RAIDEN

RAIDEN
21 - Menuju Kebun Nomor 12



Misi pertama Raiden sebagai anggota baru Guild Singa Emas adalah menjelajah sebuah Dungeon. Kamatsu-lah yang bertindak sebagai pemberi misi ini, dan karena lokasi kemunculan Dungeon tersebut termasuk baru ditemukan---maka Hide dan Karin yang diminta untuk menemani para anggota baru mereka.


Tempat pasti misi itu berada di kebun nomor 12, wilayah yang terkenal dengan nama Tiga Lembah Kedamaian. Kebun yang penuh misteri serta favorit bagi hewan beracun.


Raiden tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat Hide memanggil seekor Binatang Roh berwujud Singa Emas. Hewan tersebut nampak begitu perkasa ketika berdiri tegak di lantai arena.


"Mengagumkan.." Gleen berdecak kagum. Dia memperhatikan Binatang Roh itu dari atas hingga bawah dan yakin bahwa hewan di hadapannya mempunyai tinggi hampir mencapai 3 meter.


"Sekarang sepertinya aku tahu kenapa Guild ini dinamakan 'Singa Emas'. Pertama kali aku melihat Binatang Roh sungguhan dengan sangat dekat, benar-benar luar biasa.." Ryouma ikut kagum, tetapi disisi lain dia juga merinding ngeri.


Ini karena sejauh yang dirinya ketahui, Binatang Roh adalah hewan liar dan sulit ditaklukkan. Tidak sedikit pemain yang gugur akibat bertarung melawan hewan semacam ini.


"Apa kita akan menunggangi Si Raja Hutan ini?!" Raiden bertanya, raut wajah dan tatapan matanya terlihat sangat bersemangat. Jelas sekali bahwa pemuda itu sudah tidak sabar merasakan pengalaman duduk di punggung seekor singa.


Hide menoleh ke arah Raiden dan mendengus, "Hmph. 'Kita'? Selain kau, yang lainnya bisa menunggangi Liyan. Aku tidak sudi bila harus memberimu tumpangan,"


?!


Raiden berkedip, dia tidak percaya mendengar ucapan Hide kepadanya. "Kenapa kau begitu jahat? Meski dahulunya kita terlibat pertikaian, tetapi sekarang kita adalah rekan. Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini,"


"Aku hanya jahat padamu, tidak pada yang lain." Hide begitu entengnya menjawab, tanpa perasaan sama sekali. Dia lalu menyuruh Yuna, Gleen, dan Ryouma untuk segera mengikutinya.


Raiden mengembuskan napas sebelum akhirnya menggeleng pelan. Dia tersenyum tipis ketika dilirik oleh Yuna dan kedua teman barunya, dia mengangguk seakan memberi isyarat agar mereka mengikuti Hide, tidak baik untuk menyinggung Si Pirang yang kekanakan itu.


Raiden baru saja akan bicara kembali ketika pundaknya tiba-tiba disentuh oleh seseorang. Dirinya hampir lupa bahwa wanita berambut merah yang juga ikut dalam perjalanan ini belum bersuara sejak tadi.


"Aku jadi penasaran dengan masalah yang kau dan Hide alami. Biasanya pertengkaran dua orang pria tidak pernah lepas dari perempuan. Apa kalian sedang memperebutkan nona manis yang di sana itu?" Karin tersenyum, dia menggunakan tatapan matanya untuk menunjuk Yuna. Hanya gadis itu yang satu-satunya perempuan di antara anggota baru Guild miliknya.


Raiden agak risih dengan wanita berambut merah ini, tetapi dia tetap memperlihatkan wajah yang tenang. "Senior. Kau tahu aku, kan? Bahkan jika bukan persoalan perempuan, banyak yang akan mencari masalah denganku. Kenapa? Karena aku sempurna. Terlalu banyak orang yang iri hingga memusuhi Raiden ini. Sungguh, aku tidak bisa menghentikan mereka yang begitu tertarik pada pesonaku.."


"Ya ampun, kau terlalu percaya diri.." Karin sedikit tertawa, ".. Mungkin karena ini jugalah hingga aku tertarik padamu."


!


Suara manis dari wanita berambut merah di samping Raiden tiba-tiba saja berubah agak dingin, dia pun menoleh ke arah Karin. "Senior.. Tindakanmu yang kemarin sangat berbahaya dan mengancam nyawaku. Tolong untuk tidak melakukan itu lagi, setidaknya sebelum aku membalasmu."


Hide berseru, "Hei..?! Apa kalian tetap akan di sana?! Ayo pergi..!" dia menepuk pelan kepala Binatang Roh miliknya yang mana membuat Singa berbulu emas itu menggerakan ekornya.


Hanya dalam satu tarikan napas, Singa bernama Liyan tersebut telah melayang di udara dengan membawa Hide, Yuna, Gleen, dan Ryouma. Dia adalah Binatang Roh yang tidak banyak mengeluarkan suara, termasuk dengkuran khas. Liyan seperti mempunyai martabat yang tinggi dan angkuh, sama seperti pemiliknya.


Karin melihat Liyan membawa Hide dan yang lainnya pergi, dia pun menoleh ke arah Raiden. "Sepertinya kau benar-benar di tinggal, bagaimana jika aku yang menemanimu. Kau bisa terbang, kan?"


"Senior, meski tidak mau mengakuinya--tetapi kemampuanmu jauh lebih tinggi di atasku. Aku tidak bisa terbang tanpa bantuan Drift, dan meskipun tahu--Aku juga tidak ingin memperlihatkannya padamu,"


Ucapan Raiden membuat Karin mengembuskan napas kecewa, "Kau selalu membanggakan diri dengan berkata bahwa kau ini 'sempurna', tetapi kau bahkan tidak bisa terbang? Haah.. Memalukan."


"Senior. Aku terbang dengan Drift-ku, dan itu jauh lebih bergaya. Daripada menyia-nyiakan Vit, bagaimana jika aku yang memberi Senior tumpangan?" Raiden memakai helmnya, dia mulai menyalakan Drift miliknya dan mengarahkan pandangan kepada Karin.


Wanita berambut merah dengan bentuk tubuh yang bagus itu nampak berkedip. Karin memperhatikan Drift Raiden dan terpaku pada tempat duduk di sisi kanan serta kiri dari kendaraan tersebut. Dirinya pun merasa tidak percaya, "Kau ingin aku duduk di salah satu telur milikmu?"


Raiden tersedak napasnya sendiri saat mendengar pertanyaan Karin barusan. Wanita itu sebenarnya tidak mengatakan sesuatu yang salah, tetapi karena Raiden adalah pemuda berusia 19 Tahun yang tidak lagi memiliki pemikiran polos--ucapan Karin membuat pikirannya berbelok ke arah yang lain.


Tidak ingin mengeluarkan ucapan yang menyesatkan membuat Raiden hanya bisa menenangkan dirinya, "Jika Senior tidak ingin kuberi tumpangan, maka baiklah. Aku tidak memaksa. Ayo pergi, kita harus segera menyusul mereka."


Karin tentu saja tidak mau menerima tumpangan dari Raiden, apalagi jika itu membuatnya harus berada dalam posisi yang tidak elegan.


Siapa yang mau mengendarai Drift dengan duduk dalam sebuah kursi telur layaknya anak kecil? Meski kendaraan di hadapannya terlihat keren, namun dari penglihatan Karin--itu nampak seperti kereta bayi.


Karin memfokuskan Vit di telapak kakinya, perlahan dia pun mulai melayang. Kemampuan seperti ini hanya bisa didapatkan ketika seorang pemain telah ahli dalam mengontrol Vit dan levelnya sudah sangat tinggi. Sayangnya, di Elvort Garden tidak ada bar status hingga siapa pun tidak bisa melihat setinggi apa level Karin yang sebenarnya.


"Sebaiknya kau jangan sampai tertinggal," Karin berucap dan segera melesat cepat, dia membuat Raiden tersentak.


"Sikapnya suka sekali berubah-ubah, dasar wanita.." Raiden mulai melajukan Drift-nya, dia memakai kecepatan yang tinggi untuk mengejar Karin.


Mereka terbang melewati Kota Api dan keluar dari wilayah kebun nomor 9. Liyan yang membawa Hide, Yuna, Gleen, dan Ryouma telah memasuki wilayah kebun selanjutnya.


Umumnya, tidak ada larangan bagi para pemain di Elvort Garden untuk pergi ke kebun mana pun yang mereka inginkan. Tetapi perlu diketahui bahwa beberapa kebun mempunyai peraturannya sendiri, dan kebun nomor 12 adalah salah satunya.


Perjalanan Raiden jujur membutuhkan waktu setidaknya empat hari dengan kecepatan yang tinggi. Itu pun mereka harus turun beristirahat beberapa kali, termasuk mencari tempat penginapan.


Di Elvort Garden, wajar bila ada pemain yang membawa Binatang Roh sebagai tunggangannya, tetapi kehadiran Liyan ini sangat menarik perhatian. Hal tersebut karena Liyan merupakan salah satu Binatang Roh yang paling sulit untuk ditaklukkan.


Hide terlihat mengusap pelan surai milik Liyan, nampak sebuah kebanggaan pada raut wajah dan tatapan mata Si Pirang itu. Raiden yang baru saja memarkirkan Drift-nya terlihat agak cemberut, jelas sekali bahwa dia juga ingin merasakan bagaimana menunggangi Binatang Roh seperkasa Liyan--itu pasti sesuatu yang hebat.


"Raiden,"


Seseorang memanggilnya, Raiden spontan menoleh. Yuna terlihat berjalan ke arahnya, tatapan matanya mengikuti gadis tersebut. Dia pun tidak tahan untuk tidak bertanya, "Apa kau butuh sesuatu?"


"Tidak.. Aku hanya ingin mengatakan agar kau jangan mengambil hati tindakan seseorang," tatapan mata Yuna seakan sengaja diarahkan kepada Hide. Dia yang sejak awal menilai pribadi seniornya itu dapat merasakan bahwa Hide adalah sosok kekanakan dan begitu jujur untuk mencari masalah dengan pemuda bermata merah di hadapannya ini.


Raiden sendiri tahu siapa orang yang dimaksud Yuna, dia lantas tersenyum dan kemudian berterima kasih kepada gadis ini karena mengkhawatirkannya.


Ada banyak orang yang sudah dia temui, dirinya juga telah banyak menghadapi berbagai sifat manusia, karena itulah bahkan kelakuan Hide padanya sama sekali bukan apa-apa.


Karin kemudian datang, wanita itu sudah memperhatikan Raiden dan Yuna sejak tadi. Dirinya jadi penasaran dengan hubungan kedua orang ini.


"Aku tidak ingin menganggu waktu pacaran kalian, tapi sebaiknya lanjutkan saja di dalam. Kita harus istirahat dan melanjutkan perjalanan besok,"


"Baiklah, ayo." Raiden mengajak Yuna setelah memastikan Drift-nya aman. Keduanya lantas berjalan bersama dengan disaksikan oleh Karin yang berkedip beberapa kali.


Wanita berambut merah itu mendengus tak percaya, Karin lalu menyilangkan tangannya dan berjalan mengikuti Raiden. "Mereka berdua bahkan tidak mambantahnya.. Apa jangan-jangan mereka memang pasangan..?"


Karin mengembuskan napas, dia berusaha menenangkan dirinya tetapi tidak bisa. "Perjalanan ini akan sangat buruk dan menyesakkan jika kedua insan itu benar-benar pasangan kekasih. Enak sekali mereka bisa bermesraan di saat menjalankan misi, cih. Lihat saja, saat pulang nanti--akan kupastikan ada aturan bahwa sesama anggota Guild Singa Emas tidak boleh sampai menjalin hubungan asmara. Paling tidak, mereka tidak diizinkan mendahului para senior yang ada."


Raiden dan Yuna mendengar gumaman-gumaman dari belakang mereka walau kurang jelas. Keduanya seperti memiliki pemikiran yang sama, yakni Senior mereka yang bernama Karin ini adalah sosok wanita aneh.


***