
Sebenarnya tidak banyak pemain yang keluar dari dalam dungeon. Mereka ada di ruangan lain dan tidak bertemu Karin, Liyan serta yang lainnya. Anggota Guild Raja Sungai Biru pun masih di dalam sana tanpa tahu bahwa ada bahaya yang mematikan dan sedang mengincar mereka.
"Aku mendapatkannya!"
Seorang anggota Guild Raja Sungai Biru berseru ketika berhasil mendapatkan batu roh berisi phoenix. Dia dan rekan-rekannya berada dalam sebuah ruangan yang luas, mereka baru saja berhasil mengalahkan monster penjaga tempat ini.
"Bagus, ketiga batu rohnya sudah kita dapatkan. Sekarang ayo ke tempat lain!" perintah salah seorang di antara mereka.
Anggota dari Guild Raja Sungai Biru itu mulai melesat keluar. Mereka berada di jarak yang cukup jauh dengan asap hitam tebal pembawa kematian bagi makhluk hidup apa pun yang dilaluinya. Di sisi lain, terlihat tiga orang pemain yang tidak lagi mampu berteriak ketika tubuh mereka diselimuti asap.
Pemain itu... Tidak hanya pakaiannya yang meleleh, tetapi juga kulit tubuhnya hingga darahnya pun habis. Yang tersisa dari mereka adalah tulang-belulang yang juga secara perlahan mulai berubah menjadi butiran cahaya dan menghilang.
"Kau mendengarnya...?" salah seorang anggota Guild Raja Sungai Biru bertanya pada rekan di sampingnya, dia merasa seperti telah mendengar teriakan samar dari arah belakang tubuhnya.
"Aku tidak mendengar apa pun,"
"Tapi aku... Benar-benar mendengar sesuatu,"
"Itu hanya perasaanmu saja. Sudahlah! Jangan dipikirkan,"
Para anggota Guild Raja Sungai Biru tetap melesat, hanya saja tidak berlangsung lama sampai salah satu di antara mereka merasakan firasat yang aneh.
Melihat rekannya berhenti, anggota yang lain juga ikut menghentikan langkah. Mereka kini berbalik dan melihat sebuah asap mengepul yang hampir mendekat.
??
Di balik topeng tengu orang-orang itu, kening mereka mengerut. Nampak penasaran dengan asal asap yang kian mendekat. Hanya saja, para anggota Guild Raja Sungai Biru baru tersadar bahaya asap tersebut saat semuanya terlambat.
!!
Dua di antara rekan mereka langsung berteriak histeris dan detik berikutnya tubuh mereka telah meleleh hingga hanya memperlihatkan tulang-belulang.
Anggota Guild Raja Sungai Biru yang lain tidak mengerti apa yang terjadi, namun sebelum mereka sempat berpikir----asap hitam itu sudah lebih dahulu menyelimuti tubuh mereka. Benar-benar tidak ada yang selamat termasuk lolos untuk mencari tempat bersembunyi. Batu roh yang sudah mereka kumpulkan pun kembali terjatuh.
*
*
*
"Sssh... Aduuh... Sialan sekali..."
"Anggota Guild Raja Sungai Biru itu memang terkenal kejam. Tapi aku tidak menyangka mereka masih sempat-sempatnya menaruh jebakan seperti tadi. Sangat keterlaluan..."
"Entah di mana mereka sekarang. Haah... Kuharap orang-orang itu terperangkap di dalam sana dan menjadi makanan asap hitam beracun itu,"
Raiden mendengar pembicaraan yang penuh rutukan dari para pemain ini. Mereka sekarang sedang beristirahat dan dia sendiri bersandar pada sebuah batang pohon.
Yun menggunakan potion milik Lilulu untuk mengobati luka para pemain, termasuk Liyan. Dia sebelumnya mendapat penolakan mentah-mentah dari gadis mungil itu dan memerlukan waktu yang lama agar Lilulu mau mengeluarkan potion miliknya.
"......"
Nyeri pada tangan kanan Raiden kembali. Dia memperhatikan tangannya sambil menahan rasa sakit. Baginya, kelemahan sejenis ini jangan sampai diperlihatkan pada siapa pun.
"Rai..."
Raiden tersentak ketika mendengar suara seorang gadis. Dia pun menengadah dan baru menyadari bahwa Yuna telah berdiri di depannya. Dirinya pun berdeham pelan sebelum berkata, "Oh. Kau di sini? Ada masalah apa?"
"Kau tidak mendengar berapa kali kupanggil namamu sejak tadi?"
"Ah, benarkah? Aku terlalu fokus memperhatikan mereka." Raiden tersenyum canggung, "Bagaimana kondisimu? Kau baik-baik saja, kan?"
"Mn," suara Yuna tenang. Dia pun duduk di samping Raiden dan memperhatikan bagaimana Hide mengusap-usap lembut binatang roh peliharannya, Liyan.
Yuna kembali bersuara, "Kau sendiri... Apa kau baik-baik saja?"
"Tentu, aku sangat baik. Jadi kau jangan khawatir,"
"Tapi tanganmu itu...?"
"Ah, ini bukan apa-apa. Hal yang biasa. Aku baik-baik saja," Raiden tersenyum dan kemudian berdiri. "Kau sebaiknya istirahat, aku akan memeriksa kondisi pemain yang lain."
"......"
Yuna memperhatikan bagaimana pemuda bermata merah itu pergi meninggalkannya. Dia tahu bahwa tangan kanan Raiden terluka dan itu bukanlah luka biasa. Hanya saja pemuda tersebut tidak mau mengatakan apa pun padanya.
Yun menyadari Raiden menghampirinya, dia pun mengerutkan kening. "Kenapa kau di sini? Bukankah kau kusuruh untuk istirahat?"
"Gadis itu menghampiriku. Aku merasa kurang nyaman," Raiden bersuara pelan. Dia berjongkok di samping Yun dan memperhatikan bagaimana pemuda kurus tersebut meminumkan perlahan potion pada Ogiwara yang masih belum sadarkan diri.
Yun mengembuskan napas pelan, "Rai... Dia itu seorang gadis. Kau ini sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengannya. Haiih... Kau payah sekali."
"Gadis itu menanyakan kondisiku. Aku tidak suka ditanya-tanya begitu..."
Yun menggeleng, "Itu tandanya dia mengkhawatirkanmu. Kau ini... Tsk."
Tidak tahu harus berbuat apa pada temannya yang satu ini. Raiden suka menjadi pusat perhatian, tetapi jika ada yang mulai menaruh rasa khawatir atau hal lain padanya----pemuda ini justru malah menjauh dan merasa tidak nyaman. Yun tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran pemuda tampan ini.
"Rai, coba kulihat tanganmu." Yun meraih pelan tangan Raiden dan memperhatikan tangan temannya dengan seksama. Efek menggunakan Yiling memang tidak dapat disembuhkan total dengan meminum potion.
"Sebaiknya ini segera diperban..."
"Yun, kau tahu benar jika melakukan itu justru sembuhnya akan makin lama. Sudah biarkan saja,"
"Aku hanya ingin penginapan. Istirahat selama beberapa hari adalah hal yang kubutuhkan saat ini."
Yun mengembuskan napas, "Baiklah. Terserah kau saja..." dia menyerah, "Hanya kau yang tahu sendiri bagaimana kondisi tubuhmu. Bahkan meski aku yakin kau sedang menahan rasa sakit yang amat sangat sekarang ini."
Yiling merupakan pedang yang tidak hanya misterius, tetapi juga berbahaya. Masalahnya, Raiden tidak pernah mau menceritakan asal-usul senjatanya itu bahkan meski mereka telah berteman cukup lama.
Raiden sendiri merasa bahwa Yun terlalu memperhatikannya. Dia pemuda yang sangat baik dan begitu menjaganya. Padahal, Raiden merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat Yun harus berhutang banyak. Raiden sungguh tidak pernah ingat berbuat kebaikan yang besar kepada temannya ini.
*
*
*
Penginapan yang terdekat dengan wilayah dungeon bernama Mūn'ōkiddo, atau Penginapan Anggrek Bulan. Tempat yang cukup terkenal di salah satu lembah kedamaian. Liyan-lah yang membawa mereka terbang hingga sampai di tempat ini.
Jarum-jarum kecil yang ditinggalkan oleh anggota Guild Raja Sungai Biru tidaklah memiliki racun yang mematikan. Hanya saja efeknya dapat melumpuhkan tubuh meski tidak permanen. Liyan dan pemain yang lain dapat pulih kembali setelah meminum beberapa potion milik Lilulu.
"Liyan...! Kau sekarang semakin kuat dan besar. Aku kagum padamu..." Hide mengusap pelan surai binatang rohnya dan begitu bangga sebab Liyan semakin dapat diandalkan.
"Peliharaanmu hebat sekali," Raiden tidak ragu memuji. "Dia bisa membawa begitu banyak orang tanpa kesulitan. Entah ini memang biasa bagimu, tapi untukku----ini pertama kalinya aku melihat seekor hewan yang dapat membuat tubuhnya makin membesar dan panjang seperti tadi."
"Hmph, kau mungkin tidak tahu ini----tapi Liyan mempunyai darah naga. Dia adalah sahabat terbaik yang kumiliki,"
Grrrr~
Liyan menggoyang-goyangkan ekornya dan seakan senang kepalanya diusap oleh Hide. Dia menatap sejenak ke arah Raiden sebelum kembali mengarahkan pandangan kepada pemilikinya.
"......"
Tidak ingin mengganggu mereka, Raiden pun masuk ke dalam penginapan. Di dalam, dia melihat para pemain yang datang bersamanya sedang menikmati hidangan dengan sangat lahap. Dirinya pun melangkah menuju tangga.
Penginapan Anggrek Bulan adalah penginapan bertingkat dua. Lantai pertamanya adalah tempat para tamu untuk makan, sementara lantai yang kedua khusus bagi mereka yang ingin menyewa kamar.
"Hei, tampan? Kau tidak mau makan?" Karin memanggil Raiden. Dia saat ini duduk bersama Yun, Ogiwara dan Yuna.
"Tidak, aku akan makan nanti. Aku hanya butuh istirahat. Senior nikmati saja makanannya," Raiden pun menaiki tangga. Dia diperhatikan oleh rekan-rekannya.
Karin lantas menoleh ke arah Yun, "Kau temannya, kan? Ada apa dengan anak itu? Aku melihat dia begitu lesu, apa dia baik-baik saja?"
"Rai memang orang seperti itu. Jika dia mengantuk, dia akan terlihat lesu. Tidak bersemangat mengartikan bahwa dia sedang lelah dan butuh tidur."
Lilulu yang duduk bersama Shoyo dan Mei mendengar ucapan Yun yang sedang membahas Raiden. Dia pun ikut bersuara, "Rai itu orang yang hiperaktif. Dia baru akan benar-benar tenang saat tubuhnya sudah kelelahan. Itulah juga salah satu alasan kenapa aku menyebutnya 'Baka'."
Yuna, "Jika memang itu yang terjadi... Apa ada yang bisa menjelasakan tentang luka di tangan kanannya?"
Yun dan Lilulu tersentak, sementara Karin, Ogiwara, Shoyo dan Mei nampak keheranan. Mereka spontan memandang ke arah gadis cantik tersebut.
Karin, "Aku tidak memperhatikan dengan baik. Apa tangan Rai terluka?"
Shoyo menggeleng, "Aku tidak tahu."
Yun, "Ah... Itu hanya luka biasa. Dia orang yang ceroboh dan agak kurang waras. Bukankah begitu, Lulu?"
"Mn. Rai punya kebiasaan di mana dia tidak akan meminum potion. Dia suka dengan rasa sakit dan memperlakukan setiap lukanya seperti sesuatu yang berharga. Kalian bisa artikan sendiri apa dia waras atau tidak," Lilulu menatap Yun dan seperti memiliki pemikiran yang sama.
Dalam hati mereka, Lilulu dan Yun meminta maaf pada Raiden karena sudah mengatakan hal yang kurang baik tentangnya. Jelas keduanya memiliki alasan. Lilulu dan Yun tidak ingin orang-orang ini menanyakan banyak hal terkait Raiden. Ini untuk melindungi pemuda itu dari bahaya yang mungkin saja datang.
Di sisi lain, Raiden terlihat bersadar pada pinggiran tempat tidur dan berusaha melilitkan sebuah pita panjang pada lengan kanannya. Dia memakai tangan kiri dan dengan bantuan giginya.
"......"
Dia terlihat kerepotan, tetapi akhirnya lengan kanannya berhasil diikat kencang. Raiden lantas mengeluarkan belatinya dan tanpa ragu menggores lengan kanannya mengikuti retakan yang diakibatkan oleh efek mengayunkan pedangnya.
Darah mulai menetes di lantai dan urat pada dahi Raiden menegang karena rasa sakit yang harus ditahan. Terdapat darah kotor yang menumpuk pada retakan di tangannya----inilah sebabnya meminum potion tidak membuat luka-lukanya tertutup. Dia harus mengeluarkan darah kotor itu secara manual meski rasa sakitnya tidak terbantahkan.
"Kau harusnya meminta bantuan temanmu,"
Suara yang terasa tidak asing terdengar di telinga Raiden. Dalam ruangan ini hanya ada dirinya seorang, tetapi yang bicara barusan itu bukanlah sosok manusia----melainkan Yiling, pedang pusakanya.
"Mereka sedang makan. Aku tidak mau merepotkan orang lain," Raiden meringis ketika belatinya terlalu ditekan ke kulit tangannya hingga darah yang menetes semakin banyak.
"Kau menyiksa dirimu sendiri..."
"Bukankah ini juga karenamu? Kau tidak pernah mau bekerja sama denganku. Padahal aku ini adalah orang yang sudah menemukanmu,"
"Hmm... Aku sudah pernah mengatakannya. Kekuatanmu yang sekarang masih belum layak mendapat pengakuanku. Lagipula kau sama sekali bukan orang yang baik. Kau adalah orang yang telah melakukan banyak kejahatan besar, termasuk----"
"Yiling, ayo sudahi ini..." Raiden menyela, "Aku tidak mau jika ada yang mendengar pembicaraan ini."
"Tentu, karena kau pasti akan menghabisi mereka."
"......"
Sayang sekali yang bicara dengan Raiden adalah sebuah pedang. Andai Yiling memiliki tubuh manusia----dia pasti sudah merobek mulut makhluk ini dan menendangnya ke luar jendela.
Raiden memang selalu mengatakan bukan orang yang baik. Ini karena dia tahu benar tindakan yang sudah dirinya lakukan di masa lalu. Meski begitu, dia tidak mau mendengar tentang keburukannya----apalagi membahasnya.
***