RAIDEN

RAIDEN
34 - Anak Berandalan



Tanah yang dipijak oleh Raiden, Hide dan Lilulu terasa bergetar. Mereka mendengar suara bagai gemuruh yang datang dari arah depan. Ketiganya mulai melihat ada sebuah batu berukuran sangat besar dan sedang menggelinding ke arah mereka.


"Entah kenapa adegan seperti ini sangat populer di kalangan para pengembang game, Elvort Garden pun memilikinya. Serius, apa tidak ada jebakan lain yang bisa mereka gunakan?" Raiden tidak bergerak dari posisi berdirinya dan justru malah mengomentari jebakan klasik yang sedang mengincar mereka ini.


"Tidak bisakah kau melakukan hal yang lain?" Hide mencibir. "Kau cerewet seperti perempuan."


"Ya ampun, kawan. Jangan-jangan kau takut menghadapi hal semacam itu?"


"Siapa yang takut, hah?! Lihat ini...!"


!?


Lilulu tersentak ketika Hide tiba-tiba saja melesat dan terlihat seperti menantang batu besar yang menggelinding tersebut. Dia melihat pemuda berambut pirang itu menarik pedangnya dan mulai bersiap memberi serangan.


Suara Lilulu tenang, "Rai... Kenapa kau harus memprovokasinya?"


"Hmph, tentu saja untuk membuka jalan." Raiden tersenyum, "Sejauh ini aku bisa lihat karakter Si Pirang itu yang sangat mudah terpancing. Dia masih terlalu kekanakan. Lagipula, bukankah bagus jika dia maju lebih dulu? Kita jadi tidak perlu repot-repot mengeluarkan banyak tenaga."


Lilulu mendongak ketika menatap Raiden, ekspresi wajahnya datar dengan tatapan mata yang dingin. Jempol tangan kirinya terulur sambil dia bicara, "Rai... Good job."


"O ho ho, mulailah puji aku." Raiden begitu penuh gaya ketika membelai pelan poni rambutnya. Dia dan Lilulu seperti punya dunia sendiri sehingga mereka bahkan melupakan Hide.


Pemuda berambut pirang itu menyerang batu besar yang menggelinding tersebut dan hanya dalam tiga serangan----batu itu pun terbelah dan hancur.


Hide berpikir serangannya berhasil, tetapi jebakan yang dikatakan Raiden 'klasik' itu tidak benar-benar seperti yang terlihat.


Buktinya ketika batu itu hancur----dengan segera cairan berwarna hijau keluar dan membasahi tubuh Hide. Belum lagi, ini membuat tubuhnya terasa lengket dan sulit digerakkan. Dia pun memanggil Raiden untuk membantunya.


"Rai, kau melakukan apa di belakang?! Dasar pedofil...! Berhenti berkencan dengan anak kecil dan cepat bantu aku sialan!"


"Hei...!" Raiden tersentak mendengarnya. Dia tidak menduga akan mendengar hal tersebut, "Siapa yang pedofil...? Usia Lulu lebih tua dariku tahu! Bentukannya saja yang seperti kurcaci. Dan siapa juga yang berkencan dengannya? Dia tidak punya sesuatu yang menggairahkan."


"Rai...!" Lilulu menendang bokong Raiden hingga membuat pemuda itu spontan menjerit. Dia benar-benar kesal saat mendengar ucapan pemuda bermata merah ini. Telinga Lilulu terasa panas.


Raiden mengusap-usap bokongnya, "Lulu, kau kasar sekali..." keningnya mengerut di samping pandangannya yang menatap gadis mungil tersebut. "Kau benar-benar jahat dan selalu menyakiti orang lain. Kau bisa kehilangan temanmu jika bersikap seperti ini."


"Aku tidak menyakiti orang lain. Aku hanya menyakitimu! Dasar... Raiden baka!"


?!


Raiden terkejut dan berkedip beberapa kali. Dia memperhatikan Lilulu yang mulai berjalan untuk membantu Hide. "Ada apa dengan anak itu...? Dia seperti kesal padaku. Apa aku melakukan kesalahan?"


Lilulu menghentak-hentakkan kakinya ketika berjalan. Dia menggelembungkan pipinya dan lalu mendengus. Rasanya menyebalkan sekali saat memiliki teman yang amat tidak peka seperti Raiden.


Tanah kembali bergetar dan bila orang lain yang menyaksikannya----mereka pasti akan merasa itu terjadi karena hentakan kaki Lilulu. Namun saat perhatian lebih difokuskan, maka akan terlihat penyebab dari getaran tanah tersebut.


!!


Hide yang kini berusaha bergerak mulai melihat jebakan klasik dungeon yang lain. Itu sama seperti yang dia lawan, yakni sebuah batu besar dan menggelinding dengan cepat ke arahnya.


Lilulu menggunakan sebotol Potion yang berfungsi melarutkan cairan lengket yang memerangkap Hide dan menjadikannya seperti air pada umumnya. Dia pun tanpa bicara langsung melesat ke arah batu besar itu.


Di udara, Lilulu mengeluarkan pedang kembar yang seakan ditarik keluar dari balik rok indah berbentuk bunga yang berkembang miliknya. Dia pun menebas batu tersebut hingga terdengar suara ledakan.


Batu besar itu pecah dan sekali lagi menyemburkan cairan lengket. Lilulu dapat menghindarinya dengan mudah, termasuk benda tajam yang tiba-tiba melesat dari arah dinding.


!!


Raiden tersentak dan spontan melompat saat benda tajam yang mirip piringan runcing keluar dan seakan membelah dinding. Pinggangnya dapat saja tertebas andai dia lambat bergerak.


Hide pun demikian. Dia melentingkan tubuhnya ke belakang hingga lehernya tidak sampai terkena serangan. Tetapi baru saja mengambil posisi yang lebih baik, dia secara tidak sengaja menginjak sesuatu yang memicu jebakan lainnya.


Kali ini lantai yang dipijak Hide runtuh dan nyaris membuatnya terjatuh andai tidak diselamatkan Raiden. Runtuhan dari lantai itu memperlihatkan benda-benda runcing yang jelas bisa langsung membunuh dalam sekejap.


"Kau baik-baik saja?" Raiden menatap Hide. Tangan kanannya merangkul pinggang pemuda berambut pirang itu.


"Lepaskan aku!" Hide hampir jantungan dengan posisi ambigu barusan. Segera dia memberontak dan membuat Raiden mengerjap.


"Kau ini seperti kucing saja. Aku kan sedang menolongmu,"


Raiden berkedip dan lalu mengembuskan napas, "Siapa juga yang akan memikirkan posisi saat menangkapmu? Kejadian tadi benar-benar spontan. Kalau aku tidak melakukannya, kau pasti sudah tewas."


"Tapi, tapi--"


"Sudahlah... Kau sebenarnya memikirkan apa? Aku tidak tertarik pada laki-laki."


"Siapa yang berpikiran seperti itu?!" Hide menampar keras lengan kanan Raiden hingga membuat pemuda bermata merah itu terkejut.


"Ah! Kau...!" Raiden mengusap-usap lengannya. Tamparan Hide begitu sakit dan terasa panas. Seakan-akan pemuda ini tidak menahan kekuatannya.


"Kenapa kalian sangat suka memukul? Aku ini bukan samsak berjalan, aduuh...!"


Hide mendengus, "Itu karena kau layak mendapatkannya. Mulai sekarang ambil jarak dariku..! Awas jika kau berani dekat-dekat lagi,"


Raiden tidak habis pikir akan melihat respon tidak terduga seperti ini. Dia merasa Hide terlalu mewaspadai dirinya. Padahal sejauh ini, dia sama sekali tidak pernah berbuat apa pun yang salah.


Lilulu sendiri lebih fokus menghadang setiap serangan yang merupakan jebakan dari dungeon. Dia tidak tahu apa yang terjadi di belakang punggungnya. Dia hanya mendengar seruan Hide yang entah mendebatkan apa dengan Raiden.


Dia mengembuskan napas. Padahal sebelumnya Lilulu berpikir akan dapat memanfaatkan tenaga Hide sesuai usulan Raiden, tetapi yang terjadi justru dirinyalah yang berada di barisan depan dan seolah berperan melindungi mereka.


"Ucapan Rai tidak dapat diharapkan," Lilulu mengayunkan pedangnya dan sengaja menghindari serangan yang melesat ke arahnya agar kedua pemuda di belakangnya dapat sadar dengan posisi mereka sekarang.


!?


Hide yang spontan bergerak lebih dahulu. Dia menerima serangan tersebut tanpa kesulitan sama sekali. Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai Raiden bicara dan seakan sedang meledek perempuan yang berada cukup jauh di depannya.


"Lulu, apa-apaan ini? Kau terlewat satu serangan. Fokusmu masih perlu lebih ditingkatkan lagi,"


"Rai, menyebalkan! Aku tidak di sini untuk menjadi perisaimu. Kau seharusnya ikut mengayunkan senjatamu. Jangan hanya berdiam di sana seperti seorang raja!"


Raiden menghela napas saat mendengar ucapan Lilulu yang amat dingin dan ketus kepadanya. "Kalau aku yang lebih dahulu bertindak, maka semua akan selesai. Kau jadi tidak bisa belajar apa pun."


"Cih! Sombong, padahal sebelumnya kau terlihat seperti ikan yang hampir mati."


Hide, "Sebaiknya kau ikut menyerang. Ini tidak akan selesai bila kau hanya diam dan membiarkan kami melindungimu. Tangan dan kakimu masih bisa bergerak, bukan?"


Raiden mengembuskan napas, dipikir-pikir lagi dia memang tidak suka jika menghabiskan waktu terlalu lama dengan dua orang yang gaya bicaranya hampir mirip satu sama lain. Hide dan Lilulu sama-sama ketus padanya, mereka berdua juga suka memerintah dan selalu dirinya yang disalahkan.


Raiden, "Haah... Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau terus-terusan terjebak dengan mereka. Mereka ini... Dapat mengubahku menjadi gila,"


Sambil menarik belati miliknya, Raiden pun mulai melesat untuk membantu Hide. Dia bahkan dengan cepat sampai ke tempat Lilulu berada dan mengambil alih pekerjaan gadis mungil tersebut.


!!


Lilulu tersentak. Dia tidak menyangka Raiden memiliki kecepatan yang luar biasa. Bahkan pemuda bermata merah itu sama sekali tidak kesulitan dalam menangkis setiap serangan dari jebakan dungeon ini.


Sebuah batu besar menggelinding lagi dan Raiden tanpa ragu menyerangnya dengan belati yang dialiri Vit. Batu besar itu pun meledak dan melesatkan ratusan anak panah yang dengan gerakan kilat---dialihkan Raiden ke arah dinding di kedua sisinya.


Saat sedang serius, Raiden sangat luar biasa. Gerakannya sulit diikuti mata dan jujur, Hide bahkan terpukau karenanya.


"Dia itu... Kupikir hanya anak berandalan,"


Gumaman Hide didengar Lilulu. Gadis mungil tersebut sejenak menoleh ke arah Hide dan kemudian berujar, "Kau akan lebih terkejut lagi jika tahu bahwa ini masih kecepatan standar yang dia miliki."


"Maksudmu?"


"Lihatlah."


!!


Suara bagai kilat langsung terdengar kala Hide mulai memandang ke arah Raiden. Dia terkejut karena tidak lagi bisa melihat keberadaan pemuda bermata merah itu. Yang sekarang dia saksikan hanyalah garis cahaya kemerahan yang memecah udara dan menghilang.


"Rai..."


"Cepat susul dia," Lilulu mulai berlari. Dia mengikuti garis cahaya merah itu dan Hide menyusul di belakangnya.


***