
"Kenapa kau lama sekali?" Hide kesal pada Raiden karena pemuda itu baru datang sekarang. "Kau ini dari mana saja?! Apa tidak tahu kami kerepotan di sini, hah?!"
"Bukankah sudah kukatakan agar jangan masuk? Kalian-lah yang membuat diri sendiri menjadi repot, tapi masih saja menyalahkan aku."
Raiden memegang erat belatinya dan lalu melesat untuk membantu Hide saat pemuda berambut pirang itu kewalahan. Dia sejenak menoleh ke arah Lilulu dan menyaksikan gadis mungil itu terengah-engah seperti hampir kehabisan tenaga.
Kening Raiden mengerut, "Tidak biasanya Lulu begitu kewalahan. Dia memiliki fisik yang lebih kuat bila dibandingkan dengan Yun dan aku. Jika Lulu dapat seperti ini, maka lawannya pasti tidak biasa."
Lilulu sendiri tetap berusaha melawan sosok berzirah merah itu meski dia akui hampir mencapai batasnya. Tidak salah lagi, lawannya adalah Darion berlevel tinggi. Giginya bergemeretak, "Dia terlihat seperti Bos Game. Dia benar-benar sulit dihadapi."
"Hei, kau...!" Hide berseru ke arah Darion. "Orang yang mengambil benda yang kau jaga sudah lama keluar dari tempat ini. Jadi untuk apa kau memburu kami?!"
"Pirang! Dia tidak akan mendengarmu," Raiden menegur. "Kau mengatakan itu padanya untuk apa, huh? Jangan bilang kau tidak tahu apa itu 'Darion'."
"Raiden, sialan! Kau pikir aku anak kecil hah?! Tentu saja aku lebih tahu daripada kau!"
"Hoh, baiklah. Jadi kau pasti tahu tentang kelemahannya, bukan?"
!?
Hide tersentak. Dia kini menyadari telah dijebak dalam kata-kata karena Raiden. Dia memang tahu bahwa sosok yang dilawannya adalah Darion, tetapi jujur kelemahan makhluk ini berada di luar pengetahuannya.
"Kenapa, Pirang...? Apa kau tidak tahu?" Raiden mendesak sebab Hide tidak lagi membalas ucapannya.
"Diamlah!"
"Yang kutahu..." Lilulu tiba-tiba menyela. "Darion tidak bisa dihancurkan. Satu-satunya cara adalah menaklukkannya. Dia hanya akan mengakui orang yang mengalahkannya sebagai 'Tuan'. Jadi kalian tahu apa artinya itu?"
Raiden dan Hide tetap fokus menghadapi Darion sambil mendengar penjelasan Lilulu. Sesekali, Raiden membantu Hide ketika pemuda berambut pirang itu dalam situasi yang sulit.
!!
Raiden tersentak saat menyadari sesuatu. "Makhluk ini... Gerakannya kenapa semakin cepat? Dia--"
Posisi kaki Raiden salah hingga memiliki celah pada gerakannya. Lawan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung memberi tendangan hingga tubuh Raiden harus terpental.
"Rai...!" Lilulu berseru ketika Raiden menghantam dinding. Dia bergegas menahan serangan Darion berikutnya dan mencegah makhluk itu menyerang Raiden kembali.
"Hei...! Kau baik-baik saja, kan?!" Hide mendengar suara hantaman itu sangat keras. Dia khawatir dengan kondisi Raiden.
"Ukh... Rasanya sakit tahu. Yang kutabrak itu tembok, bukan kasur! Kau pikir aku akan baik-baik saja?!" Raiden mencoba bangun, dia lantas meludahkan darah.
Selama bertarung tadi, dia dengan serius memperhatikan lawannya sehingga kini dia dapat memberi sebuah kesimpulan yang akan mengejutkan Lilulu dan Hide.
"Kalian berdua dengarkan aku," Raiden menekan dadanya yang terasa sakit, "Darion ini... Gerakan bertarungnya seperti berevolusi. Dia mempelajari teknik bertarung lawan dan mampu menyesuaikan dengan gerakannya sendiri. Jika terus seperti ini... Kita bisa langsung mengucapkan selamat tinggal pada dunia,"
"Gerakannya berevolusi? Maksudmu dia belajar dari melihat cara bertarung kita?" Hide begitu tidak percaya, tetapi setelah dipikirkan lagi----Darion memang lawan tersulit yang dirinya hadapi.
"Dia Darion yang cerdas. Tapi aku tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada dunia," Lilulu mengalirkan Vit pada kedua pedangnya dan melesat maju. Dia juga belajar dari cara bertarung Darion meski pada akhirnya----dialah yang kalah.
Raiden melihat betapa kesusahannya Lilulu sekarang. Gadis itu berusaha mati-matian untuk dapat membalas setiap serangan Darion. Dia merasa tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.
Belati Raiden kembali disarungkan. Dia kini menyimpan belati miliknya dan mulai menyentuh pegangan pedangnya. Raiden mengembuskan napas, ini adalah pilihan paling sulit dan menakutkan baginya saat harus menggunakan pedangnya lagi.
"Yiling... Kau harus menurut kali ini saja,"
Hide tersentak kala menyadari apa yang hendak dilakukan Raiden. Dia sudah pernah melihat bagaimana pemuda bermata merah itu menarik pedangnya dan tahu hal tersebut sangat berisiko. Apalagi sekarang, pemuda itu juga dalam kondisi yang tidak baik.
"Raiden!"
Seruan Hide membuat Lilulu tersentak. Dia seketika menoleh dan terkejut saat tahu Raiden memegang kuat gagang pedangnya. "Rai...! Jangan lakukan itu!"
Lilulu tahu benar bahwa Raiden hanya bisa menggunakan pedangnya satu kali dalam sehari. Namun semenjak mereka memasuki Dungeon ini----entah sudah berapa kali temannya itu menarik Yiling.
"Rai...! Kau jangan gila. Hentikan--" Lilulu berteriak nyaring ketika seruannya sama sekali tidak didengar oleh Raiden.
Teriakannya membuat telinga Hide berdenging dan secara bersamaan terdengar sebuah gemuruh petir. Alur pertarungan berubah drastis semenjak Raiden melesat dan bertarung dengan Darion.
"Rai...!!" Lilulu terlihat sangat khawatir. Dia melihat dua cahaya merah yang saling berbenturan di udara dan gerakan cahaya itu liar serta tidak beraturan. Dia tidak mampu mengikutinya dengan baik.
Darion memang sosok yang cerdas. Dia mengikuti pergerakan Raiden sehingga pertarungan mereka benar-benar luar biasa. Berulang kali Lilulu menyerukan nama temannya dan meminta Raiden untuk berhenti, namun gemuruh petir bersamaan dengan semburan lahar di dalam kolam yang ada membuat kondisi semakin menegangkan.
"Kita harus membantunya!" Hide berseru, namun seketika suara bagai langit pecah membuat jantungnya terasa akan runtuh, Lilulu juga ikut merasakannya.
"Apa yang terjadi?! Apa yang terjadi di sana?! Raiden...!" Hide kelabakan. Suara menggelegar yang barusan itu membuat dia merasa takut. Tidak mungkin ada yang selamat bila terkena serangan yang menghasilkan suara sedahsyat itu.
!!
Lilulu dan Hide terbelalak ketika sesuatu melesat ke arah mereka. Keduanya terlambat merespon, namun syukurlah benda tersebut tidak menghantam mereka. Lilulu dan Hide terkejut saat tahu yang melesat tadi adalah Raiden.
Pemuda bermata merah itu memakai kaki kanan dan lutut kirinya untuk menahan agar tidak sampai terus terdorong ke belakang. Tangan kanannya yang memegang gagang pedang nampak berdarah dan terlihat buruk.
!!
Lilulu melihat pedang Raiden telah ditarik sepanjang 3 cm. Sungguh mengerikan karena hanya seperti itu dan dampaknya sudah sangat besar. Apalagi sekarang terlihat sosok Darion yang zirahnya kini tergores di beberapa bagian.
Hide tanpa sadar menahan napas, dia sulit berkedip termasuk menganggap apa yang dia lihat ini adalah kenyataan. Entah Raiden yang hebat atau pedang pemuda bermata merah itu----tetapi dia benar-benar kagum.
Kemampuan Darion memang hebat. Dia bisa belajar dari teknik lawan, bahkan kecepatannya selalu menyesuaikan dengan kecepatan lawan.
Hanya saja biar bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang jauh dari pada itu. Manusia mampu berkembang dan lebih hebat dalam belajar dari pengalaman. Ini bisa terlihat dari pertarungan Raiden dan Darion yang mulai memperlihatkan celah untuk meraih kemenangan.
"Pirang," Lilulu memanggil Hide. "Kau bersiap-siaplah,"
"Apa?" Hide mendengarnya, namun masih tidak mengerti. Hanya saja raut wajah gadis mungil ini nampak serius sekali dan itu membuatnya juga mulai fokus.
Tepat di pertukaran serangan Raiden dan Darion berikutnya----Lilulu pun melesat maju dengan kekuatan yang luar biasa. Targetnya adalah goresan yang dibuat Raiden pada zirah merah tersebut.
Suara keras terdengar dan secara bersamaan Hide ikut melesat. Dia juga menargetkan goresan pada zirah itu yang justru berkat serangannya----Darion dapat dikalahkan.
!!
Ledakan tercipta saat tubuh Darion hancur. Angin yang dihasilkan begitu kuat hingga membuat Raiden, Hide dan Lilulu terdorong. Beberapa potongan zirah itu terlempar ke berbagai arah, nyaris mengenai Raiden dan Hide andai Lilulu tidak bergerak cepat untuk menolong kedua rekannya.
"......"
Saat pertarungan itu benar-benar telah selesai, Raiden langsung terjatuh dan terbatuk darah. Yiling sepenuhnya telah disarungkan, tetapi tangan kanannya tidak dalam kondisi yang baik.
Tangan Raiden gemetar, terlihat hitam, penuh retakan dan seperti hangus terbakar. Dia bahkan melihat darah yang keluar dari tangan kanannya berwarna hitam pekat dan benar-benar sangat menyakitkan. Raiden merasa bahwa kondisi tulangnya pun ikut memburuk.
Lilulu sendiri mengeluarkan potion dan segera meminumnya. Dia adalah pemain yang bisa memasukkan potion ke dalam ruang hampa dan mengeluarkannya kembali tanpa masalah. Bakat Lilulu ini sangat langka dan tidak semua pemain Elvort Garden memilikinya.
Saat kondisi Lilulu terasa lebih baik, dia pun segera menghampiri Raiden dan memberikan potion kelas atas pada pemuda bermata merah itu. Dia juga memberikan beberapa kepada Hide dan mendadak tersentak saat potongan zirah merah di dekatnya bergerak.
!!
Hide melihatnya, "Sekarang apa lagi?!"
Dia sungguh sudah lelah dan tidak sanggup bila harus bertarung kembali. Raiden sendiri pun juga telah mencapai batasnya dan benar-benar tidak bisa bertarung meski telah meminum potion.
Setiap potongan zirah merah itu bergerak dan mulai terbang hingga berkumpul di satu titik. Raiden terengah-engah, dia berusaha mengatur napasnya. "Aku tidak kuat lagi... Hah... Hah... Tidak bisa,"
Yang paling ingin dilakukan Raiden sekarang adalah berbaring, tetapi suasana masih sangat menegangkan. Apalagi dia kini melihat potongan zirah merah itu kembali menyatu seperti sedia kala.
Wajah Hide benar-benar pucat, "Gawat...! Dia hidup lagi,"
Lilulu juga pucat. Mereka sungguh akan berakhir di sini. Darion tidak hanya sosok yang sulit di hadapi, tetapi juga memiliki ketahanan yang mengerikan. Dia adalah definisi dari Bos Monster yang sesungguhnya.
!!
Darion mulai berjalan ke arah Hide dan Lilulu. Kedua orang itu tidak sanggup berdiri dan hanya bisa perlahan mundur. Mereka menyeret tubuh sendiri dan sebisa mungkin menjauh dari Darion, tetapi situasi tersebut tidak mengubah apa pun.
Raiden sadar temannya ditargetkan. Dia berusaha bangun, tetapi dadanya sakit dan dirinya kembali memuntahkan darah. Dia tidak sanggup bergerak, ini bisa saja menjadi akhir riwayat mereka.
Jantung Hide berpacu kencang. "Sialan, apa aku akan mati di sini---"
Saat dia memikirkannya, tiba-tiba saja Darion mengambil posisi berlutut dan seakan memberi hormat di depan Hide dan Lilulu yang membuat kedua orang itu termasuk Raiden menjadi tersentak.
Hide kesulitan berkata-kata, dia terkejut. "Ap-Apa yang terjadi?!"
Lilulu juga ikut terkejut. Dia sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun saat sedang berusaha mencerna situasi, lirihan Raiden terdengar.
"Mungkinkah... Dia mengakuimu sebagai Tuan...?"
!!
Hide dan Lilulu spontan menoleh ke arah Raiden sebelum kembali menatap Darion. Jika apa yang dikatakan teman mereka itu benar, maka artinya Darion ini sudah berhasil ditaklukkan.
Lilulu, "Rai..."
"Coba kalian memberinya perintah..."
Lilulu menelan ludah dan kemudian mengembuskan napas. Dia menatap Darion dan menyuruhnya berdiri. Namun yang terjadi sosok di hadapannya sama sekali tidak bergeming.
Hide pun mencoba memberinya perintah sama seperti yang dilakukan Lilulu dan kali ini Darion itu menurut. Dia tersentak karenanya, "Angkat kaki kananmu."
!!
Lilulu tersentak karena Darion di hadapannya menuruti setiap ucapan Hide. Raiden sendiri nampak mendengus pelan dan akhirnya merebahkan diri saat yakin Darion itu telah berada di bawah perintah Hide.
"Ba-bagaimana... Bagaimana dia bisa menurut padaku?" Hide tidak percaya. Lilulu pun juga bertanya-tanya. Harusnya Raiden-lah yang dianggap 'Tuan' oleh Darion ini karena pemuda bermata merah tersebutlah yang berusaha dengan keras.
Raiden sendiri tidak mempermasalahkan apa pun. Sambil menutup mata, dia mulai bicara. "Mungkin karena serangan yang kau lakukan sehingga dia merasa bahwa kaulah yang sudah mengalahkannya. Dia pun menganggapmu sebagai 'Tuan'. Sempurna. Kau mendapatkan item langka yang hebat. Hah... Aku benar-benar lelah."
Entah Raiden pingsan atau hanya tertidur karena kelelahan, tetapi pemuda bermata merah itu sudah tidak menyahut lagi saat Lilulu memanggil namanya. Hide pun ikut membaringkan tubuh, dia sama lelahnya dengan Raiden. Ini merupakan perjalanan menjelajah Dungeon paling tidak biasa dan begitu hebat sepanjang hidupnya di Elvort Garden.
Hide menatap langit-langit di atasnya, dia terdiam beberapa saat sebelum tersentak saat mengingat singa miliknya. "Liyan! Aku melupakan Liyan!"
Lilulu mulai membaringkan tubuhnya, "Nanti saja kau memikirkan yang lain. Kita istirahat dulu. Aku tidak mau bertambah pendek jika harus melanjutkan perjalanan dalam kondisi kurang tenaga begini."
Lilulu mengembuskan napas, "Selanjutnya... Kita harus keluar dari Dungeon ini, aku tidak mau lagi berada di sini. Aku mau pulang untuk mandi, makan, kemudian tidur."
***