
Yuna berhasil menghindari empat tembakan dari Mururu, tetapi dia gagal dalam gerakan berikutnya yang membuatnya tertembak.
Dia belum bisa membuat Mururu mengangkat tangan kirinya. Namun meski bergitu, Yuna merasa bahwa Mururu memang pantas dijadikan objek latihan.
Pemain selanjutnya setelah Yuna bahkan lebih buruk lagi. Dia hanya berhasil menghindari satu tembakan sebelum akhirnya tumbang di gerakan berikutnya.
Tuan Kanae mengembuskan napas dan menggeleng pelan saat melihat beberapa pemain masih tidak sadarkan diri setelah ditembak Mururu, sementara pemain lain sudah bangun tetapi dalam kondisi fisik yang lemah.
"Jika ini pertarungan yang asli, maka kalian semua sudah tewas sekarang. Aku melihatnya dan merasa terganggu, kalian semua terlalu lemah! Bahkan tidak satu pun di antara kalian yang dapat bertahan setelah ditembak oleh Mururu. Kalian semua memalukan!"
!!
Para pemain itu kebanyakan tidak bisa membantah ucapan Tuan Kanae. Apa yang dikatakan pria ini benar, mereka terlalu lemah.
Hanya saja, ada seorang pemain wanita yang sepertinya masih tidak terima. Dia pun berkata, "Beruang kayu itu terlalu kuat. Saat kaki melewati garis, dia langsung menembak. Bahkan tidak memberi kami kesempatan bernapas, apa-apaan itu?!"
"Alasan itu hanya dikatakan oleh mereka yang lemah." suara Tuan Kanae berubah dingin, "Apa kau pikir lawanmu akan memberimu kesempatan bernapas? Mururu tidaklah kuat, tetapi kaulah yang terlalu lemah."
Tuan Kanae mengedarkan pandangan sebelum kembali berkata, "Mururu hanya beruang kayu. Dia dirancang sedemikian rupa untuk menjadi teman latihan kalian. Dia tidak sama dengan manusia yang bisa mengembangkan kemampuan. Jadi setelah kalian istirahat, latihan akan kembali berlanjut! Pikirkan apa yang harus dilakukan! Gunakan kecerdasan kalian!"
*
*
*
Raiden menghabiskan waktu seharian penuh untuk membersihkan kamarnya. Tubuhnya basah karena keringat dan debu.
Dia harus mengangkat barang-barang yang menumpuk di kamarnya dan membawa berbagai barang itu ke belakang gedung---tempat berkumpulnya rongsokan yang akan di daur ulang.
Dia membuka kain yang menutup rambut, hidung dan mulutnya. Raiden pun mulai mengembuskan napas, meski terdengar agak tersengal-sengal. "Keterlaluan, aku harus berjalan jauh sampai naik-turun tangga untuk membawa barang-barang yang entah alasan apa itu di simpan di tempat ini. Haaih... Benar-benar si pirang itu, dia 'Senior' yang tidak ada akhlak."
Perut Raiden tiba-tiba berbunyi. Pemuda bermata merah itu sudah seharian penuh membersihkan kamarnya dan belum makan apa-apa. Dia pun bergumam, "Sebaiknya aku mandi dulu. Baru setelahnya mencari makan,"
Raiden kembali harus berjalan jauh. Tidak ada kamar mandi di dalam kamarnya, jadi dia perlu mencarinya di luar. Dapur merupakan targetnya.
"Kuharap penampilanku sekarang masih mempesona. Meski ditutupi debu sekali pun, wajah tampanku harus tetap terlihat sempurna..."
Suara Raiden terdengar pelan ketika dia berjalan. Pemuda bermata merah itu selalu peduli pada penampilan, apalagi wajahnya. Dia tidak terima jika wajahnya terlihat menyedihkan. Wajahnya harus selalu sempurna.
Dapur di tempat ini ada di lantai pertama dan terletak paling belakang. Raiden beberapa kali berpapasan dengan para pemain yang memberinya tatapan aneh. Hanya saja dia tidak terlalu peduli dan terus berjalan.
Sebelumnya saat menurunkan banyak barang di kamarnya berulang kali, Raiden juga berpapasan dengan beberapa orang. Tetapi sepertinya dia dianggap sebagai pekerja di tempat ini. Rasanya menyebalkan, namun harus bagaimana lagi. Tidak mungkin dia mengatakan murid di tempat ini dengan rongsokan yang dibawanya, kan?
Raiden mengembuskan napas. Saat tiba di dapur, dia pun menghampiri seorang wanita dan bertanya letak kamar mandi. Wanita yang sudah sering melihat Raiden berlalu-lalang sambil membawa berbagai benda bekas itu pun membantunya. Dia bahkan memberi Raiden satu set pakaian ganti dan sebuah handuk.
"Apa kau tidak dibantu siapa pun untuk membersihkam gudang?" wanita itu bertanya saat Raiden mengambil handuk pemberiannya.
"Gudang?" Raiden mengerutkan kening, dia menatap wanita tua di hadapannya. "Maksud Anda...?"
"Bukankah kau membersihkan gudang di lantai dua? Kau terlihat bersemangat, jadi aku tidak ingin menganggumu."
"Ah... Kurasa tidak, aku membersihkan kamarku."
"Kau murid baru, kan?"
"I... Iya," perasaan Raiden mulai tidak enak.
"Murid baru biasanya mendapatkan kamar pribadi masing-masing. Baik pakaian dan lainnya sudah dipersiapkan. Kupikir kau tidak ikut belajar karena membantu seniormu membersihkan gudang. Apa..."
Wanita tua itu tersentak saat melihat ekspresi terkejut Raiden. Dia pun menggeleng pelan dan menepuk lengan pemuda bermata merah itu.
Suaranya pelan, "Sepertinya... Kau sedang dikerjai. Anak-anak di tempat ini sering melakukannya pada anggota baru. Tapi melihat kau baru sadar sekarang... Aku jadi merasa kasihan sampai tidak tega menyebutmu bodoh."
Raiden sampai kelu. Tenggorokannya sakit karena mengingat apa yang sudah dilakukan Hide padanya. Tidak disangka Si Pirang itu sangat nekat mengerjainya, bahkan sampai di tingkat ekstrim seperti ini.
"Tenanglah..." wanita itu sadar pemuda di depannya sedang terguncang, "Kau pasti anak yang sangat baik. Tidak apa-apa... Biarkan aku yang mengantarmu ke kamarmu. Sekarang tenanglah..."
"Aku... Aku baik-baik saja. Te-terima kasih,"
*
*
Raiden merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Kamar ini jauh lebih baik daripada ruangan yang dia bersihkan sebelumnya. Ruangan ini luas, memiliki kasur yang empuk, lemari pakaian yang lengkap dan sebuah kamar mandi.
Jendela di ruangan ini pun besar, apalagi terdapat satu set kursi kayu dan sebuah cermin setinggi pria dewasa yang cocok digunakan Raiden ketika ingin memuji diri sendiri. Hanya saja sekarang suasana hatinya masih belum membaik.
"Sejak awal aku sudah curiga bahwa Si Pirang itu mengerjaiku. Mana mungkin anggota baru Guild Singa Emas tidak diberi kamar pribadi? Masalahnya, meski hubunganku dengannya tidak terlalu baik. Dia harusnya tidak bersikap kelewatan seperti ini. Aku kan sudah menolongnya,"
Raiden memejamkan matanya sejenak. Dia beristirahat. Setelah membersihkan diri harusnya dia tidur sekarang, namun perutnya berbunyi dan itu mengganggu. Dengan berat hati, dia pun bangun dan turun dari kasurnya yang nyaman.
Wanita yang sebelumnya dia temui dan sekaligus mengantarnya ke kamar ini bernama Fumioka. Beliau memang memintanya untuk turun ke dapur setelah bersih-bersih, jadi meski selelah apa pun kondisi tubuhnya saat ini----Raiden harus menemuinya.
Saat tiba di dapur, tatapan mata Raiden seketika berubah cerah. Fumioka benar-benar baik karena memasak makanan yang terlihat lezat hanya untuknya.
"Bibi, ini..." Raiden berkedip beberapa kali. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang begitu senang.
"Ayo duduklah. Aku membuatkan mie kukus dengan irisan daging sapi yang tebal..." Fumioka tersenyum.
"Ini makanan nasional anak muda, Bibi." rasa lelah Raiden seperti menghilang.
Fumioka tertawa, "Maksudmu mie-nya?"
Raiden tertawa ringan dan mulai duduk.
"Kau sudah bekerja keras seharian ini. Sekarang makanlah yang banyak. Aku juga membuatkanmu sosis goreng. Apa kau suka kubis?"
"Oh, aku orang yang tidak pilih-pilih makanan. Aku suka semuanya,"
"Bagus, bagus sekali. Nah, di sini juga ada kaldu rempah-rempah dengan pangsit yang kubuatkan untukmu."
Raiden, "Apa aku boleh minta nasi putih?"
"Astaga, kau ini sama seperti yang lain. Aku selalu bilang pada anak muda di tempat ini agar tidak makan nasi saat makan mie. Itu sama sekali tidak sehat,"
"Bibi, tapi bagi kami----makan tanpa nasi itu namanya bukan 'makan'."
"Kalau bukan 'makan', lantas apa sebutannya? Kau ini..."
Raiden tersenyum dan mulai menyeruput mie miliknya. Dia pun berkedip beberapa kali dan lalu menatap Fumioka. "Bibi? Apa kau sudah menikah?"
Pertanyaan Raiden yang tiba-tiba ini membuat Fumioka mengerutkan kening. Dia pun menjawab, "Aku punya seorang putri dan seorang cucu. Memang ada apa?"
"Ah... Sayang sekali. Kalau saja Bibi belum menikah, aku pasti sudah menikahimu sekarang. Masakanmu sangat enak, ini benar-benar sempurna."
"Anak ini..." Fumioka mencubit gemas pipi Raiden, dia tertawa ringan. "Dari mana kau belajar cara menggoda wanita tua seperti itu, hah...? Benar-benar... Kau memanfaatkan ketampananmu, oh..."
Hanya dalam waktu yang singkat. Raiden sudah sangat akrab dengan Fumioka. Dia makan begitu lahap.
"Bibi, ke mana murid yang lainnya. Apa mereka tidak ikut makan malam? Di sini hanya ada aku dan Bibi saja,"
"Sebenarnya ada ruangan khusus untuk makan di bagian tertentu gedung ini. Tapi saat malam hari, anak-anak itu memilih makan di luar."
"Namanya juga anak muda,"
"Benar, ayo makan lagi. Makan yang banyak. Katakan jika kau masih mau menambah makanan lagi,"
"Terima kasih, Bibi. Aku akan makan yang banyak,"
Raiden menghabiskan waktu cukup lama bersama Fumioka. Setelah selesai mengisi perutnya, dia pun keluar untuk mencari udara segar. Langit malam terlihat indah di atas sana. Bahkan jika dunia Elvort Garden adalah game, dia masih bisa menatap benda-benda langit.
Cahaya bulan dan keindahan bintang selalu bisa membuat hati Raiden tenang. Dia tidak merasa jauh dari rumahnya. Bahkan karena langit berbintang itu----Raiden seperti berada di dunia yang nyata.
Berjalan-jalan di halaman membuat Raiden sampai di dekat para pemain yang salah satunya adalah Yuna. Dia mengerutkan kening kala memperhatikan dengan seksama.
Ada beberapa pemain yang berkumpul di satu tempat. Tidak sedikit dari mereka yang nampak terengah-engah, begitu kelelahan, bahkan sampai berkeringat. Lainnya juga terbaring di tanah. Yuna sendiri terlihat mengatur napasnya.
"Ada apa dengan mereka?" Raiden heran.
Dia pun berjalan mendekat. Bersamaan dengan itu, satu pemain kembali melesat. Dia menghindari tembakan dari beruang kayu Mururu, namun gagal pada langkah berikutnya.
"Tidak ada yang akan kembali ke kamarnya sebelum satu orang di antara kalian bisa menyentuh topi Mururu!" suara Tuan Kanae begitu tegas, "Pemain selanjutnya! Cepat!"
"Baik!"
Satu orang lagi kembali berdiri dengan tatapan yang fokus. Keringat sudah mengucur dan membasahi wajah serta pakaiannya, tetapi dia masih belum bisa lebih dekat dengan Mururu.
Tuan Kanae memperhatikan pemain yang mulai bergerak. Hanya saja dia merasa bahwa ada orang yang berjalan mendekat. Dirinya pun menoleh dan berbalik ke belakang. Dia bisa melihat seorang dengan mata merah menyala tengah menghampirinya.
Beberapa pemain juga menyadarinya. Meski kelelahan, mereka masih berusaha untuk menoleh dan melihat siapa yang berjalan mendekat. Tidak sedikit dari pemain yang terlonjak kaget ketika melihat mata merah menyala di tengah redupnya malam.
!!
***