RAIDEN

RAIDEN
51 - Tokoh Utama



Setelah memenangkan pertarungan melawan Ryouma, kini Raiden harus menghadapi pria yang bernama Shou. Seorang pemain yang mempunyai mata seperti ikan mati.


"..............."


Bagi Raiden, manusia yang mempunyai mata ikan mati merupakan tipe yang sulit ditebak. Entah itu ekspresi wajah atau pun isi pikirannya.


Hide yang berada di luar arena melihat ketegangan yang nampak jelas di wajah Raiden. Dia mendengus dan kemudian tersenyum.


Salah satu rekan Hide menyeringai dan berkata, "Shou merupakan pemain Elvort Garden yang paling buruk. Dia adalah buronan polisi di luar game ini dan sosok yang sangat sering terlibat kejahatan kriminal,"


"Itu bagus." Hide berujar, "Aku ingin lihat sampai mana kemampuan pemuda itu,"


Kasamatsu kembali berseru dan pertarungan antara Raiden dengan Shou dimulai. Keduanya sama-sama kuat, tapi memang untuk permulaan---Raiden sedikit terdesak.


Yuna mengerutkan kening ketika melihat gerakan bertarung Shou yang aneh. Dia tidak pernah menemukan ada seseorang yang mempunyai kelenturan otot yang mengagumkan.


Raiden yang bertarung melawan Shou pun menyadarinya dan inilah mengapa rasanya sangat melelahkan, padahal pertarungan bahkan belum mencapai tiga menit.


"Ini ..." Raiden terbelalak dan tidak sempat menghindari serangan dari lawannya. Dia terkena tendangan hingga membuatnya terpental dan menghantam lantai arena.


"Itu seperti sirkus!"


!!


Ada seorang pemain yang berseru dan didengar oleh Raiden. Serangan kembali datang dan membuat Raiden langsung menggulingkan tubuhnya, nyaris saja dia terlempar keluar dari lantai arena.


Raiden menahan napas, "Aku sejak tadi sudah merasa bahwa gerakannya tidak asing. Ternyata memang mirip,"


Kasamatsu yang merupakan wasit dari pertandingan ini juga tidak menyangka bahwa ada anggota dari Guild Singa Emas yang mempunyai teknik bertarung yang unik. Dia jadi sangat menantikan dengan bagaimana akhir pertarungan ini.


Yuna yang berada di antara para pemain melihat Raiden menjadi sosok yang aktif memberikan serangan, sementara di sisi lain lawannya justru dalam kondisi yang fokus bertahan.


Masalahnya, tidak ada satu serangan pun dari Raiden yang mengenai tubuh lawan. Justru ketika pemuda itu gagal dalam serangannya, musuh langsung mengambil celah dan melakukan serangan balasan.


Raiden kali ini terdorong mundur. Dia menggunakan lutut dan belati yang ditancapkan ke tanah untuk menahan tubuhnya dari terhempas ke luar arena.


"Akrobat ..." Raiden mulai ingat. Lawan yang dia hadapi menggunakan gerakan akrobatik dalam teknik berpedangnya. Ini adalah lawan yang benar-benar tidak biasa.


Di sisi lain, Hide merasa bahwa sangat pantas lawan Raiden menjadi buronan polisi di luar game ini. Dia yakin bahwa pemain bermata seperti ikan mati itu menggunakan kelebihannya untuk berbuat kriminal.


"Shou pasti akan menghabisi Raiden," seorang pemain yang berdiri di samping kursi Hide nampak tersenyum.


Pemain lainnya berkata, "Kau benar. Itu tidak akan lama lagi. Lihatlah, Raiden mulai kelelahan. Dia bodoh karena terus menjadi penyerang,"


"Aku yakin bahwa Raiden berpikir dia akan menang dengan cara mengambil alur pertarungan seperti itu, tapi yang terjadi justru malah sebaliknya."


"..............." Hide mendengar para pemain ini meledek dan menertawai Raiden. Dia mungkin akan bertingkah seperti mereka jika saja tidak mengetahui seperti apa Raiden itu.


"Hide, apa dia benar-benar rivalmu? Aku tidak habis pikir karena dia sangat lemah, ha ha ha."


"Dia bukan rivalku," Hide membantah dan lalu berkata tanpa nada, "Kau akan tahu apa hal yang paling tidak kusuka darinya..."


Belum selesai Hide bicara, suara keras memekakkan telinga terdengar dari dalam arena. Itu adalah ledakan yang tercipta dari benda yang dilemparkan oleh Shou.


Raiden mengerang tertahan, dia menatap tajam ke arah lawannya karena orang ini melakukan teknik yang curang. Dia yakin yang meledak tadi bukan efek serangan dari orang ini, melainkan benda yang bisa meledak. Masalahnya, kecurangan itu tidak terdeteksi oleh mata wasit.


"Keterlaluan .... Bagaimana bisa kau berbuat seperti ini?" Raiden berseru dan justru direspon tanpa ekspresi oleh Shou.


"Apa maksudmu?"


"Tsk, sialan." tentu saja, pelaku tidak mungkin akan mengakui perbuatannya. Jika Raiden melaporkan kecurangan ini pun, dia sama sekali tidak punya bukti.


Shou kembali menyerang dan setiap ayunan pedangnya akan membuat sebuah ledakan di udara dan juga tanah. Ini membuat Raiden kesulitan untuk mendekat dan harus berhati-hati pada ledakan yang bisa muncul dari mana saja.


Di mata orang lain, Shou terlihat sangat kuat. Teknik akrobatik yang bercampur dengan seni berpedangnya itu justru membuatnya sulit dideteksi melakukan kecurangan. Dia pintar, licik dan sangat jahat.


Vit terus mengalir di belati Raiden dan akan memadat saat dia melakukan serangan. Namun memang pertarungan ini sangat sulit untuk dihadapi dan makin sulit karena lawan melakukan tindakan curang.


"Rai, gunakan aku."


Raiden tersentak mendengar suara yang seakan berasal dari dalam kepalanya. Ini adalah Yiling yang bicara, pedangnya itu tentu juga merasakan bahwa dia berada dalam situasi yang berbahaya.


Tangan kanan Raiden memang sudah berada di pegangan pedangnya. Namun dia belum mau menggunakan Yiling karena senjata ini terlalu kuat dan buruk bila Yiling terekspos sekarang.


Raiden bisa saja menjadi target pemain yang ingin merebut Yiling darinya. Ini merupakan pedang langka dan tentu saja adalah item misterius yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu seberapa jauh kehebatan Yiling.


"Diamlah, aku tidak bisa. Aku tidak mau menggunakanmu sekarang," Raiden melompat dan berusaha menghindari serangan Shou, namun memang orang ini terus-menerus melakukan serangan jarak dekat hingga dia kesulitan, bahkan untuk mengambil napas.


Raiden sebenarnya juga mempunyai alasan lain untuk tidak menggunakan Yiling. Dia ingin tidak terlalu bergantung pada pedangnya ini. Akan sangat bahaya bila dia terus mengandalkan Yiling dalam setiap pertarungannya.


!!


Raiden terkena serangan dan membuat semua orang terkejut. Itu adalah ledakan yang besar, Yuna terlihat menyerukan nama temannya. Serangan yang barusan itu tidak mungkin bisa dihindari.


Kasamatsu melihat Raiden terbaring di salah satu pinggir lantai arena, pemuda itu hanya berjarak lima kaki dan nyaris keluar arena. Dia melihat Shou yang mulai melakukan serangan penghabisan.


Para pemain yang berada di luar panggung arena tanpa sadar menahan napas, Yuna pun demikian. Shou sudah berada di udara dengan pedang yang terangkat kuat.


Saat Shou mengayunkan pedangnya, sedetik itu juga ledakan besar tercipta dan menghasilkan angin kejut disertai debu dengan bebatuan kecil.


Yuna tidak bisa melihat apa yang terjadi karena tebalnya debu tersebut. Dirinya merasa gelisah sebab dan ada setitik dari hatinya yang penasaran dengan akhir pertarungan ini.


Pemain yang berada di luar arena pun juga ikut berdebar-debar. Setelah serangan barusan, tidak terdengar lagi suara pertarungan yang berarti Raiden sudah kalah.


Ketika angin debu mulai berkurang, hal paling mengejutkan terjadi. Sosok yang berdiri di atas panggung arena bukanlah Shou, tetapi Raiden!


Shou sendiri terbaring di lantai yang retak dengan mata dan mulut terbuka lebar. Shou terlihat dalam keadaan pingsan. Hide dan para anggota Guild Singa Emas yang duduk di sampingnya berdiri dengan perasaan yang sangat terkejut.


"Apa yang terjadi?!"


"Bukankah harusnya Shou yang menang?"


"Bagaimana itu bisa Raiden!?"


Semua orang bertanya-tanya. Di sisi lain, Kasamatsu mengembuskan napas dan lalu menyerukan nama Raiden sebagai pemenang.


Dia adalah wasit dan tahu bahwa ketika didetik-detik terakhir serangan Shou ... Raiden bangun dan melakukan serangan sekuat tenaga.


Kasamatsu memang melihat Raiden bangun, tetapi dia tidak tahu bagaimana tepatnya pemuda itu berhasil membuat Shou tumbang. Yang dia lihat Raiden mengayukan belatinya dengan mamakai tangan kiri, tetapi tidak melihat bahwa jempol dari tangan kanan Raiden menarik sedikit pedangnya.


"..............."


Raiden sendiri berdiri dengan napas yang naik-turun, tangan kanannya gemetar dan terasa sakit sekali. Seakan-akan urat dan setiap tulang di tanggannya ditusuk oleh ribuan jarum.


Rasanya sangat. Ini sangat menyakitkan. Dia mencoba menahannya walau urat nampak menegang di leher dan juga dahinya. Dengan langkah yang berat, dia pun mulai menuruni arena.


Panggung pertarungan yang sangat kacau itu mulai dibersihkan kembali. Shou dibawa oleh dua anggota Guild Singa Emas untuk diobati. Di sisi lain, Raiden terlihat meminum potion yang diberikan oleh Yuna.


"Bagaimana kau bisa bertarung seperti itu?" Yuna bertanya, kekhawatiran terlihat pada tatapan matanya.


Raiden mengembuskan napas dan berkata, "Aku juga tidak tahu. Aku bahkan berpikir sudah tewas saat itu. Dia kuat dan serangannya sulit diprediksi,"


"Kau lebih sulit diprediksi," Yuna berujar dan kemudian duduk di samping Raiden. Dia berkata, "Kau jelas-jelas sudah tidak bisa melawan lagi. Kau sudah terbaring tanpa bisa melakukan apa-apa, tetapi secara mengejutkan kau membalik keadaan dan menang."


Yuna menggeleng dan berkata, "Rasanya kau seperti Main Character dalam game."


Raiden menatap Yuna dan berkedip. Dia pun mendengus pelan dan berkata, "Apa seperti disiksa terlebih dahulu oleh lawan sebelum akhirnya menjadi over power?"


"Yah, kurasa begitu."


"Hmph. Jika saja itu terjadi, aku pasti tidak akan takut mati. Main Character disiksa seperti apa pun pasti akan hidup sampai akhir. Bahkan ..."


Yuna mengerutkan keningnya, dia berkedip saat Raiden menggantung kata-katanya. Baru saja dirinya akan bertanya----seruan Kasamatsu terdengar.


Seruan itu mengumumkan tentang nama pemain yang akan bertanding berikutnya. Yuna tersentak ketika namanya disebut, dia pun menatap ke arah arena dan lalu berdiri.


"Aku harus pergi,"


"Mn, semoga berhasil." Raiden tersenyum tipis dan melihat Yuna mulai berjalan pergi.


Raiden bernapas pelan saat punggung perempuan itu sudah semakin menjauh, pandangannya seketika berubah.


Tokoh Utama. Sosok yang menjadi pahlawan dalam sebuah cerita disiksa seperti apa pun juga pasti tetap akan hidup sampai akhir. Bahkan bila yang menjadi tokoh utamanya adalah seorang penjahat.


Raiden menengadah ke langit dan lalu mengembuskan napas, "Akan sangat baik bila ada pilihan lain. Sayangnya ... Aku bahkan bukan Main Character dalam game ini."


Raiden mengedarkan pandangan. Semua pemain yang ada di tempat ini maupun di tempat lain berlomba-lomba menjadi Main Character. Namun mereka tidak pernah memikirkan bahwa di Elvort Garden, Main Character sesungguhnya adalah Sang Naga dan Sistem Game ini sendiri.


******