
Pria yang lebih dahulu bertukar serangan dengan Raiden adalah Rokkuma. Dia memiliki tubuh yang lebih besar dan berotot dibandingkan Giryuu, senjatanya merupakan sebuah pedang besar dengan bilah yang tajam.
!!
Raiden melompat mundur, nyaris saja terkena tebasan dari pria berotot tersebut. Namun belum sempat mengambil napas lega, lima rekan Rokkuma kembali menyerangnya.
"Apa ini tidak keterlaluan?!" Raiden berseru, dia mengusap keringatnya karena cukup kewalahan menghadapi enam orang sekaligus.
Vit terkumpul dan menyelimuti belati miliknya, detik itu juga para lawannya melakukan hal yang sama. Raiden jelas akan berakhir di sini bila terus berada di posisi bertahan.
Rokkuma menyerangnya dengan sengit. Ketika dia mencoba membalas serangan---justru rekan pria berotot itu maju dan menyerangnya dari sisi yang lain.
!!
Giryuu bergerak cepat dan membantu menutupi kekurangan dari temannya, dia berhasil memberi sebuah tendangan yang tepat mengenai dada Raiden.
!!
Tenki, Kakek dengan telinga musang yang merupakan wasit di pertarungan ini nampak fokus memperhatikan Raiden.
Pemuda bermata merah itu beberapa kali harus terlempar dan menghantam dinding, nyaris dia menganggap kepala pemuda tampan itu pecah akibat benturan. Rasa-rasanya ini merupakan pertarungan yang amat sengit.
"Kau akan mati Raiden... Ini yang terakhir!" salah seorang pria berseru dengan dua pedang kembar yang terayun kuat.
Penglihatan Raiden memburam, namun telinganya masih jelas mendengar seruan tersebut. Dia memuntahkan darah segar bersamaan dengan serangan yang mengarah padanya.
!!
Suara debaman yang luar biasa keras terdengar hingga membuat lantai yang dipijak Rokkuma, Giryuu, dan rekan mereka yang lain bergetar. Angin bercampur debu serta serpihan dari bekas pertarungan mereka menjadi penghalang dari pandangan.
Rokkuma sebenarnya kuat, tetapi dia tidak mau mengambil risiko menghadapi Raiden satu lawan satu. Lagipula rekan yang dibawanya juga menyimpan dendam pada pemuda itu, jadi menyerang dengan cara semacam ini akan lebih menguntungkan mereka dan juga menghemat tenaga.
"Hmph, jangan salahkan kami yang terlihat curang. Tapi salahkan dirimu dan keangkuhanmu itu," suara Rokkuma terdengar dingin.
Giryuu, "Dia pantas mendapatkannya. Orang sepertinya tidak layak mati dengan cara yang terhormat."
"Aku juga muak dengannya, benar-benar tidak tahu malu."
"Sekarang semuanya sudah selesai, tapi kenapa Tenki tidak mengumumkan pemenangnya?"
?!
Rokkuma dan Giryuu menoleh ke arah Tua Bangka yang menjadi wasit dari pertarungan ini, Tenki nampak berdiri diam dengan wajah yang tenang. Kakek itu tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kondisi tersebut membuktikan bahwa pertarungan ini masih belum berakhir. Itu artinya Raiden belum kalah apalagi mati.
Saat debu mulai menipis dan penglihatan terhadap pemandangan di depan mereka menjadi jelas---seketika itu juga mata Giryuu melebar.
"Dia.."
Napasnya tertahan saat melihat Raiden berdiri, sementara rekan yang dia anggap berhasil menebas pemuda itu justru terbaring kaku di lantai. Terdapat cairan merah yang keluar dari kedua tangan, kaki, dan leher teman mereka--Giryuu tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana.. Bagaimana dia bisa melakukannya?!" salah seorang rekan Giryuu tanpa sadar mengambil satu langkah mundur, "Jelas-jelas aku melihatnya tersungkur tidak berdaya. Jadi kenapa dia bisa berdiri kembali?!"
Raiden memang berdiri, tetapi napasnya tersengal-sengal. "Sebelumnya aku sempat berpikir akan mati. Tapi tidak disangka keinginanku untuk tetap hidup jauh lebih kuat dibandingkan dengan rasa sakit ini.. Hah.. Hah.. Sempurna."
Rokkuma mengepalkan tangannya, dia memegang kuat pedangnya dan nampak menggertakkan gigi. Urat menegang di dahinya saat melihat tubuh temannya yang perlahan berubah menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang.
"Sialan! Ayo serang dia!"
Raiden menjatuhkan belati di tangannya bersamaan dengan kelima lawannya itu melesatkan serangan. Saat ujung dari senjatanya menyentuh lantai dan terdengar bunyi kecil--di detik itu juga jempol tangan Raiden menarik sedikit pedangnya.
!!
Kilatan putih terlihat dan sangat menyilaukan mata, serangan beruntung yang dialamatkan kepada Raiden tiba-tiba menghilang. Rokkuma dan yang lainnya terkejut, namun belum sempat berpikir--pandangan mata mereka seketika menggelap.
!!
Tenki terlalu terkejut hingga tidak dapat berkedip. Sebelumnya ada lima pemain yang melesat, tetapi hanya beberapa saat di udara--para pemain itu seketika terjatuh dengan tubuh bagian depan menghantam lantai.
Tidak butuh waktu lama sampai terlihat darah segar mengalir di sekitaran leher kelima pria itu, mereka jelas sudah tidak lagi bernyawa.
"Pemenangnya.. Raiden.." Tenki masih tidak percaya, tanpa sadar tubuhnya bahkan gemetar. Dia memperhatikan pemuda yang terlihat dipenuhi banyak luka itu.
Hanya sekitar 3 cm bilah pedang Raiden yang terlihat, dia pun membuatnya rapat kembali. Sambil mengembuskan napas, dia memperhatikan bagaimana kelima sosok yang terbaring di hadapannya menjadi butiran cahaya kemudian menghilang.
Raiden mengambil kembali belati miliknya yang dia jatuhkan. Dia lantas berjalan ke arah Tenki sambil menahan rasa sakit akibat luka pada tubuhnya.
Tenki akhirnya dapat tersadar, "Apa kau sangat suka menderita lebih dahulu baru kemudian menyerang dengan sungguh-sungguh? Aku bahkan tidak melihat kau bergerak dari tempatmu berdiri dan tiba-tiba saja tubuh mereka terjatuh."
Raiden, "Aku melakukan kesalahan. Hah.. Lain kali jika lawanku terlalu banyak aku pasti akan lebih serius. Yaah.. Aku harus mengingat pelajaran ini."
Tenki menggeleng, "Kau sudah tidak waras. Kau bisa saja mati jika tetap melakukan tindakan yang konyol semacam ini. Kau benar-benar mencari mati. Haah.. Sekarang berikan tokenmu."
Raiden menyarungkan kembali belati miliknya dan merogoh sakunya untuk mengambil sebuah token kayu. Dia menyerahkan token itu kepada Tenki.
Cahaya redup terlihat dan menyelimuti token itu ketika Tenki memegangnya. Tua Bangka tersebut lantas mengembalikan token Raiden.
Sekarang hadiah kemenangan dari pertarungan ini sudah berada di tangan pemuda bermata merah itu. Raiden cukup senang dengan angka yang dilihatnya, rasa sakitnya ternyata tidak sia-sia.
Tenki, "Lain kali kau jangan membuat dirimu menderita. Gunakan otakmu itu. Kau kuat, kenapa harus berpura-pura lemah dan teraniaya?"
"Ayolah Kakek.. Rasa sakit selalu menjadi pengingat bahwa aku ini masih manusia. Lagipula aku ini orang yang sangat baik, aku mengizinkan lawanku menyerang dengan segenap kekuatan mereka, jadi mereka tidak akan mati dengan rasa penyesalan.." Raiden mengerutkan keningnya, wajahnya agak memucat "Tapi.. Punggung dan organ dalamku benar-benar sakit. Aduh.."
Tenki hanya bisa pasrah dengan sifat pemuda di hadapannya. Tubuhnya pun perlahan menghilang dan suasana di sekitar Raiden kembali berubah---sebenarnya menjadi seperti semula.
Bekas pertarungan yang sebelumnya sudah tidak ada, semua kerusakan pun ikut menghilang. Satu-satunya yang mengotori lantai adalah darah Raiden, dia memuntahkannya lagi.
Luka pemuda itu masih parah, namun selagi kakinya mampu bergerak dan kesadarannya masih ada--dia hanya perlu pergi untuk mengobati luka miliknya.
Raiden berjalan pelan, sesekali dia bertumpu pada dinding untuk membantu dirinya berjalan. Masih ada darah segar yang mengucur turun ke pipinya, itu jatuh dan menjadi jejak di lantai.
Pandangan matanya memburam dan semakin lama kian menjadi, Raiden berhenti dan meringis menahan sakit. Dia jelas tidak sanggup berjalan, ini luka yang benar-benar parah.
"Apa.. Aku akan berakhir di sini..?" saat Raiden memikirkannya, tubuhnya langsung oleng ke depan. Dia nyaris terjatuh andai sebuah tangan tidak menahannya.
"Hei..! Kau kenapa?"
Terdengar suara bagai dentingan kecil. Lewat buramnya pandangan, Raiden berusaha untuk mengetahui siapa yang sedang bertanya dan menahan tubuhnya.
"Kau terluka..! Hei..!"
Dari suara asing ini dan sebelum pandangannya menggelap--Raiden yakin sosok yang menjadi penolongnya adalah perempuan.
***