
Raiden baru memperhatikan ular-ular itu dengan jelas. Binatang tersebut memang adalah sejenis Kobra Hantu, ular yang mempunyai regenerasi hebat dan pernah sangat merepotkannya di masa lalu.
Sulit untuk membunuh binatang tersebut. Meski tubuhnya terbelah dua dan kepalanya dipisah sekali pun--Kobra Hantu tetap dapat menyatukan bagian tubuhnya kembali.
Aaaakh..!!
!?
Raiden dan Yun spontan menoleh ketika mendengar sebuah jeritan. Keduanya terkejut ketika seorang pemain berusaha melepaskan ular yang mengigit lehernya.
Sesuatu yang mengerikan selanjutnya terjadi. Kobra Hantu yang menggigit leher pemain muda itu seketika menghilang dan seakan masuk ke tubuh pemain tersebut.
!!
Bekas gigitan ular itu nampak lebam dan warnanya kian menggelap---semakin naik hingga sampai ke wajah. Bau seperti daging busuk tiba-tiba saja tercium bersamaan dengan mata pemain itu yang mengeluarkan cairan hitam pekat.
"Ya Tuhan.. Apa yang terjadi dengannya?"
"Lari.. Semuanya Lari..! Menghindar dan cari tempat yang aman..!"
"Pergi..! Cepat pergi..!"
!!
Nona Melinda tersenyum senang ketika melihat kepanikan yang terjadi di bawahnya. Matanya berkilat, agak berair, dan ekspresi wajahnya seperti sedang bergairah.
"Melihat mereka begitu menderita membuatku sangat terangsang~" semburat kemerahan nampak pada wajah Nona Melinda, nada suaranya begitu aneh--sebenarnya sangat tidak tahu malu.
Atsui yang merupakan ketua dari Guild Perisai Api hanya dapat mengerutkan kening sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Meski sudah sering bertemu dengan Nona Melinda dan tahu benar kepribadian wanita bertubuh indah ini--Namun dia masih merasa tidak nyaman.
Gomoru sendiri yang merupakan ketua dari Banteng Putih nampak fokus memperhatikan bagaimana setiap pemain mencoba melarikan diri dari Kobra Hantu miliki Nona Melinda.
Dia menyilangkan kedua tangannya dan berbicara tanpa menoleh ke arah wanita cantik itu, "Nona Melinda. Kau tidak benar-benar menyuruh peliharaanmu untuk membunuh mereka, bukan?"
"Mm? Memang kenapa kalau aku ingin mereka mati? Lagipula hukum di dunia ini sama. Yang bertahan hidup hanyalah mereka yang kuat."
Atsui mendengarnya, "Tidak baik menggunakan kekuatanmu dengan cara semacam ini. Biar bagaimanapun, para pemain di Elvort Garden hanya punya satu nyawa. Jika kau menghabisi mereka, penghuni dunia ini akan semakin berkurang."
Nona Melinda, "Sayangku~ jika kau sangat peduli pada mereka, mengapa tidak menolongnya?"
Atsui mendecih, "Yang membuat masalah adalah kau, jadi kau yang harus menyelesaikannya. Kenapa harus aku yang turun tangan menyelesaikan masalahmu?"
Nona Melinda, "Kau ini dingin sekali.. Apa tidak bisa bicara lebih lembut pada wanita cantik, huh~?"
Tingkah Ketua dari Guild Ular Hitam itu sangat mengesalkan. Dengan gayanya sendiri--Nona Melinda seakan abai pada kondisi para pemain yang saat ini sedang bertarung mempertahankan nyawa mereka.
Raiden yang sekilas menengadah dan memperhatikannya dari jauh nampak menggelengkan kepala, "Benar-benar wanita ular. Menyesal aku begitu mengaguminya tadi,"
Yun mendengus mendengar ucapan teman baiknya. Dia menghindari semburan bisa salah satu ular dan kemudian berkata, "Wanita cantik itu hanya ada dua tipe, Rai. Pertama dia sangat baik tapi sudah punya pasangan, dan yang kedua adalah dia licik dengan hati yang kotor."
"Wah. Kalau begitu Lulu tidak termasuk salah satunya." Raiden berhasil menebas tiga Kobra Hantu meski perhatiannya terbagi pada pembicaraannya dengan Yun.
"Lulu itu berada di kelas yang berbeda. Dia spesies manusia imut yang disukai para pedofil. Tapi jika dipandang dari sudut usia, Lilulu tipekal gadis cantik namun kurang merangsang gairah para pria seperti kita."
"Ha ha ha, Yun. Suaramu terlalu keras, tapi kau benar. Aku masih tetap suka sesuatu yang kenyal dan bergoyang-goyang."
"Kalian Berdua..!! Dasar Pria Mesum! Perhatikan ke depan..!!" seruan seorang gadis yang berpakaian ungu pudar mengagetkan Raiden dan Yun.
Gadis itu mempunyai paras yang cantik, terlihat berusia 23 Tahun dengan rambut yang senada warna pakaiannya. Senjata miliknya adalah panah, dia sosok gadis yang setiap pergerakannya lincah dan stabil.
Raiden berkedip, "Nona. Kau ini siapa?"
"Apa penting untuk berkenalan sekarang? Selamatkan saja nyawamu."
Raiden berkedip untuk yang kedua kalinya sambil mengembuskan napas. Dia sudah banyak bertemu berbagai jenis manusia, tidak terkecuali gadis dengan sifat yang ketus. Karenanya dia baik-baik saja bahkan setelah ditegur demikian.
Raiden memang tak mempermasalahkan ini, tetapi bukan berarti Yun juga demikian. Melihat temannya diperlakukan seperti itu, apalagi oleh seorang gadis---timbul rasa ingin menghina temannya.
Yun pun tertawa meledek, "Woah. Seperti biasa, Raiden yang mengaku tampan kembali tidak mampu menaklukkan hati seorang gadis pun. Aku jadi bertanya-tanya, apa gunanya wajahmu itu? Sia-sia saja."
"Yun, sialan! Apa kau mau mati?!" Raiden meniup keras poni rambut depannya, dia lantas memegang kuat belatinya dan Vit mulai terkumpul menyelimuti senjata tersebut.
Raiden kembali melanjutkan, "Hmph, ketampananku ini bukan untuk pajangan. Lihat saja, bagaimana aku mencuri semua perhatian. Kau tidak akan mendapatkan apa pun!"
!
Yun terkejut saat tiba-tiba saja Raiden menghilang.
Sebenarya tidak menghilang, hanya saja gerakan temannya itu sangat cepat hingga sulit diikuti mata.
Satu-satunya cara untuk tahu lokasi Raiden berada adalah kilatan cahaya putih keperakan yang bagaikan memotong udara.
!!
Di sisi lain, para pemain sudah banyak yang tumbang. Namun sebagian tetap mampu bertahan dan menunjukkan kebolehan mereka seperti ketiga gadis cantik berpakaian merah muda dengan pita besar di kepala itu contohnya.
Gadis-gadis tersebut adalah Sisil, Mika, dan Renuko. Kelompok yang menyebut diri sebagai 'Cherry Blossom' dan memakai payung sebagai senjata.
Penampilan mereka cukup mencuri perhatian para Tetua Guild yang melihat, termasuk Orochi. Ini bukan hanya pakaian Sisil, Mika, dan Renuko yang nampak bagai bunga mengembang, tetapi memang karena kerja sama ketiganya sangat mengagumkan.
Para gadis itu dapat bergerak lincah walau di sekeliling mereka cukup banyak pemain. Ketiganya mampu menghindari serangan Kobra Hantu dan bahkan membalas serangan yang didapatkan.
Renuko, gadis dengan tahi lalat kecil di pipi kirinya itu nampak tersenyum sambil memutar payungnya. Belati-belati kecil keluar dari benda tersebut dan langsung tertancap indah di kepala Kobra Hantu.
!!
Aakh..!
"Sialan. Hei..! Siapa yang berani menyerangku?!" seorang pria mencabut sebuah belati yang tertancap di lengannya. Wajahnya terlihat amat murka.
"Hati-hati di belakangmu..!!" pemain yang lain berseru.
Pria itu berbalik, namun tidak sanggup menghindar. Ada tiga serangan Kobra Hantu yang mengarah padanya. Seketika tubuhnya menjadi kaku dan jantungnya seperti berhenti berdetak.
!!
Waktu terasa pergi meninggalkannya. Dia begitu terkejut hingga sulit mengetahui apakah saat ini dirinya masih bernapas atau tidak.
Hanya saja, dalam waktu sepersekian detik--sebuah cahaya melesat dan menebas musnah Kobra Hantu itu hingga bahkan tetesan darah ular tersebut menyatu dengan udara.
"Kau baik-baik saja?"
!!
Suara tenang seorang pemuda terdengar. Pria itu baru saja merasakan detakan jantungnya kembali. Penglihatannya kini tertuju pada sosok bermata merah yang tengah melihatnya.
"Raiden.."
"Heh, kau ternyata mengenaliku? Tapi kau ini siapa?" Raiden memperhatikan pria dengan bekas parut di dagu itu, tatapan matanya seperti biasa.
Tangan pria yang baru saja diselamatkan tersebut terlihat terkepal kuat. Tatapan matanya menggelap dan giginya bergemeretakan, rasa-rasanya seperti urat di dahinya menegang.
"Pertanyaanmu sangat mengesalkan, Raiden.. Kau bahkan tidak mengenali orang yang sudah bertarung denganmu belasan kali..! KAU..! Kau Sialan..!"
!!
Raiden tersentak, namun dia sedetik berikutnya dia mengerutkan kening. "Kalau aku tidak mengenalimu, berarti kau tidak pernah meninggalkan kesan padaku. Dan lagipula, aku terlalu banyak bertarung dengan orang. Apa aku harus ingat wajah mereka yang kalah dariku?"
"Tentu saja Harus! Kau menyinggung banyak orang dalam setiap langkahmu, apa kau masih dapat bernapas tenang setelahnya! Aku.. Aku Juga Benci Padamu!"
Kemungkinan karena cahaya pagi hingga warna mata Raiden seakan lebih terang dari biasanya. Dia menatap pria itu tanpa mengendurkan fokusnya. Dirinya bahkan dapat menolong pemain lain yang tengah kewalahan hanya dalam sekali ayunan belati tanpa bergerak dari tempatnya berdiri.
"Mm.. Aku memang suka menyinggung banyak orang. Tapi kalau mereka berani datang, bukankah aku hanya perlu menarik tulang lehernya keluar? Atau.. Kau mau mencobanya.. Giryuu-Kun." Raiden tersenyum, dia mulai ingat pria ini.
Giryuu merupakan orang yang sedikit mirip dengan Hide. Dia adalah salah satu korban dari poster mengesalkan yang disebarkan oleh Yun dan Lulu.
Jelas sekali karena tidak terima dengan perkataan tertulis di poster pengumuman yang sungguh nampak mencari musuh itu, Giryuu pun akhirnya datang menemui Raiden untuk menantangnya bertarung dan benar-benar mengalami kekalahan yang memalukan.
Giryuu mengumpat, "Sialan. Aku ke Kota Api untuk dapat bergabung dengan salah satu Guild besar dan lalu membalas dendam, tapi justru malah diselamatkan oleh orang sepertimu. Benar-benar sialan,"
Dendam yang dikatakan olehnya itu sebenarnya tidak ditujukan pada Raiden. Ini tentang urusan pribadinya sendiri, namun tetap saja Raiden termasuk ke dalam orang yang tidak Giryuu sukai.
"Aku tahu kau membenciku, jadi aku tidak akan membantumu lagi. Kau selamatkan dirimu sendiri," Raiden tidak punya waktu untuk berdebat apalagi memancing permusuhan yang dalam dengan pria ini.
Dia bergerak pergi. Menyerang setiap Kobra Hantu yang ditemuinya dan menyelamatkan pemain yang kewalahan.
Raiden memang berkata tidak akan membantu Giryuu lagi, namun karena berfokus pada musuh yang sama untuk saat ini---Dia telah banyak membuat nyawa pemain selamat.
!!
Raiden mungkin terlihat bergerak secara acak, dia menyelamatkan pemain tanpa peduli siapa pun. Namun sebenarnya, langkah yang diambil oleh teman Yun dan Lulu itu semakin mendekat ke bawah lantai tempat kelima Ketua Guild berada.
Ekspresi wajah Raiden tenang dan penuh konsentrasi penuh. Dia menargetkan empat ekor ular dan langsung menerjang menangkap mereka.
!!
Secara cepat Raiden melempar ular itu tinggi-tinggi sebelum Kobra Hantu tersebut menyemburkan bisa dari matanya.
Satu persatu ular berhasil Raiden tangkap dan dia lempar tinggi secara asal. Namun sepertinya inilah rencana dari pemuda bermata merah itu.
!!
Empat ekor ular yang menyemburkan bisanya di udara dan itu mengarah ke tempat di mana kelima Ketua Guild dan Orochi berada. Mereka terkejut dan spontan melompat mundur.
Ada dua rekan Orochi yang terlambat mengelak hingga terkena semburam bisa itu. Mereka mengerang kesakitan dengan kulit wajah yang terasa seperti terbakar.
Sebuah senyuman terbentuk di wajah tampan Raiden. "Kobra Hantu memang binatang yang sulit dibunuh, tapi bukan berarti aku tidak bisa membalas perbuatan kalian. Jadi, karena kalian sepertinya hanya melihat penderitaan kami di bawah sini---maka aku membuat kalian ikut merasakannya."
Senyum tipis itu perlahan semakin lebar hingga menjadi seringai menggetarkan. Raiden melempar belati yang masih dialiri Vit miliknya hingga senjata itu tertancap indah di tanah.
!!
Aliran listrik bertenaga tinggi mengalir seperti angin badai dan menyebar--nyaris memenuhi seluruh permukaan tanah. Satu persatu Kobra Hantu tersengat hingga terlempar tinggi dan jatuh tepat di lantai kedua.
Kejadian yang sangat tidak terduga itu kembali mengejutkan Nona Melinda, Orochi, dan para Ketua Guild yang lain. Mereka juga kini dilibatkan untuk mengatasi ular yang entah bagaimana bisa terlempar kemari.
!!
Lulu menapakkan kakinya di tanah, di mengembuskan napas. Ekspresi wajahnya datar, namun tatapan matanya mengedar untuk mencari seseorang.
Saat melihat Raiden, pipi Lulu pun perlahan menggelembung. "Menyebalkan. Dia selalu seperti ini. Bermain-main pada keselamatan nyawanya dan juga keselamatan orang lain. Raiden baka*."
^^^*bodoh \= バカ (Baka)^^^
Bila ingin dikatakan, Lulu sebenarnya mengakui kekuatan dari temannya itu. Raiden jelas adalah salah satu pemain Elvort Garden yang kuat dan sulit dikalahkan.
Hanya saja ada saat di mana dalam sebuah pertarungan--Raiden menginginkan rasa sakit dibandingkan apa pun. Buktinya adalah ketika dia bertarung dengan Hide dan mendapat luka yang cukup parah. Padahal jika Raiden ingin serius sejak awal, bahkan angin dari serangan Hide tidak akan mampu menyentuh sehelai rambutnya. Itulah sebabnya Lulu kesal, menyebutnya 'bodoh' selain dari kata 'Masokis'.
***