RAIDEN

RAIDEN
26 - Mina



"Jebakan.." Ogiwara bergumam ketika mendengar ucapan Yuna. Dia menatap anak perempuan berusia 10 Tahun itu dan memperhatikannya dengan seksama. Dia sebenarnya penasaran pada identitas anak tersebut.


Karin sendiri mengedarkan pandangan ke sekeliling, dia menyakinkan diri bahwa pemain yang ada di sekitarnya paling tidak berjumlah 25 orang termasuk Liyan. Jika ingin bekerja sama, mungkin mereka dapat mengalahkan anak perempuan itu. Tetapi hal semacam ini membutuhkan strategi yang matang.


"Siapa kau?!" seorang pemain berseru dengan wajah kesal sambil menunjuk ke arah anak perempuan yang tidak lain bernama Mina. Nada suaranya terdengar kasar ketika membentak, apalagi dia langsung menarik pedang dan segera melesat menerjang Mina.


!!


Beberapa pemain terkejut dan berusaha menghentikan tindakannya yang terburu-buru. Sayang semuanya terlambat, saat senjata pemain itu hampir menyentuh rambut Mina---dirinya seketika tertusuk oleh enam bayangan hitam yang berasal dari atas.


Kedua tangan, paha, jantung termasuk lehernya tertusuk di tempat yang fatal hingga dalam hitungan detik---dia telah kehilangan nyawa begitu saja.


Pemain lain menyayangkan tindakan cerobohnya, mereka belum tahu dengan pasti seperti apa kekuatan lawan dan dia sudah lebih dulu mengantarkan nyawa.


Sedikit tetesan darah dari pemain yang tewas itu mengotori pipi kanan Mina beserta pakaiannya. Pemain tersebut pun perlahan berubah menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang.


"Sayang sekali..." Mina mengusap pelan kepala boneka beruang miliknya dan seulas senyum tipis terlihat dari wajah manisnya itu. ".. Kalian sepertinya sudah tidak sabar untuk bermain denganku,"


"Siapa kau dan sebenarnya apa yang kau inginkan?" seorang pemain wanita dengan gugup bertanya, dia cemas terhadap kepulan asap di atasnya yang bisa saja melesat dan melukai mereka semua, sama seperti yang terjadi pada pemuda barusan.


"Kenapa Kakak bertanya begitu?" suara Mina datar, "Bukankah harusnya aku yang bertanya demikian? Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan di tempatku?"


Udara mendadak dingin ketika nada suara Mina berubah. Tidak ada seorang pun yang menjawab dan ini membuat dia kembali tersenyum, "Baiklah. Biar aku yang katakan, kalian datang kemari untuk benda ini, bukan?"


Hide melihat cahaya berwarna hitam terbentuk di udara, memadat, sebelum berubah menjadi batu roh yang di dalamnya terdapat bayangan dua ekor phoenix. Itu adalah sejenis item langka yang benar-benar paling dicari oleh pemain Elvort Garden.


"Tidak hanya satu, itu bahkan dua phoenix sekaligus. Jika berhasil mendapatkan dan menaklukkannya, aku akan terlihat lebih keren daripada pemilik dari Singa Berbulu Emas ini,"


"Phoenix merupakan lawan dari Naga. Bila dugaanku benar, siapa pun yang mendapatkan Batu Roh itu bisa langsung pergi ke wilayah tengah Elvort Garden."


Ucapan dari seorang pemain berpakaian ungu muda itu mengejutkan semua orang. Wilayah tengah merupakan lokasi dari Pohon Ash, tempat ujian Tahta Gardien dan Big Bos game ini berada. Tujuan utama dari para pemain tentu adalah wilayah tengah.


"…"


Mina sejak tadi diam, tetapi terus memperhatikan rasa keserakahan yang muncul satu demi satu pada wajah-wajah pemain di hadapannya.


"Rasanya menyenangkan. Keserakahan akan membuat kewaspadaan mereka berada di titik terendah.." Mina memeluk erat bonekanya sambil mengarahkan pandangan ke atas.


Saat matanya berkedip pelan, asap hitam yang mengepul itu bergerak dan tiba-tiba membentuk puluhan bayangan runcing yang langsung melesat cepat ke arah para pemain.


Mina berpikir memanfaatkan kelengahan para pemain dapat membuat dirinya menang. Hanya saja semua itu tidak benar ketika serangan dadakannya diterjang oleh cahaya keperakan yang bagai kilat tersebut. Dia tidak menduga hal semacam ini bisa terjadi.


!!


"Kau menggunakan kelengahan mereka untuk menyerang dari belakang, sangat tidak tahu malu. Yang paling buruknya kau bahkan masih anak-anak dan sudah sepicik ini,"


Suara berat itu semakin membuat Hide jengkel. Siapa lagi yang akan bertindak mengejutkan bila bukan Raiden. Pemuda bermata merah tersebut memang suka memprovokasi lawan.


Raiden meludahkan darah sebelum menatap tajam pada Mina yang masih setia berdiri dengan wajah tenang. Dialah yang sudah menangkis lesatan dari kepulan asap yang hampir mengambil nyawa semua pemain di tempat ini.


"Mm.. Sepertinya pusaka paling berharga yang telah kujaga selama ini sama sekali tidak bisa menarik perhatian Kakak yang tampan, aku agak terkejut.."


Raiden mendengus, "Aku lebih tertarik padamu dibanding dua roh unggas itu. Bagaimana jika kau datang kemari?"


"Hei, apa kau gila?!" Hide tidak bisa lagi berdiam diri, "Kau mau menantangnya secara langsung?"


"Daripada membuat kalian terluka, ini lebih baik.." Raiden menjawab tanpa menoleh ke arah Hide, "Kau urus benda hitam di atas sana dan cari jalan keluar dari sini, sementara anak itu biarkan aku yang tangani."


"Berlagak menjadi pahlawan juga ada batasnya," Hide meledek. "Apa kau pikir bisa melawannya sendirian dengan kondisimu yang menyedihkan itu, huh?"


Pemuda pirang tersebut tahu. Dia bisa menyadarinya hanya dalam sekali pandang. Tangan kanan Raiden yang memegang belati nampak meneteskan darah segar. Belum lagi pucat pada wajah tersebut membuat segalanya menjadi jelas, pemuda bermata merah ini tidak berada dalam kondisi yang baik.


Beberapa pemain sendiri mulai melesatkan serangan pada Mina yang justru malah ditangkis dengan mudah. Serangan dari puluhan bayangan hitam berbentuk runcing kembali datang dan Raiden sekali lagi menyerangnya dengan memakai belati yang dialiri Vit.


Karin, Ogiwara, termasuk pemain lainnya juga seakan membantu Raiden. Mereka memfokuskan diri untuk menangkis serangan dari lesatan bayangan hitam tersebut. Lainnya kembali menyerang anak perempuan itu.


"Akan menyenangkan bila kalian semua dapat menjadi 'Kakak' yang baik.." suara Mina pelan sebelum akhirnya tatapan matanya seakan tertunduk. Perlahan boneka beruang yang selama ini dia peluk kini secara sengaja dijatuhkan di lantai.


Dalam waktu sepersekian detik, boneka yang nampak menggemaskan itu secara cepat berubah besar dan menjadi sosok yang terbungkus kulit serta daging.


Dia mempunyai tinggi yang tidak terbantahkan dengan tangan dan kaki besar, nyaris bisa menangkup kepala tangan seseorang hanya dalam sekali cengkeraman sebelum akhirnya diremas hingga meledak.


Raiden tidak banyak berpikir. Setelah menyerahkan bagian belakang pada Hide, maka sekarang adalah gilirannya untuk mengirim Mina pada gerbang kematian. Hanya saja sebelum itu benar-benar terjadi, dirinya harus menghadapi pelayan pribadi dari gadis itu.


Sosok di hadapannya sangat besar, tinggi dan berotot. Raiden bahkan tidak percaya boneka yang lucu dan menggemaskan seperti 'Beruang' tiba-tiba menjadi begitu ganas dan mengerikan.


Yun sendiri baru saja akan memanggil Raiden saat pemuda itu melesat ke arah monster raksasa yang menyedihkan tersebut. Dia dapat mendengar suara benturan dari dua senjata hebat yang menciptakan gemuruh petir.


Mina melihat kegigihan dari pemuda bermata merah tersebut. Raiden sendiri bermaksud tetap melawan monster besar ini sambil mencari cara mendekati Mina dan memberinya tebasan terakhir yang sempurna.


***