
"Apa mereka semua sudah mati?"
Seorang pemain dari Guild Raja Sungai Biru bertanya pada rekannya. Mereka berada di luar Dungeon cukup lama dan sampai sekarang tidak satu pun pemain dari Guild lain yang mereka lihat.
"Jika semakin lama menunggu... Akan ada banyak hewan beracun yang datang kemari."
"Kau takut apa? Tidak peduli seberapa beracunnya hewan itu, kau tidak akan mati dengan cepat. Kau masih punya waktu meminum Potion Penawarnya."
"Bisakah kau tidak mengatakan itu? Ucapanmu sama sekali tidak membantu. Lagipula, kenapa kita harus diam di sini? Ayo masuk dan cepat selesaikan misi ini,"
Pemain yang wajahnya tertutup topeng tengu berwarna merah itu mulai akan melangkah ketika bahunya dicengkeram oleh rekannya. Dia pun menoleh dan meminta dilepaskan.
"Tidak baik bersikap gegabah. Tunggu sebentar lagi,"
"Tsk, pemain lain akan menghabiskan item tersembunyi di dalam sana jika kita tidak bergerak cepat. Apa lagi yang kita tunggu?"
"Ledakan. Kita menunggu suara ledakan."
!!
Tepat ketika salah satu anggota Guild Raja Sungai Biru berkata demikian---suara ledakan yang besar pun terdengar. Tanah bergetar dan angin kejut yang sangat kuat keluar dari pintu masuk Dungeon tersebut.
Pemain yang terlambat menghindar langsung terpental jauh hingga menghantam tanah. Ledakan yang terjadi bahkan menjatuhkan bebatuan yang merupakan bagian dari Dungeon.
?!
Sebuah puing mengarah pada seorang anggota Guild Raja Sungai Biru dan tidak mampu dihindari oleh orang itu. Hanya saja sebelum benar-benar dihantam puing dari bebatuan berat tersebut, sosok itu langsung menarik pedangnya dan mengayunkannya seakan berniat memotong udara.
Serangan yang keluar dari bilah pedang itu membuat puing yang awalnya besar menjadi terpisah-pisah layaknya kerikil kecil sebelum berakhir menjadi butiran debu yang menyatu dengan angin.
Anggota Guild Raja Sungai Biru tidak lagi menunggu. Setelah suara ledakan itu, mereka langsung melesat masuk ke dalam Dungeon. Ledakan barusan adalah pertanda bahwa ruangan inti Dungeon telah dibuka oleh kemungkinkan seorang atau dua orang pemain.
Tanda tersebut juga menunjukkan perubahan tiap-tiap ruangan di dalam Dungeon, termasuk dengan lokasi dari item-item yang tersembunyi. Entah siapa yang membuka ruangan inti tersebut---namun dari suara ledakannya yang besar, pemain itu mungkin saja sudah tewas tak bernyawa.
*
*
*
Bulu mata Hide bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Kepalanya langsung berdenyut nyeri dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Pandangan matanya buram sejenak sebelum benar-benar jelas.
Hide terbatuk dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Dia berusaha bangun, tetapi tubuhnya terasa sangat sakit. Rasa yang membuatnya tersadar bahwa dia ternyata masih hidup.
"Ini... Di mana..?" Hide menatap ke sekeliling. Dia berada dalam sebuah ruangan berdinding batu, namun memiliki perabotan seperti meja, kursi, lemari dan bahkan tempat tidur.
"Sudah bangun?"
?!
Suara asing terdengar dan sontak membuat Hide tersentak. Dia melihat ada seseorang yang berdiri dengan pakaian berwarna hitam dan jubah putih bercorak burung Phoenix.
Sosok yang dilihatnya merupakan gadis berkuncir dua dengan pakaian yang mempunyai corak mawar biru. Ekspresi wajah gadis itu tenang, namun dengan tatapan mata yang dingin. Dia memiliki wajah manis dan terlihat seperti berusia 14 Tahun.
"Kau ini..." Hide memperhatikan sosok di hadapannya dengan seksama, namun nyeri pada kepalanya kembali.
"Potion?" gadis dengan hiasan pita besar di rambutnya itu menyodorkan sebotol Potion dalam sebuah botol giok putih kepada Hide.
"Terima kasih..." Hide perlahan mencoba bangun, dia lalu mengambil Potion yang diberikan kepadanya.
Entah mengapa Hide merasa tidak asing dengan anak perempuan ini, namun dia tidak ingat di mana mereka pernah bertemu. Hanya saja, yang mambuatnya tidak ragu meminum Potion tersebut adalah karena jubah yang dia lihat ini merupakan milik anggota Guild Phoenix Api.
"......" anak perempuan itu melihat Hide meminum Potion dan saat memastikan pemuda di hadapannya benar-benar telah menelan Potion tersebut, dia pun sontak mengulurkan tangan dan bicara. "Potion itu kelas 1, harganya 3000 Poin."
!!
Hide tersedak mendengarnya dan sontak terbatuk, ekspresi wajahnya nampak tak percaya. "Ka-Kau... Meminta bayaran?!"
Anak perempuan itu mengangguk, raut wajahnya nampak seperti anak yang tak berdosa. "Menyelamatkanmu dan juga mengobatimu... Kau berhutang 10 ribu Poin padaku. Kemudian untuk Potion itu.. Semuanya menjadi 13 ribu Poin. Berikan."
!!
Hide nyaris memuntahkan darah. Ada apa dengan anak perempuan ini?! Dia tidak percaya ada seseorang yang begitu perhitungan sekali.
Dia mengerjapkan mata beberapa kali, "Tunggu... Kau pasti bercanda, kan?"
Anak perempuan itu menggeleng, "Kalau membahas uang aku tidak akan pernah bercanda. 13 ribu Poin. Sekarang bayar."
"Lulu, hentikan. Kau ini tidak pernah berubah ya,"
!!
Hide terkejut dan segera menoleh, dia melihat Raiden yang berjalan masuk ke dalam ruangan ini. Matanya terbelalak ketika menyaksikan bagaimana pemuda bermata merah itu berjalan ke arahnya tanpa terlihat kesakitan sama sekali.
"Raiden..?"
"Aku menunggumu bangun. Nyaris saja kupikir kau sudah mati," Raiden duduk di samping Hide. Dia mengembuskan napas sebelum bicara kembali, "Untung saja aku tahu bahwa pemain dan NPC di game ini akan menjadi butiran cahaya ketika mati. Jika tidak... Aku pasti sudah mengkremasimu sekarang."
"Bagaimana kau bisa..." Hide mengerjap beberapa kali. Pakaian pemuda yang duduk di sampingnya memang kotor dengan beberapa koyakan, tetapi Raiden benar-benar terlihat sangat bugar.
"Potion kelas atas memang sempurna, aku meminumnya sebanyak 5 botol dan kau lihat? Selain tidak memiliki efek samping, Potion ini juga memulihkan tenaga dan menutup seluruh lukaku."
Raiden mengembuskan napas, dia mengusap dadanya dan merasa sangat bersyukur pada keberuntungannya. Anak perempuan yang menolong dirinya dan Hide tidak lain adalah Lilulu.
"Dia ini... Temanmu, kan?" Hide mulai ingat. Dia pernah melihat Lilulu saat pertarungan pertamanya dengan Raiden. Diperhatikan baik-baik, Lilulu ternyata adalah pemain yang membuat seluruh ketua Guild mengangkat tangan dan ingin merekrutnya.
!!
Lilulu mengibaskan pelan rambutnya, "Meski kau ingat aku dan tahu namaku, itu tidak akan membuatmu mendapat diskon. Harganya tetap, 13 ribu Poin."
"Lulu..!" Raiden menarik telinga Lilulu hingga anak perempuan itu merintih.
"Raiden bau! Kau lepaskan aku! Aduuh!"
"Jangan dengarkan dia. Lulu memang orang yang sangat perhitungan dan amat pelit.." Raiden melepaskan tarikannya pada telinga Lilulu, dia mendapat cubitan keras di lengan oleh gadis manis itu.
Hide tidak membalas ucapan Raiden. Dia masih berusaha mencerna situasinya sekarang ini. Dia tersentak ketika Raiden memberinya sebotol Potion kembali.
"Kau minumlah. Aku tadi juga sempat meminumkan beberapa Potion padamu saat kau masih tidak sadarkan diri. Kita aman di tempat ini, jadi kau fokus saja memulihkan kondisimu."
Hide mengambil Potion di tangan Raiden, ekspresi wajahnya terlihat sedikit aneh. "Bagaimana caramu meminumkan Potion padaku? Apa kau tidak tahu bahwa memberi minum pada seseorang yang tidak sadarkan diri itu sangatlah berbahaya? Kau bisa saja membunuhku,"
Raiden berkedip, "Benarkah? Aku tidak tahu soal itu. Aah.. Tapi setidaknya kau tidak mati kan? Lagipula aku memakai teknik tertentu saat melakukannya,"
"Apa itu? Teknik macam apa?!" perasaan Hide entah kenapa menjadi tidak enak, apalagi Raiden seperti tersentak saat mendengar pertanyaannya barusan.
"Ehm.. Kenapa kau harus tahu? Itu bukan hal yang penting, kan. Intinya sekarang kau baik-baik saja,"
"Raiden meminumkan Potion padamu dengan cara--" Lulu tersentak ketika mulutnya tiba-tiba dibekap. Dia memukul-mukul tangan pemuda bermata merah itu sambil memberinya tatapan mata yang tajam.
Raiden berbisik pelan pada anak kecil yang manis itu, "Kau jangan memberi tahu apa pun padanya. Dia pasti akan membunuhku."
Lulu, "Kenapa harus takut? Dia tidak bisa membunuhmu selama ada aku. Atau jika kau masih ragu... Bagaimana kalau kita patahkan lehernya saja sekarang?"
"Kau-"
Hide mengerutkan keningnya, "Kalian ini kenapa? Berbisik-bisik saat ada orang lain bukan tindakan yang benar. Di mana sopan santun kalian?"
Raiden menoleh dan nampak tersenyum canggung, dia meminta maaf sebelum kembali menatap Lilulu dan seakan memberi isyarat agar anak perempuan itu tidak mengatakan apa pun pada Hide.
Dia pun kembali berkata, "Biar bagaimanapun juga... Kau harus bersyukur karena kita masih selamat. Lilulu datang di waktu yang sangat tepat,"
Hide memperhatikan kedua orang ini dan terdiam cukup lama. Teman baik Raiden itu memang datang di waktu yang sangat tepat, dia sendiri telah berpikir tidak akan mungkin selamat dari serangan terakhir monster itu menjelang kematiannya. Tapi nampaknya langit benar-benar masih membantunya.
Raiden mendengar hembusan napas Hide. Dia melihat pemuda itu menutup matanya sejenak dan lalu mengusap-usap wajahnya. Dia tahu bahwa pemuda berambut pirang itu tidak menyangka mereka bisa selamat, dia sendiri pun juga merasakan hal yang sama.
Hide kembali mengembuskan napas, dia memperoleh ketenangannya. "Jadi... Apa kita masih berada dalam Dungeon?"
Raiden, "Maaf mengecewakanmu. Tapi kita memang masih berada dalam Dungeon. Ini adalah ruangan yang aman, aku melihatnya dari dalam buku panduan milikmu."
Hide tidak mempermasalahkannya. Dia pun mengarahkan perhatian kepada anak perempuan di samping Raiden tersebut dan lalu bertanya, "Bagaimana kau bisa menemukan kami?"
Lilulu bersuara datar, "Ini karena aku sedang sial hingga bertemu kalian yang sekarat. Kau pikir aku menyukainya?"
"Lulu," Raiden menjitak kepala gadis kecil itu dan mengomelinya, "... Kau tidak seharusnya menganggap pertemuan dengan kami adalah sebuah kesialan. Meski ini terlihat tidak mempunyai keuntungan bagimu, tetapi karena kau datang di waktu yang tepatlah hingga kami tidak tewas secara mengenaskan."
"Hmph, kalau begitu bersyukurlah dan berterima kasih padaku. Kalian berdua berhutang nyawa sekarang,"
Raiden mengerjap, gadis yang bertubuh mirip anak usia 10 Tahun ini memang tidak pernah mau rugi. Hide sendiri mulai nampak bepikir tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dia sudah sejak tadi mendengar banyak suara yang seperti berjarak tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Apa kalian yakin ini tempat yang aman? Aku rasa tidak baik jika kita terus berada di sini..." Hide mengarahkan pandangan ke salah satu dinding, "Kalian dengar itu, kan? Ada yang sedang bertarung dan suaranya semakin lama, kian mendekat."
Raiden dan Lilulu tahu maksud pemuda berambut pirang tersebut, keduanya juga mendengar suara pertarungan itu dan mereka juga tidak berencana untuk tinggal di tempat ini lebih lama. Ada hal penting yang harus segera diselesaikan.
"Kita akan segera keluar dari sini bila kondisi tubuhmu sudah jauh lebih baik. Lulu yang akan menuntun jalannya,"
"Aku sekarang baik-baik saja," Hide tidak mau dikarenakan dirinya... Kedua orang ini akan menunggu lama. Dia sudah bisa bergerak bebas sekarang. Potion kelas atas memang paling luar biasa.
Meski seorang pemain terluka separah apa pun----selama masih mengembuskan napas dan mampu menelan Potion, maka hidupnya tidak akan ada dalam bahaya. Potion kelas atas dapat dikatakan mirip seperti pasokan nyawa para pemain.
Harganya tidak terlalu mahal untuk orang seperti Lilulu atau pemain yang memiliki banyak 'Poin'. Hide sebenarnya datang kemari bukan tanpa persiapan. Dia sudah menyiapkan segalanya, termasuk dengan Potion. Hanya saja, karena kecerobohan dirinya sendiri----Botol yang berisi potion itu kemungkinan telah terjatuh dan bisa saja pecah di suatu tempat.
Hide mendapati senjatanya yang tidak jauh dari tempatnya berada. Dia pun meraihnya dan kemudian mengatakan pada Raiden agar mereka sebaiknya segera pergi. Pakaian mereka masih kotor dan memiliki beberapa koyakan, tetapi sepertinya tidak ada siapa pun yang terlalu memikirkannya.
"Dungeon ini terhubung dengan akar Pohon Ash. Bisa dikatakan dungeon ini tercipta dan menjadi bagian pohon itu..." Raiden memberi penjelasan ketika dia dan Lilulu mengikuti Hide menyusuri lorong. "... Lulu mendapat informasi bahwa ada sebuah Guild yang mengincar item yang tersimpan di dalam bagian inti Dungeon ini. Kita harus segera sampai di sana sebelum mereka,"
Hide mendengarnya dan lalu mendengus pelan, "Guild Phoenix Api memang beda. Informasi yang mereka dapatkan lebih banyak, cukup akurat dan meresahkan."
Lilulu, "Ucapanmu itu... Apa kau baru saja menyindir Guild-ku?"
"Kalian jangan memulainya lagi," Raiden mengingatkan. "Tidak bisakah kalian akur walau hanya sekali ini saja?"
Liluku, "Memang kapan kami terlihat bertengkar?"
"Hmph, dia terlalu perasa."
Raiden tersentak, dia berkedip beberapa kali dan nyaris tidak dapat berkata-kata karena kedua orang ini. Dia hanya tidak mau Hide dan Lulu ribut, tetapi justru kedua orang ini malah membuat seakan menyalahkannya.
Tidak ingin mendengar ucapan dingin dari kedua orang ini membuat Raiden mulai berjalan mendahui mereka. Dia memilih lorong yang jauh dari suara pertarungan walau baru beberapa langkah----dirinya justru tidak sengaja menginjak sebuah pemicu yang mengaktifkan jebakan dari Dungeon ini dan membuat Hide serta Lilulu terkejut.
!!
Raiden berseru, "Jebakan klasiknya muncul..!"
Hide, "Ini semua salahmu..!"
***