RAIDEN

RAIDEN
16 - Raiden III



Raiden saat ini terlihat berbaring di atas tempat tidurnya, lutut kirinya menjadi penyangga bagi kaki kanannya. Dia berbaring penuh gaya, apalagi sekarang dirinya nampak sedang memain-mainkan belati miliknya. Yuna sendiri berada di seberang tempat tidurnya.


"Hei, Nona?" Raiden bersuara, "Kau ini asli orang Kota Api atau sama sepertiku yang berasal dari kota lain?"


Yuna berpikir pemuda yang ada di seberang tempat tidurnya hanya asal bertanya, atau mungkin karena sudah mengetahui bahwa selama ini mereka sedang diawasi.


Dia pun menjawab, "Aku dari kota lain namun tidak akan kukatakan namanya padamu. Kau masih belum kukenal cukup baik,"


Raiden menoleh sejenak sebelum kembali memain-mainkan belati di tangannya, "Baiklah.. Aku tidak akan memaksamu bicara. Tapi Nona, bukankah tidak baik jika melibatkan orang asing ke dalam permasalahanmu?"


Yuna baru akan menjawab, namun tiba-tiba saja sesuatu dilesatkan ke arah samping kanan tubuhnya. Andai dia tidak mengelak dengan memiringkan kepalanya sedikit--mungkin benda tersebut sudah mengenainya.


Pelaku dari serangan kejutan tadi tidak lain adalah pemuda di seberang tempat tidurnya. Ini bisa dilihat dari tangan Raiden yang tidak lagi memegang belati dan ekspresi tatapan tajam pemuda itu.


"Menjauh dari sana,"


!!


Yuna seketika menghindar saat mendengar suara bagai aliran listrik, detik setelah dirinya menjauh seperti yang dikatakan Raiden---dinding di belakangnya meledak.


Kaki Yuna menapak di lantai, delapan orang berpakaian serba hitam dengan topeng tengu muncul dan salah satu dari mereka langsung menyerangnya---beruntung Raiden bergerak cepat menghalangi serangan tersebut.


"Aku akan butuh penjelasan darimu tentang ini, Nona Yuna. Mereka jelas tidak datang untuk kepalaku," Raiden menggunakan tendangan dan pukulan untuk menangkis serta membalas serangan yang dialamatkan padanya, dia seperti berusaha merampas senjata milik lawannya.


Sosok bertopeng lainnya menyerang Yuna, gadis itu menarik senjatanya dari sebuah ruang hampa. Dia merupakan ahli panahan, tetapi juga cukup baik dalam serangan jarak dekat.


!!


Tangan Raiden berbenturan dengan pergelangan tangan lawannya, dia yakin sosok ini adalah pria dewasa. Raiden lantas memberi sebuah tendangan yang kuat hingga membuat lawannya harus menghantam dinding.


Tidak hanya satu orang yang Raiden lawan, namun ruangan ini terlalu sempit untuk bisa bergerak bebas. Dia juga agak kesulitan bila harus menggunakan pedangnya---senjata tersebut tidak dapat digunakan dalam ruang seperti kamar ini.


Di sisi lain, Yuna terlihat tersudutkan. Dia memakai busurnya untuk menangkis serangan lawan. Hanya saja gerakan lawan yang cepat membuat perutnya tiba-tiba mendapat tendangan hingga dia harus membentur sebuah meja dan benda tersebut pun rusak parah.


Rasanya sakit, namun tidak ada waktu mengeluh. Dia kembali bergerak dan kali ini menggulingkan tubuhnya. Sebuah pedang nyaris membelah dirinya andai Yuna tidak cepat menghindar.


!!


Dalam posisi berbaring, serangan kembali datang padanya. Kali ini Yuna menggerakkan kakinya dan memberi tendangan pada lawan. Gerakan tersebut juga membuatnya dapat melentingkan tubuh hingga mampu mengambil posisi berdiri lagi. Benar-benar pertarungan yang sulit.


BAAAAM..!


Seorang pria bertopeng menghantam salah satu tempat tidur dengan keras, sementara tiga pria lainnya menghantam pinggiran tempat tidur dan dinding yang ada. Mereka jelas juga merasakan sakit, namun seakan itu bukanlah masalah besar.


Raiden yang kini mendapatkan kembali belati miliknya mulai mengalirkan Vit pada senjata itu dan lantas memberi sebuah serangan yang besar. Hanya saja lawan yang dia hadapi juga mengalirkan Vit pada pedang mereka dan menangkis serangan Raiden.


!!


Suara gemuruh terdengar dan detik berikutnya disusul sebuah ledakan. Kondisi kamar itu rusak parah dan membuat kamar lain di sekitarnya juga ikut rusak. Kejadian ini menimbulkan keributan bagi penghuni penginapan.


"Nona Yuna..!" Raiden berseru, dia mengambil kesempatan dari situasi untuk menarik Yuna pergi. Mereka melompat keluar dari dinding yang hancur.


!!


Ukh!


Pendaratan Raiden kurang mulus, dia merasakan sakit ketika dadanya secara tidak sengaja ditekan oleh kepala Yuna. Dirinya memang seperti menempatkan diri sebagai matras hidup agar tubuh gadis ini tidak terluka.


"Haah, Ya Tuhan. Aku memang suka bertarung, tapi bukankah ini berlebihan?" Raiden terengah-engah. Pemuda itu entah sadar atau tidak---tetapi terlihat dia memeluk Yuna begitu erat.


Situasi tersebut sama sekali tidak terasa romantis atau apa pun bagi Raiden, tatapan matanya sudah lebih dahulu menangkap delapan sosok bertopeng yang bagai melayang di udara. Dia spontan mendorong Yuna dan segera melesat untuk kembali bertukar serangan.


!!


Yuna jelas saja kaget, namun dirinya tidak punya waktu untuk mengeluh apalagi menegur Raiden. Dia meraih senjatanya dan mulai fokus untuk membidik lawan.


!!


Pertarungan Raiden benar-benar berat sebelah, dia sebenarnya yakin dapat unggul bila menggunakan pedangnya--namun karena dirinya tidak tahu situasi dari semua ini... Dirinya jelas tidak mau mengambil risiko memperlihatkan kemampuannya.


Dia memang sempat ingin menarik pedangnya, tetapi jika dipikirkan lagi--Yuna belum termasuk pantas untuk mendapatkan perlindungan penuh darinya. Gadis itu jelas belum berada di posisi 'teman' seperti Yun dan Lulu.


Tiga anak panah terbentuk di udara dan melesat begitu Yuna menarik tali pada busurnya. Suara bagai memecah angin terdengar dan terlihat memukau. Hanya saja karena suara tersebut terdengar jelas--lawan yang tengah dihadapi oleh Raiden mampu melompat menghindar.


Yuna terlihat begitu fokus menyerang, dia memang dapat bertarung dalam jarak dekat--tetapi keahliannya tetap adalah panahan. Jadi menjaga jarak dengan musuh jauh lebih memberinya banyak keuntungan.


!!


Belati Raiden berbenturan dengan bilah pedang seorang pria, "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kalian incar. Tapi ini benar-benar tidak adil bila harus bermain keroyokan."


"Sebaiknya kau mengurus urusanmu sendiri..! Pergi jika tidak ingin mati..!"


"Hmph, jadi ternyata benar. Kalian mengincar gadis itu," Raiden sekarang sudah yakin dengan firasatnya. Yuna adalah target dari kedelapan sosok bertopeng ini.


!!


Serangan kembali datang, kali ini sangat cepat. Ada empat orang yang dilawan Raiden sekarang, sementara sisanya berusaha untuk semakin dekat dengan Yuna. Hanya saja gadis itu bisa tetap menjaga jarak aman.


Pertarungan di luar penginapan jelas tidaklah berjalan lancar, Raiden beberapa kali menghantam dinding, tanah, dan meja buah yang ada di depan toko. Belum lagi akibat dari pertarungan ini menimbulkan keributan dan kepanikan dari warga sekitar.


!!


Lawan Raiden juga beberapa kali harus menghantam tanah, tubuh mereka nyaris saja terbelah dua andai tidak dilindungi oleh rekan mereka yang lain. Meski lawan hanya memakai sebuah belati, namun serangan yang dihasilkan benar-benar besar.


Masalahnya, sekarang tidak hanya Raiden yang melawan. Karena keributan yang terjadi--ada sekitar empat orang dari penghuni penginapan yang kini ikut menyerang mereka. Keadaan menjadi semakin rumit ketika bantuan juga datang dari warga yang rupanya ahli bermain pedang.


"Sial. Kita terlalu lama." salah seorang pria bertopeng mengumpat, dia dan rekan-rekannya jelas telah menarik banyak perhatian.


"Kita mundur dahulu."


"Baik..!"


!!


"Jangan harap kalian bisa lari..!!" salah satu pelanggan dari penginapan tempat Raiden dan Yuna berseru, dia baru saja akan melesatkan sebuah serangan saat kedelapan sosok bertopeng tersebut kompak melemparkan sebuah bola asap. Mereka dalam sekejap menghilang.


Seorang pemuda berpakaian putih dengan sabuk berwarna biru muda menghampiri Raiden, "Apa kau baik-baik saja?"


"Yah, terima kasih bantuannya." Raiden menyarungkan kembali belati miliknya. Dia mengembuskan napas dan menoleh untuk mencari keberadaan Yuna. Gadis itu rupanya tengah dibantu oleh pemain yang lain.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Tindakan kalian sangat mengejutkan." pemuda itu mempunyai rambut hitam dengan mata ungu cerah, dirinya terlihat sosok yang kuat. "Aku tahu bahwa pertarungan legal dalam Elvort Garden, tapi bukankah kalian bisa mengucapkan ikrar terlebih dahulu sebelum melakukannya? Lihatlah, keadaan benar-benar kacau.."


Raiden memperhatikan sekeliling dan jelas saja ini bukanlah kerusakan yang ringan. Perbedaan dari bertarung tanpa mengucapkan ikrar adalah efek dari kekacauan ini butuh tenaga manual untuk memperbaikinya, apalagi banyak orang awam yang akan ikut terluka.


"Orang-orang tadi datang tidak diundang, mereka juga langsung menyerang begitu saja. Dan tanpa kesepakatan kedua belah pihak, efek dari ikrar yang diucapkan tidak akan berpengaruh. Kau jelas sudah tahu itu,"


Raiden tidak mengenal siapa pemain ini, termasuk mereka yang menolong Yuna. Namun hal itu bukanlah masalah sebab memang sudah biasa terjadi jika ada beberapa pemain Elvort Garden yang ikut melibatkan diri dalam masalah orang lain.


"Ziyan..!" terdengar seruan seorang pria, Raiden dan pemuda yang bersamanya menoleh ke asal suara tersebut.


"Ada apa?"


?


Sekarang sepertinya Raiden tahu siapa nama dari pemuda yang sejak tadi bicara bersamanya.


"Ziyan, apa kau melihat topeng tengu yang mereka kenakan? Mereka sepertinya berasal dari kelompok yang sama dengan yang kita cari."


Ziyan, "Mn. Aku sudah memikirkannya, tapi kenapa wajahmu pucat? Apa kau terluka?"


"Tidak, tapi nona yang di sana.. Bisa dipastikan dia Putri Yuna."


!!


Raiden memperhatikan percakapan kedua orang yang mempunyai warna pakaian yang sama ini. Jelas sepertinya mereka adalah anggota dari sebuah organisasi atau semacam Guild. Dia pun menyilangkan tangan di depan dada sebelum ikut bersuara.


"Maaf menyela kalian, tapi sebenarnya aku ini terlibat dalam hal apa?"


Ziyan menoleh saat mendengar ucapan Raiden, dia meminta maaf. "Aku bernama Ziyan dan ini rekanku, Theo. Kami dari Guild Teratai Putih, sebenarnya ini agak kurang sopan dan mendadak, tapi biar kujelaskan intinya.."


Raiden mendengarkan dengan seksama. Guild Teratai Putih sebenarnya bukanlah Guild resmi, melainkan buatan pemain yang membentuk kelompok mereka sendiri. Ini memang biasa di Elvort Garden.


Misi Guild Teratai Putih bisa dikatakan sama dengan Guild resmi lainnya, mereka juga menjalankan misi---walau memang Guild ini lebih cenderung berfokus pada misi sederhana seperti menjadi pengawal atau membantu penghuni asli (NPC) dari Elvort Garden yang membutuhkan.


Ziyan menjelaskan, ".. Yuna adalah putri dari kerajaan Wisteria di kebun nomor 21 di wilayah barat. Dia seorang NPC dan yang kudengar dia merupakan buronan. Berita ini masih samar-samar, tapi yang kutahu kepalanya dihargai mahal."


!!


Raiden masih bisa bersikap tenang walau jujur dia tersentak karena ternyata secara tidak sengaja dirinya terlibat oleh sesuatu yang tidak terduga, "Itu berarti kelompok yang tadi menginginkan kepala Nona Yuna. Lalu bagaimana dengan kalian?"


Ziyan, "Kami sebenarnya berasal dari kebun nomor 19 di wilayah barat. Kami mempunyai tugas khusus memburu dan menangkap anggota dari kelompok Topeng Tengu, mereka ini organisasi gelap dan berbahaya. Tentang putri Yuna, kami tidak punya urusan dengannya."


Theo, "Kau sendiri bagaimana? Apa kau adalah penjaganya?"


Raiden, "Bukan. Aku hanya pemain yang secara tidak sengaja terlibat. Gadis itu menyelamatkan nyawaku, tapi aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia sampai begitu diincar."


Ziyan, "Sebenarnya kami juga tidak tahu. Kabar yang kukatakan padamu pun hanyalah rumor. Satu-satunya yang tahu kejadian sebenarnya adalah nona Yuna sendiri. Oh iya, kau ini..?"


"Ah, aku Raiden."


!!


Theo tiba-tiba saja bereaksi saat mendengar Raiden menyebutkan namanya, dia terperanjak hingga membuat pemuda berambut merah itu kaget.


"Kau ini kenapa? Apa ada yang salah dengan namaku?" Raiden tentu saja keheranan.


Theo mengusap pelan dadanya, dia memperhatikan pemuda bermata merah di hadapannya dan raut wajahnya kian memucat. "Ya ampun.. Tidak kusangka bertemu denganmu. Kau benar-benar orangnya! Kau Raiden yang membantai seluruh warga Kota Petir, kan?!"


!!


***