RAIDEN

RAIDEN
31 - Dungeon Jebakan



Hide terkejut melihat begitu banyak tengkorak yang berlari menuju dirinya dan Raiden. Makhluk-makhluk tersebut bahkan nampak membawa senjata sambil mengeluarkan suara yang mengerikan.


Raiden segera menarik belatinya dan melesat ke arah makhluk-makhluk itu, bahkan tanpa menunggu respon dari Hide. Suara bagai gemuruh petir tercipta ketika dia memberi serangan yang kuat.


"Hei..! Kau belum-" Hide berkedip ketika melihat dua tengkorak hancur dan berhamburan begitu saja. Dia ingin mengatakan bahwa Raiden belum baik-baik saja, tetapi sepertinya itu sama sekali tidak benar.


"Dia sudah tidak waras. Jelas sekali bahwa sebelumnya dia begitu sekarat, bahkan menggerakkan satu jari saja tidak mampu---dan sekarang, dia bahkan bisa melakukan gerakan berputar secepat itu?!"


Hide tidak tahu harus berekspresi seperti apa, pemandangan di depannya terlalu memukau dan luar biasa. Dia melihat Raiden begitu menikmati bertarung melawan para monster berwujud tengkorak tersebut. Rasa-rasanya dia tidak akan mendapat bagian bila terus seperti ini.


"Aku tidak boleh kalah!" Hide menarik pedangnya dan kemudian melesat ke tampat di mana Raiden berada.


Hanya dalam waktu singkat, gerombolan monster itu memecah akibat kerja sama dari keduanya. Perubahan jenis Vit yang mengalir pada bilah pedang Hide adalah api, sementara untuk Raiden adalah petir. Keduanya termasuk kekuatan yang besar, jadi bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya pertarungan tersebut.


Fisik monster yang dilawan Raiden seperti tengkorak pada umumnya, hanya saja mereka berpakaian seperti prajurit dengan zirah dan senjata yang lengkap. Beberapa tengkorak mempunyai tulang berwarna merah dan mereka jenis yang gesit serta sulit ditebas.


!!


Bilah pedang Hide berbunyi nyaring ketika membentur tulang leher salah satu tengkorak. Dia segera menghindar ketika serangannya tidak mempan dan justru diberi balasan oleh monster tersebut. Dia terlihat berdecak kesal karena lawannya yang satu ini sulit dihabisi.


"Sialan!" kaki Hide menapak di tanah sebelum dirinya melentingkan tubuh ke belakang, raut wajahnya nampak buruk saat menatap Raiden. "Hei..! Apa kau tidak bisa berhati-hati?! Lawanmu ada di sana, kenapa kau justru mengarahkan serangan padaku sialan!"


"Maaf, gerakan mereka terlalu cepat. Aku juga tidak bisa membagi fokus untuk memperhatikan langkahmu." Raiden sibuk bertarung hingga secara tidak sengaja nyaris membuat Hide terkena serangan nyasar darinya.


"Tsk, kau pikir aku di sini hanya diam dan menjadi penonton, hah?! Perhatikan baik-baik arah seranganmu, dasar petir gila!"


Raiden berkedip ketika mendengar Hide, dia menghindari serangan beberapa tengkorak dan lalu menatap sejenak ke arah pemuda berambut pirang itu. Rasa-rasanya sejak tadi nada suara Hide ketus dan selalu membentaknya.


"Dia ini.. Apa sangat membenciku?" untuk kedua kalinya Raiden kembali berkedip sebelum melesat dan menyerang salah satu monster hingga gemuruh petir kembali menyambar.


!!


Andai saja atap batu di atas Hide tidak kuat, mungkin sudah lama dirinya terkubur hidup-hidup. Pemuda yang bersamanya sangat tidak waras dalam mengayunkan belati, apalagi dengan cara bertarungnya yang tergolong sangat liar.


"Aku tidak tahu apakah kau ini pemula dalam Elvort Garden atau bukan, tetapi tidak bisakah kau memperhatikan setiap seranganmu?! Aku sudah memberimu peringatan berulang kali. Kendalikan petir-petirmu ini..!"


"Aiya, itu sesuatu yang tidak dapat dikendalikan!" Raiden berseru dan kembali melesat, dia berhasil membuat tiga monster tengkorak menghantam dinding dengan kondisi tubuh yang berantakan.


Dirinya pun kembali bicara pada Hide, kali ini tanpa menoleh ke arah pemuda itu. "Kau juga harusnya lebih memperhatikan sekelilingmu, jangan hanya pandai menegur orang lain. Kendalikan api milikmu itu..! Kau nyaris hampir membuatku terbakar."


"Kau yang harusnya menghindar! Aku ini seniormu. Ucapan 'Senior' selalu benar!"


"Oh ya ampun!" Raiden tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan seperti itu. Dia sampai tak bisa berkata-kata, pemuda berambut pirang ini terlalu ekstrim.


Monster berwujud tengkorak berjalan yang dilawan oleh Raiden perlahan mulai berkurang dan serangan terakhir Hide membuat pertarungan itu selesai. Hanya saja sebelum mereka mampu menarik napas lega, tiba-tiba saja terasa aura yang amat menekan.


!!


Kedua pemuda itu terkejut, pandangan mereka langsung mengarah ke depan dan tidak butuh waktu lama sampai terdengar suara hentakan kaki yang bahkan mampu membuat tanah bergetar.


"Baiklah, Senior.." Raiden menyarungkan kembali belati miliknya. ".. Kau telah membangunkan 'BOS' dari tempat ini. Jadi sebaiknya aku pergi dan semoga harimu menyenangkan,"


Hide menarik kerah belakang Raiden ketika pemuda bermata merah itu ingin pergi meninggalkannya, "Orang yang membangunkan bos di tempat ini adalah kau. Enak sekali kau menyerahkan penyelesaian dari masalahmu kepadaku,"


"Kau mau mati? Kau adalah orang yang paling tidak tahu diri di dunia ini. Tarik senjatamu! Awas jika sampai kau kabur,"


Raiden baru akan bicara ketika suara geraman terdengar. Sesuatu perlahan mulai muncul di lorong bercahaya redup yang tidak jauh di hadapannya.


!!


Hide mulai melihatnya. Ada bayangan sosok bertubuh tinggi yang mana kini semakin jelas. Kaki besar berwarna hitam kelam dengan kuku semerah darah menapak tidak jauh di tempatnya berada. Aura yang pekat membuat udara di sekelilingnya terasa sangat tipis.


Raiden sendiri memuntahkan darah. Dia sebenarnya belum sepenuhnya pulih ketika langsung menghadapi para monster tengkorak dengan sangat percaya diri. Sekarang karena aura mencekam ini membuatnya jadi tidak bisa lagi bertingkah layaknya orang yang baik-baik saja.


"Hei..! Ada apa denganmu?!" Hide terkejut melihat perubahan pada Raiden. Wajah pemuda di sampingnya pucat dan orang ini menekan dadanya seakan tengah sesak napas.


"Hei..!"


Hampir saja Raiden ambruk. Untung Hide bergerak cepat meraih lengan tangannya. Suara langkah kaki itu kian mengeras dan sosok monster serigala kini terlihat di hadapan mereka.


!!


Serigala itu dapat berdiri dengan dua kaki, tubuhnya bahkan terlihat seperti manusia---namun dengan bulu yang lebat pada tubuhnya. Warna mata monster itu hijau bersinar, dia mempunyai gigi taring yang tajam dan bibir penuh darah. Rasa-rasanya seakan dia baru saja selesai memangsa makhluk hidup.


Hide melihat bahwa serigala di depannya memakai zirah lengkap dengan tombak besar berujung runcing yang diselimuti asap hitam tipis. Monster di hadapannya bahkan terlihat membawa dua kepala yang membuat mata Hide terbelalak.


"Liyan..? Karin..?"


"Bukan." Raiden berusaha mengingatkan Hiden saat dirinya kembali memuntahkan darah, napasnya tidak beraturan. "Itu hanyalah kepala tanpa wajah, kau jangan terpengaruh."


Hide berkedip dan segera menggeleng. Dia memperhatikan dengan jelas dan memang benar apa yang dikatakan Raiden, dua kepala yang berada di tangan monster itu tidak memiliki wajah.


"Aku sempat berpikir Karin dan Liyan sudah dikalahkan.."


Raiden mendengar suara lemah dari Hide, dia pun mulai bicara. "Aku rasa pikiranmu lebih mudah dikacaukan. Sosok itu dapat membuat ilusi. Kau harus berhati-hati,"


"Bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak terpengaruh?"


"Sepertinya ini karena rasa sakit yang kualami. Aku bisa lepas dari pengaruh makhluk itu,"


Walau terlihat bicara berdua, namun konsentrasi Raiden dan Hide terhadap kehadiran lawan tidak pernah memudar. Tampilan monster berkepala serigala itu pun kian jelas di depan mereka.


"Manusia yang memasuki wilayahku.. Mereka harus mati..!"


Suara menggelegar dari monster itu membuat Hide dan Raiden terkejut. Di saat yang sama, suara serupa juga terdengar di tempat Karin berada.


Wanita berambut merah itu berada di tempat yang mirip dengan kawah berapi. Dia tengah berhadapan dengan makhluk serigala yang sama, namun mempunyai warna mata kuning menyala.


Dungeon yang dia dan para pemain lain masuki ini rupanya merupakan Dungeon besar yang terhubung langsung oleh akar dari pohon Ash. Tempat ini sangat luas, misterius, mampu berubah-ubah dan memerangkap para pemain hingga mereka sulit untuk keluar. Dapat dikatakan bahwa Dungeon ini sebenarnya adalah jebakan Pohon Ash---Jebakan Sang Naga, monster terkuat di Elvort Garden yang ternyata telah membuka matanya.


Karin, Raiden, Hide dan para pemain yang ada di dalam Dungeon tersebut tidak mengetahui bahwa di luar tempat ini sudah dikepung oleh sekelompok orang berjubah hitam yang memakai topeng tengu. Wajah-wajah mereka sulit ditebak karena topeng tersebut, namun dari posisi berdiri dan aura yang mereka keluarkan----kelompok tersebut jelas tidak datang untuk tujuan yang baik.


***