
Anggota dari Guild Raja Sungai Biru telah berada dalam ruangan yang merupakan bagian inti Dungeon. Tempat itu luas dan terdapat dua batu roh berisi phoenix yang melayang di udara. Di bawah batu roh itu terdapat kolam lahar panas yang akan sesekali menyembur ke atas.
Bukan hal yang mudah untuk sampai ke tempat ini. Anggota Guild Raja Sungai Biru juga harus menghadapi tiap jebakan dungeon, termasuk melawan berbagai makhluk yang merepotkan. Bahkan saat ini, mereka terlihat bertarung sengit dengan sosok berzirah hitam.
!!
Dua orang anggota Guild Raja Sungai Biru hampir tewas andai tidak dilindungi oleh rekan mereka. Segera keduanya merogoh pakaian mereka untuk mengambil potion dan bergegas meminumnya.
Seseorang meludahkan darah, wajahnya terlihat buruk. "Dari sekian banyaknya makhluk di dungeon ini, kenapa dia yang kita temui? Benar-benar nasib buruk,"
"Tidak hanya gerakannya yang lincah, tapi kekuatannya juga bukan main-main. Aku yakin sudah menyerangnya dengan penuh tenaga, tetapi dia tidak terlihat seperti mengalami luka. Zirah itu memiliki ketahanan yang kuat dan melindunginya,"
"Tidak mungkin..." salah seorang anggota Guild Raja Sungai Biru telah menyadari sesuatu. Dia bukan merespon temannya, tetapi ini terkait dengan pikirannya saat ini. "... Makhluk itu, dia tidak punya tubuh."
!!
Anggota Guild Raja Sungai Biru yang lain terkejut. Pandangan mereka spontan menoleh ke arah sosok berzirah hitam itu dan memperhatikannya dengan cermat. Tidak ada satu pun di antara mereka yang dapat melihat mata dari sosok itu karena mulai dari kepala, wajah, hingga kaki----semuanya tertutupi baju besi.
"Apa jangan-jangan itu item langka?"
"Aku rasa juga begitu."
"Mungkinkah dia... Darion!"
Sosok berzirah hitam itu segera melesat ketika mendengar salah satu lawannya berseru. Pertarungan sengit berikutnya kembali sulit dihindari. Dia memang adalah Darion, zirah tanpa tubuh yang artinya---tidak ada orang di balik pakaian besi tersebut.
"Kita harus bisa mendapatkannya!"
"Benar! Ayo serang dia!"
*
*
*
"Serius?! Kenapa Rai bisa secepat itu?!" Hide sudah merasakan sesak dan sakit di dadanya karena terus berlari.
"Pertama kali dalam hidup aku harus berlari seperti ini. Di tempatku, semua oranglah yang berlari mengejar-ngejar sambil memujiku. Tapi di sini...! Tsk,"
Lilulu mendengar Hide dan menegurnya, "Berhentilah merutuk. Memang kau tidak pernah ikut pelajaran olah raga?"
"Tentu saja. Tidak ada guru yang berani menyuruhku berlari, asal kau tahu itu!"
"Hmph, dasar anak manja. Kalau kau tidak mau diperintah guru, sebaiknya jangan sekolah! Menambah beban saja."
Hide tersentak, dia sampai tidak dapat berkata-kata. "Ya ampun, kenapa jadi membahas masalah aku dan sekolahku? Lagipula aku telah menyelesaikan semua pendidikanku sejak dulu. Saat ini, tujuan yang harus kucapai adalah pergi ke wilayah tengah, mengalahkan Sang Naga dan pulang untuk mencegah saudaraku mewarisi perusahaan ayah!"
Lilulu mendengarnya, tapi tidak memberi respon pada Hide. Dia bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda berambut pirang ini tidak memainkan Game Elvort Garden secara sukarela. Kemungkinan besar Hide telah dijebak hingga berada di tempat ini.
"Jadi game ini bisa digunakan untuk tujuan itu...?" Lilulu berlari sambil tetap mempertahankan pernapasannya agar tidak goyah, "... Tidak hanya berguna sebagai Dump bagi para sampah, tempat ini juga berguna menyingkirkan lawan politik. Harusnya aku menyadari ini sejak awal. Elvort Garden bukan Dunia Impian yang sempurna, tetapi penjara seumur hidup."
Lilulu tetap memandang ke depan, dia mulai melihat sosok Raiden yang baru saja membelah dua tubuh monster besar yang menghalangi jalannya. Meski jauh, namun dia yakin pemuda bermata merah itu sedang tersenyum saat ini.
"Hanya orang-orang seperti Rai yang akan menyebut game ini sebagai Dunia Impian. Dia sejak awal menyukai tempat ini. Tempat yang membuatnya bebas melakukan apa pun,"
Di waktu yang bersamaan saat Lilulu memikirkan itu----sebuah lengkungan senyum terlihat di wajah tampan Raiden. Pemuda bermata merah itu memang terlihat menikmati pertarungannya.
Dia tidak menarik pedangnya, Yiling. Namun serangannya dengan memakai sebuah belati tetap mematikan. Monster yang menjadi lawan Raiden bahkan tewas sebelum sempat mengeluarkan serangan terkuatnya.
Raiden berhenti tepat di depan sebuah gerbang yang terbuka lebar. Di tanah, dia melihat tiga mayat yang tubuhnya telah hangus terbakar. Dua di antara mereka memiliki bagian tubuh yang terpisah.
"......"
Tiga mayat yang dilihatnya merupakan NPC. Hanya NPC-lah yang tidak akan menjadi butiran cahaya ketika tewas. Raiden mendengar suara pertarungan dan perasaannya yang kurang nyaman membuat keningnya mengerut.
!!
Sesuatu melesat ke arah Raiden yang dengan segera dia hindari. Dia pun tersentak ketika tahu bahwa yang melesat dan menghantam dinding dengan keras itu adalah manusia.
"Topeng itu..." Raiden melihat penampilan sosok tersbut yang memakai jubah hitam dan sebuah topeng tengu. Dia teringat pada orang-orang aneh yang menyerang Yuna di penginapan waktu itu.
"Rai...!" Hide berseru, dia pun kini dapat mengambil napas lega. "Akhirnya terkejar juga... Hah... Sialan. Kau ini benar-benar menyebalkan. Haah... Aku lelah sekali,"
Hide mulai mengatur napasnya. Pemuda berambut pirang itu seperti belum sadar dengan sosok asing yang terbaring di tanah. Lilulu sendiri menyadarinya, tetapi dia menganggap orang tersebut sama seperti pemain biasa dari Guild lain.
"Aku mendengar suara pertarungan..." Hide mengusap keringat di dahinya dan pandangannya mulai mengarah pada gerbang di dekatnya, "Apa yang terjadi di dalam sana?"
"Jangan masuk," Raiden mencegah Hide. "Sebaiknya kita ke tempat lain saja, ayo cari Yuna, Karin dan yang lainnya."
Lilulu, "Rai. Kau ini apa-apaan, tujuan kita adalah bagian inti dungeon. Jadi tunggu apa lagi, ayo masuk."
Hide pun setuju dengan gadis mungil itu, dia mengambil kesempatan ini untuk meledek Raiden, "Apa sekarang kau takut, huh?"
"Kalian berdua, dengarkan aku--" Raiden tidak bisa mencegah kedua temannya. Hide dan Lilulu sudah masuk ke dalam ruangan yang suara pertarungannya masih begitu jelas terdengar.
Aaakh..!!
Hide dan Lilulu langsung disambut pemandangan di mana tubuh seorang pemuda bertopeng tengu diangkat oleh sosok berzirah hitam dan dihantamkan ke tanah secara kasar.
Suara tulang retak dan bagai diremukkan terdengar seperti ledakan di telinga Hide. Apalagi dia menyaksikan bagaimana kepala pemuda bertopeng tengu itu hancur karena benturan yang begitu keras. Manusia sehebat apa pun, pasti akan langsung tewas tak bernyawa bila mengalami hal semengerikan itu.
"Sialan! Dia tidak bisa dikalahkan!"
Umpatan salah satu anggota Guild Raja Sungai Biru terdengar. Dia dan teman-temannya berada dalam kondisi yang mengalami beberapa luka. Darion yang menjadi lawan mereka terlalu sulit dihadapi.
Seorang temannya mendekat, dia sadar dengan kehadiran dua orang asing yang ikut masuk ke dalam ruangan. Suaranya setengah berbisik ketika berujar, "Kita hanya perlu mengambil batu roh itu dan segera pergi dari sini."
"Mn, kau benar." anggota yang lain juga tersadar, dia dan teman-temannya saling mengangguk pelan. Mereka berencana menggunakan dua orang asing itu untuk mengalihkan perhatian Darion.
Segera para anggota Guild Raja Sungai Biru menyerang sosok berzirah hitam di hadapan mereka. Hide dan Lilulu yang menyaksikannya tersentak, namun masih berusaha mengerti situasi di tempat ini.
!!
Orang-orang bertopeng menggunakan cara melompat mundur setelah memberi serangan. Masalahnya mereka menapak tepat di depan Hide dan Lilulu sehingga saat mereka menghindar----Darion seketika menyerang kedua orang itu karena menganggap Hide dan Lilulu juga komplotan mereka.
Hide menangkis serangan Darion yang mengarah padanya, namun tenaga lawan terlalu kuat hingga dia harus terpental. Beruntung dia masih dapat mengontrol posisi kakinya hingga tubuhnya tidak sampai menghantam tanah.
Lilulu dengan pedang kembarnya mulai melesatkan serangan pada Darion. Kaki mungilnya begitu lincah bergerak walau tidak butuh waktu lama sampai terlihat bahwa dirinya mulai kewalahan.
Hide berseru, "Keterlaluan! Kalian memanfaatkan kami...!"
"Ha ha ha, siapa suruh kalian datang ke tempat ini." seorang di antara anggota Guild Raja Sungai Biru mengisyaratkan sesuatu pada rekannya. Dua dari mereka lalu melesat dan berhasil mendapatkan dua batu roh yang menjadi item utama tempat ini.
!
Darion seakan dapat merasakan pusaka yang dia jaga telah direbut oleh orang lain. Warna pada zirahnya pun mulai berubah merah, ini membuktikan bahwa dia semakin marah.
Lilulu terkena serangan Darion yang membuat dirinya harus terpental. Untunglah dengan cepat Hide menangkapnya hingga tubuhnya tidak sampai menghantam dinding.
Di sisi lain, Darion melesat ke arah pintu dan mulai berdiri di sana. Dia seperti tidak berniat membiarkan siapa pun meninggalkan ruangan tersebut.
Raiden yang berada di luar ruangan nampak menjaga jarak dari sosok berzirah merah itu. Tidak ada hasrat bertarung di dalam dirinya, karena itulah Darion seakan tidak peduli dengan keberadaannya.
"Dia menghadang di pintu masuk!"
Raiden mendengar sebuah seruan yang jelas bukan berasal dari Hide maupun Lilulu. Dia kembali mendengar seruan lain yang menyerukan tentang srategi untuk bisa lolos dari Darion dan pergi dari tempat ini.
"Ayo buat formasi...!"
Para anggota Guild Raja Sungai Biru bergerak, mereka menyebar dan lalu bergiliran menyerang Darion. Saat makhluk itu menargetkan salah satu di antara mereka----segera anggota guild itu mengalihkannya pada Hide dan Lilulu.
Kedua rekan Raiden itu juga berada di dalam sana. Mereka tidak memiliki tempat bersembunyi dan jumlah lawan lebih banyak dari mereka. Apalagi, Hide mempunyai rambut pirang yang lebih menarik perhatian bila dibandingkan dengan para anggota Guild Raja Sungai Biru.
Darion memang tidak memiliki tubuh asli. Dia sebatas baju zirah yang bergerak dan tertarik pada cahaya. Kolam lahar yang sesekali menyembur ke atas itu adalah penerang tempat ini dan selalu menjadi penarik perhatian Darion. Namun dengan adanya Hide dan rambut pirangnya itu----dia akan lebih mencolok bila berdiri di sekitar kolam lahar.
Lilulu dan Hide belum mengetahui hal ini hingga keduanya kembali dijadikan target kambing-hitam oleh anggota Guild Raja Sungai Biru. Satu-satunya cara untuk bisa lolos tentu saja dengan mengalahkan Darion atau mati. Namun bila cara yang pertama dipakai, orang-orang dengan topeng tengu itu akan langsung pergi menyelamatkan diri. Sementara untuk cara yang kedua----jelas sekali Hide dan Lilulu tidak akan mau melakukannya.
"Benar-benar licik...!" Hide menggeram, dia dan Lilulu dipaksa bertarung dengan Darion karena kelompok kurang ajar itu.
"Ha ha ha, jaga nyawa kalian baik-baik." salah seorang anggota Guild Raja Sungai Biru menyeringai di balik topengnya. Dia pun mengisyaratkan teman-temannya untuk melesat keluar.
"Keberuntungan kalian sangat buruk karena bertemu kami,"
"Satu orang memiliki warna rambut yang mencolok, sementara si kecil yang satu lagi memakai jubah dengan warna yang juga mencolok. Bagus sekali, ha ha ha."
"Hmph, sekarang aku mengerti kenapa penjahat selalu memakai pakaian hitam. Kita ini benar-benar hebat,"
Para anggota Guild Raja Sungai Biru saling beradu kepalan tangan dengan pelan saat melesat pergi. Mereka tidak menyadari keberadaan Raiden karena pemuda itu bersandar di dinding dan mereka sendiri fokus menyelamatkan diri.
Pakaian Raiden sejak awal berwarna cokelat-kehitaman. Keberadaannya sendiri juga kadang sering tidak disadari orang lain. Dia sosok yang dapat mencuri perhatian dalam tiap tindakannya dan juga sosok yang bisa membuat diri sendiri seperti tidak memiliki hawa keberadaan. Dapat dikatakan, jika tidak dalam kondisi bertarung----Raiden akan terlihat biasa-biasa saja.
"......"
Pertarungan Lilulu dan Hide yang harus melawan Darion masih terdengar di pendengaran Raiden. Tetapi pemuda itu sama sekali belum bergerak dan seakan tidak berniat membantu temannya. Dia hanya menatap lorong yang dilalui oleh anggota Guild Raja Sungai Biru yang kini sudah tidak terlihat lagi.
"......"
Tatapan Raiden lantas mengarah pada seorang anggota guild itu yang kini mulai bergerak. Sosok yang awalnya menubruk dinding saat Raiden tiba pertama kali di tempat ini. Dia jadi merasa bahwa sosok bertopeng tengu itu telah dianggap mati oleh rekan-rekannya.
Raiden pun mulai berjalan mendekati pria bertopeng itu dan membantunya berdiri, "Kau baik-baik saja...?"
Tangan kiri pria bertopeng itu menekan dadanya. Dia jelas sedang mengalami luka dalam. Kondisi tubuhnya parah dan kepalanya pun masih sangat pusing.
"Ayo, kau sebaiknya duduk. Jangan memaksakan diri, istirahatlah..." Raiden berujar penuh perhatian. Dia mengambil potion dari sakunya setelah membantu pria bertopeng tengu itu untuk duduk. Potion yang dia miliki merupakan pemberian dari Lilulu.
"Minumlah..."
"......"
Pria bertopeng tengu itu mengambilnya tanpa ragu. Dia hanya menggeser pelan topengnya dan meminum potion yang diberikan Raiden padanya. Kepalanya sakit hingga dia tidak memikirkan apa pun selain keselamatan nyawanya.
Raiden sendiri memang suka bertarung dan tanpa ragu menghabisi nyawa orang lain. Namun bukan berarti dia memiliki sifat yang kejam. Orang-orang bertopeng tengu pada dasarnya tidak mempunyai permusuhan dengannya, karena itulah dia masih berbaik hati melakukan bantuan semacam ini.
"......"
Efek potion pemberian Raiden benar-benar hebat. Hanya dalam waktu singkat, napas pria bertopeng tengu itu mulai teratur. Seluruh rasa sakit di tubuhnya secara berangsur-angsur menghilang. Kondisinya pun membaik.
Raiden kembali berujar, "Entah ini membantumu atau tidak. Tapi aku melihat teman-temanmu pergi ke arah sana. Kau harus berhati-hati, Dungeon ini penuh dengan jebakan."
"Kenapa... Kenapa kau membantuku?"
Untuk pertama kalinya pria itu mengajak Raiden bicara. Ini membuat Raiden mengembuskan napas pelan, "Jika saja kau seorang NPC... Belatiku pasti sudah tertancap indah di lehermu. Tapi kau seorang pemain di Elvort Garden. Sesama pemain, aku tentu akan sangat baik."
Pria bertopeng itu memperhatikan Raiden dan lantas berdiri. Dia mendengus dan mulai melesat pergi tanpa mengatakan terima kasih atau apa pun.
Kejadian itu membuat Raiden tersentak. Dia pun berkedip beberapa kali, "Apa aku salah bicara? Haah... Sudahlah. Elvort Garden memang diperuntukkan bagi orang yang jahat. Pemuda tampan dan sempurna sepertiku ini hanya perlu melakukan banyak kebaikan."
"Rai...!!"
"Raiden...!!"
!?
Raiden mendengar suara seruan dari dalam ruangan dan lalu mendengus, "Jadi mereka sudah mengingatku? Hah,"
Raiden menggeleng pelan dan mulai menyelimuti Vit pada belati miliknya. "Mereka benar-benar... Padahal sudah kuperingatkan agar tidak masuk, tetapi malah tidak mendengarku. Sekarang rasakan. Kalian jadi repot, kan. Aku juga yang harus turun tangan, tsk."
"RAI...!!"
"RAIDEN SIALAN...! KAU DI MANA?!"
"Iya, iya! Aku datang...!"
***