
Bermalam di penginapan itu, Hide memesan kamar pribadi untuk dirinya sendiri. Karin dan Yuna pun demikian. Sementara untuk Raiden yang begitu perhitungan dengan uangnya--dia memilih menumpang sekamar dengan Gleen dan Ryouma. Untunglah kedua teman barunya itu sama sekali tidak keberatan.
Sebenarnya, Gleen dan Ryouma tidak mengetahui bahwa Raiden adalah tipekal orang yang pelit, mereka pikir pemuda berambut merah ini tidak punya banyak poin hingga harus mengatur keuangan pribadinya dengan begitu hemat. Andai Yun ada di sini, dia pasti akan berkata bahwa untuk orang seperti Raiden dan Lulu---hemat dan pelit itu beda-beda tipis.
Ketika tepat di hari keempat dan waktu telah menunjukkan petang---Hide dan yang lainnya telah berada di salah satu lembah kematian bernama Holy Sunrise*.
^^^*Matahari terbit yang suci~Mendapat julukan demikian sebab tanah di lembah ini akan terlihat memantulkan cahaya putih keperakan seakan sedang disucikan oleh cahaya matahari yang tengah terbit.^^^
"Aku rasa.. Nama sebagus itu untuk tempat semacam ini tidaklah sesuai.." Raiden yakin dengan ucapannya sebab dia kini telah berada dalam jarak lima meter di depan pintu masuk Dungeon.
Di hadapannya, pintu Dungeon itu besar dan berbentuk seperti mulut tengkorak seekor hewan raksasa. Hembusan angin yang membawa suasana mencekam hingga menembus tulang memenuhi tidak hanya perasaan Raiden---tetapi juga teman-teman yang bersamanya, termasuk Hide.
Karin berjalan lebih dahulu, "Sepertinya ada pemain lain yang telah mendahului kita."
?!
Gleen dan Ryouma tersentak, mereka berjalan mendekat dan menyadari bahwa pintu masuk Dungeon itu memiliki jejak serangan yang masih baru, dan lagi ada bekas darah segar di sekitar pintu tersebut. Kemungkinan besar pemain yang mendahului mereka telah datang sekitar 2 atau 3 jam yang lalu.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Ayo masuk," Hide berjalan mendahului Karin dan bertindak sebagai seorang pemimpin, Liyan mengikutinya dari belakang.
Tidak seperti di pintu masuk Dungeon, ketika berada di dalam---Hide bisa melihat dinding dan lantai tempat ini cukup bersih tanpa adanya bekas pertarunga. Hanya saja memang aura yang terasa sangat tidak nyaman.
Dinding Dungeon ini terbuat dari batu yang disusun sedemikian rupa, terdapat dua lubang besar di atapnya yang juga terbuat dari batu---entah digunakan sebagai penghias atau memiliki fungsi yang lain.
Karin yang berjalan di belakang Liyan nampak memperhatikan sekelilingnya, dia bisa merasakan sebuah keanehan. Tidak ada obor atau lampu penerang di tempat ini, namun entah muncul dari mana cahaya lembut yang menyelimuti lorong di tempat ini.
Gleen yang memperhatikan lubang besar di atasnya mulai nampak mengerutkan kening, lubang itu sepertinya terhubung dengan lantai atas. Hanya saja ketika berada di luar tadi---dia kurang memperhatikan apakah Dungeon ini semacam bangunan bertingkat atau bukan.
"Siapa di antara kalian yang bisa menggunakan Vit untuk melayang?" Karin tiba-tiba saja bertanya, dia melirik ke arah keempat juniornya.
"Aku, Senior." Gleen mengangkat tangannya,
"Aku juga dapat melakukannya, tapi tidak bisa terlalu lama." Ryouma
"Aku juga tahu caranya, tapi untuk apa Senior bertanya?" Yuna menatap Karin, dia pikir wanita ini hendak melakukan sesuatu.
"Bagus jika kalian bisa. Aku ingin dua di antara kalian ikut denganku, kita akan naik ke atas sana." Karin mendongak, dia memperhatikan salah satu lubang besar di atap.
Dia sebenarnya penasaran, namun tidak mungkin meninggalkan Hide menjaga terlalu banyak junior. Dirinya sendiri juga tidak ingin dianggap sebagai orang yang lari dari tanggung jawab.
Karin tiba-tiba saja teringat sesuatu, dia lantas menatap Raiden dan lalu berkata. "Gleen dan Yuna, kalian berdua akan ikut denganku. Sisanya ikuti Hide,"
?!
Raiden berkedip, dia tidak tahu kenapa ekspresi wajah Karin terlihat begitu mengesalkan. Seakan-akan wanita itu sedang menunjukkan kemenangan akan sesuatu padanya.
Raiden pun bertanya, "Senior, apa kau tidak ingin jika aku yang ikut denganmu?"
"Hmph, kau payah dalam mengendalikan Vit. Kau hanya menjadi penghambat jika ikut, lagipula aku tidak mau melihat kau terus bermesraan sepanjang jalan dengan dengan gadis ini. Ayo pergi,"
Karin seketika melesat naik, Yuna dan Gleen mengikuti di belakangnya. Mereka masuk ke dalam salah satu lubang yang jika dilihat dari bawah begitu hitam bagai malam.
Raiden berkedip. Saat ketiga orang itu pergi, tiba-tiba saja tengkuknya menjadi dingin. Dia lantas menoleh dan langsung bertemu pandang dengan tatapan mata Hide dan Liyan yang dingin. Perasaannya mendadak tidak nyaman.
"Haiih.. Kenapa aku harus terjebak dengan mereka," Raiden bergumam. Dia lalu berjalan ke samping Ryouma dan menepuk pundak pemuda itu, syukurlah masih ada satu teman yang bersamanya.
*
*
Ogiwara merupakan senior Yun dari Guild Banteng Putih, memiliki tubuh besar dan kekar, dia terlihat begitu perkasa. Mei sendiri adalah gadis cantik yang selalu menyukai segala sesuatu yang berwarna hijau, dia berusia sekitar 17 Tahun.
Mei merupakan gadis yang lincah dan bersemangat. Sifatnya sama seperti Shoyo, remaja laki-laki berusia 14 Tahun. Dia dan remaja itu adalah yang paling gembira ketika mempunyai mendengar mereka akan mendapat misi menjelajahi sebuah Dungeon.
Mereka jugalah yang paling bersemangat kala menghadapi Binatang Roh di tempat ini. Yun bahkan beberapa kali harus kerepotan mengejar dan memperingati mereka untuk tidak pergi terlalu jauh.
"Haah.. Aku seperti menjadi pengasuh dari dua bocah nakal, kenapa mereka sangat hiperaktif? Ini menguras tenagaku lebih dari apa pun.." Yun berusaha mengatur napasnya, dia nampak berjalan di samping Ogiwara.
Di hadapan mereka, dua serigala besar tumbang dalam keadaan yang penuh dengan luka. Binatang tersebut tewas dalam kondisi paling mengerikan, siapa pun akan mengira tubuh mereka telah dicabik-cabik oleh hewan buas.
"Ha ha ha, ini menyenangkan.." mata Shoyo berkilat hijau muda, dia tersenyum hingga gigi taringnya yang manis terlihat. Tangan kanannya baru saja menarik sebuah gumpalan daging berwarna merah gelap.
".. Aku akan menyimpan hati hewan ini, baunya lebih enak daripada yang tadi. Kita bisa menikmatinya saat makan malam nanti."
!!
Yun memang belum cukup mengenal Shoyo, tetapi selama beberapa hari melakukan perjalanan bersama---dia bisa memastikan bahwa remaja laki-laki itu adalah monster kecil.
Mei yang mendengar ucapan Shoyo nampak mengangguk, "Ambil juga beberapa dagingnya. Aku sendiri ingin menyimpan lidah hewan ini, jadi saat pulang nanti aku bisa mengeringkannya,"
"Mn? Kau mengeringkannya untuk apa? Daripada organ yang menjijikkan itu, lebih baik bantu aku menguliti mereka. Bulu serigala ini bisa dijual,"
"Adik kecil, lidah serigala juga punya manfaat.."
Ogiwara menoleh ke arah Yun ketika menyadari pemuda di sampingnya seperti ingin muntah. Dia lantas menepuk punggung pemuda ini dan berusaha menguatkannya, "Tenanglah. Apa kau masih baru di Elvort Garden? Kelak kau akan banyak bertemu dengan orang tidak waras seperti mereka,"
Wajah Yun masih pucat, "Bu-bukan begitu Senior. Kalau dikatakan 'orang tidak waras', aku mempunyai teman baik yang bahkan lebih parah. Hanya saja, temanku itu tidak pernah melakukan tindakan seperti yang mereka lakukan,"
Yun mengusap perut dan menutup mulutnya, dia benar-benar akan muntah. Mei dan Shoyo yang dia lihat sebelumnya adalah sosok yang bagai malaikat kecil yang membawa banyak kegembiraan, tetapi dalam sekejap bayangan itu hancur berkeping-keping. Dia sungguh tidak menyangka bisa satu tim dengan dua monster mengerikan.
Mei dan Shoyo sendiri masih tetap dengan dunia mereka. Tangan keduanya kotor oleh darah dari serigala yang mereka bunuh. Sejauh ini, memang hanya binatang tersebutlah yang menghadang jalan mereka. Satu di antara serigala itu bahkan mempunyai Batu Spirit yang murni dan bila dijual dapat seharga 3000 sampai 5000 Poin.
Ogiwara merangkul Yun dan lalu menoleh ke arah Mei dan Shoyo, "Kalian berdua jika sudah selesai, segera ikuti kami."
"Siap, Senior..!"
Yun merasakan perutnya semakin sakit, "Mendengar mereka kompak menjawab dengan penuh semangat membuatku makin merinding. Gila sih, mereka iblis kecil."
"Ha ha ha, kau yang terlalu lembut.." Ogiwara tertawa, ".. Bahkan terlalu kurus. Ayo, setelah ini selesai--akan kuajak kau mengelilingi seluruh kedai makanan favoritku, kita akan membuatmu tumbuh besar."
"Ehm.. Senior sangat baik," Yun berusaha tersenyum walau raut wajahnya masih agak pucat.
Ketika mereka terus berjalan, tatapan mata Ogiwara dan Yun seketika terbelalak. Mereka spontan menegadah ke atas. Ada suara seperti pertarungan di balik atap yang terbuat dari batu tersebut, dan suara itu semakin lama kian jelas.
Saat Ogiwara hendak bicara, sebagian atap batu runtuh. Dia dan Yun spontan melompat ke belakang. Keduanya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut ketika dalam reruntuhan itu berdiri sosok makhluk bertubuh mirip manusia namun dengan mata yang sepenuhnya hitam.
!!
***