RAIDEN

RAIDEN
30 - Buku Panduan



Kotak kayu di tangan Hide berisi tiga botol Potion kelas atas, cakar kucing beracun, buku panduan dan batu roh. Pemuda berambut pirang tersebut berkedip dan nampak tak percaya dengan apa yang baru saja dia menangkan.


Hide terbatuk pelan, dia seperti sedang menyembunyikan rasa senangnya pada diri sendiri. Tanpa membuang waktu dia kembali ke tempat di mana Raiden berada, hanya saja ketika sampai di sana---dirinya terkejut melihat pemuda bermata merah itu bangun dan dalam posisi duduk.


"Oh, kau sudah kembali?" suara Raiden tenang, terdengar seperti biasanya dan serasa bahwa pemuda yang terbaring tanpa daya sebelumnya bukanlah dia.


Hide bahkan sangat terkejut karenanya, "Ba-bagaimana kau bisa bangun?!" ekspresi wajahnya memperlihatkan rasa syok yang amat sangat. Dia menunjuk Raiden, "Bukankah harusnya kau sekarat, hah?! Jadi bagaimana kau bisa... Siapa kau sebenarnya?"


Raiden menoleh ketika mendengar ucapan terakhir Hide yang berubah dingin. Suaranya sendiri terdengar lemah, "Kenapa kau terlihat tidak senang jika aku sudah bangun? Apa kau menginginkan aku mati?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab saja aku, siapa kau sebenarnya?! Bagaimana kau dapat pulih dengan cepat, hah?!"


Raiden mengembuskan napas, kondisi tubuhnya masih terasa sakit saat ini. Dia mendapat perawatan dari YiLing, pusaka yang berperi-kebinatangan dan tak ada rasa kemanusiaannya sama sekali.


"Pirang, apa kau tidak melihat betapa pucatnya wajahku ini? Aku dapat bangun karena disetrum oleh sesuatu yang menyebalkan dan tidak tahu diri." Raiden menatap sinis ke arah pedangnya yang sekarang tidak lagi mengeluarkan suara seperti sebelumnya.


Hide sendiri nampak mengerutkan kening, "Disetrum oleh sesuatu? Apa ada Binatang Roh lainnya di tempat ini?! Kau disetrum belut listrik?"


"Aku masih lelah.." Raiden tidak menjawab ucapan Hide, ".. Apa kau tidak memiliki Potion atau apa pun untuk membantuku..?" dia terlihat seperti akan pingsan sewaktu-waktu.


Hide menggeleng pelan dan lalu menghampiri Raiden. Dia memberikan dua botol Potion pada pemuda itu dan memperhatikannya dengan seksama.


"Benar-benar tidak kuduga kau bisa pulih hanya karena ada belut menyetrummu. Apa kau pikir aku bodoh hingga dapat percaya begitu saja?"


Raiden meminum Potion tersebut, kondisinya berangsur-angsur membaik. "Pirang, terserah kau mau percaya atau tidak. Aku memang disetrum, perasaan seperti hidup tidak bisa dan mati pun sulit benat-benar menyiksaku. Kau tidak tahu saja bagaimana rasanya,"


"Siapa juga yang mau merasakan penderitaanmu?!" Hide merasa pemuda bermata merah ini sudah dalam kondisi yang stabil karena telah berhasil membuatnya kesal, "Jadi di mana hewan yang menyetrummu? Di mana belut itu?"


"Mn, kupikir sudah pergi. Jika tidak, kau pasti akan melihat keadaanku yang menyedihkan." Raiden melirik ke arah kotak kayu yang dibawa Hide dan iseng bertanya mengenai isi benda tersebut. Siapa yang menyangka Si Pirang ini benar-benar akan menjawabnya.


"Aku menghadapi Binatang Roh berwujud Kucing Hantu Tengah Malam dan mendapat item yang lumayan. Ada buku panduan juga di sini," Hide mengambil sebuah buku dan membukanya. Raiden memperhatikan isi buku tersebut yang ternyata merupakan denah dari Dungeon ini beserta para penghuninya.


!!


"Pirang, kau mendapatkan benda yang bagus. Dengan itu kita bisa keluar dari tempat ini. Lihat, bahkan ada penjelasan tentang jebakan dungeon dan cara mengatasinya,"


"Apa kau tidak bisa menyebut namaku? Jangan terus memanggilku, 'Pirang'. Aku ini punya nama dan jangan lupa bahwa statusku juga adalah 'Senior'. Jadi panggil aku 'Senior', mengerti?"


Raiden berkedip, dia mengambil kembali pedang miliknya dan mulai berdiri. Tulang pada tangannya yang sebelumnya terasa remuk kini telah pulih sepenuhnya. Potion kelas atas memang punya efek yang luar biasa.


"Orang ini pasti bercanda. Usianya bagai remaja SMA dan justru menyuruhku memanggilnya 'Senior'? Hah, yang benar saja."


"Aku mendengarmu, sialan! Kalau kau ingin menggerutu, lakukan dengan suara yang pelan. Jangan membuatku menyesal karena sudah menolongmu,"


"Haah.. Baiklah. Sekarang kita akan ke mana?" Raiden tentu sengaja tidak memelankan suaranya. Dia selalu seperti ini bila sedang ingin memprovokasi seseorang.


Hide menyimpan isi kotak kayu di balik pakaiannya. Dia lalu membuka buku panduan dan mulai memperhatikan setiap jalan keluar yang dapat mereka temukan.


Raiden mendengarnya dan terpukau, "Kau ternyata tahu cara membaca peta. Aku sendiri butuh waktu yang lama sampai memahaminya,"


Hide berjalan bersama Raiden dan nampak mengerutkan kening kala mendengar ucapan pemuda berambut merah barusan. Entah kenapa dia punya sesuatu yang mampu mendorong rasa ingin meledek dan mempermalukannya.


"Hmph," Hide mendengus. "Bukankah kau memainkan Elvort Garden? Ada banyak peta di dunia ini, kenapa kau tidak bisa membacanya?"


"Aku bukannya tidak bisa membaca peta, hanya saja perlu waktu melakukannya. Lagipula siapa yang peduli gambar itu? Akan kuhadapi siapa pun yang berani mencari masalah denganku."


Raiden terlihat penuh percaya diri, di sisi lain Hide kembali meledeknya. Sepanjang jalan itu mereka berdua saling bicara, tapi tidak dapat dikatakan teman dan tidak bisa juga dianggap musuh.


Perjalanan kedua pemuda itu terbilang lancar, sangat berbeda dengan kondisi rekan-rekan mereka yang lain dan salah satunya adalah Yuna, gadis cantik itu terlempar pada bagian lain dari Dungeon dan terlihat bertarung melawan laba-laba raksasa bersama Ogiwara.


Binatang Roh itu sangat agresif dan dapat menetaskan telur yang akan berubah menjadi laba-laba kecil dengan gigitan yang sangat merepotkan.


Siapa pun yang terkena gigitan itu akan sulit bergerak selama 15 detik, waktu yang sebenarnya sangat cukup bagi laba-laba dewasa memberi serangan mematikan kepada lawannya.


"Hati-hati..!"


Ogiwara melompat. Dia menghindari semburan jaring lengket laba-laba di hadapannya dan sedetik berikutnya kembali menyerang. Ogiwara memakai kemampuan terbaik yang dia miliki untuk melawan monster itu.


Yuna memberikan bantuannya. Dia bekerja sama dengan Ogiwara dan teknik mereka sebelumnya juga sangat sinkron. Sayangnya mereka memang butuh waktu yang cukup banyak untuk dapat bermain seimbang.


Raiden sama sekali tidak tahu tentang kondisi teman-temannya, dia memikirkan Yun dan berharap semoga pemuda itu tidak dalam bahaya. Dia dan Hide saat ini tengah berada di wilayah kekuasaan prajurit tengkorak, makhluk yang menurut buku panduan adalah sosok yang sangat sulit untuk dibunuh.


"Di sini dikatakan bahwa Prajurit Tengkorak dapat kalah bila terkena serangan sebanyak 26 kali di titik yang sama. Hanya saja apa iya kita bisa melakukannya?"


"Pirang, kita tidak akan tahu sebelum mencobanya. Jika kau takut, kau dapat berlindung di belakangku. Akan kupastikan tidak ada orang yang dapat menyentuhmu."


"Memang kau pikir aku ini apa?!" Hide kesal mendengar ucapan Raiden yang seakan memperlakukannya dengan penuh perhatian. "Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari orang lemah yang baru saja pulih dari sekaratnya,"


Raiden merasa bahwa Hide merupakan pemuda yang aneh. Gaya bicaranya dingin dan sangat ketus padanya, tetapi pada beberapa kesempatan justru menaruh perhatian dan bersedia menolongnya. Hide mirip Yun sewaktu pertama kali bertemu dengannya.


Raiden, "Kita bisa menjadi teman akrab bila kau sedikit lebih lembut padaku. Mungkin saja aku bisa memanggilmu, 'Saudara'."


"Siapa yang mau berteman denganmu? Dan bukankah sudah kubilang untuk memanggilku 'Senior'?! Kau bersikap menyebalkan seperti ini benar-benar pertanda bahwa kondisimu sudah sangat pulih,"


"Aah.. Aku memang sudah jauh lebih baik dan bisa kembali bertarung. Mungkin.. Aku bahkan dapat menghadapi segerombolan tengkorak yang sedang kemari itu."


"Kau tadi bilang apa?!"


!!


***