
Yun dan Raiden menunggu hujan reda. Keduanya membicarakan hal yang biasa-biasa saja dan sesekali membahas Guild yang memiliki pemain berwajah cantik.
Beberapa pemain ada yang mendengar mereka bicara. Namun itu hanya sebagai bentuk perhatian biasa untuk membuang waktu menjenuhkan di tempat ini. Para pemain lain bahkan ada yang sampai tertidur pulas.
Ini memang malam yang sangat larut, tetapi Yun dan Raiden adalah tipe pria yang sangat kuat begadang. Keduanya tidak terlihat mengantuk sama sekali, bahkan pembicaraan mereka kian semakin hangat hingga baru berhenti setelah hujan reda.
Suara ayam terdengar dan meski langit masih gelap di atas sana, Raiden yakin bahwa waktu sudah menunjukkan pagi hari. Dia dan Yun pun baru menguap.
Raiden, "Pakaianku benar-benar kering di tubuh. Kukira di Elvort Garden tidak akan ada hujan sederas ini. Bisa dibilang, kenapa di dalam game harus ada hujan?"
Yun menguap, "Yaah... Game yang dibuat serealistis mungkin harusnya memang seperti ini. Ayo, aku mau pulang."
Raiden menaiki Drift miliknya. Dia mengantar Yun ke Guild Banteng Putih sebelum dirinya sendiri pergi ke cabang Guild Singa Emas. Perjalanan mereka terbilang lancar sebab Raiden melaju dengan kecepatan yang tidak terbantahkan.
Cabang Guild Singa Emas sendiri nyaris sama besarnya dengan Guild Singa Emas yang sesungguhnya. Mereka jelas adalah guild yang kaya dan begitu diunggulkan di samping urutan mereka yang selalu ada di bawah Guild Phoenix Api.
Raiden mengembuskan napas setelah dia memberhentikan Drift miliknya. Apa yang dia saksikan sekarang adalah sebuah bangunan megah bergaya eropa kuno. Dia sudah menyaksikan banyak hal di Elvort Garden, termasuk model setiap bangunannya yang bermacam-macam dan berbeda di tiap kebun.
Nuansa seperti berada di dunia para makhluk penghisap darah langsung menyelimuti benak Raiden. Apalagi ketika dia melihat beberapa orang yang pakaiannya mirip dengan seragam sekolah milik anak bangsawan. Baiklah. Membayangkan suasana fantasi seperti itu terlalu menegangkan, jadi Raiden berhenti memikirkannya.
"......"
Setelah memarkirkan Drift miliknya, Raiden pun mulai berjalan memasuki bangunan besar di hadapannya. Dia seketika menjadi pusat perhatian. Beberapa perempuan bahkan berbisik-bisik sambil mengarahkan pandangan kepadanya.
Raiden sendiri tidak merasa keberatan jika diperhatikan seperti itu. Kepercayaan dirinya sangatlah tinggi. Raiden percaya bahwa orang-orang melihatnya karena dia sangatlah mempesona, sosok yang tidak bisa diabaikan.
"Kau baru sampai?"
Raiden tersentak dan segera menengadah ketika mendengar sebuah seruan dari atas. Dia melihat Hide berdiri dengan Darion di sisinya.
Bangunan ini memiliki tiga lantai dan Hide bicara padanya dari lantai dua. Sosok pemuda berambut pirang itu sepertinya mempunyai sifat yang sulit ditebak. Sekarang ini, cara bicaranya begitu dingin dan ketus.
Raiden mengembuskan napas, "Yaah... Aku terjebak hujan, karena itulah baru sampai sekarang. Ehm, kau tahu di mana kamarku? Aku harus mengganti pakaian."
Hide mendengus dan memberi isyarat dengan tatapan matanya agar Raiden naik ke atas. Tingkahnya benar-benar seperti tuan muda yang angkuh.
Raiden mulai berjalan menyusul Hide. Dia menaiki satu persatu anak tangga dan saat sampai di lantai dua----dirinya pun menghampiri pemuda berambut pirang itu.
Hide membawanya ke sebuah kamar yang jaraknya jauh dan agak terpencil. Kamar itu pun memiliki pintu yang lebih tua, berwarna kulit kayu dengan suara derik yang cukup menganggu.
Raiden berkedip saat Hide membuka pintu itu dan dia sendiri melihat ke dalam kamarnya. Dia pun berujar, "Kau pasti bercanda, kan?"
Hide, "Apa maksudmu?"
Tidak ada raut wajah candaan yang nampak pada pemuda berambut pirang ini. Hal tersebut membuat Raiden bahkan sulit menelan ludah.
"Pirang, aku tahu kau tidak suka padaku. Tapi bukankah ini kelewatan? Kenapa aku harus diberikan kamar yang bahkan... Ehm... Ini bahkan lebih mirip gudang tua. Katakan bahwa kau hanya mengerjaiku,"
"Sayang sekali, ini memang kamarmu. Jika kau mau itu terlihat bagus, maka rapikan sendiri. Lagipula di tempat ini kau bukan pemain yang berkontribusi. Jika kau mau kamar yang lebih bagus, maka harusnya kau tahu----apa yang perlu dilakukan."
Raiden tidak bisa lagi berkata-kata saat Hide pergi meninggalkannya begitu saja. Darion yang harusnya dia menangkan bahkan menyusul pemuda pirang itu seperti seorang pengawal pribadi. Dirinya pun kembali menoleh pada masalah inti yang tiba-tiba ini.
Raiden mengedarkan pandangan dan melihat bagaimana tempat ini penuh dengan rongsokan dan debu. Bahkan lemari yang ada pun benar-benar tua. Dia mengulurkan tangan pada sebuah cermin dinding dan mendapati betapa tebalnya debu di tempat ini.
"Lima atau sepuluh tahun, bahkan mungkin lebih dari itu. Tempat ini seperti tidak pernah dibersihkan sama sekali." Raiden tidak bisa lagi menahan diri dan bersin, dia segera melangkah keluar kamar."
"Astaga..." Raiden mengusap-usap hidungnya, "Elvort Garden bukankah game yang baru berusia 5 Tahun? Tapi kenapa rasanya kamar ini sudah tidak dibersihkan selama berpuluh-puluh tahun. Tidak mungkin... Jangan bilang bahwa usia debu di kamarku sama dengan gaya bangunan kuno nan klasik tempat ini."
Raiden mencoba untuk tenang. Dia tidak mau memikirkan hal yang baginya amat mengerikan itu. Dirinya melihat sekeliling dan yakin bahwa teman ini memang yang paling sudut serta tersembunyi dibanding kamar para pemain yang lain.
"Haiih... Si Pirang itu benar-benar memberiku perlakuan yang sangat istimewa." Raiden mengembuskan napas. Dia tidak punya pilihan lagi. Dia harus menerimanya.
"Baiklah, mari berbenah terlebih dahulu."
*
*
*
Hide yang saat ini berjalan dengan diikuti Darion nampak sangat puas di wajahnya. Dia sudah membuat Raiden tidak bisa memprotes apa pun tindakannya.
"Pagi, Senior..." mereka membungkuk dan agak gugup, namun juga senang melihat Hide yang memancarkan aura cerah di wajahnya.
"Pagi," Hide memberikan balasan. Hari ini suasana hatinya benar-benar baik. Entah mengapa dia selalu kesal ketika melihat Raiden, tetapi saat mengerjai pemuda itu rasanya lumayan menghibur.
Kamar yang dia berikan sebenarnya adalah gudang sungguhan. Memang terdapat tempat tidur kayu di ruangan itu dan beberapa perabotan seperti set kursi, lemari, bak mandi serta sekat kayu. Tapi jujur, tempat itu gudang sungguhan dan Raiden ternyata percaya itu benar-benar kamar.
Senyuman Hide makin mengembang. Dia bisa membayangkan betapa repotnya pemuda itu membersihkan tempat yang sebenarnya tidak layak huni.
"Aku merasa agak jahat padanya..." meski berkata demikian. Tapi senyuman Hide tidak pernah memudar. "Yaah sudahlah, mari anggap ini sebagai pelajaran untuk anggota baru,"
Darion di belakang Hide terus berjalan mengikuti 'Tuannya'. Di sisi lain, Yuna yang merupakan anggota baru Guild Singa Emas telah memasuki kelas pertamanya. Dia berada di sebuah halaman luas bersama para anggota Guild yang lain. Kelas yang diikutinya berfokus pada teknik gerak tubuh.
Ada sekitar 12 orang pemain beserta dengan Yuna yang mengikuti kelas Tuan Kanae, sosok pria tinggi dengan tubuh yang lumayan berotot. Dia setidaknya berusia 44 Tahun dan merupakan salah satu guru terbaik di Cabang Guild Singa Emas.
"... Untuk pelajaran hari ini. Kalian akan berlatih dengan penembak jitu, Mururu." Tuan Kanae menyentuh bahu kanan sebuah patung kayu berbentuk beruang dengan topi dan bersyal-kuning.
Beruang itu terlihat setinggi manusia biasa, memiliki bentuk tubuh dan wajah menggemaskan, apalagi dengan mata berwarna kuning keemasan. Dia adalah beruang dengan pistol kayu pada kedua tangannya.
"Mururu? Nama yang lucu~"
"Dia menggemaskan~"
Yuna mendengar dua orang gadis berbicara di sampingnya. Satu dari mereka mempunyai rambut panjang dengan seragam kuning putih yang mirip dengannya, seorang lagi mempunyai rambut sepanjang leher.
Beberapa pemain jelas menyepelekan patung kayu berbentuk beruang itu. Mereka tidak yakin Mururu dapat menjadi teman latihan mereka kali ini. Sementara pemain lainnya hanya mendengarkan penjelasan Tuan Kanae dengan serius.
"Patung Mururu ini akan kuletakkan dalam jarak 15 meter dari garis start yang sudah kuberi tanda sebelumnya. Tugas kalian adalah menghindari setiap tembakan Mururu sambil berusaha untuk menyentuh topinya. Target penyelesaian tugas ini adalah topi Mururu. Penilaianku berhubungan dengan kelincahan serta waktu yang kalian butuhkan untuk menyelesaikannya."
Para pemain beserta Yuna mengangguk mengerti. Namun masih ada di antara mereka yang berkata bahwa ini adalah latihan paling mudah dan menggelikan, sayangnya perspektif itu seketika langsung terbantahkan saat Mururu mulai memperlihatkan ketangguhannya dalam menembak.
!!
Mata Yuna membulat saat pemain pertama yang seorang pria tertembak di dadanya dalam waktu singkat. Padahal pemain itu baru mengambil langkah kedua dari garis permulaan.
Mururu si patung kayu berbentuk beruang itu hanya berdiri. Tangan kanannya akan otomatis bergerak saat pemain mulai melangkah. Sementara untuk tangan kirinya baru akan bergerak ketika lawan berada di jarak 7 meter darinya.
Tuan Kanae memperhatikan bagaimana para pemain satu persatu gagal dalam pelatihan ini. Dia menggelengkan kepala pelan sebab merasa para pemain itu sulit mendekati Mururu.
"Sejauh ini mereka hanya bisa bertahan sebanyak lima gerakan dan setelahnya tertembak oleh Mururu." Tuan Kanae mengembuskan napas, "Sungguh sangat disayangkan,"
Yuna terlihat fokus memperhatikan langkah pemain di hadapannya. Orang yang baru saja gagal di gerakan kelima terkena tembakan di dahinya hingga terjatuh dan sampai tidak sadarkan diri.
Seorang pemain perempuan pun maju dengan memanfaatkan pengetahuan yang dia dapat dari hasil mengamati. Namun sama seperti sebelumnya, dia tidak bisa melangkah lebih jauh setelah tiba digerakan kelima. Perempuan itu terkena tembakan di dahinya dan juga langsung ambruk tak sadarkan diri.
"Benar-benar sulir..." Seorang pemain lain berujar, suaranya terdengar gugup.
"Patung kayu itu sangat kuat. Gerakan tangannya terkesan lambat, tetapi hanya sekedipan mata dan seseorang langsung tertembak. Jika ini berhadapan dengan musuh sungguhan, maka mereka pasti sudah mati."
"Aku tidak bisa menemukan celah pada patung Mururu itu, dia beruang kayu yang kuat."
Yuna sendiri menghela napas dan sebisa mungkin menenangkan diri. Pemain yang kini berdiri di garis permulaan adalah pria dengan rambut agak gimbal. Pemain itu mulai berlari dan tangan kanan Mururu sudah menembakkan satu peluru.
!!
Tembakan pertama Mururu berhasil dihindari oleh pemain tersebut. Begitu juga dengan tembakan Mururu yang ketiga. Kelincahan gerakan pemain itu mengejutkan sekaligus membuat kagum mereka yang melihatnya. Bahkan dia bisa menarik perhatian Tuan Kanae.
"Setidaknya sekarang ada orang yang memiliki sedikit kemampuan," Tuan Kanae memberikan pujiannya.
Pria berambut gimbal itu mempunyai gerakan yang lincah. Dari lima tembakan Mururu bahkan belum ada satu pun yang mengenainya. Hanya saja ketika pria itu mencoba berputar di udara----tembakan Mururu tepat mengenai dadanya.
!!
Semua orang terkejut, termasuk Yuna. Tapi mereka kagum karena sejauh ini hanya pria itu yang berhasil lebih dekat dengan patung kau Mururu. Dialah satu-satunya pemain yang unggul dalam permainan ini dan setidaknya itu berlaku untuk sekarang.
Yuna berusaha menelan ludah ketika tiba gilirannya. Dia pun berjalan dan berhenti tepat di garis permulaan. Yuna menarik napas dalam-dalam dan bersiap untuk maju.
Dia sebelumnya telah mempelajari bagaimana cara menghindari tembakan Mururu dari pemain yang tadi. Namun tetap saja sangat sulit bila berhadapan langsung dengan patung kayu itu.
***