RAIDEN

RAIDEN
37 - Qiyan



Darion yang warna zirahnya kini telah kembali menjadi hitam nampak masih menaikkan kaki kanannya. Dia berdiri bagai patung, tidak bergerak se-inci pun dan sungguh sosok yang mengagumkan.


Raiden, Hide dan Lilulu membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan tenaga mereka kembali. Sesekali kolam yang ada di dalam ruangan itu terlihat menyemburkan lahar. Namun meski begitu, suasana lumayan membuat perasaan tenang.


Raiden tiba-tiba saja berujar, "Aku ingin tahu... Apa ini benar-benar bagian inti Dungeon...?"


"Bukankah kau membaca petanya?" Lilulu menjawab temannya tanpa membuka mata. Dia masih berbaring di tanah, dekat dengan Hide.


"Mn... Benar aku melakukannya. Tapi... Untuk bagian inti Dungeon----menemukan sesuatu yang jauh lebih mengagumkan."


"Maksudmu lawan yang lebih mematikan?" Hide menyela, napasnya mulai beraturan. "Bukankah bagus bila seperti ini? Setidaknya pengembang game adalah orang-orang yang penuh rasa kasih. Tidak menyiksa pemain,"


"......"


Raiden menatap langit-langit, dia merasa ada yang kurang. "Kalian ingin tahu apa yang kupikirkan? Aku berpikir bahwa bagian inti dungeon paling tidak memiliki semacam pintu rahasia yang membawa kita langsung menuju ke wilayah tengah. Atau lebih baik lagi----langsung mengirim kita masuk ke dalam pohon Ash."


Hide mendengus, "Itu sih maumu."


Lilulu, "Pirang... Bukannya kau sangat ingin pulang? Apa tidak ikut berpikir seperti yang dilakukan Rai?"


Hide mengembuskan napas, "Untuk apa memikirkan hal yang mustahil. Aku ingin pulang, tapi aku tahu perjalanan menuju ke wilayah tengah tidak semudah isi kepala orang itu."


Entah Hide sadar atau tidak, namun sepertinya dia sudah tidak protes lagi dengan panggilan 'Pirang' yang selama ini dilakukan baik Lilulu maupun Raiden padanya.


Raiden mengembuskan napas, "Aku lapar..."


Lilulu, "Aku mau mandi..."


Hide terdiam dengan gumaman pelan kedua orang ini. Raiden dan Lilulu benar-benar tipe manusia yang berbeda. Baru saja membahas tentang dungeon dan sekarang mereka membahas hal yang menurutnya sama sekali tidak penting.


Raiden menanyakan tentang apa yang Lilulu lakukan di Guild Phoenix Api, makanan yang disajikan oleh guild itu dan seluas apa kamar yang didapatkan Lilulu. Raiden juga menanyakan tentang senior-senior cantik di sana dan bahkan meminta Lilulu untuk mengenalkan beberapa orang padanya. Hide benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala pemuda bermata merah itu.


Lilulu sendiri hanya menjawab seadanya atas pertanyaan Raiden. Hanya saja dia tidak mau menjawab apa pun tentang senior-senior perempuan di dalam guild miliknya. Lilulu justru terlihat kesal sebab Raiden menanyakan hal semacam itu.


Pandangan mata Hide lantas mengarah pada Darion yang masih tetap berdiri dengan satu kaki diangkat. Dia pun mulai bangun dan memperhatikan baik-baik Darion di hadapannya.


"Turunkan kakimu," perintah Hide.


Darion itu melakukannya. Lilulu mulai membuka matanya perlahan dan melirik ke arah Hide. Dia pun berujar, "Sebaiknya kau menamaninya. 'Darion' adalah nama umum, mereka ada banyak dan bisa saja kau akan bertemu dengan jenis seperti ini lagi. Memberikan nama untuk Darion milikmu adalah hal yang tepat,"


"......" Hide mendengar Lilulu meski tatapan matanya tetap mengarah pada Darion di hadapannya. Gadis mungil itu benar, dia harus memilih satu nama untuk Darion ini.


"Nama ya... Kurasa aku akan sebut dia Qiyan mulai sekarang. Kau setuju, kan. Qiyan?"


Darion itu berlutut, nampak begitu hormat pada Hide. Tindakannya seperti sebuah jawaban atas pertanyaan Hide barusan.


Raiden yang melihatnya perlahan mulai bangun. Dia mendengus pelan, "Hmph... Kau memberi nama singa peliharaanmu 'Qiyan' dan sekarang kau memberi nama Darion itu 'Qiyan'? Apa kau tidak tahu cara memilih nama yang lebih bagus? Mereka berdua hanya beda satu huruf, apa kau bercanda?"


Hide berbalik, dia menatap Raiden. "Apa menurutmu itu buruk? Aku suka nama 'Qiyan' dan Darion ini adalah milikku. Jadi terserah aku mau memberinya nama apa. Kau keberatan, huh?"


"Hah, ya ampun. Sepertinya kau lupa siapa yang bertarung mati-matian dengannya. Darion itu milikmu? Kita belum lima jam di tempat ini dan kau sudah lupa pada jasaku? Hah, hebat sekali. Benar-benar hebat."


"Rai, kau selalu saja bisa meributkan masalah yang kecil..." Lilulu menyela, dia mulai bangun. "Sesuatu hal yang kecil dapat menjadi perdebatan besar bila ada padamu. Ayo akhiri ini. Kalian pasti sudah mengumpulkan banyak tenaga, kan? Kita pergi sekarang."


Hide, "Itu lebih baik. Dia memang sangat menyebalkan."


"Aku tidak mengatakan hal yang salah," Raiden berusaha membela dirinya, tetapi Lilulu dan Hide sudah berjalan pergi dengan diikuti oleh Darion. Kedua orang itu memang tidak pernah sedikit pun menghargainya.


Raiden menghela napas, "Mereka berdua punya kesamaan. Sama-sama mudah mengabaikan orang lain,"


*


*


Tidak ada apa pun di dalam ruangan inti dungeon lagi. Hide dan Lilulu sebelumnya sudah memeriksa setiap sudut, termasuk sekitaran kolam lahar. Mereka berjalan keluar ketika tidak menemukan apa-apa.


Hide yang berada di samping Raiden nampak mengarahkan pandangan pada tangan kanan pemuda bermata merah itu. Tangan Raiden terlihat baik-baik saja, tetapi jika diperhatikan lebih teliti lagi maka akan nampak garis retakan hitam pada punggung tangan hingga naik ke lengannya.


Qiyan sendiri yang merupakan Darion milik Hide berjalan di belakang mereka.


"Hei..." suara Hide pelan, dia membuat Raiden menoleh dengan alis terangkat. Dia pun kembali bersuara, "Tanganmu itu... Apa baik-baik saja?"


Lilulu yang mendengarnya juga menoleh, dia memperhatikan tangan kanan Raiden dan merasa khawatir karenanya. Dia tak membahas hal ini sebelumnya karena ingin menunggu waktu yang tepat, namun Hide sudah lebih dahulu membahasnya.


Raiden mengangkat tangan kanannya dan menggerak-gerakkannya sambil tersenyum. "Bukan masalah, lagipula aku sudah minum potion. Bertarung seperti itu bukan apa-apa bagiku,"


"Cih, aku menyesal karena khawatir padamu."


Sayangnya, sikap Raiden yang begitu menyebalkan untuk Hide tidak dirasa demikian oleh Lilulu. Gadis mungil itu tahu bahwa sebanyak apa pun potion yang diminum temannya----rasa sakit karena menggunakan Yiling lebih dari sekali tidak akan pernah berkurang.


Potion menyembuhkan luka luar dan dalam, tetapi luka karena efek memakai Yiling secara berlebihan hanya dapat disembuhkan sekitaran 25 persen. Lilulu tahu benar bahwa sisanya adalah rasa sakit yang tidak akan bisa dia bayangkan.


"Rai... Sifatmu inilah yang membuatmu terlihat bodoh di mataku. Kau bersikap kuat untuk siapa? Apa perlunya kau menyimpan rasa sakitmu sendirian?! Baka!" pipi Liluku memerah, nampak menggelembung di samping kedua tangannya dikepalkan secara kasar.


"Dungeon ini akan lebih sempurna bila ada monster wanita bertubuh bagus..." Raiden bersuara pelan dan membuat Hide menggeleng karenanya.


"Kau ini pria mesum, ya? Apa yang ada di kepalamu itu hanya 'wanita bertubuh bagus'. Monster pun ikut kau targetkan, apa kau gila?!"


"Aku hanya menyampaikan pikirkanku. Pikiran seorang pemuda. Apa lagi yang bisa kulakukan?"


Lilulu hanya diam mendengarkan Raiden yang seperti sangat suka memancing emosi Hide. Namun tidak ada dari raut wajahnya yang nampak baik, apalagi sekarang garis hitam bagai retakan di tangan kanan pemuda bermata merah itu nampak semakin bertambah.


Raiden memang menahannya. Tangan kanannya terasa berdenyut sakit saat ini. Rasanya seperti ribuan jarum ditusukkan ke dalam setiap sel darah di bagian tangannya, bahkan tulangnya pun ikut terasa sakit.


Hide tidak menyadari hal tersebut. Ini karena Raiden bersikap seperti biasa dan bahkan sangat cerewet. Mereka berjalan menelusuri lorong yang akan menuju ke pintu keluar. Sayangnya tidak berapa lama, terdengar suara gemuruh yang semakin lama kian mendekat.


Raiden mengerutkan keningnya, "Kalian dengar itu...?"


Hide dan Lilulu mendengarnya. Mereka pun berhenti berjalan dan seketika menoleh ke belakang. Raiden juga ikut melakukannya dan perlahan melihat sebuah cahaya keemasan.


!!


Cahaya itu melesat sangat cepat dan mulai menampakkan wujudnya. Suara geraman terdengar bersamaan dengan perasaan Hide yang tersentak kaget.


"Itu...?"


Grraaow...!


"Liyan!" Hide berseru ketika sadar bahwa yang melesat ke arah mereka adalah singa kesayangannya. Liyan terlihat tidak sendirian, beberapa orang nampak dia bawa di punggungnya.


"Lari...!"


Seruan wanita terdengar. Raiden mengerutkan kening dan terkejut ketika tahu bahwa wanita yang berseru tersebut adalah Karin. Dia juga melihat Yuna, Ogiwara, termasuk Yun.


"Rai...! Lulu...! Kalian bertiga cepat keluar dari sini...!" Yun berteriak dengan wajah yang menegang. Dia berada di punggung Liyan beserta pemain yang lain.


Hide, "Ada apa dengan kalian?"


Karin, "Tidak ada waktu menjelaskan. Intinya kita harus keluar dari tempat ini. Sekarang!!"


"Asapnya datang...!!"


!!


"Cepatlah!" Karin mendesak, pakaiannya saat ini terlihat berantakan. Koyak di beberapa bagian dan nampak terengah-engah. Dialah yang telah memotong jalan sejauh ini, menghancurkan tiap dinding hanya agar mereka dapat melarikan diri dari sesuatu yang mengerikan.


Hide bergegas menaiki Liyan karena kepanikan yang terjadi. Sementara Lilulu menendang bokong Raiden dengan agak keras dan mendesak pemuda itu untuk ikut menaiki punggung Liyan.


Raiden merintih, tetapi karena keributan yang terjadi secara mengejutkan ini membuatnya tidak bisa protes apa pun. Lilulu sendiri berlari di samping Karin dan meminta wanita itu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Qiyan! Bantu mereka keluar dari tempat ini...!" Hide memberi perintah. Dia duduk di belakang Ogiwara dan Raiden duduk di belakangnya.


"Senior, ada apa sebenarnya?!" Hide bertanya-tanya. Dia tidak sempat lagi mengagumi Liyan yang kini dapat membawa banyak orang di punggungnya, termasuk menyadari kondisi Ogiwara yang terluka.


"Aku juga ingin tahu." Raiden berwajah pucat, keadaan yang berubah drastis ini membuat sakit pada tangan kanannya bertambah. Apalagi itu semakin diperburuk dengan keharusan berpegangan erat pada orang di depannya.


"Sebenarnya--" Yun yang duduk di belakang Raiden bermaksud memberi penjelasan, tetapi Karin-lah yang lebih dahulu berseru.


"Ada pemain yang secara tidak sengaja membuka item kunci dan mengeluarkan asap hitam pekat yang penuh racun. Lima orang tewas seketika dengan tubuh yang meleleh karena terkena asap itu...! Intinya kita harus pergi...!!"


"Asapnya semakin mendekat!!" seorang pemain yang duduk paling belakang berseru. Jantungnya berpacu sangat kencang. Benar-benar terlihat sangat menegangkan.


"Ayo lebih cepat...!!"


"Aku tidak mau mati...!"


"Pegangan yang erat!"


Graaaow!


***