan tersebut.


Efek dari tiga gerakan pada serangan Raiden membuat tubuh lawannya meledak hingga terpisah menjadi bagian-bagian kecil. Tidak hanya itu, bahkan lantai dan dinding yang ada di sekitarnya mengalami kerusakan parah.


Asap hitam yang sebelumnya melilit para pemain menghilang bersamaan dengan runtuhnya lantai berlumpur yang sejak awal menjadi hambatan mereka.


Hide dan pemain lainnya kini tidak lagi memiliki pijakan, mereka jatuh ke bawah dan terlempar ke bagian berbeda-beda dari Dungeon tersebut. Dia sebelumnya menangkap Raiden yang mengalami luka parah dan seakan tidak sadarkan diri.


Hide terjatuh di tempat yang lembab, agak berair dan terasa seperti rawa. Dia bermaksud menyelamatkan Raiden, tapi karena kesalahan posisi membuatnya justru menjadikan pemuda itu sebagai matras hidup.


Punggung Raiden membentur tanah berair terlebih dahulu dan kepalanya pun ikut terluka. Dia sebenarnya berusaha mempertahankan kesadarannya, namun luka yang dialami barusan telah membuatnya benar-benar tidak sadarkan diri.


Hide meringis sambil mencoba bangun, dia terkejut ketika tahu bahwa luka pada tubuh Raiden semakin parah karena ulahnya. Dirinya pun menepuk pelan pipi pemuda yang berwajah pucat tersebut.


"Hei..! Kau masih hidup, kan? Hei..!" tidak adanya jawaban membuat Hide panik, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling namun tidak melihat pemain lain dan bahkan Liyan juga tidak ada bersamanya.


!!


"Sialan! Tempat apa lagi ini?" Hide menjadi khawatir, "Kemana semua orang? Liyan?! Liyan..!"


Sekitaran Hide tidak ada apa-apa selain lorong yang luas, penuh dengan tanaman merambat, lumut dan hanya terdengar suara tetesan-tetesan air. Dirinya pun kembali menoleh ke arah Raiden yang terbaring.


Hide meraba tubuhnya sendiri untuk mengambil Potion yang selalu dirinya bawa, tetapi yang membuatnya terkejut adalah dia sama sekali tidak memiliki Potion. Kemungkinan besar obat tersebut terjatuh ketika pertarungan sebelumnya.


!!


"Ya ampun, kenapa orang ini tidak membawa Potion atau semacamnya?! Jika begini, dia bisa saja mati.." Hide mungkin selalu bersikap dingin dan ketus pada Raiden, tetapi bukan berarti dirinya tega melihat pemuda ini tewas secara menyedihkan.


"Inilah yang paling tidak kusukai dari Game ini. Tidak hanya nyawa pemain yang hanya satu, kami bahkan tidak diberikan sistem untuk menyimpan barang atau sejenisnya. Selain papan kayu yang disebut token itu, tidak ada hal lainnya. Tsk, mengesalkan sekali."


Hide menggerutu sambil merobek kain pada pakaian Raiden dan memakainya untuk memperban luka di kepala pemuda itu sendiri. Dia melakukan pertolongan pertama yang dirinya bisa, luka yang mengeluarkan darah memang harus segera ditangani lebih dahulu.


!!


Hide tersentak ketika menyentuh tangan kanan Raiden yang tidak lagi terlihat bagus. Dengan hati-hati dia membalutnya dan yakin bahwa tulang pada tangan itu sudah tidak berbentuk lagi.


"Orang ini.. Dia mengalami luka yang sangat mengerikan. Apa dia benar-benar masih hidup?" Hide menyentuh dada Raiden dan beruntung dirinya masih merasakan detakan jantung pemuda itu. Hanya saja ketika memeriksa napasnya---dia terkejut karena napas Raiden terlalu dangkal, nyaris tidak terasa.


"Hei, hei..! Dia serius tidak akan mati, kan?!" Hide kelabakan, dia merunduk dan memeriksa detakan jantung Raiden dengan telinganya sendiri. Ekspresi wajah dan tatapan matanya berubah semakin tidak sedap dipandang.


"Ada apa dengan tubuh orang ini? Detakan jantungnya normal tapi napasnya sangat dangkal, sama sekali tidak sinkron.." Hide berulang kali memeriksa dan masih tidak menyangka, ".. Apa sebenarnya dia seorang NPC? Tapi bukankah NPC mempunyai napas dan detakan jantung yang sama dengan manusia pada umumnya? Orang ini.."


Saat sedang memikirkannya, tiba-tiba saja bulu mata Raiden bergetar. Dia memuntahkan darah sebelum perlahan membuka matanya. Kejadian tersebut membuat Hide terlonjak kaget.


"Sakit.."


Itu adalah kata pertama yang didengar Hide dari pemuda bermata merah di depannya. Dia pun mengembuskan napas dan kemudian mendekat kembali.


"Syukurlah dia tidak mati. Hei, apa kau bisa bergerak?"


"…" Raiden menggeleng pelan sebagai jawaban. Dia dapat mendengar suara Hide dengan jelas, tetapi saat ini penglihatannya memburam. Dirinya hanya bisa menggerakkan jari tangan kirinya.


"Aku.. Ada di mana..?" suara Raiden pelan, terdengar begitu menyedihkan. Dia berbaring tanpa dapat melakukan apa pun.


"Aku juga tidak tahu kita di mana. Tapi kurasa tempat ini masih berada di dalam Dungeon," Hide menjawab sambil menatap Raiden dengan seksama. Dia pernah mendengar sebelumnya bahwa pemain Elvort Garden dengan mata merah sangatlah langka dan sebenarnya tidak hanya bagi Elvort Garden---tetapi di dunia nyata pun demikian.


Manusia dengan mata merah merupakan ciri-ciri orang yang mempunyai semangat hidup paling tinggi. Bahkan jika organ dalam tubuh hancur sekali pun---mereka akan berusaha untuk tetap bertahan hidup. Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia dengan mata merah memiliki tubuh yang menolak mati.


Sebenarnya jika dikatakan kelebihan, memang disebut kelebihan dan sesuatu yang luar biasa. Tetapi jujur kelebihan itu justru sangat membebani. Orang semacam ini akan paling menderita bila dalam kondisi terluka parah.


!!


Hide melihat Raiden lagi-lagi memuntahkan darah. Baginya, pemuda ini harusnya sudah menjadi cahaya dan kemudian menghilang. Jika orang lain yang mendapat luka separah Raiden dan bahkan tidak meminum Potion---mereka pasti sudah tewas sekarang.


"Dia pasti sangat kesakitan. Kelebihan dengan memiliki tubuh yang menolak mati itu sama saja dengan mendapatkan berkah untuk merasakan sakit menjelang kematian secara perlahan-lahan. Aku sangat tidak menyangka kabar yang kudengar itu benar."


***