RAIDEN

RAIDEN
38 - Penyelamatan



Karin dan Lilulu melesat secepat yang mereka bisa. Keduanya membuka jalan agar Liyan dan para pemain yang singa itu bawa bisa cepat menjauh dari asap hitam yang kian mengepul dan bagai mengikuti mereka.


"Apa tidak ada cara lain melawannya?! Kenapa kita harus lari?!" Raiden berseru, suasana di sekelilingnya tidak hanya riuh karena seruan para pemain yang terus mengatakan agar Liyan melesat lebih cepat----tetapi juga suasana di tempat ini yang semakin menegangkan.


"Orang dengan tangan yang terluka parah tidak pantas bicara begitu! Kau ini bodoh atau apa, hah?!" Yun membentak kasar. Dia menegur Raiden, "Aku memang selalu kagum padamu, tapi tindakanmu yang suka bertindak seenaknya tanpa peduli pada kondisi tubuhmu sendiri ini sangat menakutkan. Kau itu manusia, Rai...! Kau hanya punya satu nyawa, tapi kau justru selalu membahayakan diri sendiri."


"......"


Raiden duduk di depan Yun hingga dia dapat mendengar teguran pemuda itu. Yun adalah teman yang baik dan begitu menjaga dirinya, sama seperti Lilulu.


"Aku minta maaf..."


"Untuk apa meminta maaf? Kau tidak salah padaku, tapi kau sangat salah pada tubuhmu sendiri. Kau menyakiti dirimu, Rai." Yun benar-benar kesal, dia paling tidak bisa melihat Raiden bertindak ceroboh hingga melukai dirinya sendiri.


"Aku baik-baik saja. Kekhawatiranmu berlebihan, Yun."


"Hah, kau anggap aku berlebihan? Apa kau baru akan sadar jika tanganmu itu benar-benar tidak dapat digunakan lagi, huh?"


"Ke-kenapa kau jadi semarah ini--"


"Aku marah karena kau bodoh. Kau hanya mementingkan orang lain. Kau menomor-satukan mereka dan kau membuat diri sendiri berada dalam urutan paling belakang. Memiliki hati baik juga ada batasnya, Rai...!"


"Aku bukan orang baik..."


"Benar, tapi kau payah! Menyebalkan,"


Raiden tidak bisa mendebat Yun lagi. Temannya ini tidak pernah mengerti bahwa dia amat menyukai rasa sakit. Rasa sakit yang membuatnya hampir mati selalu bisa menjadi pengingat bahwa dirinya masih manusia.


Dia sudah lama hidup di Elvort Garden. Dunia yang penuh keajaiban, fantasi yang nyata dan luar biasa mengagumkan. Tak pernah dalam mimpinya sekali pun dapat menjelajah game serealistis ini. Tempat indah untuk para sampah masyarakat di dunia yang sebenarnya.


"Ayo lebih cepat...!!"


"Tolong lebih cepat, asapnya kian mendekat...!"


Seruan yang sempat diabaikan Raiden kembali terdengar di telinganya. Dia berpegangan erat pada Hide yang duduk di depannya sambil memperhatikan Lilulu dan Karin yang melesat di belakang Darion.


Qiyan, nama Darion itu bergerak sangat cepat menghancurkan dinding yang ada di jalannya. Liyan tidak perlu lagi berbelok ke kanan atau ke kiri mencari jalan keluar dari dungeon ini, dia hanya akan melesat maju dan mengikuti Qiyan dari belakang.


Saat Darion itu kembali menghancurkan sebuah dinding, mereka tiba dalam ruangan yang penuh emas dan permata. Dungeon ini ternyata menyimpan harta seperti itu. Beberapa pemain yang ada di punggung Liyan terlihat terbelalak tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.


"Emas..."


"Nyawa kita lebih penting!"


"Setidaknya aku mau ambil beberapa--"


"Jangan, bodoh! Kau mau mati, hah?!"


Beberapa pemain mulai ribut di belakang Yun. Karin yang melesat di bawah tahu apa yang diinginkan para pemain itu dan lantas menggunakan cambuk miliknya untuk menyerang salah satu gundukan emas hingga benda berharga itu terlempar.


!!


Rasanya seperti hujan emas di tengah-tengah bahaya. Para pemain berseru dan merapatkan tubuh mereka hingga emas-emas itu dapat diapit. Raiden sendiri tidak suka dengan hal tersebut karena emas-emas itu jatuh menimpuk kepalanya.


Hide sendiri terkejut bukan karena hujan emas ini, tetapi karena hal yang lain. Raut wajahnya bahkan nampak memburuk.


Dia tidak memikirkannya sejak tadi, tapi kini dirinya sudah tidak tahan lagi. "Rai..! Mau sampai kapan kau berpelukan erat padaku, hah?! Kau ini hampir membuatku sesak napas tahu...!"


"Aku juga dipeluk dari belakang dan tidak keberatan. Kenapa kau ini sensitif sekali? Aku bahkan tidak pernah ada niatan ingin memelukmu."


"Kalau begitu lepaskan aku! Tidak tahu malu. Aku tidak suka dipeluk-peluk. Itu menggelikan. Menjauhlah!"


Kening Raiden bertaut. Dia merasa bahwa Hide ini adalah pemuda yang sangat sensitif, bahkan pada laki-laki. Jika saja tangan kanannya tidak sakit, dia pasti sudah mencekik sosok di depannya atau memelintir leher Hide.


"Dia benar-benar mirip kucing. Kucing yang liar," Raiden mengembuskan napas pelan, dia berusaha menenangkan diri. Sayang hembusan napasnya justru bagai sambaran petir untuk Hide.


"Raiden sialan! Berhenti bernapas di telingaku...!! Dasar Mesum! Tidak tahu malu...! Bahkan dengan laki-laki pun kau berani melakukan itu?! Sialan!"


"Ya Tuhan," Raiden terkejut dengan suara Hide yang begitu nyaring. "Aku tidak berbuat apa-apa?! Siapa yang kau sebut mesum, hah? Kau sama sekali tidak menarik bagiku. Aku ini masih pemuda normal tahu!"


Hide kesal dan lantas menggerakkan kepalanya untuk meninju wajah Raiden. Pemuda bermata merah itu tidak sempat menghindar hingga hidungnya terkena serangan dengan telak.


Raiden merintih. Hidungnya sakit dan bahkan Yun kaget karenanya. Di sisi lain, Karin dan Lilulu tidak tahu apa-apa mengenai kejadian itu.


!!


"Itu jalan keluarnya...!" Karin berseru. Dia sudah melihat pintu gerbang yang tidak jauh lagi dari mereka.


Lilulu pun melihatnya. Darion di depannya benar-benar sangat berguna. Sosok berzirah hitam itu tahu jalan yang tepat serta tidak memiliki kesulitan berarti. Mereka jadi bisa mempertahankan jarak yang cukup besar dari asap hitam beracun itu.


"Kita harus tutup gerbangnya!" Karin memberi perintah. Lilulu mengangguk setuju.


Darion milik Hide yang lebih dahulu keluar dari gerbang, baru kemudian disusul oleh Liyan yang membawa para pemain di punggungnya. Lilulu dan Karin sendiri berusaha menarik pintu gerbang itu dengan segenap kekuatan mereka.


"Ayo bantu mereka...!" seorang pemain yang masih memiliki cukup banyak tenaga melesat turun dengan diikuti beberapa pemain yang lain. Mereka membantu Lilulu karena gadis mungil itu terlihat kesulitan menutup gerbang.


Hari ternyata sudah pagi saat Hide mulai memperhatikan sekelilingnya. Dia lalu mengembuskan napas pelan dan baru akan turun dari punggung Liyan saat singanya tiba-tiba saja ambruk.


Beberapa pemain yang baru saja selesai membantu Karin ikut tersungkur dengan raut wajah yang tiba-tiba pucat. Mereka seketika memuntahkan darah, bahkan Karin dan Lilulu pun demikian.


!!


Liyan mengeluarkan suara yang aneh seperti sedang kesakitan. Hide terkejut. Baru saja dia lega, tetapi kini ada lagi masalah yang datang entah karena apa.


"Liyan, apa yang terjadi denganmu?" Hide melompat turun dari punggung singa miliknya, "Kalian semua juga, apa yang terjadi dengan---"


"Pirang?" Raiden tersentak. Hide secara mendadak sulit menopang tubuhnya dan jatuh tersungkur ke tanah. Pemuda itu memuntahkan darah seperti yang lainnya.


"Kalian ini kenapa--"


"Jangan ada yang bergerak." Yun menyela ketika salah seorang pemain hendak turun dari punggung Liyan. "Tanahnya... Tanahnya-lah yang sudah membuat kondisi mereka begitu."


Ucapan Yun mengagetkan semua orang. Dia pun merogoh saku pakaiannya dan mengambil tiga buah kartu. Dengan gerakan cepat, Yun melempar kartu itu ke tanah dan kini terlihat kartu tersebut tidak sampai menyentuh tanah.


Ada yang menahannya dan itu adalah benda seperti jarum, namun sangat tipis. Benar-benar terlihat sangat halus. Jelas bahwa ada orang yang menyebar jarum-jarum kecil ini.


"Apa yang harus kita lakukan?" Raiden tidak menanyakan siapa yang melakukan hal kotor semacam ini, dia lebih peduli pada kondisi orang-orang di sekitarnya.


Yun menatap Hide, "Pirang! Apa kau masih bisa memerintah Darion-mu?! Hanya dia yang tidak terpengaruh dari jarum-jarum itu. Suruh dia membawa kita ke tempat yang aman!"


Hide terengah-engah, suaranya serak namun dia masih mendengar ucapan Yun. Dia pun berusaha memanggil Darion-nya, "Qiyan! Lakukan apa pun yang dia katakan."


Darion itu berlutut sebagai tanda bahwa dia mengikuti perintah Hide. Dia pun berdiri kembali dan memberi hormat pada Yun. Darion merupakan sosok yang patuh terhadap segala perintah pemiliknya.


"Tolong kau singkirkan semua jarum yang ada di area ini dan bawa Tuanmu dengan hati-hati ke tempat yang aman. Bawa mereka juga dan lakukan dengan cepat." Yun memberi perintah.


Dalam keadaan setegang apa pun, dia bisa dengan mudah langsung bersikap tenang dan berpikiran jernih. Yun adalah satu-satunya orang yang diakui Raiden sebagai sosok jenius dan sekaligus otak dari timnya bersama dengan Lilulu.


Darion melaksanakan segala perintah Yun tanpa kesalahan. Dia melakukan gerakan yang menghasilkan angin kuat hingga mampu mengangkat jarum-jarum tipis itu dari tanah. Dia pun lalu dengan hati-hati menolong Hide dan membawa Tuannya ke tempat yang lebih aman.


Sebuah tempat yang penuh rumput hidup dan udara yang menenangkan. Darion itu pun kembali ke tempat Yun dan mulai membawa satu demi satu pemain yang terluka.


"Aku sebaiknya turun dan membantunya. Jarum berbahayanya sudah tidak ada, jadi ini tidak akan masalah..."


"Rai, kau ini sedang terluka." Yun menegur, "Kau duduk manis saja dan biarkan Darion itu bekerja."


"......" Raiden mengembuskan napas, "Dari mana kau tahu bahwa Darion itu milik si pirang?"


"Dia yang memberi perintah sejak awal pada Darion itu. Tentu saja aku langsung menyadarinya,"


"Kau hebat, Yun. Meski tampangmu standar dan tubuhmu kurus kerempeng begitu... Kau benar-benar cerdas."


"Berani mengatakannya lagi, kau akan kutendang dari atas sini." Yun menggeser posisinya dan lantas menoleh ke belakang. "Yang diprioritaskan lebih dahulu adalah yang terluka. Tolong tetap berhati-hati,"


"Ah... Ba-baik,"


Ada dua pemain yang berusaha sebisa mungkin untuk menurunkan Ogiwara. Pria yang bertubuh besar itu sudah tidak sadarkan diri entah sejak kapan. Darion mengangkat Ogiwara tanpa masalah sama sekali dan membawanya ke tempat di mana dia membaringkan para pemain yang lain.


Yang diangkut selanjutnya adalah Shoyo dan Mei yang juga tidak sadarkan diri. Kemudian juga ada Yuna dan anggota dari guild yang lain. Mereka satu demi satu dibawa oleh Darion. Singa milik Hide-lah yang terakhir dibawa setelah semua pemain termasuk Yun dan Raiden telah berada di tempat yang aman.


"Jarum-jarum ini tidak mematikan..." Yun mencabut jarum yang menancap di tangan Hide dan kemudian melepaskan sepatu bot milik pemuda itu dengan hati-hati.


Pemain yang lain juga membantu Hide untuk mencabut jarum yang tertancap di tubuh rekan-rekan mereka, termasuk di tubuh Karin, Lilulu dan Liyan.


Raiden sendiri tidak diizinkan membantu meski dirinya ingin. Dia pun hanya bisa melihat Yun dan para pemain yang lain tanpa melakukan apa-apa. "Tidak hanya jebakan dari dalam dungeon, bahkan di luar pun juga disediakan jebakan. Benar-benar keterlaluan,"


"Aku yakin ini semua ulah sebuah kelompok Guild. Cara mereka menebar jarumnya sangat halus dan seperti sudah dilatih. Mereka pemain profesional,"


"Bukankah ini perbuatan anggota Guild Raja Sungai Biru? Aku pernah melihat mereka saat di dalam dungeon tadi."


!!


Para pemain yang lain terkejut mendengar ucapan itu, bahkan termasuk Yun. Pemuda yang memakai topi ala pesulap itu pun nampak berwajah buruk. Dia tidak menyangka akan mendengar nama Guild Raja Sungai Biru.


"Yun, kau kenapa...?" Raiden menyadari perubahan raut wajah temannya.


"Guild Raja Sungai Biru adalah kelompok pencuri dan membunuh. Mereka sangat berbahaya. Tempat ini tidak aman, kita harus segera pergi."


"Tapi bagaimana dengan mereka yang terluka?" seorang pemain bertanya, "Tidak ada yang memiliki potion lagi..."


"......"


Memang benar tidak ada pemain yang bersama Yun yang mempunyai sisa potion. Semuanya sudah habis mereka gunakan dan karena hal tersebut-lah sehingga ada beberapa orang yang tidak sadarkan diri bersama mereka.


Raiden berpikir sejenak sebelum akhirnya dia dan Yun saling berpandangan seperti telah memikirkan sesuatu yang sama. Keduanya spontan menoleh ke arah Lilulu yang terbaring lemah, namun masih bisa mempertahankan kesadarannya.


Lilulu adalah tambang emas untuk potion. Dia hanya terlalu pelit berbagi.


***