
Wanita berambut merah yang menyerang Raiden bernama Karin, dia mempunyai mata biru dan bentuk tubuh yang bagus. Gerakan berpedangnya lincah, tajam, dan kuat. Jelas bahwa kemampuan itu didapatkan dari banyaknya pertarungan yang telah dia alami.
!!
Raiden belum bisa membalik keadaan. Jangankan memberi serangan balasan, bahkan lawan seakan tidak membiarkan dirinya mengambil napas.
"Kuat sekali..!" Raiden terdesak. Dia menangkis satu serangan dari wanita ini, namun serangan yang berikutnya justru datang lebih cepat dan kuat hingga membuatnya terdorong mundur.
"Seseorang yang sangat angkuh. Bahkan dengan tidak tahu malunya berani membuat para seniornya menunggu. Kau benar-benar meremehkan Guild Singa Emas. Matilah..!"
!!
Seruan itu tegas dan mengandung tenaga yang besar. Yuna terkejut melihat Raiden kembali terpental dan kemudian menghantam tanah dengan keras.
Dia segera menarik busurnya dari ruang hampa dan melesatkan tiga anak panah sekaligus ke arah wanita berambut merah itu. Hanya saja serangan kejutan darinya dapat disadari dengan mudah, begitu pun dengan anak panah itu yang seakan ditangkis dan diarahkan kembali kepadanya.
!!
Yuna spontan menghindar. Anak panah miliknya menciptakan ledakan ketika menyentuh tanah. Walau efeknya tidak berdampak besar, tetapi siapa pun yang terkena anak panah itu pasti tetap akan mengalami luka.
"Menyerang dari belakang bukanlah tindakan seorang petarung. Kau memalukan, Nona." suara Karin begitu dingin kepada Yuna, dia pun melesat ke arah gadis berambut ungu pudar itu dengan sebuah ayunan pedang yang kuat.
Yuna tersentak, kecepatan lawannya tidak mampu diikuti mata. Dia yang tidak punya banyak pengalaman bertarung sulit mengantisipasi arah serangan lawan. Meski begitu, dia tetap mengarahkan busurnya dan seakan bersiap menyerang.
Yuna hanya bisa melihat kilatan cahaya merah, itu pun kilat tersebut menyebar dan memudar dengan cepat di sekelilingnya. Dia tahu lawan ke arahnya, tetapi posisi pastinya tidak bisa dia tebak.
Sesaat setelah Yuna berpikir demikian, tiba-tiba saja Karin muncul tepat di hadapannya. Mata Yuna melebar, dirinya pikir akan segera mati tertebas detik itu juga.
Karin sendiri mengayunkan pedangnya dengan kuat, benar-benar serius dan seakan tidak berniat bermain-main sama sekali. Ketika bilah pedangnya nyaris menyentuh helaian rambut Yuna--dirinya merasakan sebuah lesatan mengarah padanya.
Segaris senyum terlukis di wajah Karin. Ini adalah masalah klise. Dalam detik-detik akhir menjelang kematian tokoh utama wanita, pasti ada sosok pahlawan yang tiba-tiba saja datang menolong---atau justru tokoh utama pria yang awalnya kalah mendapatkan kekuatan misterius untuk bangkit dan melindungi tokoh utama wanita.
"Drama lama, kau kalah.." serangan Karin di udara yang sebelumnya mengarah pada Yuna kini berbelok untuk menyerang lawan yang melesat ke arahnya. Dia membuat orang itu kembali terpental jauh.
!!
Sosok yang menyerang Karin barusan tidak lain adalah Raiden. Dia sudah dihajar habis-habisan dan bahkan sekali pun belum mampu membalas serangan. Tetapi setidaknya dibandingkan yang tadi--kali ini dirinya dapat mengambil posisi mendarat yang pas hingga tidak harus menghantam tanah apalagi pohon dengan keras.
Karin kembali melesat ke arahnya. Kali ini Raiden sudah siap untuk bertukar serangan. Dirinya mengalirkan Vit pada belatinya dan menyerang dengan kecepatan yang sama sekali tidak manusiawi.
!!
Pertarungan itu berlangsung sangat sengit. Anggota baru yang sebelumnya babak belur kini dibawa oleh seorang senior ke tempat yang lebih aman. Hide dan rekan-rekannya sendiri masih ada di tempat kejadian, mereka menyaksikan bagaimana dua kilat yang berwarna serupa itu saling berbenturan di udara.
"Refleksmu bagus. Sepertinya kau banyak melakukan pertarungan," Karin memuji Raiden di saat dirinya masih bertukar serangan dengan pemuda itu.
Suara seperti dua pedang yang digesek keras terdengar nyaring ketika bilah senjata Raiden mengenai pedang besar Karin. Dia pun memberi tendangan pada wanita itu yang dengan cepat dihindari.
"Kau juga hebat, Senior." Raiden memang sudah banyak mengalami pertarungan, termasuk yang terberat sekali pun. Karenanya tidak hanya refleks, tetapi dia juga mampu menebak seperti apa sifat lawannya--Karin adalah salah satunya.
!!
"Wanita ini.. Dia gila pertarungan. Semakin serangannya dapat kutahan dan kubalas dengan baik, dia akan semakin bersemangat. Benar-benar merepotkan," Raiden paling benci dengan lawan semacam ini. Dia datang ke Guild Singa Emas bukan untuk mencari musuh, jika dia serius--yang ada justru masalah besar akan menghampirinya.
!!
Sebuah serangan lawan mengenai Raiden tepat di bahu kanannya. Dia terpental dan menghantam tepat di tengah arena hingga lantai arena tersebut rusak semakin parah. Hide dan para rekannya terkejut, apalagi saat melihat pemuda bermata merah itu memuntahkan darah.
"Raiden..!" Yuna berlari ke arah arena, dia mendekati Raiden dan kaget dengan kondisi pemuda itu yang terluka parah.
Raiden tidak sadarkan diri, bahu kanannya mengalami luka tebasan. Syukurlah tidak sampai memotong tangannya, tetapi luka tebasan itu cukup dalam dan kemungkinan tulang pada bahu Raiden retak karenanya.
"Aaah.. Ini sakit. Sangat sakit. Dasar wanita Iblis, kalau saja aku tidak sigap--tubuhku pasti sudah terbelah saat ini. Haah.. Melawannya dengan penuh kesungguhan hanya akan membuatnya semakin bersemangat. Dia mungkin tidak akan berhenti sampai salah satu dari kami tewas. Wanita iblis ini.. Akan kuurus kau nanti,"
Raiden sebenarnya hanya berpura-pura tidak bisa mengerakkan tubuhnya, termasuk berpura-pura pingsan. Meski jujur rasa sakit yang dirinya rasakan ini adalah sungguhan.
Memang dia melakukan sesuatu yang berisiko. Raiden seakan-akan telah mengerahkan segala yang dia miliki saat melawan Karin. Bahkan dirinya sempat akan menarik pedangnya ketika serangan Karin datang dan membuatnya harus menghantam arena pertarungan.
"Apa dia mati?" Karin baru saja menapak di tanah, ekpresi wajahnya nampak tidak bersalah. Yuna yang mendengar suara wanita itu terlihat mengepalkan erat kedua tangannya.
"Senior..! Apa yang kau lakukan..?!" salah satu dari rekan Hide bergegas ke arena. Dia mendekati Raiden dan mengangkat pelan kepala pemuda itu. "Lukanya sangat parah.."
"Aku pikir dia bisa mengatasinya. Kita semua tahu dia Raiden," Karin jelas tidak mau disalahkan.
"Senior," Yuna akhirnya bicara karena tidak tahan lagi. "Aku tidak tahu apa masalahmu dengannya, tapi Raiden dan aku tidak datang untuk menantang kalian. Dia tidak mengerahkan kemampuannya sejak awal karena menghargaimu, tapi kau justru nyaris membunuhnya."
"Itu salahnya sendiri. Kenapa tidak melakukan yang terbaik sejak awal?" Karin memprovokasi, "Apa dia pemuda yang bodoh? Menghargaiku dengan tidak melawan? Hah,"
!!
Karin tersentak mendengar ucapan pemuda berambut hitam di depannya, dia tidak habis pikir bisa mendengar ucapan spontan dan menyerang batin itu.
"Ka-Kasamatsu..! Kau-"
"Memang aku salah bicara?"
Melihat ekspresi pemuda yang begitu mengesalkan baginya membuat Karin menggigit bibir bawahnya. Dia pun mendengus dan memalingkan pandangan ke arah lain.
Kasamatsu sendiri tidak mempedulikan Karin, dia mengeluarkan sebuah potion dari balik pakaiannya dan perlahan meminumkannya pada Raiden. Potion tersebut termasuk barang yang bagus, ini dapat dilihat dari raut wajah Raiden yang berangsur-angsur tidak pucat lagi.
"Sebaiknya kita bawa dia masuk, lebih baik membiarkannya beristirahat di dalam."
Yuna mengangguk mendengar ucapan pemuda di depannya, Kasamatsu sepertinya orang yang baik.
"Kalian kenapa berdiam diri saja? Ayo bantu aku mengangkatnya..!" Kasamatsu berseru kepada Hide dan teman-temannya. Segera para anggota dari Guild Singa Emas itu datang dan membantunya mengangkat Raiden.
Yuna mengambil belati milik Raiden dan mengikuti para seniornya dari belakang. Mereka memasuki bangunan utama Guild Singa Emas dan menuju ke salah satu kamar. Raiden di baringkan di atas sebuah tempat tidur yang besar.
"Tunggu, sebenarnya kenapa dia dibawa ke kamarku?" Hide baru protes ketika tersadar kamarnya-lah yang menjadi tempat penampungan bagi pemuda yang jelas-jelas merupakan musuhnya.
"Karena hanya kamarmu yang lebih dekat dan itu yang terpikirkan, jadi tidak perlu mempermasalahkannya.." salah satu teman Hide menjawab, dia lalu mengarahkan pandangannya kepada pemuda yang terbaring di tempat tidur sebelum melanjutkan ucapannya kembali.
".. Sebaiknya pakaiannya diganti. Kita juga jadi bisa melihat lukanya dalam atau tidak,"
"Akan kupanggilkan tabib."
"Mn, baiklah."
Hide mengembuskan napas ketika teman-temannya begitu perhatian pada Raiden, dia jadi pengap berada di antara mereka. "Aku akan melihat keadaan junior yang lain, kalian tetaplah di sini."
*
*
Raiden awalnya hanya berpura-pura pingsan, tetapi siapa yang menyangka pemuda itu justru sungguhan tidak sadarkan diri ketika diminumkan potion oleh Kasamatsu.
Ini mungkin karena efek samping dari potion tersebut atau tenaga Raiden yang bisa saja telah mencapai batasannya. Karena itulah ketika dia membuka mata, rasa terkejut langsung menghampirinya.
Dia bangun dan memperhatikan sekelilingnya. Ruangan ini luas, penuh nuansa kuning dan putih, terlihat begitu cerah dan menawan. Sebuah kamar yang harusnya tidak di huni oleh satu orang.
"Kau sudah bangun?"
?!
Suara asing terdengar, Raiden segera menoleh dan melihat seorang pemuda berambut pirang yang berdiri di samping jendela besar. Pemuda itu tak lain adalah Hide, sosok yang entah bagaimana terlihat mengagumkan di bawah selimut cahaya matahari pagi.
"Kau.."
"Tsk, jika kau sudah benar-benar sadar.. Maka segera ganti pakaianmu dan ikuti aku. Ada misi yang menunggu," suara Hide ketus. Dia berjalan meninggalkan Raiden yang masih berada di atas tempat tidur.
Raiden berkedip, dia baru memperhatikan pakaiannya yang ternyata telah diganti. Kain yang menutup tubuhnya berwarna putih dan hanya selapis saja. Dia pun memperhatikan bahu kanannya dan mengembuskan napas lega ketika lukanya telah tertutup sempurna, sama sekali tidak meninggalkan bekas.
"Efek potion memang tidak pernah mengecewakan, bahkan sepertinya tulangku yang retak juga disembuhkan." Raiden menggerak-gerakkan bahunya, dia pun mengusap wajahnya dan mulai bangun turun dari tempat tidur.
"Aiya.. Dua kali pakaianku diganti tanpa kutahu siapa yang melakukannya. Benar-benar memalukan," Raiden mengedarkan pandangan dan berjalan untuk mencari kamar mandi di kamar ini.
Dirinya masih mengingat wanita berambut merah yang dilawannya dan juga ucapan Hide barusan. Anggota Guild Singa Emas sepertinya tidak ingin toleran padanya, mereka tetap memanggilnya untuk menjalankan misi meskipun dirinya dalam tahap pemulihan.
"Untuk si pirang, kami memang terlibat masalah. Tapi wanita cantik itu.. Kira-kira apa yang sudah kuperbuat padanya hingga dia seperti ingin membunuhku?" Raiden mengembuskan napas, ".. Tapi ya sudahlah. Aku tidak datang kemari untuk menikmati hari yang tenang, tujuanku masih sama.."
Setiap pemain di Elvort Garden yang seperti Raiden mempunyai misi mutlak yang sama, mereka semua ingin ke wilayah tengah tempat di mana pohon Ash berada.
Yun dan Lilulu sendiri memiliki tujuan untuk mengungkap kebenaran dari game Elvort Garden. Ada juga pemain yang hanya ingin bersenang-senang dan mengalahkan Sang Naga. Sementara pemain seperti Hide berambisi untuk dapat keluar dari dunia game ini.
Setelah berpakaian lengkap, Raiden dan para anggota baru Guild Singa Emas dikumpulkan pada sebuah ruangan utama. Hanya dia, Yuna dan dua pemain lain yang merupakan anggota terbaru di Guild ini.
Raiden hanya berkenalan singkat, dua pemain yang lain bernama Glenn dan Ryouma. Mereka akan menjalankan misi bersama dan ditemani oleh dua orang senior.
Masalahnya senior yang menemani Raiden dan teman-temannya justru merupakan orang yang paling ingin mereka hindari. Kedua senior itu tidak lain adalah Karin dan Hide.
***