
Yun, Lulu, dan Raiden mengikuti Roku bersama dengan para pemain lain yang sebelumnya telah terpilih untuk melaju ke babak berikutnya. Mereka dikumpulkan pada suatu lapangan luas yang tidak lain merupakan wilayah tengah dari stadion pelatihan di tempat ini.
Sebelumnya, sekitar 2.250 orang telah mendaftar untuk mengambil ujian di Kota Api ini. Mereka dibagi menjadi 750 tim yang satu timnya terdiri dari tiga orang.
Ada 50 ruangan di tempat ini yang dipakai untuk melakukan ujian pertama, dan setiap ruangan itu berisi 15 tim. Hanya saja saat diperhatikan baik-baik, pemain yang berkumpul di lapangan tidak lebih dari 705 orang.
Itu berarti ada sekitar 1.542 orang pemain yang gagal melewati ujian pertama, dan kemungkinan besar di antara mereka banyak yang telah tewas dalam ujian tersebut.
Raiden memperhatikan sekelilingnya, dia diminta untuk berdiri di belakang pemain yang lain. Bila diperhatikan dari atas, mereka nampak membentuk barisan-barisan.
"Selamat Datang Untuk Kalian.. Para Pahlawan-Pahlawan Kami..!"
?!
Sebuah seruan menggema dan membuat tidak hanya Raiden, tetapi juga para pemain yang lain menengadah dan melihat seorang pria bertubuh kekar yang nampak berdiri di lantai kedua. Tempat itu juga mempunyai setidaknya lima kursi yang masih kosong.
"Selamat untuk kalian yang telah menyelesaikan Ujian Pertama di Kota Api ini. Namaku adalah Orochi dan akulah yang menjadi penanggung jawab di ujian selanjutnya.."
Yun menyipitkan matanya, suara pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam itu terdengar familier di telinganya. Dia merasa pernah mendengar suara yang sama di suatu tempat, hanya saja dirinya lupa.
Yun bergumam, "Aneh.."
?!
Raiden yang berdiri di depan Yun mendengar gumaman pelan temannya tersebut, dia pun sejenak menoleh dan lalu bersuara setengah pelan.
"Apanya yang aneh, Yun..?"
Yun menatap temannya, dia maju agak dekat. "Kau tahu aku ini punya ingatan yang hebat, bukan? Tapi aku merasa seperti telah melupakan sesuatu yang penting. Aku seakan pernah bertemu dengan pria itu, tapi entah di mana."
Raiden mengerutkan keningnya, "Memang kau sudah berapa lama bermain Elvort Garden?"
"Seingatku.. Enam bulan. Aku merayakan ulang tahunku yang ke-18 di sini. Kau memberiku lukisan Dewi Jodoh dan berharap agar aku punya pacar, ingat?"
"Kalau begitu kau tidak pernah bertemu dengan paman yang di sana. Bukankah kau, aku, dan Lulu selalu bersama? Aku tidak pernah bertemu dengan orang itu. Atau.. Mungkin saja ada hari di mana kau pergi sendirian tanpa kami, dan secara tidak sengaja bertemu dengannya."
Yun berkedip, dirinya menggeleng pelan. "Kurasa tidak begitu.. Tapi.. Haah.. Sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja,"
Meski Yun mengatakannya, namun dalam hati dia masih bertanya-tanya. Dia seakan pernah benar-benar mengalami ini, perasaan seperti Deja Vu.
Yun lantas fokus mendengarkan Orochi, pria kekar tersebut memperkenalkan lima ketua Guild terbesar di Kota Api. Seketika suara riuh penuh kekaguman memenuhi tempat berbentuk stadion besar itu.
!!
Ada lima orang yang menampakkan dirinya, masing-masing mempunyai aura yang tidak biasa dan bahkan Raiden ikut berdecak kagum karenanya.
"Akan kuperkenalkan pada kalian..!" Orochi berseru, "Di posisi kelima. Ketua dari Guild Ular Hitam--Nona Melinda!"
!!
"Sa-sangat Cantik..."
"Mengagumkan.."
"Dia seperti.. Kecantikan yang berbisa,"
Aaah..!!
"Nona Melinda..! Aku mencintaimu..!!"
!!
Raiden terkejut ketika tiba-tiba saja para pemain riuh dan berteriak memanggil ketua yang diperkenalkan oleh Orochi. Dia tahu dominasi terbesar pemain di Elvort Garden adalah orang dengan sifat penjahat, tetapi tidak disangka perasaan seperti berada di antara para bandit kini amat jelas.
Nona Melinda adalah sosok wanita dewasa dengan penampilan yang seperti Dewi Bulan. Rambutnya sehitam malam dengan wajah cantik yang menggiurkan.
Dia mempunyai senyuman indah mempesona dan sebuah tahi lalat kecil di bawah bibir sebelah kanannya. Dengan melihat wajah dan senyuman itu saja--Nona Melinda sudah sangat seksi.
"Aku tidak sanggup Yun.." Raiden membalikkan tubuhnya, dia tidak peduli lagi dengan suara keriuhan itu. Dirinya mengusap wajah beberapa kali, "Jiwa bujanganku memberontak."
Yun juga tidak lagi menghiraukan suara riuh tersebut, dirinya sangat terpukau sampai tidak menyadari mulutnya sejak tadi terbuka.
Tanpa berkedip, dia menepuk pundak Raiden. "Baru bagian kepala yang kau perhatikan dan sudah tidak sanggup. Ayo berbalik lagi, jangan mubazir.. Dia kakak cantik yang dewasa."
Raiden melihatnya.
'Dewasa' menurut Yun mengacu pada lekukan indah tubuh Nona Melinda. Dia sendiri tidak sanggup untuk berkata apa pun, rasanya seperti tahun-tahunnya berada di Elvort Garden terbuang sia-sia.
"Yun, aku akan menjadi anak baik bila mempunyai kekasih sepertinya.." Raiden mengusap-usap pelan dadanya, biar bagaimanapun dirinya tetaplah pemuda tampan yang dalam proses tumbuh-berkembang.
Raiden, "Haah.. Yun. Apa menurutmu aku punya peluang?"
"Kalau kau bisa masuk ke dalam Guild kakak yang cantik itu, maka kujamin kau punya kesempatan 90% untuk dekat dengannya.."
Yun dan Raiden begitu fokus pada pemikiran mereka. Kedua orang ini tidak menyadari bahwa Lulu sejak tadi berdiri di antara mereka, terkadang diapit oleh tubuh Yun--bahkan nyaris mencium belati yang terselip di belakang pinggang Raiden.
Ekspresi Lulu awalnya biasa-biasa saja, bahkan ketika tubuhnya bersentuhan dengan bokong Raiden karena disenggol oleh Yun--dia tidak mengatakan apa pun.
Namun sekarang air mukanya nampak berbeda, Yun berjalan maju seperti mengganggap Lulu tidak ada. Alhasil gadis mungil tersebut menabrak Raiden dengan posisi seperti memeluk temannya itu dari belakang.
!!
Entah Lulu yang sedang sial atau memang Raiden yang sama sekali tidak peka--pemuda itu justru terlihat biasa-biasa saja. Tidak menyadari bahwa ada temannya yang menderita di sini.
Lulu sebenarnya salah. Raiden sadar dengan kehangatan asing di tubuhnya dan seolah ada perasaan seperti dipeluk dari belakang, tetapi hal itu wajar sebab para pemain di sekelilingnya kini saling berdempetan karena terlalu antusias melihat Nona Melinda.
Orochi kembali memperkenalkan Tetua dari Guild selanjutnya, itu ada sesosok pemuda dengan jubah berwarna merah. Simbol perisai adalah lambang dari Guild tersebut.
"Kuperkenalkan kepada kalian, Tuan Muda Atsui dari Guild Perisai Api..! Dan di samping Beliau adalah ketua dari Guild Banteng Putih--Tuan Gomoru!"
!!
"Orang itu lebih besar dari Orochi.."
"Aku lebih suka Tuan Muda Atsui, dia punya rambut dan mata merah muda yang langka."
"Tuan Gomoru itu sangat besar, dia mungkin keturunan raksasa.."
Yun samar-samar mendengar suara pemain perempuan dan laki-laki di sampingnya, dia sendiri tidak tertarik memperhatikan ketua Guild yang lain--Matanya sudah tertuju pada satu orang dan itu adalah ketua Ular Hitam.
Tuan muda Atsui sebenarnya tampan dan memiliki aura yang mempesona. Dia jelas memikat perhatian para pemain perempuan hingga membuat keriuhan---Namun seperti Yun, Raiden lebih suka memperhatikan Nona Melinda.
"Di tempat yang kedua adalah ketua dari Guild Singa Emas.." Orochi melanjutkan, "Beliau adalah Tuan Muda Hamada..!"
!!
Binar pada mata Raiden berubah ketika nama 'Singa Emas' disebutkan, dirinya pun lantas mengarahkan perhatian dan menatap pemuda yang diperkenalkan oleh Orochi.
Sosok tersebut mempunyai rambut panjang berwarna kuning cerah dengan mata safir miliknya. Kulit pemuda itu putih bersih, nampak bagai makhluk dalam lukisan. Caranya memandang benar-benar seperti seorang penguasa yang menatap rakyatnya.
Raiden tidak tertarik meski sosok tersebut dijelaskan dalam detail yang mengagumkan. Dia lebih fokus pada orang yang berdiri di belakang ketua Guild Singa Emas itu.
!!
Raiden, "Kau juga menyadarinya. Itu memang dia."
Si Pirang yang disebut Yun tidak lain adalah Hide, sosok yang pernah bertarung dengan Raiden beberapa waktu lalu.
Yun, "Dia mungkin adalah orang kepercayaan ketua Guild Singa Emas, bisa jadi posisinya adalah Wakil Ketua atau lebih daripada itu."
Raiden, "Rasanya aku punya firasat buruk tentang ini. Yun, kau harus dengarkan aku.."
"…"
*
*
Orochi memperkenalkan Guild Phoenix Api sebagai yang terakhir. Hanya Guild inilah yang mengutus anggota paling juniornya sebagai perwakilan--Itu pun hanya dua orang pemuda berwajah standar dengan usia sekitar 16 Tahun.
"Sama seperti namanya.. Guild Phoenix Api ini sangat sombong."
"Namanya juga Phoenix. Bukankah itu burung yang paling angkuh?"
"Tapi kudengar hanya pemain yang benar-benar terbaik yang dapat menjadi bagian dari Guild itu. Melihat kedua pemuda tersebut yang wajahnya biasa saja---aku justru malah iri pada mereka."
Yun melirik beberapa pemain yang mengganggu pendengarannya untuk memperhatikan apa yang dikatakan oleh Raiden. Dirinya berdecak kesal, namun tidak bisa menegur mereka karena memperhatikan bentuk tubuh dan kekuatannya.
"Haah.." pada akhirnya Yun hanya dapat menghela napas berat. Jika dia membuat tersinggung para pemain itu--Entah wanita atau pria, maka Raiden-lah yang akan dalam masalah.
Temannya ini selalu menjadi yang terdepan untuk melindunginya bersama Lulu seperti sebuah perisai. Jadi bila dia membuat masalah, Raiden pun akan ikut terseret ke dalamnya.
Orochi kini menjelaskan tentang aturan permainan selanjutnya, "Kalian akan diuji oleh para Tetua Guild. Terakhir, siapa pun yang berhasil melewatinya akan diberi pasangan untuk bertarung satu sama lain dan hal itu yang menjadi penentu kalian dipilih oleh salah satu dari kelima Guild besar di kota ini..!"
Setelah Orochi mengatakannya, yang pertama maju duluan adalah ketua dari Guild Ular Hitam--Nona Melinda. Senyum wanita cantik itu tidak pernah memudar, justru nampak semakin mengembang.
"Mm.. Anak-anakku yang manis~ Biar Nona cantik ini mulai lebih dulu.."
!!
Bagi yang mendengarnya, suara Nona Melinda seperti percikan air jernih dan mampu menggetarkan hati. Tetapi bagi perempuan seperti Lulu---Suara wanita cantik itu bagaikan sedang menggoda dan memancing birahi para pria di sekelilingnya.
"Hmph, dasar Nenek J****g. Kucing Liar. Apanya yang bagus dari dua gunung lemaknya itu. Kuharap aku bisa lebih dekat supaya dapat menebasnya menjadi potongan daging."
Kosa kata yang dahsyat untuk diucapkan oleh seorang gadis bertubuh mungil, bahkan Yun yang sebelumnya tidak menyadari kehadiran temannya itu langsung terlonjak kaget.
"Astaga..!! Lulu..! Kau di sini?!" Yun mengambil jarak satu langkah ke belakang, jantungnya berdebar kencang ketika melihat gadis berkuncir dua itu memberinya tatapan mematikan.
Raiden juga baru menyadarinya, dia menoleh dan ikut kaget. "Sejak kapan kau berdiri di belakangku, Lulu?!"
"Hmph, apa aku sekecil dan sependek itu sampai kalian tidak melihat?! Sialan. Lain kali aku akan memakai ikat rambut berduri dan kupastikan meremas 'Adik Kecilmu' sampai pecah bila kalian membuatku terjepit seperti itu lagi."
!!
Tidak Mungkin!!
Yun spontan menangkup 'Masa Depannya' saat mendengar gadis mungil itu bicara, Raiden sendiri tidak perlu lagi diragukan bagaimana syoknya dia.
Lulu selama ini ada di antara mereka! Terjebak di sekitar tubuh bagian bawah Yun dan Raiden, kemungkinan besar itu adalah posisi paling memalukan yang pernah dia alami.
Raiden, "Lulu. Kau baik-baik saja? Bagaimana jika kau berdiri di depanku? Kau tahu aku dan Yun sering membahas masalah pemuda, jadi terkadang karena terlalu fokus--kami jadi mengabaikanmu."
Lulu, "Hmph. Aku yakin Tante J*****g itu jauh lebih kalian sadari meski di tengah kerumunan daripada aku. Menyingkir!"
!!
Raiden bergeser dan membiarkan Lulu mengambil tempatnya. Yun mendekat dan merasa tidak enak---sebenarnya masih sangat syok.
Raiden setengah berbisik, "Pantas bokongku hangat. Kupikir itu karena atmosfernya."
Yun, "Posisimu di depan, jadi kau masih lebih baik. Berbeda denganku yang benar-benar dalam kondisi berbahaya. Aku khawatir leher Lulu merasakannya. Berapa usia anak ini?"
Raiden tersentak. Dia menoleh ke arah Yun, melihat ke bagian bawah temannya itu, dan langsung menutup mulutnya kala menyadari leher Lulu sejajar dengan 'Masa Depan' temannya. Benar-benar posisi yang sempurna untuk dianggap sebagai pelecehan.
"Ya ampun.. Kepalaku sakit," Raiden berwajah pucat, "Lulu itu meski tubuhnya seperti anak-anak, tapi kau tahu dia sepantaran kita. Kau dan aku bisa mati karena dianggap telah melakukan pencabulan."
Yun, "Tapi itu kan tidak sengaja..? Dia sendiri yang berdiri di antara kita. Siapa suruh tubuhnya sependek itu.."
"Ssssh.. Lulu tidak mempermasalahkan ini lagi, jadi mari untuk melupakannya saja. Lagipula sepertinya tidak ada yang sadar, jadi biarkan ini menjadi rahasia di antara kita.." Raiden merinding ngeri sambil menggelengkan kepala, dia tidak mau dibayang-bayangi kejadian tak terduga itu.
Lulu sebenarnya tidak memikirkan masalah diapit dengan posisi yang tidak tahu malu seperti berhadapan langsung dengan bokong Raiden dan 'Adik Kecil' Yun. Tetapi yang membuatnya kesal adalah perihal tinggi dan bentuk badannya.
Untuk penglihatan orang awam, Lulu bagai anak perempuan yang mempunyai tinggi seperti anak usia 13 atau 14 Tahun. Bentuk tubuhnya juga seperti anak-anak, padahal usianya sekarang sudah menginjak 21 Tahun. Dialah yang paling Tua di antara Raiden dan Yun.
"…"
Wajah Lulu menggemaskan, penampilan imut yang memiliki level di atas rata-rata. Hanya saja biar bagaimanapun tubuh seperti Nona Melinda tetaplah yang paling diidamkan. Wanita itu jelas adalah idaman para pemuda seperti Raiden dan Yun.
"Apa bagusnya dia..?" Lulu bergumam sendiri, "Itu hanya gunungan lemak. Kenapa Rai sangat tertarik hanya karena Nenek jelek itu punya dua gunung lemak..? Hmph, dasar Rai bodoh. Aku masih lebih baik darinya. Menyebalkan."
Kedua tangan Lulu terkepal kuat, dia berdiri sambil menengadah. Terus memperhatikan Nona Melinda dengan wajah yang masam. Barulah saat dirinya merasakan ada yang bergerak di bahu kanannya--Lulu pun mulai menoleh.
!!
Pandangan matanya langsung berhadapan dengan seekor ular kobra hitam yang mempunyai corak kemeraham pada kulitnya. Lulu terlalu terkejut sampai tidak bergerak di tempatnya.
!!
Tidak hanya Lulu, tetapi juga pemain lain termasuk Raiden dan Yun. Ular dengan jenis serta corak yang sama entah bagaimana berada di bahu mereka.
Aaaaah..!!
Ujian dari Nona Melinda sudah dimulai. Banyak peserta yang menjerit ketakutan karena kehadiran ular-ular itu, beberapa langsung melemparnya dan berusaha membunuh binatang berbahaya tersebut.
!!
Hanya saja saat merasakan adanya ancaman, ular kobra hitam itu ikut menyerang. Mereka mematuk kulit peserta dan menyemburkan cairan merah dari matanya--sesuatu yang apabila terkena tepat di bagian mata lawan, maka akan menimbulkan kebutaan.
!!
Sama seperti peserta yang kaget lainnya, Raiden dan Yun juga melempar ular itu. Alhasil mereka pun harus bertarung sambil tetap waspada dengan ular yang lainnya. Belum lagi kondisi yang banyak pemain membuat keduanya sulit bergerak.
"Tsk. Sialan," Raiden mengeluarkan belati miliknya. Dia menyelimuti senjatanya dengan Vit dan langsung menerjang salah salah satu ular yang dia targetkan.
"Rai, Awas..!!" Yun berseru. Dia bergerak cepat ketika sebuah serangan mengarah pada temannya.
!!
Yun menubruk Raiden hingga mereka terjatuh dan bergulingan di tanah. Seketika itu juga bunyi debaman keras terdengar, beberapa disusul dengan suara benturan senjata.
"Yun, apa yang kau lakukan?!" Raiden tidak percaya dihentikan ketika dia belum menunjukkan kebolehannya. Dia lantas menarik Yun saat serangan lain mengarah pada mereka.
"Rai, kau tidak bisa membunuh sembarangan ular-ular itu.." Yun menjelaskan, "Bisa yang mereka semburkan dari matanya memiliki efek ledakan. Itu sejenis Kobra Hantu."
!!
***