RAIDEN

RAIDEN
46 - Raiden IV



"Astaga!"


Beberapa pemain terlonjak kaget, mereka yang duduk bahkan sampai mundur karenanya. Sementara pemain yang berdiri justru menghunuskan senjata mereka.


"Raiden?" Yuna mengenali Raiden ketika wajah sosok itu sudah jelas terlihat.


Ucapannya membuat para pemain yang lain akhirnya bisa bernapas lega karena sosok yang mereka kira monster adalah orang yang dikenal salah satu anggota mereka.


"Yuna? Apa yang kau lakukan di sini?" Raiden bertanya seakan sama sekali tak tersinggung dengan respon orang lain padanya. Dia justru memperlihatkan raut wajah yang keheranan, "Kalian latihan malam? Terlihat kumal sekali..."


"Hei...!" seorang pemain berseru, "Ka-Kau siapa?!"


"Ya ampun, dia membuatku kaget."


Raiden mengerutkan keningnya saat melihat ada pemain yang nampak mengusap-usap dada mereka. Jelas sekali pemain tersebut berusaha menenangkan diri.


"Kalian ini kenapa? Seperti orang yang belum pernah melihat pemuda tampan saja,"


Yuna menghampiri Raiden, "Kupikir kau tidak akan datang..." napasnya terdengar dangkal.


"Aku sampai di sini pagi tadi, tapi si pirang itu mengerjaiku. Aku jadi harus membereskan gudang yang kukira adalah kamarku dan baru selesai saat malam hari. Haiihh, mengingatnya membuatku sakit hati," Raiden menggeleng pelan.


Dia lalu menatap menatap Yuna dari atas sampai bawah. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang sedang kau dan mereka lakukan?"


"Pelatihan Anggota Baru. Harusnya kau juga ikut dalam kelas ini,"


Tuan Kanae mendengar ucapan Yuna dan lalu berjalan menghampirinya. Dia sudah sejak tadi memperhatikan Raiden dan memang pemuda tersebut asing di matanya. "Jadi dia juga anggota baru?"


Raiden menoleh menatap pria yang baru saja bicara. Sosok di hadapannya punya aura yang hebat. Jelas dia bukan pemain biasa.


Yuna sendiri mengangguk pelan, "Aku dan Raiden adalah anggota yang dipilih di Kota Api. Hanya saja dia harus mengurus sesuatu yang penting hingga tidak ikut bersamaku ke tempat ini. Dia baru datang pagi tadi. Rai, ini Tuan Kanae."


Tuan Kanae menatap dingin ke arah Raiden, "Tidak penting apa alasanmu, Anak Muda. Tapi kau sudah melewatkan waktu belajarmu di tempat ini. Aku tidak mentolerir siapa pun. Sekarang kau juga coba tes itu,"


?!


Raiden tersentak. Dia mengikuti arah jari Tuan Kanae yang menunjuk sebuah patung beruang kayu. Dirinya pun bertanya, "Apa yang harus kulakukan?"


Tuan Kanae, "Ini sebuah tes kelincahan gerak. Kau harus menghindari tembakan dari beruang Meruru. Sentuh topinya dan tes selesai,"


"Sesederhana itu?"


Pemain yang lain mendengus dengan ucapan Raiden. "Dia mengatakan itu 'Sederhana'. Apa dia tidak lihat keadaan kita karena siapa?"


"Lihat saja. Dia meremehkan Mururu seperti yang kulakukan. Saat dia tahu kehebatan beruang kayu itu, dia pasti tidak akan punya muka lagi."


Yuna melihat Raiden yang berjalan ke garis permulaan. Dia mendengar ucapan beberapa pemain dan nampak bahwa mereka agak kesal dengan Raiden entah karena apa. Tuan Kanae sendiri justru memperhatikan pemuda bermata merah itu.


Raiden memperhatikan boneka beruang yang menjadi targetnya. Dia mulai memperkirakan jarak dirinya dengan patung yang berdiri kokoh itu sebelum mulai mengambil napas.


Detik saat hembusan napas ketiga, Raiden pun mulai melompati garis permulaan dan Mururu langsung menembakkan peluru di pistol di tangan kanannya.


!!


Raiden berhasil menghindarinya dengan indah. Gerakan mengelaknya sempurna, apalagi ketika kakinya menapak sejenak sebelum dia kembali menghindar dari serangan Mururu yang berikutnya.


Itu masih jarak lima meter, namun sudah bisa mengubah sedikit pemikiran Tuan Kanae. Beberapa pemain spontan berdiri saking tidak percayanya.


"Muru-Muru...!" beruang kayu untuk pertama kalinya mengeluarkan suara ketika Raiden berada di jarak 8 meter darinya dan kian mendekat.


Tangan kiri Mururu terangkat bersamaan dengan dan matanya yang berkilat. Kini dia menembakkan peluru dari pistol kayu di kedua tangan dengan cepat.


Raiden rupanya mampu menghindari semuanya, bahkan satu peluru pun sama sekali belum menyentuhnya. Padahal ini adalah malam yang lumayan gelap dan pencahayaan pun minim, namun dia bisa dengan mudah menghindari serangan Mururu.


"Hebat..."


Seorang pemain terpukau karenanya, sementara ada pemain yang justru terkejut dengan betapa tangkahnya Raiden.


Tuan Kanae sendiri juga kagum. Pemuda bermata merah itu sudah melampaui dugaannya. "Dia bahkan bisa melakukan gerakan yang sulit. Kelincahan dan teknik mengelak yang luar biasa itu... Mustahil tidak dilatih setiap hari. Dia... Benar-benar seorang petarung."


Yuna sebelumnya sudah tahu bahwa Raiden punya kemampuan, tetapi itu sebatas pemuda tersebut memiliki level sedikit lebih tinggi dari pemain biasa. Hanya saja tidak dia sangka bahwa Raiden dapat bergerak selincah ini, bahkan lebih cepat dari yang dia lihat.


"Kau tidak bisa mendekat Muru-Muru...!"


!!


Ucapan Mururu kembali ketika Raiden berada dalam jarak lima meter lebih dekat padanya. Kecepatan menembak beruang kayu itu meningkat.


"Kau akan kalah Muru-Muru...!"


"Bukan aku. Tapi kau!" Raiden menghindar, namun lengannya kanannya tiba-tiba terkena tembakan.


Dia merintih, tetapi masih bisa bergerak. Selama bukan bagian dada atau pun kepala, dia masih bisa mempertahankan kesadaran dirinya. Semua pemain termasuk Tuan Kanae dan Yuna menyaksikan Raiden dengan penuh keseriusan.


"Muru-Muru... Kau membuatku marah...!" kepala dan tatapan mata Mururu bahkan bergerak cepat. Dia terus menembak dan mengarahkan pistol kayunya ke udara saat Raiden melompat.


!!


Masalahnya pemuda itu benar-benar cepat. Para pemain termasuk Yuna seakan hanya melihat kilatan merah ketika Raiden berputar di udara. Dan hanya sekedipan mata, pemuda itu sudah menapak di belakang beruang kayu tersebut.


"Apa yang terjadi...?!"


"Apa dia berhasil...?!"


Mereka penasaran karena Mururu tidak lagi menembak meski kedua tangannya tetap terangkat. Di sisi lain, Raiden mulai mengembuskan napas.


"Aku kalah... Muru-Muru..."


Warna mata Mururu menggelap di samping kedua tangannya yang perlahan diturunkan kembali. Topinya ternyata berhasil disentuh dan itu juga sama dengan me-non-aktifkannya.


"Hebat...!" Tuan Kanae bertepuk tangan, "Luar biasa! Kau hebat, Anak Muda...!"


Satu demi satu pemain juga mulai bertepuk tangan. Mereka menatap kagum ke arah Raiden yang rupanya bisa mengalahkan Mururu hanya dalam waktu yang begitu singkat.


Raiden sendiri menepuk pelan debu di bahunya dan lalu berjalan menghampiri Tuan Kanae. Lengan kanannya masih sakit dan terkena tembakan itu di luar dari perkiraannya.


"Tidak kusangka kau punya gerak refleks semengagumkan itu. Benar, kau memiliki insting yang kuat," Tuan Kanae tidak pernah merasa sepuas ini sebelumnya. Dia akhirnya menemukan ada anggota baru yang berpotensi.


"Namamu Raiden, kan?" seorang pria berjalan mendekat. "Itu tadi hebat sekali, kau sungguh membuatku kagum."


"Terima kasih," Raiden tersenyum ramah.


"Namaku di Elvort Garden adalah Nara, aku pemain dari Kota Bulan Merah." pria berambut biru gelap itu mengulurkan tangan. Dia hendak berjabat tangan sebagai bentuk perkenalan.


"Aku minta maaf, lengan kananku sakit." Raiden tidak bisa menerima uluran tangan pria di hadapannya.


Nara yang baru tersadar langsung tersentak, "Ah. Aku yang harusnya minta maaf, aku lupa lenganmu terluka."


"Mn, bukan masalah."


Menjadi anggota dari Guild Singa Emas membuat Raiden kini mendapat teman-teman baru lagi. Dia sekarang tidak sendirian di tempat ini. Dan lagi, Tuan Kanae seperti menaruh perhatian padanya.


Dilihat dari penampilan Tuan Kanae, dia merasa bahwa pria ini mempunyai posisi yang bagus di dalam Guild Singa Emas. Jadi mendapat perhatiannya akan makin mendekatkan Raiden pada tujuannya ada di tempat ini.


Tidak hanya mengikuti pertandingan antar pemain di dalam guild untuk bisa pergi ke Wilayah Tengah. Tetapi Raiden juga ingin mengambil sesuatu yang ada di ruangan bawah tanah tempat ini. Dia sebenarnya mendapatkan hal tidak terduga ketika membersihkan gudang dan itu sangat menarik rasa ingin tahunya.


Jika kecurigaannya benar. Maka tempat yang menjadi cabang dari Guild Singa Emas ini menyimpan sebuah benda yang berharga. Sesuatu yang kemungkinan tidak diketahui siapa pun.


***