RAIDEN

RAIDEN
25 - Firasat



Di tengah pertarungan Raiden melawan dua Ghoul sekaligus, dia bisa melihat Yuna dan Gleen mengatur napas. Jelas sekali bahwa kedua rekannya itu sangat kewalahan, meski demikian mereka tetap ikut menghadapi Ghoul lain yang ada.


"Mereka kenapa bisa sekuat ini?!" Ogiwara sendiri begitu tak percaya, dia yakin telah memberikan tebasan yang kuat pada salah satu Ghoul---Namun jangankan tumbang tak bernyawa, Ghoul bertubuh layaknya anak kecil itu justru semakin lincah menyerangnya. Seakan-akan tidak pernah terkena serangan apa pun sebelumnya.


Raiden berhasil menusuk kepala salah satu Ghoul dengan memakai belati miliknya, keningnya mengerut kala menyadari sesuatu. Dia pun menarik belatinya dan melompat mundur ketika serangan Ghoul lain datang.


"Mereka sejenis 'Deathless'. Sulit menyingkirkan mereka dengan cara yang biasa," Raiden berujar sambil tetap mempertahankan fokus perhatiannya.


"Deathless.." Karin bergumam saat mendengar ucapan Raiden. Deathless merupakan makhluk yang tubuhnya memiliki karakteristik sulit dibunuh, dapat dikatakan mereka makhluk 'abadi'.


Gleen yang mendengarnya juga ikut bersuara, "Walau sejenis 'Deathless', tapi kurasa level mereka masih terlalu rendah. Jika kita tahu kelemahannya, maka tidak akan sulit menyingkirkan mereka semua."


Karin berusaha mengatur napas, jika yang dikatakan Gleen itu benar---maka dia harus mencari kelemahan para Ghoul ini terlebih dahulu. Hanya saja bila tidak ditemukan sesegera mungkin, keadaan dapat semakin kacau.


"Aku bisa saja memakai kekuatan penuh, tetapi itu tidak akan dapat menjamin keselamatan kalian." Karin tidak bisa mengambil resiko, dia tahu benar bahwa serangannya memiliki jangkauan yang luas dan tentu berbahaya bagi para juniornya, termasuk Ogiwara.


Ghoul yang awalnya dilawan Karin, Yuna, dan Gleen sebenarnya hanya berjumlah dua orang. Tapi saat Ghoul itu mendapat serangan yang fatal---tubuh mereka justru mampu membelah diri. Dari yang hanya berjumlah dua Ghoul, kini semakin bertambah hingga menjadi delapan.


!!


Karin menghindar, "Kita butuh serangan yang fatal pada tubuh musuh, tetapi tidak berdampak merusak pada benda yang ada di sekeliling. Apa kalian punya teknik semacam itu?" dia menoleh ke arah Ogiwara dan Raiden.


"Tidak bisa, seranganku butuh tempat yang luas dan dampaknya juga besar bila memakai seluruh tenaga. Raiden, bagaimana denganmu?"


"…"


Raiden menatap Ogiwara sejenak sebelum menarik napas pelan, "Aku punya caranya. Tetapi ini sebenarnya tidak menjamin apakah teknik yang kugunakan akan memberikan kerusakan parah atau sebaliknya, aku hanya perlu mencoba untuk memastikan."


Karin mendesak, "Kalau begitu lakukan!" dia mengatur waktu yang tepat dan selanjutnya berseru agar Ogiwara, Yuna, dan Gleen melompat menghindar.


Detik mereka melakukannya, Raiden segera melesat dengan tangan kanan yang menyentuh gagang pedangnya.


Dia menariknya sedikit hingga bilah keperakan pada pedang tersebut terlihat, di waktu yang bersamaan terdengar suara nyaring bagai petir yang bersahut-sahutan. Dan karena kondisi yang berada di tempat tertutup---suara itu menjadi semakin kuat.


Raut wajah Raiden memburuk saat dia melesat dan menargetkan Ghoul yang ada. Hanya dalam dua kali gerakan dan tubuh kedelapan Ghoul yang mereka lawan meledak seakan baru saja tersambar petir.


Suaranya keras dan bahkan membuat lantai yang dipijak bergetar. Raiden menapakkan kakinya dan secara bersamaan memuntahkan darah, urat terlihat menegang di dahinya.


Tangan kanannya yang gemetar langsung mendorong masuk pedangnya hingga bilah yang terlihat sebelumnya kembali tersembunyi. Nampak bahwa telapak tangan Raiden mengalami luka yang cukup serius.


Orang yang lebih dahulu menyadari keadaan Raiden adalah Karin. Wanita itu segera menghampirinya dan membantu Raiden berdiri. Dia bisa melihat dengan jelas betapa pucatnya wajah pemuda bermata merah ini.


"Ada apa denganmu?" Karin dapat mendengar suara napas Raiden yang berantakan, seakan-akan serangan barusan seperti pedang bermata dua.


Raiden menggeleng pelan, dia mencoba mengatur napasnya. Suaranya agak bergetar ketika berujar, "4 cm merupakan batas maksimal kesanggupanku menarik pedang. Sementara yang barusan terjadi adalah tarikan melebihi batasnya,"


Karin jelas terkejut, tetapi belum sempat dia bicara---suara hembusan angin yang aneh tiba-tiba saja terdengar. Itu semakin nyaring dan ketika menoleh, dia bisa melihat bekas di mana para tubuh Ghoul lenyap kini menyemburkan asap hitam pekat.


!!


Ogiwara, Yuna, dan Gleen terkejut melihat kepulan tersebut berkumpul di satu titik sebelum akhirnya memadat. Asap itu membentuk makhluk bertubuh mirip gurita dengan mata berwarna hijau menyala.


"Itu.." mata Gleen terbelalak, aura yang menekan membuatnya sulit untuk bicara.


"Awas!!"


!!


Semuanya berantakan. Raiden yang walau terluka parah masih berusaha melindungi Karin namun tidak dapat menghindari serangan yang datang. Mereka semua terjatuh ketika tidak ada lagi tempat berpijak.


Di sisi lain, Hide yang tengah bersama dengan Liyan, Yun, Shoyo, dan Mei juga merasakan getaran pada lantai. Detik berikutnya lantai itu bagai mengalami longsor hingga membuat mereka semua terperosok.


Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat hingga tidak dapat dihindari. Semua penglihatan pemain seakan menghitam untuk sejenak sebelum merasakan sensasi jatuh dari ketinggian dan langsung menghantam tanah.


Raiden menggunakan tubuhnya sebagai matras agar Karin tidak sampai terluka. Dia bukannya perhatian, tetapi memang ini merupakan reaksi tubuhnya yang alami. Jika orang lain yang berada di posisi Karin, dirinya tentu akan melakukan hal yang sama.


"Kau.. Apa baik-baik saja?" Raiden bertanya sambil menahan sakit pada punggungnya. Dia yakin keadaannya sekarang amat menyedihkan, sama sekali tidak terlihat keren.


Karin perlahan bangun, "Aku tidak butuh perhatian dan bantuanmu. Kau pikir aku lemah, huh?!" raut wajahnya terlihat buruk, jelas sekali dia paling tidak suka berada pada posisi yang dilindungi.


"Aah.. Tubuhku bergerak sendiri, Senior. Maaf jika kau tidak menyukainya." Raiden perlahan bangun, tubuhnya terasa sakit dan telapak tangan kanannya pun masih memperlihatkan luka akibat pedang miliknya.


Gleen dan Yuna juga terlihat berusaha bangun. Keduanya ikut merasakan sakit pada tubuh mereka, sementara Ogiwara yang sudah terbiasa dengan sakit semacam ini telah mampu berdiri seperti biasa.


!!


Kening Ogiwara mengerut ketika tersadar dengan tempat dia dan rekan-rekannya berpijak sekarang. Mereka ternyata berada di sebuah ruangan luas dan terkesan bagai reruntuhan.


Terdapat Altar Persembahan yang jaraknya sekitar 7 meter dari tempat Ogiwara berada. Keterkejutan kembali menyelimutinya saat tahu bahwa di tempat ini tidak hanya ada dia, Raiden, Karin, Yuna, dan Gleen. Tetapi juga ada pemain lain yang sepertinya ikut menjelajah Dungeon ini.


Beberapa pemain berusaha membantu rekan mereka yang tertimpa puing-puing. Ogiwara dapat melihat ada pemain yang mengalami luka parah hingga harus meminum beberapa Potion.


Benar-benar tidak ada di antara pemain yang pakaiannya bersih. Mereka jelas sudah mengalami pertarungan sengit sebelum jatuh ke tempat ini. Masalahnya dia merasa ada sesuatu yang salah.


Raiden yang sekarang telah berdiri juga menyadarinya. Para pemain yang dia lihat harusnya berada di bagian lain dari Dungeon, tetapi mereka semua justru berkumpul di sini seakan ada seseorang yang telah mengaturnya.


"Lihat ke atas!"


Raiden mendengar seruan salah satu pemain, dia pun menengadah dan melihat bahwa terdapat kepulan asap hitam yang seakan menutupi langit-langit. Suasana di sekelilingnya mendadak berubah, udara terasa kian menekan.


"Sebenarnya apa yang terjadi..?" Raiden tidak bisa memikirkan kemungkinan pasti dari keadaan ini. Dia sangat buruk bila mengandalkan firasat karena kejadian yang dirinya pikirkan seakan benar-benar dapat menjadi nyata.


"Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini," Karin menatap tajam ke depan, tepat pada Altar Persembahan yang ada di hadapannya. Dia membuat pemuda di sampingnya menoleh.


"Senior, aku pernah mendengar bahwa pikiran negatif memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terwujud menjadi nyata. Kau tidak boleh melakukannya," Raiden memperingati.


"Tidak dipikirkan pun itu sudah terjadi. Lihatlah ke depan," Karin memberi tanda dengan tatapan matanya dan membuat Raiden menoleh.


Tidak jauh di hadapan mereka, terlihat sosok manusia bertubuh mirip anak kecil berusia sekitar 10 Tahun. Pakaiannya hitam dengan corak aliran air berwarna merah, dia nampak memeluk sebuah boneka beruang besar.


"Selamat Datang.. Ayo main denganku.."


Suara dari sosok itu terdengar lembut, polos seperti milik anak perempuan. Tetapi entah bagaimana bahkan orang sebesar Ogiwara pun merinding kala mendengarnya. Tidak sedikit dari pemain yang bahkan tanpa sadar menahan napas.


Andai ada status bar yang terlihat, mereka yakin bahwa sosok anak kecil yang berdiri di tengah altar tersebut berada di level yang tinggi. Tidak menutup kemungkinan dia adalah Big Bos dari Dungeon ini.


"Apa mungkin misi yang kita ambil adalah jebakan..?" suara Yuna pelan, tetapi mampu didengar oleh Gleen dan Ogiwara. Ucapannya mengejutkan, tetapi jika itu benar---maka berarti ada rahasia besar dibalik ini semua.


***