RAIDEN

RAIDEN
32 - Rintangan



Orang-orang yang sedang mengelilingi Dungeon tempat Raiden dan Hide berada merupakan anggota dari Guild Raja Sungai Biru. Mereka sejenis kelompok yang kuat, tetapi angkuh dan kejam. Tim mereka terbentuk untuk tujuan mencuri dan membunuh, jelas bahwa saat ini guild itu mengincar para pemain di dalam dungeon.


Hide yang bersama dengan Raiden tidak tahu dengan bahaya yang menunggu mereka di luar. Keduanya sibuk menghadapi monster serigala bermata hijau tersebut.


!!


Bukan hanya gerakan monster itu yang cepat, bahkan aura yang keluar dari tubuhnya amat menekan. Hide berusaha keras menjaga jarak agar tidak sampai masuk dalam aura itu sambil memberi serangan dari luar.


Untuk Raiden sendiri, dia sebelumnya sudah terluka dan sekarang masih dipaksa bertarung oleh keadaan. Dia sebenarnya tidak mengeluhkan hal ini, tapi serius! Melawan BOS yang begitu gesit dan kuat ini?! Bukankah mustahil..?!


"Aku baru bergabung dengan Guild, bahkan belum bertemu senior-senior cantik bertubuh bagus----masa iya akan berakhir tewas mengenaskan di tempat antah berantah ini?!"


"Raiden! Hentikan keluhanmu dan fokus!" Hide memberi perintah. Vit mengalir dan menyelimuti bilah pedangnya. Detik berikutnya dia kembali melancarkan serangan---hanya saja kali ini monster serigala itu menghindarinya.


"Sialan! Ini tidak akan berhasil..!" Hide merutuk kesal. Kemampuannya tidaklah sepayah ini, namun gerakan lawannya memang bukan sesuatu yang patut diremehkan.


"Manusia yang berani memasuki wilayahku harus mati..!"


!!


Hanya dengan sekali ayunan cakarnya, lima buah serangan melesat ke arah Hide dan Raiden. Kedua pemuda itu dengan cepat menghindar meski cukup sulit melakukannya di tempat yang seperti ini.


Hide berpikir keras sambil tetap fokus pada serangan dari lawannya. Dia memikirkan kondisi sekelilingnya yang sungguh lebih menguntungkan bagi lawan daripada mereka.


"Gawat, tempat ini punya banyak tanaman merambat dan makhluk itu jelas memiliki pendengaran yang tajam. Sialan! Genangan air ini juga membantu dia mengetahui keberadaan kami. Benar-benar tidak punya tempat untuk bersembunyi." Hide menggertakkan giginya sebelum menoleh ke arah Raiden yang seperti hampir mencapai batasnya.


Raut wajah Hide semakin memburuk, "Dia juga tidak bisa bertahan lebih lama. Bagaimana sekarang-"


!!


Mata Hide melebar ketika tiba-tiba saja teringat sesuatu. Dia pun berseru, "Rai..!"


"Apa?!" Raiden sedang kesulitan mengambil posisi. Dia selama ini terus menghindari serangan dari monster itu sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya.


Hide, "Kenapa kau lemah sekali, sialan! Jika kau tidak bisa membantuku, maka mati saja sana..!"


"Kau..!!" Raiden kesal mendengarnya, dia menatap tajam ke arah Hide dan seketika bertemu pandang dengan pemuda berambut pirang itu.


Dia pun mengerti maksud dari ucapan yang didengarnya dan sadar bahwa kondisi di tempat ini tidak hanya menguntungkan monster serigala itu, tetapi juga menguntungkan bagi pemain yang mempunyai perubahan Vit berelemen petir.


Hide, "Jika kau sudah sadar maka segera bantu aku..!"


Bersamaan dengan seruan itu, monster serigala bermata hijau tersebut melesat dan mengincar Raiden. Detik itu juga Hide kembali memberi serangan jarak jauh dan seakan memancing agar monster itu datang ke arahnya.


Raiden tidak tinggal diam. Jeda waktu yang sempit tersebut dimanfaatkan untuk memaksakan dirinya mengalirkan Vit yang begitu besar pada belatinya dan menancapkannya di tanah, bersamaan dengan Hide yang melompat ke atas.


Suara petir yang menggelegar disertai listrik berkekuatan tinggi langsung merambat dan mengenai tubuh monster serigala itu. Timing yang sempurna. Hide pun ikut bergerak cepat dan melesatkan serangan terkuatnya---itu adalah sisa tenaga yang dia kumpulkan demi serangan terakhir.


Lesatan dari senjata Raiden pun adalah sisa kekuatan yang bisa dia keluarkan. Setelah ini, jika monster serigala itu masih dapat hidup---maka dia dan Hide-lah yang akan mati. Ini merupakan taruhan yang sangat besar.


!!


Geraman pilu terdengar dan secara bersamaan, tubuh monster serigala itu meledak hingga getaran dan hempasan anginnya membuat Raiden serta Hide terpental.


Punggung Hide menghantam atap sebelum dia terjatuh ke tanah, sementara Raiden nampak memuntahkan darah kembali. Keduanya berusaha keras untuk mempertahankan kesadaran mereka, sayang fisik Hide dan Raiden sudah benar-benar mencapai batasnya.


!!


Hal yang mengejutkan bahwa sebelum tubuh monster serigala itu meledak---dia melancarkan serangan terakhir dari cakarnya yang liar dan mengenai berbagai arah, termasuk atap serta dinding. Beberapa serangan bahkan mengarah pada Raiden dan Hide yang mana keduanya tidak bisa lagi menghindar.


Suara debaman keras terdengar dan atap yang terbuat dari batu itu runtuh hingga tidak diketahui apakah kedua pemuda tersebut selamat atau justru tewas secara mengenaskan.


Di sisi lain teman-teman mereka justru masih berusaha keras melewati setiap rintangan yang menghadang.


Karin dan Yuna terjebak di dalam ruangan yang nyaris seperti tempat Hide dan Raiden, hanya saja lawan mereka adalah monster berwujud ular lintah. Makhluk dengan tubuh ular dan mulut yang memiliki banyak taring.


Kondisi Yuna tidak terlalu baik, dia nyaris tewas andai Karin tidak melindunginya dan memberinya Potion. Gadis berambut merah itu sangat gesit menyerang dan menurut Yuna---Karin adalah senior yang tidak waras.


Yuna melihat bagaimana Karin bertarung tanpa mengkhawatirkan luka-luka pada tubuhnya. Gerakan liar gadis tersebut membuat Yuna pucat. Dia jadi merasa bahwa Karin sudah menghancurkan tulang dan organ dalamnya sekarang ini.


"Ha ha ha..! Dasar ulat kecil..! Apa hanya ini kemampuan terbaikmu, hah?!" Karin tertawa meledek, kedua kakinya seakan hanya sedikit bersentuhan dengan pucuk daun merambat sebelum melesat lagi.


Pakaiannya koyak di beberapa bagian, darah juga mengucur di pipinya, namun semangat Karin tetap luar biasa. Dia memutar tubuhnya di udara dan memakai cambuknya untuk menyerang monster ular lintah tersebut.


"Senior..!" Yuna berseru ketika ular itu lagi-lagi menyemburkan asap hijau yang mampu menghalangi pandangan dan membuat napas menjadi sesak.


"Kau duduk saja yang tenang di situ..!" Karin menggunakan cambuk yang dialiri Vit untuk membuat angin hingga asap yang menyelimutinya menyebar. Dia tersenyum lebar sambil menatap ular lintah yang dilawannya, "Kau bahkan tidak memiliki racun, jadi mana mungkin kau dapat mengalahkanku..!"


"Senior, jangan memprovokasinya..!" Yuna mengingatkan. Dia melompat dan berusaha menghindari serangan nyasar dari pertarungan seniornya.


Karin sepertinya tidak mengindahkan peringatan dari Yuna, dia seakan menikmati bertarung dengan dihiasi oleh rasa sakit pada tubuhnya. Jangankan memperlambat serangan, gerakannya semakin lama----semakin kasar dan liar.


Ular lintah itu mulai kewalahan. Dia mendapat cambukan beruntun dari Karin dan meski kulit tubuhnya keras---namun jika terus seperti ini tubuhnya pun tidak akan kuat.


Pertarungan Karin memicu getaran pada dinding dan tanah Dungeon, dia membuat Yuna merasa bahwa sebentar lagi mereka akan tertimbun oleh reruntuhan. Karin sepertinya telah lupa untuk menahan kekuatannya.


Jika monster yang dilawan oleh Karin berada dalam kondisi dipojokkan, maka lain halnya dengan monster yang dilawan oleh para pemain dari Guild yang lain dan salah satunya merupakan Guild Ular Bersayap.


Terlihat tiga anggota guild tersebut berada dalam lokasi yang berbeda-beda, namun sama-sama mengkhawatirkan. Mereka terpisah dalam tim sendiri dan terlempar bersama anggota tim lain.


Monster yang mereka hadapi sangatlah kuat, salah satu yang terburuk adalah Growl. Jenis makhluk bertubuh kekar layaknya raksasa, memiliki tanduk seperti kerbau dengan duri-duri yang tumbuh di kulitnya.


Growl mempunyai gerakan yang lambat, namun sulit sekali dibunuh. Satu-satunya kelemahan Growl adalah lehernya. Jika lawan tidak memberi serangan yang kuat pada leher monster itu, maka Growl tidak dapat terkalahkan.


Kebanyakan pemain yang berhadapan dengan Growl berakhir tewas secara mengenaskan. Jangankan memberi tebasan pada leher makhluk itu, bahkan mereka tidak mampu mendekat. Duri yang tumbuh di kulit Growl dapat dilesatkan ke berbagai arah. Tiga pemain yang menghadapinya hanya mampu bertahan selama 2 menit sebelum akhirnya tewas.


Tidak hanya monster yang memakan korban, tetapi juga jebakan di dalam Dungeon ini. Ogiwara yang bersama dengan pemain dari Guild lain nyaris tidak selamat akibat menginjak pemicu dari jebakan yang ada.


Sayangnya meski selamat, kondisi mereka tidak baik-baik saja. Beruntung Liyan datang tepat waktu dan membawa Ogiwara serta dua pemain lainnya ke tempat yang lebih aman.


***