
Mendapat serangan yang tiba-tiba dari para ularnya sendiri membuat Nona Melinda terkejut. Apalagi sekarang peliharaan kecilnya itu juga menyerang ketua dari Guild lain termasuk Orochi.
Hide memegang kuat pedangnya, raut wajahnya nampak buruk. "Sialan, kenapa ular-ular ini bisa terbang kemari?!"
Hamada, pemuda berambut panjang berwarna kuning nampak bekerja sama dengan dua anggota junior dari Guild Phoenix Api. Mereka menyerang para Kobra Hantu dan sesekali menghindari semburan dari bisa ular itu.
Gomoru, Atsui, dan bahkan Orochi juga terlihat sibuk. Keadaan di lantai dua yang saat ini sedang diperhatikan Raiden dari bawah terlihat begitu kacau sekali.
Masalahnya, pemuda bermata merah itu tidak bisa menyembunyikan senyuman yang serasa sangat senang melihat para ketua Guild kerepotan. Ekspresi wajahnya tertangkap oleh penglihatan Hide.
?!
"Raiden... Kau Orang Brengsek!" Hide berteriak dan ini memancing perhatian Nona Melinda.
Wanita cantik bertubuh bagus itu memandang ke bawah. Saat melihat ada salah satu pemuda yang menengadah sambil tersenyum--dirinya menjadi yakin bahwa orang itulah pelaku dari kejadian yang menimpanya ini.
"…"
Warna mata Nona Melinda berkilat kemerahan, dia melompat mundur dan ketika berada di udara--dirinya lalu mulai menjentikkan jari.
!!
Hanya satu jentikan itu, seluruh Kobra Hantu miliknya berubah menjadi asap hitam dan kemudian menghilang. Beberapa rekan Orochi terlihat mengembuskan napas lega.
Gomoru menoleh ke arah Nona Melinda, dia bicara dengan nada yang terkesan ketus, "Kau seharusnya melakukan itu sejak tadi."
Hide pun ikut mengembuskan napas, dirinya menatap nyalang ke arah bawa dan lantas berbicara dengan Ketua Guildnya, "Senior. Itu dia..! Dialah orang yang kuceritakan padamu. Pemuda itu!"
Hamada mengarahkan pandangannya ke titik di mana Hide menunjuk. Ekspresinya tenang, namun tatapan matanya masih seperti nampak merendahkan. Walau demikian, dia mempunyai warna mata yang indah.
"…"
Hide, "Senior. Aku yakin dia pelakunya. Raiden sialan.. Aku akan membuat kau menerima akibatnya!"
"Berhenti," Punggung tangan kanan Hamada menyentuh dada Hide, "Kau jangan turun ke sana."
!
Hide memang ingin langsung menerjang Raiden, namun dirinya tetap menuruti ucapan Hamada untuk tidak bertindak demikian. "Senior, aku.."
"Aku tahu kau membencinya, tapi jaga kehormatan Guild-mu. Kau pasti akan mendapat kesempatan untuk membalas dia, tapi ini bukan saatnya."
Hide mengembuskan napas, dia mengangguk pelan. Baru saja dirinya akan membalas ucapan Hamada--seketika seseorang melesat dari arah samping tubuhnya.
Orochi tersentak saat Nona Melinda tiba-tiba melesat turun. Tindakan wanita cantik itulah yang membuat angin kejut tercipta hingga Hide juga tersentak karenanya.
!!
Nona Melinda menapakkan kakinya di tanah, tepat di depan Raiden. Pandangan matanya bertemu dengan warna merah berkilat milik pemuda yang tampan itu.
"Kau yang melakukannya, kan?" suara Nona Melinda terdengar manis. Raiden merasa ada desiran dalam dadanya.
"Di lihat dari jauh.. Nona Sangat cantik.."
Nona Melinda tersenyum, "Kalau dari dekat..?"
"Dari dekat... Anda.. Sempurna."
!!
"Ha ha ha, aku menyukaimu~" Kemarahan Nona Melinda seperti meredup, dia melingkarkan kedua lengannya ke leher Raiden dan semakin dekat dengan pemuda itu.
!!
Banyak pemain yang terkejut, termasuk Raiden sendiri. Dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini. Rasanya benar-benar dialah yang seketika mencuri seluruh perhatian.
Nona Melinda tidak peduli pada yang lainnya, hanya fokus menatap pemuda tampan di hadapannya ini. Dia pun lantas mulai bicara, suaranya amat lembut dan manis.
"Hmm.. Bagaimana aku harus menghukum pemuda yang nakal sepertimu~?"
!!
Yun melepas kacamatanya, mengusapnya beberapa kali sebelum memakainya kembali. Dia tidak bisa percaya dengan penglihatannya sekarang. Bahkan mulutnya tidak pernah berhenti untuk terbuka lebar.
"Raiden benar-benar beruntung. Dia memang mengatakan akan mendapat seluruh perhatian, tapi tidak kusangka akan sesukses ini."
Bila Yun nampak terpukau, tidak demikian dengan Lulu. Dia memperhatikan Nona Melinda dan merasa kekesalannya semakin bertambah. "Dilihat dari dekat, bibi itu benar-benar j****ng."
Banyak pemain yang memiliki isi pikiran berbeda-beda ketika menyaksikan Raiden dengan Nona Melinda. Namun secara keseluruhannya---mereka dapat dikatakan iri pada pemuda bermata merah itu.
Jelas sekali, Raiden teramat beruntung karena dapat dekat apalagi sampai dirangkul oleh wanita yang jujur saja adalah idaman. Namun perlu diketahui teman Yun dan Lulu itu merupakan pemuda yang suka bermain-main.
"Nona.. Jika kau semakin dekat. Situasi mungkin akan mengarah pada sesuatu yang tidak pantas dilihat banyak orang," Raiden berujar pelan, suaranya agak rendah. Dia berada dalam situasi yang mengharuskan harga dirinya fokus menatap mata wanita ini tanpa boleh memandang ke arah lain.
Kedua tangannya tetap diam, tidak membalas rangkulan Nona Melinda apalagi menyentuh pinggang wanita ini yang jujur saja mengundang pergulatan batin.
"Jika tetap diam, rasanya akan mubazir. Tapi kalau kulakukan, harga diriku memberontak. Bagaimana ini?!" Raiden kalut dengan pikirannya, apalagi sekarang bagian atas tubuh Nona Melinda agak menempel di dadanya.
!!
Raiden tersentak ketika wanita yang merangkulnya berganti posisi dan seakan hendak jatuh. Ini membuatnya spontan menahan berat tubuh Nona Melinda.
"Nah, sekarang tanganmu tidak lagi menganggur kan?" Nona Melinda tersenyum, dia jelas sengaja melakukannya.
"Aku benar-benar menyentuh perempuan. Jadi.. Inikah rasanya..?" Raiden menahan napasnya, dia kesulitan menelan ludah.
"Tampan~ Aku tidak pernah mendengar kau menyebutkan namamu. Apa kau tidak keberatan memberi tahuku?"
Kehadiran para pemain yang lain termasuk Lulu seperti hanya udara di penglihatan Nona Melinda. Wanita dari Guild Ular Hitam itu lebih menaruh perhatian pada Raiden.
Raiden tersenyum tipis dan agak menekan Nona Melinda untuk lebih menempel padanya. Tindakan tersebut membuat pemain yang melihatnya nampak sangat iri bahkan menaruh dendam.
"Nona, kau sudah menyebutnya tadi. 'Tampan' adalah nama kecilku, dan 'Sempurna' adalah kata yang mendefinisikan Raiden ini. Nona harus mengingatnya,"
Nona Melinda tertawa kecil, "Kau yang terbaik~ Aku jadi semakin menyukaimu. Bagaimana jika kau bergabung dengan Guild milikku? Nona yang cantik ini bisa menjadikan dirimu sebagai junior kesayangannya."
"Mm.. Entahlah.. Aku ingin dipilih sesuai aturan. Nona tidak boleh menarik anggota dengan cara seperti ini,"
!!
Orochi mendengar pembicaraan antara Raiden dengan wanita itu. Dia kembali terkejut. "Nona Melinda, dia benar. Anda tidak dapat merekrut Raiden menjadi anggota sebelum ujian tahapan ini selesai."
Nona Melinda melirik Orochi sejenak sebelum melepaskan diri dari Raiden, "Tidak perlu lagi melanjutkan menguji mereka, kita akan langsung ke tahap pemilihan. Aku sudah selesai menilai mereka semua,"
"Tapi Nona-"
"Orochi Sayang~ Keributan yang terjadi dengan peliharaanku sudah mampu menjadi wadah bagi para ketua Guild untuk menilai kemampuan para pemain. Bukankah begitu, Hamada? Atsui? Dan Gomoru-Kun?"
Ucapan Nona Melinda benar. Saat Kobra Hantu miliknya menyerang para pemain--di saat itu juga para ketua Guild menilai kemampuan dan bakat masing-masing pemain. Jelas ada beberapa orang yang menonjol dan Raiden termasuk salah satunya.
Orochi mengembuskan napas dan lalu menengadah ke atas. Dirinya tidak lagi mengatakan apa-apa saat melihat anggukan para ketua Guild serta perwakilan dari Guild Phoenix Api.
"Baiklah jika demikian.." Orochi kembali naik ke lantai kedua. Nona Melinda sendiri terlihat menyusulnya setelah memberi beberaoa godaan lagi pada Raiden.
Orochi mengedarkan pandangannya, "Seperti yang kalian saksikan, ujian tahapan ini telah berakhir..! Dan kini saatnya untuk ketua Guild memilih pemain yang pantas menjadi anggota mereka. Jika kalian dipilih oleh lebih dari satu ketua, maka kalian bebas memberi pilihan terkait Guild yang ingin kalian masuki."
Semua orang mendengarkan penjelasan Orochi, namun tidak sedikit di antara mereka yang masih memberi perhatian pada Raiden. Sepertinya orang-orang itu sedang menandai dirinya sebagai target untuk sesuatu yang kurang baik.
Raiden tahu benar bahwa banyak yang iri padanya, apalagi tipekal orang seperi Giryuu. Dia mengetahui bahwa dia telah dijadikan target permusuhan, tetapi itu semua bukanlah masalah.
Toh hidup tidak akan sempurna bila hari-harinya hanya diisi oleh mereka yang menyukainya. Raiden juga butuh anti-fan, mereka yang layak diajak berkelahi, mendebat, dan saling berebut untuk mencabut tulang leher satu sama lain.
Senyuman Raiden terlukis di wajahnya ketika merasakan banyak pandangan permusuhan ditujukan padanya. Kelembutan tubuh Nona Melinda tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa tak tertahankan ini.
"Haah.. Sempurna. Aku jadi tidak sabar. Siapa kira-kira dari mereka yang akan bergerak lebih dahulu. Apa mungkin setelah ini selesai, hmm?"
Saat Raiden tengah bergelut pada pikirannya--Orochi kemudian memanggil satu persatu pemain sesuai dengan nomor pendaftaran mereka. Yang pertama maju lebih dahulu adalah Mika, salah satu gadis dari kelompok 'Cherry Blossom'.
Ada dua ketua Guild yang mengangkat tangannya, mereka adalah Gomoru dari Banteng Putih dan Nona Melinda dari Ular Hitam. Mika jelas tidak ingin masuk di kelompok yang ketuanya adalah pria berbadan kekar dan nampak garang, dia memilih yang kedua.
Pemain yang dipanggil selanjutnya adalah seorang pemuda, namun tidak ada bahkan satu dari ketua Guild yang mengangkat tangan mereka. Dia pun dianggap telah gagal.
Satu persatu pemain dipanggil dan benar-benar hanya sedikit di antara mereka yang dipilih. Buruknya, Guild Phoenix Api bahkan tidak sekali pun mengangkat tangan.
"Ada apa dengan Guild Phoenix Api? Apa tidak ada pemain yang membuat mereka terkesan?"
"Mungkin karena yang datang bukanlah ketua dari Guild tersebut. Lihat, dua pemuda itu pasti mendapat perintah untuk tidak memilih siapa pun menjadi anggota. Aku dengar ini biasa terjadi,"
"Apa Guild Phoenix Api seangkuh itu?"
"Yah, bukankah sudah terlihat jelas?"
Banyak orang membicarakannya. Tidak sedikit pemain yang bertaruh bahwa dua pemuda dari Guild Phoenix Api tidak akan mengangkat tangan mereka sebelum semuanya berakhir. Namun pandangan mereka seperti dibungkam ketika tiba giliran Lulu.
!!
Semua orang terkejut menyaksikan kelima Guild besar di Kota Api menginginkan gadis mungil itu sebagai anggota mereka. Bahkan untuk pertama kalinya Guild Phoenix Api juga ikut turut serta.
Raiden sendiri tidak menyangka. Dia memang tidak terlalu memperhatikan bagaimana Lulu bertarung tadi, tetapi melihat dari respon para Ketua Guild tersebut---dirinya yakin temannya pasti melakukan sesuatu yang hebat.
Lulu sendiri nampak berdiri tenang, ekspresi wajahnya tidak berubah. Dia mengembuskan napas pelan dan menoleh sejenak ke arah Raiden sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke atas--dirinya menatap satu persatu ketua Guild termasuk Nona Melinda.
Orochi, "Gadis muda. Katakan pilihanmu,"
"Aku.. Akan memilih yang terbaik." Lulu menyakinkan dirinya, "Aku akan bergabung dengan Guild... Phoenix Api..!"
!!
Yun yang kini telah berada di samping Raiden nampak terpukau, "Lilulu seperti tidak berpikir dua kali untuk memilih. Dia bahkan tidak bertanya pendapat kita,"
Raiden, "Biar bagaimanapun itu adalah haknya, kita tidak bisa melarang Lulu. Sudahlah, biarkan saja. Di mana pun Guild yang Lulu tempati, kita akan tetap berteman."
Yun mengangguk, kini adalah gilirannya. Dia agak gugup ketika memandang satu persatu ketua Guild. Dalam hati dirinya berharap dipilih oleh Nona Melinda meski si cantik itu termasuk dalam golongan wanita berbisa.
!
Hanya Gomoru yang mengangkat tangan, hal tersebut menandakan bahwa Yun tidak mempunyai pilihan selain masuk ke dalam Guild Banteng Putih, dirinya jadi terpisah dengan Lulu.
Setelah Yun, maka kini adalah giliran Raiden. Dia berdiri tenang dan juga menengadah ke atas---perhatiannya tertuju Hide, si pemuda pirang yang berada di Guild Singa Emas.
Hide sendiri sudah sejak tadi memberi perhatian lebih pada Raiden. Dia ingin membalas pemuda itu dan inilah langkah pertamanya.
Tidak ada yang mengangkat tangan untuk memilih Raiden, termasuk Nona Melinda meski sebelumnya wanita cantik tersebut telah memintanya bergabung.
Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai Hide dari Guild Singa Emas mengangkat tangannya. Dia mewakili Hamada dan terlihat menyeringai ke arah Raiden.
!?
Melihat ekspresi wajah pemuda berambut pirang itu--bahkan Yun dan Lulu pun mengerti. Entah bagaimana, tetapi Hide sepertinya berhasil membuat Nona Melinda, Atsui, maupun Gomoru untuk tidak mengangkat tangan pada teman mereka.
Yun, "Kawan. Kau sepertinya tidak punya pilihan sama sepertiku. Masalahnya kau akan masuk ke dalam Guild si pirang itu. Aku yakin dia merencanakan hal buruk untukmu, kau harus berhati-hati."
Raiden tersenyum, "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, tapi kurasa yang lebih butuh perhatian itu adalah Si Pirang. Dia pikir dengan menahanku dalam Guild-nya, Si Pirang itu akan bebas melakukan tindakan apa pun padaku? Hmph. Sungguh sebuah kesalahan yang besar,"
***