
Raiden mengatur napas, dia meminum potion kembali yang mana dengan itu luka di tangan kanannya perlahan sembuh.
Lantai di sekitarnya kotor akibat darah yang menetes di tangan Raiden. Pemuda bermata merah itu sudah berusaha keras memulihkan kondisi tangannya yang buruk karena dampak pedangnya, Yiling. Dia sudah menahan sakit terlalu lama.
Raiden beristirahat sejenak sebelum pergi untuk membersihkan tubuhnya. Dia tidur di dalam kamar tersebut dan baru bangun saat waktu menunjukkan pukul dua siang atau bisa dibilang saat Lilulu datang menggedor-gedor pintunya.
!!
Gadis mungil yang sebelumnya sudah berganti pakaian itu terlihat makin cantik. Hanya saja dibandingkan Raiden yang terpesona karenanya----justru Lilulu-lah yang terkejut melihat lantai kamar Raiden yang penuh bekas darah.
"Lulu...? Apa yang kau lakukan...? Tidak bisakah kau mengetuk pintu dengan pelan? Kau dapat mengganggu tamu yang lain dengan cara menggedor pintu sekeras itu," Raiden masih duduk di atas tempat tidurnya. Dia mengusap-usap matanya dan kemudian menguap.
"Bagaimana tanganmu?" Lilulu tidak menjawab pertanyaan Raiden. Dia memperhatikan lantai yang penuh bekas darah tersebut sambil berjalan ke tempat tidur temannya.
"Seperti yang kau lihat, tanganku sudah pulih. Kali ini aku bisa mengayunkan pedang lagi."
Lilulu mendengus, "Berhentilah bersikap kuat. Suatu hari nanti, kau dapat mati karena kecerobohanmu ini."
Raiden mengembuskan napas, dia baru akan bersuara ketika Lilulu duduk di sampingnya. Gadis mungil itu bahkan tanpa peringatan langsung meraih tangannya. Dia tersentak dan menatap Lilulu yang nampak sangat perhatian padanya.
"Apa masih sakit?" Lilulu tidak melihat ada bekas luka di tangan kanan Raide. Tetapi ingin memastikan pemuda ini benar-benar sudah baik seperti sedia kala.
"Sudah tidak sakit lagi,"
"Rai... Apa kau bisa... Untuk tidak menggunakan pedangmu lagi? Yiling terlalu berbahaya. Kau memperlihatkan bilahnya tidak sampai 6 cm dan lihatlah! Dampaknya pada dirimu."
"......"
Raiden mengembuskan napas, dia pun mengusap pelan kepala Lilulu dan lalu berbicara. "Aku tidak bisa melakukannya. Yiling sudah menemaniku sejauh ini dan jika tidak digunakan, bukankah itu sia-sia? Untuk apa membawa senjata yang tidak dapat digunakan? Lagipula, selain aku... Tidak ada seorang pun yang berhak memiliki Yiling."
"Tapi tanganmu..."
"Aku benar-benar sudah membaik, terima kasih atas potion-nya." Raiden tersenyum lembut, dia membuat Lilulu menengadah dan menatapnya dalam.
Raiden berkedip, "Ada apa? Kenapa menatapku begitu...?"
"Aku akan mengikuti pertandingan antar pemain di dalam Guild-ku. Kudengar siapa pun yang berhasil menduduki sepuluh besar akan dibawa langsung ke wilayah tengah----bahkan meski tanpa mengumpulkan token."
"Benarkah?" Raiden tidak menyangka akan mendengar ini, "Tapi bukannya pemain tidak bisa mengikuti ujian di wilayah tengah jika tidak mengumpulkan 50 token dari lima puluh kebun berbeda-beda? Kenapa aturannya berubah?"
"Hadiah hingga peringkat sepuluh besar adalah token itu. Jadi para pemain tidak harus repot menjelajah tiap-tiap kebun. Mereka hanya perlu bertarung dengan sungguh-sungguh sampai mencapai peringkat sepuluh besar."
"Lulu...! Kau memberiku kabar yang bagus. Jika Guild-mu mempunyai pertandingan seperti itu, maka Guild Singa Emas juga memilikinya. Aku juga akan ikut,"
Lilulu tahu bahwa saat menyangkut pertarungan----pemuda bermata merah ini akan sangat bersemangat. Tapi meski kemampuan Raiden tidak diragukan lagi, Lilulu masih mengkhawatirkannya.
"Aku tidak bisa melarangmu dan Yun juga ingin kau ikut serta dalam pertandingan ini. Tapi Rai... Pengendalianmu terhadap Yiling jauh dari kata sempurna. Tidak dapat diragukan bila nantinya kau akan memakai pedangmu lagi,"
"Kau sangat baik. Aku yakin selama ada kau----aku pasti akan baik-baik saja."
!!
Lilulu tertegun. Dia sebenarnya terkejut dengan ucapan Raiden, apalagi pemuda di sampingnya ini mengatakannya secara spontan dan tanpa berpikir lebih dahulu. Rasanya seperti dia mendengar sebuah pengakuan.
"Lulu?" Raiden mengerutkan kening saat gadis mungil di sampingnya terdiam. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Lilulu dan temannya ini sama sekali tidak berkedip. "Lulu...?"
Raiden kebingungan, apalagi kedua pipi gadis ini makin menggelembung dan terlihat memerah. "Hei... Kawan? Apa kau sakit? Ada apa? Kau kenapa? Lilulu...!"
"Aku akan ke bawah." Lilulu tersadar dan tiba-tiba saja bangun. Dia berjalan tanpa menoleh ke arah Raiden hingga pemuda itu merasa keheranan karenanya.
Saat berada di ambang pintu, Lilulu berhenti melangkah dan berbicara kembali. "Rai... Untuk hutang potionmu, kau tidak perlu membayar."
Raiden terdiam beberapa saat dan baru terkejut saat Lilulu sudah menutup pintu kamarnya kembali. Gadis mungil itu sudah pergi dan meninggalkannya sendirian. Dia pun berkedip beberapa kali saat yakin bahwa yang dirinya dengar barusan bukanlah mimpi.
"Waah... Tidak biasanya dia sebaik ini. Apa kepala Lulu pernah terbentur sesuatu? Dia benar-benar Lulu, kan?" Raiden sampai menepuk-nepuk wajahnya saking tidak percayanya. Dia pun bangun dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk turun.
Siang hari, Penginapan Anggrek Bulan tetap sangat ramai. Namun dari yang terlihat, para pemain yang datang bersama Liyan dan Hide sudah pulang ke Guild mereka masing-masing. Yun juga berniat pergi, tapi dia masih menunggu Raiden turun.
Cukup lama dirinya menunggu bahkan Yun hampir mati karena bosan. Dia berada di luar penginapan dan telah menguap beberapa kali hanya demi menunggu Raiden datang.
Hide berada di hadapannya dan pemuda berambut pirang itu seperti membahas sesuatu dengan Ogiwara dan Karin. Dua rekannya, yakni Mei dan Shoyo nampak mengusap-usap tubuh Liyan serta sangat perhatian pada sosok Darion itu.
Yun baru saja akan memperbaiki posisi duduknya di atas Drift milik Raiden saat pemuda bermata merah itu berjalan keluar dari penginapan. Dia melihat Raiden berjalan ke arahnya.
"Yun? Bagaimana Drift-ku bisa ada di sini? Seingatku, drift ini kutinggalkan di sekitaran dungeon itu." sejak melangkah keluar penginapan----perhatian Raiden sudah lebih dahulu dicuri oleh Drift yang diduduki oleh Yun. Dia pun tidak sabar bertanya kepada temannya tersebut.
Yun menjawab, "Darion milik si Pirang yang membawa drift-mu kemari. Aku sendiri bahkan tidak tahu kau memakai drift ke dungeon itu." Yun pun menghela napas dan kembali bersuara, "Kenapa kau lama sekali? Aku benar-benar bosan menunggumu di sini,"
"Aku tidur, membersihkan diri dan tadi juga sempat makan. Memangnya ada masalah apa hinggga kau menungguku?"
"Hmm... Pantas saja kau lama," Yun menggumam. Dia pun melanjutkan, "Bukan sesuatu yang terlalu penting. Kupikir Lilulu mungkin saja sudah memberitahukannya padamu,"
"Ah, tentang pertandingan dalam masing-masing Guild itu...?" Raiden hendak meyakinkan.
"Mn. Sepertinya Lilulu sudah memberi tahumu. Aku memang ingin menanyakan tentang hal itu, dan juga... Aku ingin bertanya apa ada hubungan khusus antara kau dengan gadis yang bernama Yuna?"
Raiden tersentak karena Yun terlihat serius. Dia pun mengerutkan kening, "Tidak... Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Yun merogoh sesuatu dari balik pakaiannya. Itu sebuah kertas yang terlipat-lipat dan dia mulai memberikan benda tersebut kepada Raiden sambil bersuara pelan, "Aku menemukannya dalam perjalanan kemari. Kupikir gadis itu adalah buronan dan kurasa nyawanya sangat terancam,"
Raiden memperhatikan kertas yang memiliki lukisan wajah Yuna di dalamnya. Dia memperhatikannya dengan seksama dan mulai berkomentar tentang gambar tersebut. "Aku sebenarnya tidak yakin... Gadis di lukisan ini terlalu feminim. Tidak seperti Yuna yang kuketahui,"
Yun, "Itu putri dari kerajaan Wisteria di kebun nomor 21. Aku sudah mencari tahu sebelumnya dan yakin bahwa gadis yang kau kenal itu sama dengan lukisan yang ada di tanganmu. Dia buronan dan kepalanya dihargai sangat mahal,"
"Yun, dari mana kau mendapatkan kertas ini?" Raiden baru ingat bahwa beberapa hari yang lalu----dia sempat bertemu dengan pemain bernama Ziyan dan pria itu juga membahas mengenai Yuna yang adalah putri Kerajaan Wisteria.
"Sudah kubilang aku menemukannya dalam perjalanan kemari. Sepertinya itu sengaja disebarkan meski kuyakin orang-orang di penginapan ini belum tahu hal tersebut. Hanya saja, tinggal menunggu waktu sampai semua orang tahu. Karena itulah aku bertanya, apa kau memiliki hubungan dengannya?"
Raiden menggeleng, "Tidak sama sekali. Kami hanya bertemu secara tidak sengaja. Dia memang diincar oleh beberapa pria bertopeng tengu, tapi aku tidak tahu apa alasan mereka menargetkan gadis itu."
"Pasti ada alasannya. Tidak mungkin mereka mengincar Yuna tanpa alasan dan ini bukan sesuatu yang sederhana," Yun menggumam pelan, "Rai... Kau sendiri juga menjadi incaran beberapa pemain. Jika kau dekat dengan gadis itu----kalian berdua akan berada dalam bahaya yang besar."
"Apa Guild Armonia lagi...?"
Tebakan temannya benar. Yun pun merogoh kembali saku yang ada di balik pakaiannya dan mengambil sebuah kertas lalu memberikannya kepada Raiden. "Sebelum menjelajah dungeon, aku sudah menerima pesan dengan anak panah. Anggota Guild Armonia mengirim surat tantangan untukmu. Nanti malam, kau pergi menemui mereka atau mereka sendiri yang kemari dan mengambil nyawamu."
Raiden terkejut mendengarnya, Yun benar-benar kelewatan. "Kawan!! Hal sepenting ini dan kau baru memberi tahuku sekarang? Teman macam apa kau ini?! Ya ampun..."
"Aku tidak sempat mengatakannya saat berada di dungeon. Waktunya tidak tepat. Harusnya kau bersyukur karena aku kini sudah memberitahukannya padamu,"
"Yun..." Raiden merasa gemas namun dia berusaha agar tidak menerjang pemuda berpenampilan ala pesulap ini.
Anggota Guild Armonia sudah lama mengincarnya. Dia dan mereka sudah seperti musuh bebuyutan. Hanya saja entah kenapa selalu Yun-lah yang mendapat kiriman surat tantangan semacam ini. Meski demikian, Raiden tidak mempermasalahkan itu. Dia punya janji temu dengan mereka malam nanti.
"Yun, apa kau akan pulang ke Guild-mu? Tidak menginap di sini?"
"Yaah... Tapi kau tenang saja. Aku pasti akan datang nanti malam. Guild Armonia sangat licik, mereka bisa saja menaruh jebakan untukmu. Dan kau sendiri adalah orang yang paling mengkhawatirkan saat ditinggal bersama orang-orang semacam itu. Kau sebaiknya bersiap untuk nanti malam,"
"Mn. Aku juga harus menyelesaikan permusuhan lama ini. Kau berhati-hatilah di jalan," Raiden sebenarnya tidak ingin berurusan lagi dengan Guild tersebut, namun dia bukanlah orang yang suka lari dari sebuah tantangan.
Dirinya pun mengembuskan napas, "Sepertinya aku harus mengasah belati milikku. Ini bagus juga, kebetulan aku ingin melatih tangan kananku yang baru saja pulih."