RAIDEN

RAIDEN
48 - Danau Seribu Kisah



Air danau tempat Raiden menyelam begitu dingin. Apalagi semakin dalam, dia makin kesulitan untuk melihat.


"..............."


Jika pemain biasa yang berada di posisi Raiden saat ini, dia mungkin sudah tidak tahan lagi dan akan menyelam naik ke permukaan untuk bernapas. Sungguh, semakin lama menyelam----dada akan terasa sakit dan itu juga mempengaruhi setiap sel dalam kepala.


Namun, Raiden berbeda dan danau ini pun tidak sama. Pemuda itu bisa tetap bernapas karena pedang hitamnya yang memberikan bantuan.


Yiling memang bukan senjata biasa. Dia tidak hanya bisa berkomunikasi dengan pemiliknya, tetapi juga mampu menjaga 'Tuannya' itu dengan sangat baik.


Raiden benar-benar beruntung karena memiliki pedang seperti Yiling yang selalu menemaninya dalam setiap petualangan. Hanya saja, memang pemuda itu yang sulit sekali memberikan kepercayaannya. Raiden sampai saat ini masih meragukan Yiling.


"..............."


"Ada sesuatu yang mendekat,"


Raiden terkejut mendengar suara dari Yiling. Jika saja ini di permukaan, dia pasti sudah mengomeli pedangnya karena bicara begitu tiba-tiba.


Raiden berusaha melihat ke sekeliling, tapi memang tidak ada yang bisa terlihat selain kegelapan. Dirinya seperti dikurung dalam tempat gelap yang abadi. Rasa takut tentu saja mulai terbentuk di hati kecilnya.


"Hati-hati, Rai. Dia semakin dekat," suara Yiling pelan. Ucapannya membuat debaran pada jantung Raiden berpacu kencang.


"..............."


Raiden mengeluarkan belati miliknya. Dia pun memelankan gerakan menyelamnya dan bersiap untuk hal yang terburuk. Dia mulai mendengar suara aneh yang dapat membuat bulu kuduk merinding.


"Di mana dia...?!" Raiden merasakan ada sesuatu yang melintas tidak jauh darinya, hanya saja karena suasana yang amat gelap----dirinya tidak bisa melihat apa pun.


"Rai, fokus." Yiling mengingatkan.


Vit mulai terkumpul dan menyelimuti bilah pada belati Raiden. Kilau keperakan pada belatinya perlahan berubah menjadi kilatan-kilatan petir dengan suara yang cukup keras.


"Rai, di bawah!!"


Raiden pun menyadarinya. Dia seketika berganti posisi dan menatap tajam makhluk dengan mulut terbuka lebar seakan hendak menelannya hidup-hidup.


Raiden merasakan tekanan air yang kuat, namun itu tidak melemahkan serangan yang dirinya lakukan. Suara keras dan kilatan petir memecah bahkan efeknya sampai dapat dilihat oleh Tuan Kanae yang berada di atas.


!?


Rasanya seakan danau itu dilempari bom hingga bisa menciptakan hujan buatan. Tuan Kanae yang tidak memprediksi kejadian ini harus pasrah basah kuyup.


Di kedalaman danau, Raiden bertarung dengan sengit oleh makhluk yang tidak biasa. Sosok itu mempunyai tubuh yang panjang dengan gerakan yang gesit.


Tubuhnya licin seperti belut, tapi memiliki ekor runcing seperti ekor ikan pari. Tidak hanya bentuk tubuhnya yang aneh, dia bahkan terkejut dengan kepala makhluk ini yang mirip ular, namun mempunyai tiga pasang sirip di telinganya.


"Hewan jenis apa ini?!" Raiden tidak bisa langsung menyerang. Dia tidak mampu bergerak cepat di dalam air hingga untuk menghadapi makhluk ini-----dirinya hanya bisa menunggu makhluk tersebut mendekat.


!!


Masalahnya, sulit untuknya melawan jika makhluk tersebut memberinya serangan dengan mengandalkan ekor. Terkena sambaran ekor itu bagaikan dicambuk tali besi yang tajam.


"Rai, pakai aku!"


Raiden mendengar suara Yiling. Dia tahu sedang dalam bahaya sekarang, namun dia menolak untuk menarik pedangnya.


Ini bukan karena Raiden tidak mau atau menyepelekan lawannya sekarang, tapi karena dia tahu benar senjatanya sangat berbahaya.


Yiling memang terlihat bagai pedang yang melindungi 'Tuannya', dia bahkan memperingati Raiden ketika ada bahaya yang mendekat. Namun yang sebenarnya adalah, Yiling tidaklah sebaik itu.


"Aku masih bisa melakukannya sendiri," Raiden memegang kuat belati miliknya dan berusaha untuk menyerang.


Dia mencoba menghindari sambaran dari ekor makhluk aneh ini, namun memang sangat sulit melakukannya. Bilah pada belati Raiden berbenturan dengan ekor makhluk tersebut dan saat itu juga----rasa kebas langsung merambat dari tangan Raiden hingga ke seluruh tubuhnya.


Dia seperti terpental kuat untuk jatuh ke bawah dan karena berada di dalam air----tekanan pada seluruh tubuhnya jauh lebih sakit daripada di daratan.


Makhluk itu bergerak gesit, matanya yang merah pekat terlihat sangat mengerikan. Dalam waktu yang singkat, kepala sosok itu entah bagaimana semakin terlihat membesar. Apalagi dia mulai membuka mulutnya lebar-lebar.


"..............."


"Danau ini bernama 'Seribu Kisah'. Setiap kedalamannya menyimpan cerita orang yang menyelaminya. Tetapi hal yang paling sering terlihat adalah rasa takut dan penyesalan...."


"..............."


Suara tuan Kanae terngiang di kepala Raiden. Dia perlahan membuka mata dan samar-samar mulai melihat sesuatu. Itu adalah dirinya sendiri yang masih berusia 14 Tahun.


Raiden yang masih remaja nampak berdiri dengan pakaian kaos putih yang agak sedikit kotor. Dia berada di suatu tempat yang terlihat seperti bagian belakang sebuah gedung.


Ada tiga orang anak seusianya yang merintih kesakitan di tanah. Mereka memegang perut dan banyak luka lebam di wajah serta tubuh ketiga anak itu. Raiden sendiri mulai mengambil jaket merah hoddie-nya sambil menatap sosok pemuda yang sudah menghentikannya menghajar habis anak-anak ini.


"Kau ingin menjadi apa jika kelakuanmu seperti ini?"


Suara pemuda itu teramat ketus dengan tatapan mata yang dingin. Dia memiliki wajah yang tampan dan beberapa hal yang mirip dengan wajah Raiden remaja. Siapa pun dapat melihat bahwa mereka adalah kakak dan adik.


"Berkelahi setiap hari, apa bagusnya itu? Kau hanya merusak nama baik keluarga." sosok pemuda tampan tersebut tidak lain adalah Kenshin Yanji. Dialah yang sudah menghentikan adiknya meski kedatangan dirinya agak terlambat.


Tiga anak yang merintih kesakitan itu sejujurnya beruntung masih sadarkan diri. Dahulu Kenshin Yanji hanya bisa melihat korban pemukulan dari adiknya terbaring koma di rumah sakit.


"..............."


Raiden remaja sama sekali tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Kenshin Yanji dengan tangan yang terkepal kuat. Buku-buku pada jari tangannya nampak terluka. Jelas sekali bahwa itu adalah bekas dari betapa kuatnya dia memukul ketiga anak tersebut.


Raiden menahan diri untuk tidak bicara, namun melihat tatapan Kenshin Yanji yang begitu memandang rendah dirinya membuat dia tidak tahan lagi.


Raiden mengeluarkan beberapa kata di sela-sela giginya yang terkatup, ".... Mereka yang duluan,"


"Apa? Menghinamu?" Kenshin Yanji seakan tidak peduli bahwa siapa yang sedang dia ajak bicara. Dia pun berkata, "Kau hanya beralasan."


Kenshin Yanji berjalan mendekati Raiden remaja dan memberi tatapan dingin saat berada di dekat adiknya itu. Kenshin Yanji mendengus, "Ternyata memang tidak ada yang bisa diharapkan dari seorang anak yang lahir dari ibu pembunuh."


Tatapan Raiden remaja saat mendengar ucapan Kenshin Yanji begitu tajam, sama seperti tatapan Raiden yang telah berusia 18 Tahun sekarang. Dia sepertinya masih merasakan denyut sakit ketika melihat dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas ucapan kakaknya.


"Dia orang yang jahat. Kakak terburuk yang pernah ada," Raiden mengepalkan erat kedua tangannya. Suara Kenshin Yanji yang paling menyakitkan lainnya kini terngiang di kepalanya.


"Dia bukan lagi penderita ADHD. Usianya sudah remaja sekarang, dia itu monster. Psikopat. Dia membuat orang lain takut. Kirim dia jauh dari tempat ini. Aku tidak peduli di mana lokasinya, yang jelas dia tidak terlihat di depan mataku."


"..............."


Raiden memejamkan mata perlahan sebelum membukanya kembali, "Apa ini yang diperlihatkan untukku? Tapi kupikir ini bukan penyesalan. Dia memang kakak yang kurang baik, tapi aku tidak pernah membencinya."


"Rai..."


Raiden tersentak, dia mendengar suara Yiling yang bersamaan dengan suasana di sekitarnya yang perlahan berubah.


Sekeliling Raiden adalah dinding daging berwarna merah dan nampak berdenyut. Dia memang masih di kelilingi air, tetapi ini bukan seperti tadi. Dia berada dalam tubuh makhluk yang sangat besar.


"..............."


Ada banyak tulang-belulang di bawah Raiden dan beberapa ikan kecil nampak berenang di sekitaran tulang tersebut. Beberapa ikan juga menyelam di sekitar dinding daging yang ada di dekatnya.


Raiden baru saja akan menghampiri salah satu dinding daging saat sesuatu yang mengejutkan terjadi. Tubuh ikan yang menyentuh dinding daging itu tiba-tiba saja meleleh dan hanya menyisakan tulang-belulang yang perlahan mulai jatuh.


"Jangan menyentuhnya Rai, itu bisa membunuhmu." Yiling memperingatkan.


Raiden yang saat ini masih memegang kuat belatinya mulai mengumpulkan Vit untuk menyerang, tapi dia kaget sebab Vit tidak bisa terkumpul di tempat ini.


"Rai, dengarkan aku. Pergi ke bagian belakang tubuh makhluk ini," Yiling memberi perintah. Dia kembali bersuara, "Aku tahu kau ragu, tapi lakukan saja. Aku tidak akan membahayakanmu karena aku juga tidak mau berakhir di sini."


"Memberi kepercayaan pada Pedang Iblis sepertimu yang bisa bicara benar-benar taruhan besar. Tapi sebaiknya kau tidak main-main. Jika aku mati, kau juga akan berakhir di sini."


******