
Melihat tubuh rekannya dalam kondisi mengenaskan dan berubah menjadi butiran cahaya lalu menghilang, membuat kedua pemuda berpakaian ungu yang dilihat Raiden sampai lupa menarik napas.
Dada mereka sesak dan darah seakan memenuhi kepala keduanya. Roku bertanya apakah mereka masih mau melanjutkan permainan atau mundur.
"Akira, apa kau mau melanjutkannya?"
Pemuda bernama Li dan bertugas sebagai pemimpin menanyai rekannya, ada ketidak-berdayaan yang terlihat pada mata Li.
Jelas sekali bahwa dirinya merasa bersalah karena keterlambatan dalam pemberian komandonya telah membuat seseorang tewas.
"Li, aku percaya padamu," Akira menepuk pundak Li, dia membuat temannya terkejut.
Sambil tersenyum tipis, dia mulai berjalan ke arah Roku, mengambil kain penutup mata dan sebutir pil, lalu berjalan ke arah tangga.
Saat hampir benar-benar menjauh, Akira terlebih dahulu berhenti dan menatap kembali rekannya. "Kau jangan menyesali apa pun dulu sekarang ini. Kalau tidak, aku juga pasti akan mati,"
!
"Akira.."
..
Li terdiam sejenak sebelum akhirnya menarik napas dan menutup matanya. Ketika merasa tenang dirinya mulai membuka mata dan melihat temannya sudah berada di pintu masuk labirin dengan mata yang telah ditutup kain.
Raiden dan Yun terus memperhatikan mereka, kesombongan pada kelompok Li sepertinya sudah tidak ada. Meski sedikit kecewa tetapi Raiden cukup salut mereka sudah bisa berpikir jernih.
"Ini dia, the power of ketenangan.." gumam Raiden sambil tersenyum tipis, dia memperhatikan Akira yang saat ini berdiri di depan pintu masuk labirin.
Kabut putih yang menutupi bagian dalam labirin kembali menghilang. Raiden bisa melihat lebih banyak monster zombie daripada yang berbentuk golem, dia dan Yun mulai fokus menemukan jalan menuju pintu keluar labirin.
"Yun, Kau menemukannya?"
"Begitulah,"
Raiden berdecak kagum saat tahu Yun sudah menemukan jalan menuju pintu keluar labirin lebih cepat dari dirinya, dia sendiri belum menemukan jalan tersebut sampai sekarang.
".. Aku benar-benar beruntung mempunyai teman sepertimu Yun.."
"Tentu saja, kau harus sangat bangga. Jarang-jarang kau menemukan teman sepertiku,"
Raiden mendengus pelan, dia jadi menyesal telah memuji temannya. Harusnya dia tidak mengatakan sesuatu yang membuat Yun besar kepala. Pandangan matanya lalu mengarah ke bawah, tepat di labirin.
Akira yang matanya tertutup mulai memasuki labirin setelah mendapat pengarahan dari rekannya. Kali ini setiap arahan tersebut lebih baik daripada yang sebelumnya.
[".. Ada dua monster zombie yang hampir menemukanmu. Tubuh mereka seperti anak kecil, berumur sekitar 8-9 Tahun. Cara mereka berjalan lambat dan saat menemukan lawan, kecepatan mereka bertambah bagai Drift generasi kedua."]
"Penjelasanmu panjang sekali, tapi aku mengerti. Berapa perkiraanmu tentang jarakku dengan zombie itu?"
["Aku tidak yakin, tapi kurasa masih sepuluh meter dari arah barat. Saat kau berbelok, mereka akan melihatmu. Aku akan memberi arahan bagaimana kau bisa menyerang, apa kau percaya padaku?"]
Akira tersenyum tipis mendengar suara rekannya, Li. Dia mengatakan jika tidak percaya dengan temannya.. Bagaimana mungkin dia mau memasuki labirin dan melanjutkan permainan ini, ".. Asalkan kau tidak panik, maka semua akan baik-baik saja,"
Li sendiri kesulitan berkata-kata, setelah kesalahannya yang begitu fatal.. Tidak disangka Akira masih percaya padanya.
Dalam hati dirinya menyakinkan diri. Dia tidak akan membuat kesalahan yang sama.
Li mengepalkan kuat kedua tangannya. Dia menghembuskan napas perlahan, kilat di matanya mengisyaratkan bahwa dirinya telah memutuskan untuk tidak melakukan hal yang dapat membahayakan nyawa temannya lagi.
Akira sendiri memegang erat pedangnya dan kemudian berjalan sesuai arahan dari Li. Zombie yang awalnya berjalan pelan, saat mulai melihat Akira--dia seketika berubah ganas dan lalu berlari dengan cepat.
["Serang bagian depanmu!"]
Akira memegang senjatanya dengan kedua tangan dan tanpa ragu dia mengayunkan pedang yang dialiri Vit ke arah depan.
BAAAM!
Serangan Akira tepat mengenai kepala zombie hingga membelah tubuh makhluk tersebut dengan sekali tebasan. Dirinya kembali menyerang tubuh zombie yang sudah tertebas dan membuat monster bertubuh kecil itu menjadi cincangan daging.
["Sudah cukup Akira, kau sudah menebas jantungnya. Sekarang bersiaplah dengan zombie yang satunya,"]
"Baik,"
Zombie memiliki jantung berwarna hitam, dan itu terletak di bagian ginjalnya. Tubuh makhluk tersebut akan tetap hidup meski telah dipenggal selama jantungnya masih utuh.
Alasan mengapa Akira mencincang habis tubuh zombie barusan adalah karena ada beberapa kasus di mana jantung zombie berada di bagian tubuh yang lain.
["Dia melompat Akira, mengelak ke kiri!"]
Akira cukup tenang dalam melakukan elakan sesuai dengan arahan Li. Tanpa menoleh ke belakang, dirinya menusuk dada zombie itu dan kemudian mulai memutar tubuhnya.
Kaki kanan Akira menghantam tepat ke punggung zombie, dia kemudian menebas kepala monster tersebut tanpa jeda sama sekali.
CRAASH!
Monster yang memiliki gerakan lincah ini menjadi tidak berkutik di hadapannya. Suara saat dia menebas tubuh zombie dan membuatnya menjadi bagian-bagian terkecil merupakan pemandangan yang bagus bagi Raiden.
Pemuda bermata merah tersebut nampak berdecak kagum sambil mengatakan bahwa kebodohan kelompok kedua sudah tidak ada.
Yun sependapat, "Alasan kekalahan mereka di awal adalah karena mereka meremehkan permainan dari labirin ini. Keangkuhan telah membawa mereka pada kerugian,"
"Tapi sekarang keangkuhan itu sudah menghilang. Coba lihat dia, pemuda itu telah menguasai alur permainan ini."
Raiden memperhatikan Li yang begitu serius memberi arahan pada rekannya. Akira sendiri nampak bergerak lincah dan menyerang setiap monster yang berusaha membunuhnya.
TRANG!
Pedang Akira berbenturan dengan tubuh salah satu monster golem, dirinya memakai gerakan memutar dan kemudian memberi serangan yang tepat menebas leher monster tersebut.
["Lari terus Akira! Lompat dan serang bagian depanmu!"]
Akira melakukannya dengan tepat, dia merasakan tebasannya benar-benar mengenai sesuatu. Perasaan semacam ini cukup menyenangkan baginya.
["Menghindar ke kiri, tendang sisi kananmu!"]
BAAAM!
Li terus memandu temannya dan memberi arahan kapan Akira harus melompat, menghindar, serta menyerang. Dia begitu fokus melihat setiap gerakan rekannya, juga gerakan monster yang harus dilawan oleh rekannya tersebut.
["Merunduk dan mengelak ke kiri, hantam bagian kananmu!"]
BAAAM!
CRAASH!
Akira berhasil memberi tinjuan pada pinggang monster berwujud kelelawar, dia bahkan berhasil menebas kepala monster itu hanya dengan sekali serangan.
Dirinya lalu berlari sesuai dengan arahan Li, berbelok ketika di minta, sampai dia sedikit lagi tiba di pintu keluar labirin.
[Masih ada satu monster Akira, itu monster golem. Ukurannya besar dan tingginya sekitar dua meter. Saat ini dirinya hanya diam, seperti menunggumu mendekat. Kau harus berhati-hati dan kumpulkan Vit sebanyak yang kau bisa,]
"Aku mengerti. Kau tidak boleh gugup dan berkonsentrasilah dalam memberi arahan. Aku percaya padamu, jadi kau juga percayalah pada dirimu sendiri,"
Akira memfokuskan pikirannya untuk menyerap Vit. Pedang panjang miliknya mulai bersinar kebiruan dan semakin lama.. Warna Vit yang menyelimuti pedangnya berubah menjadi ungu terang.
!!
Semua orang yang menyaksikan dari lantai atas, termasuk Raiden nampak tersentak. Mereka seakan tak percaya Vit dapat berubah warna, apalagi perubahan tersebut kembali terjadi.
Dari yang sebelumnya ungu terang, kini menjadi warna ungu gelap dan mulai menghitam. Vit yang menyelimuti pedang Akira membentuk wujud seekor ular besar. Li yang melihat ini juga nampak terkejut.
Memang di Dunia Elvort Garden, Vit dapat berubah warna, tetapi sangat langka pemain yang bisa melakukannya. Andai ada status bar, mungkin Li sudah mengetahui bahwa temannya telah naik level.
["Li, aku sudah siap."]
!
Li tersentak, sesaat dia sedikit melamun. Jujur saja, dirinya merasa kagum karena Akira dapat melakukan perubahan jenis Vit, bahkan sampai bisa membentuknya menjadi hewan. Yang dia ketahui, bahkan pemain pro sekali pun belum tentu bisa melakukannya.
"Akira, mulailah berlari dan dengarkan aba-aba dariku,"
["Baik,"]
Li terus memperhatikan temannya, dia mengepalkan kedua tangannya dan mulai menghitung di dalam hati. Semakin lama, temannya semakin dekat dengan monster golem tersebut.
Akira sendiri terus berlari, dia memegang erat pedangnya yang dialiri Vit berwarna hitam. Bentuk ular pada Vit tersebut nampak mengelilingi pedang miliknya, seakan-akan sudah bersiap untuk melesat dan menyerang apa pun di depannya.
Monster golem yang menyadari kedatangan Akira langsung mengeluarkan suara mengerikan dan terdengar nyaring. Para penonton di lantai atas menutup telinga karena tidak tahan dengan suara itu.
Bisa dibilang dalam ruangan ini hanya Akira dan Li saja yang tidak mendengar suara monster golem tersebut. Ini wajar karena mereka menelan pil putih susu yang efeknya meredam suara sekitar dan hanya suara dari rekan satu tim saja yang bisa terdengar.
["Sekarang Akira! Melompat dan serang bagian depanmu!"]
Akira melakukan perintah dari Li, dia melompat dan menyerang bagian depan. Ular yang terbentuk dari Vit melesat dengan cepat dan hanya dalam waktu sekedipan mata.. Kepala dari golem tersebut langsung dimakan oleh ular milik Akira.
BLAAAR!
!!
Yun mulai bersuara, "Rai, bagimana pendapatmu tentang orang itu?" dia bertanya pada pemuda di sampingnya sambil tatapan matanya terus mengarah pada Akira yang sudah berada di luar labirin.
"Dia pemuda yang hebat. Perubahan jenis Vit sebenarnya cukup langka apalagi berwujud hewan yang nyaris sempurna seperti tadi. Meski aku juga memiliki perubahan jenis Vit berunsur petir, tapi aku tidak bisa mengubahnya menjadi bentuk binatang. Dia mempunyai bakat yang langka,"
Raiden memperhatikan Akira mulai menaiki tangga. Dia mendengar seruan dari Roku yang meminta agar kelompok selanjutnya bisa maju sekarang juga.
Kali ini kelompok yang akan maju adalah tiga gadis imut berpakaian merah muda dengan pita besar di kepala mereka.
Raiden dan Yun memperhatikan ketiga gadis cantik tersebut dari bawah sampai atas. Gadis yang terdiri dari Sisil, Mika, dan Renuko tersebut menamai kelompok mereka sebagai 'Cherry Blossom'.
Ketiganya memakai kaos kaki sepanjang lutut berwarna putih mengkilap, pakaian mereka adalah sebuah gaun berlengan panjang yang memiliki rok pendek nan mengembang layaknya bunga.
Payung yang masih tertutup dan sedang dipegang ketiganya mempunyai warna dan corak yang sama dengan gaun merah muda mereka. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah wajah dan warna rambut ketiga gadis imut tersebut.
"Jadi siapa di antara kalian yang mau mencoba lebih dulu?" Roku bertanya pada Mika, gadis berambut panjang berwarna kuning pucat.
Sisil, "Aku yang akan melakukannya lebih dulu Paman,"
Orang bertugas sebagai pemandu bagi teman-temannya adalah Renuko, gadis yang terlihat berusia 16 Tahun namun usianya yang benar adalah 22 Tahun. Dia memakai rambut palsu seperti Mika dan Sisil namun warnanya berbeda, yakni berwarna biru gelap.
"Kakak Sisil, berjuanglah..!" Renuko memberi semangat pada temannya, senyumannya terlihat mempesona, apalagi itu semakin dipercantik dengan tahi lalat kecil di bagian pipi kirinya.
Sisil mulai mengambil penutup mata dan pil dari Roku, dia mulai berjalan ke arah tangga sambil menenteng payung berwarna merah muda miliknya. Caranya berjalan membuat Yun tanpa sadar terpukau bahkan tanpa mengedipkan mata.
"Dia sangat manis~ apa yang sering dikatakan para Wibu.. Ah, benar.. Dia kawaii~"
!
Raiden yang melihat tingkah Yun langsung memberi sentilan keras pada dahi temannya ini. Dia membuat Yu merintih kesakitan sambil mengusap-usap dahinya.
"Sssh.. Rai! Kau ini keterlaluan.. Aah ya ampun, kupikir jidatku sudah berlubang.."
"Salahmu. Kau seperti orang yang tidak pernah melihat gadis cantik saja, apa bagusnya mereka dibanding Lulu,"
?!
Mendengar Raiden memujinya membuat Lulu membelai pelan rambutnya dengan penuh keanggunan. Dalam hati dia salut pada Raiden karena temannya ini tahu tidak ada orang yang lebih imut dari dirinya.
"Rai.."
"Mn?"
"Setelah ini selesai.. Akan kutraktir kau roti isi daging,"
!!
Raiden berteriak girang di dalam hati, dia menyembunyikan betapa senang dirinya dengan senyum tipis khas-nya.
Lulu yang selama ini sangat terkenal dengan betapa pelitnya dia.. Untuk pertama kalinya mau mentraktir Raiden dengan roti isi daging yang begitu mahal bagi pemuda hemat poin sepertinya.
Yun mendengus dan kemudian menggeleng pelan, dia tidak habis pikir dirinya baru saja dimanfaatkan oleh Raiden. Pemuda di sampingnya ini memuji Lulu dalam keadaan yang serius, apalagi dengan kondisi yang tidak terduga.
Jika Yun ikut memuji Lulu sekarang, maka yang ada dirinya malah di tendang masuk ke dalam labirin. Bisa dibilang, pujian pertama di kondisi serius yang didengar Lulu adalah kejujuran, sementara untuk pujian kedua dan ketiga.. Itu mulai diselimuti kebohongan.
BAAAM!
Suara debaman keras mengusik pendengaran Raiden, Lulu, dan Yun. Ketiganya lalu mengarahkan pandangan ke labirin, tepat di mana Sisil menusuk satu monster kelelawar dengan payungnya.
Gadis berambut panjang berwarna merah muda itu terlihat memutar payungnya dan kemudian melompat ke arah satu dari tiga zombie.
Dengan gerakan cepat dia memberi tendangan pada zombie tersebut dan lalu menghindari serangan zombie yang lain. Payung berwarna merah mudanya terbuka dan langsung mengeluarkan belati kecil yang tak terhitung jumlahnya.
!!
Zombie yang terkena serangan Sisil merasakan tubuhnya tercabik-cabik dan dikoyak oleh belati-belati tersebut. Hujan senjata tajam itu kemudian berhenti saat ketiga zombie sudah terkapar tak bernyawa.
[Sekarang berjalan lurus, sekitar lima belas langkah, kau harus belok kiri dan terjang dua golem raksasa di depanmu,]
Sisil mengangguk, dia berjalan sambil memakai payung miliknya yang terlihat ternoda darah. Terdapat bekas cakaran pada lengan kanannya yang benar-benar mengoyak pakaiannya. Dia juga mendapat luka di betis sebelah kirinya.
Walau demikian, Sisil tetap berjalan seperti biasa dan seakan tidak merasakan sakit apa pun.
[Kau hampir sampai,]
Sisil bersiap dan kemudian mulai berlari cepat dengan payung yang dialiri Vit. Payung yang ternyata adalah senjata tersebut kembali mengeluarkan belati kecil dan melesat begitu cepat ke arah golem.
!!
Sisil adalah petarung jarak jauh, namun bila diperlukan dirinya dapat bertarung dalam jarak dekat. Monster golem sendiri memiliki ukuran yang besar dan jelas terbuat dari tanah.
Karena tubuhnya, monster golem sulit menghindari lesatan belati-belati milik Sisil. Dalam waktu sekejap saja, kedua golem tersebut berubah menjadi serpihan.
Sisil berjalan tenang keluar dari labirin, kemampuannya sama dengan kedua temannya yang lain. Karena itulah, saat dirinya lolos dari labirin, maka bisa dipastikan Mika juga dapat melakukannya.
Tidak sampai sepuluh menit, Mika dapat melewati labirin tanpa mengalami luka yang serius. Kemampuannya membuat kelompok lain seperti mendapat keberanian untuk mencoba labirin tersebut.
Raiden, "Sebenarnya, asalkan mampu memberi komando yang tepat, maka rintangan di dalam labirin akan sangat mudah dilewati. Namun saat seseorang mulai diselimuti sedikit keraguan, maka dirinya kemungkinan besar akan melakukan kesalahan. Dan kau tahu Yun, kesalahan kecil saja dapat menghilangkan nyawa seseorang,"
Yun mengangguk setuju, dia memperhatikan saat Sisil dan kedua rekannya kembali membaur dengan pemain lain. Kelompok selanjutnya adalah tiga orang pria berpakaian serba merah.
"Rai, bukan hanya itu. Kemampuan kelompok yang bisa melewati labirin dengan mudah dapat membuat kelompok lainnya dekat pada keangkuhan.."
"Bukankah itu bagian menariknya? Jadi aku bisa melihat bagaimana mereka kehilangan nyawa. Elvort Garden diciptakan memang untuk menghalalkan segala bentuk pembunuhan. Sebuah game bagi 'Sampah Masyarakat',"
Raiden menyeringai setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Elvort Garden adalah pembuangan sampah. 80 % pemain di game ini tidak diinginkan oleh orang-orang di dunia mereka. Sebagian yang lain terperangkap karena dicurangi seseorang dan lainnya ingin menguak rahasia game ini.
Raiden memperhatikan kelompok keempat, mereka terdiri dari tiga orang pemuda yang salah satunya bertubuh lebih besar. Wajah pemuda tersebut garang dan siapa pun yakin bahwa dialah yang menjadi pemimpin kelompok tersebut.
"Siapa di antara kalian yang ingin maju lebih dulu?" Roku seperti biasa bertanya pada kelompok di depannya. Dari tatapan matanya--dia seperti bisa menilai kepribadian salah satu pemain ini.
Yang bertubuh besar dengan rambut pendek berwarna merah kehitaman bernama Rex, dia bertindak sebagai pemimpin kelompok sekaligus orang yang akan memandu rekannya untuk melewati labirin.
Sejak awal memperhatikan--Yun dan Raiden merasakan sesuatu yang aneh pada Rex. Keduanya entah mengapa merasa bahwa permainan labirin ini akan berbeda dari yang lainnya.
Salah satu rekan Rex mulai menuruni tangga. Raut wajahnya terlihat tegang, dia seakan belum siap untuk melewati labirin, namun Rex terlalu mendesak dan mengatakan ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini.
..
"Rai.. Entah kenapa, tapi perasaanku tiba-tiba saja tidak enak.." tenggorokan Yun terasa sakit dan dia juga merasakan dadanya berdenyut, sesuatu yang buruk kemungkinan akan terjadi.
Raiden menoleh sekilas ke arah Yun sebelum mengalihkan pandangannya ke bawah kembali. Di sana, rekan Rex mulai melewati pintu masuk labirin dengan mata yang tertutup kain.
Satu menit pertama, perjalanan pemuda yang berusia sekitar 23 Tahun berpakaian merah tersebut aman-aman saja. Dia mendapat arahan yang tepat dari Rex.
[.. Tiga zombie akan datang dari sisi kirimu, kumpulkan Vit sebanyak mungkin,]
"Baik,"
Pemuda ini menggunakan tombak panjang sebagai senjatanya. Dia mengumpulkan Vit sebanyak yang dirinya bisa sambil menunggu aba-aba dari Rex.
Ketiga zombie melihatnya, mereka yang sebelumnya berjalan lambat kini berlari dengan kecepatan yang tinggi. Bahaya semakin mendekat ke arahnya.
[Melompat ke atas dan serang bagian depanmu..!"
Rex serius memberi arahan pada temannya. Dia pemberian komandonya mulai kacau saat temannya sulit menghindari serangan dari ketiga zombie.
CRAAASH..!
Rekan Rex mengerang kesakitan, kakinya mendapat cakaran dari salah satu zombie. Belum sempat menghindar.. Dirinya kembali mendapat serangan dan kali ini pada bagian dada.
[Aku tidak bisa Rex. Aku menyerah, ini sangat sulit bagiku,"]
Dengan sekuat tenaga dia mengayunkan tombaknya dan berhasil membunuh satu zombie, namun dirinya lagi-lagi terkena serangan oleh dua zombie lainnya.
"Rex.. Kita harus menyelamatkannya. Menyerahlah, kalau tidak dia bisa mati,"
Roku mendengar ucapan rekan Rex yang berdiri di sampingnya. Dia lalu mengingatkan aturan dasar permainan ini, ".. Pemain bisa menyerah tapi hanya keputusan ketua kelompok saja yang diterima. Dan aku yakin kau sudah tahu konsekuensinya jika menyerah,"
"Rex, ayo menyerah saja. Kouki bisa tewas bila kau tak segera mengambil keputusan-"
"Diamlah!" Rex membentak rekannya, ".. Aku tidak akan mengatakannya. Jika dia harus mati, maka biarkan saja! Aku sama sekali tidak peduli."
!!
Raiden, Yun, dan para pemain yang lain terkejut saat mendengar ucapan Rex. Perhatian mereka semua segera tertuju pada pria berpakaian merah tersebut. Tidak salah lagi, mereka mendengarnya dengan begitu jelas.
"Rex, apa yang kau katakan?! Kouki dia-"
AAAAARGH..!
!!
Belum hilang rasa terkejut Raiden dan para pemain yang lain--mereka kembali dikejutkan dengan suara teriakan pilu dari dalam labirin.
***