
Yun menepuk pelan pundak Raiden sambil memberikan pujian, temannya tersebut membalas pujian darinya. Kini, giliran Lulu yang harus melewati labirin.
Gadis mungil itu dengan santainya menuruni setiap anak tangga sambil membawa kain penutup mata dan sebutir pil yang sebelumnya telah diberikan oleh Roku.
Saat Lulu berada di pintu masuk labirin, dirinya pun mulai memakai penutup mata dan menelan pil yang dapat membuatnya hanya mendengar suara Yun dan orang di samping temannya tersebut.
"Apa kau siap, Nak?!" Roku berseru. Jempol tangan kanan dari Lulu yang terangkat menjadi jawaban atas pertanyaannya.
Kabut putih di labirin kembali menghilang, segala kerusakan dan mayat monster yang dilawan Raiden sebelumnya juga sudah tidak ada. Labirin ini seakan di reset, Yun harus mencari lorong yang tepat untuk temannya supaya Lulu bisa sampai di pintu keluar.
Raiden baru melihat monster di dalam labirin, ada monster golem, manusia kelelawar, monster kerdil, zombie, dan hewan bertubuh manusia yang nampak berlalu-lalang di lorong-lorong labirin.
Sepertinya makhluk-makhluk itulah yang dia lawan tadi dan sekarang giliran Lulu yang harus melawan mereka.
Ada satu monster yang membuat Raiden mencubit keras lengan Yun. Dia mengomeli temannya karena tidak memberinya arahan untuk memegang bagian tubuh monster berbentuk kelelawar tersebut.
".. Kau sudah membuatku menyia-nyiakan kesempatan..!"
"Apa maksudmu?! Kau jangan mencubitku, ini sakit tahu!"
Yun mengusap pelan lengannya, dia bisa melihat Raiden begitu kesal. Tidak beberapa lama, dia mulai mengerti maksud dari teman yang berdiri di sampingnya ini.
Monster kelelawar yang berada di dalam labirin memiliki jenis kelamin perempuan. Meski wajahnya terlihat menyeramkan, namun bentuk tubuhnya masih luar biasa.
"Aiih, gara-gara otakmu yang error itu aku jadi tidak bisa memegang sesuatu yang kenyal dan bergoyang-goyang tadi. Padahal aku sudah lama penasaran bagaimana rasanya menyentuh 'benda itu',"
"Otakmu yang error! Kau tampan tapi mesum. Kalau kau terus begini tidak akan ada gadis yang mau denganmu,"
Yun menatap sinis ke arah Raiden, berikutnya dia mulai mengalihkan pandangannya pada Lulu dan memberi arahan pada gadis tersebut.
Dalam hati dirinya menghembuskan napas kecewa, harusnya dia mengarahkan Raiden untuk menyentuh bagian tubuh monster kelelawar itu, kapan lagi mereka bisa melecehkan seorang monster. Sangat disayangkan kesempatan itu telah menghilang.
"Lulu, lima meter dari tempatmu. Monster kerdil yang tingginya hanya sampai bahumu sedang berlari. Serang bagian kepalanya."
Yun mulai memberi arahan pada Lulu. Gadis yang tubuhnya seperti anak berusia 9 Tahun itu mengambil sesuatu dari balik rok pendek nan mengembangnya.
!!
Para pemain yang menonton Lulu dari lantai atas terkejut. Belum pernah mereka melihat ada seorang gadis yang menyimpan pedang kembar di balik rok-nya.
Mereka jadi bertanya-tanya, dari mana munculnya pedang itu? Namun salah satu pemain mengatakan ada sebuah teknik di mana seseorang mampu mengambil senjata dari ruang hampa.
"Tidak adanya status bar dalam game ini membuat para pemain tidak bisa melihat levelnya sendiri serta level pemain yang lain. Satu-satunya yang bisa diketahui adalah.. Gadis kecil itu memiliki skill yang menarik,"
Pendengaran Raiden cukup tajam untuk bisa menangkap pembicaraan salah satu pemain. Lulu memang adalah temannya yang mempunyai bakat istimewa. Sayangnya, selain pelit dalam memberi uang.. Lulu juga pelit berbagi ilmu.
CRAASH!
!!
Satu demi satu monster mulai tumbang. Lulu menggunakan dua pedang dan terus memberi serangan mematikan pada lawannya.
Bukan dia yang memberi arahan atas setiap serangannya, tetapi dirinyalah yang mendesak Yun untuk terus memberinya perintah tanpa jeda sedikit pun.
TRAANG!
CRAASH!
Pertarungannya membuat para pemain merasa bahwa rintangan di dalam labirin tidak sepenuhnya berbahaya.
[".. Lompat ke atas dan tebas di arah kau mendarat! Tebas bagian sisi kirimu!"]
Lulu bisa merasakan ada sesuatu yang memercik di pipinya. Dia tahu itu adalah darah monster, dirinya pun kembali melesat maju.
Setelah melewati jebakan dan menebas monster terakhir, Lulu akhirnya dapat keluar. Dia menyelesaikan rintangan labirin dalam waktu kurang dari lima menit, jauh lebih cepat dari Raiden.
Lulu melepaskan penutup matanya setelah dia menyimpan kembali pedang kembarnya. Dirinya pun berjalan menuju ke tempat kedua temannya menunggu.
Selesainya kelompok Raiden membuat para pemain yang lain menjadi percaya diri. Tiga orang pemain langsung menggantikan tempat Raiden dan kedua temannya. Mereka terlihat memasang wajah angkuh dan tatapan mata meremehkan.
Ketiga pemuda itu memiliki pakaian berwarna ungu anggrek, coraknya pun sama dengan bunga cantik tersebut. Satu di antara mereka mulai berjalan ke arah tangga dengan membawa kain penutup mata dan sebutir pil.
"Rai, kau jangan bicara seperti itu.."
Raiden tersenyum meledek, "Aku berkata yang sebenarnya.." tatapannya mengarah pada pemuda yang bertindak sebagai pemimpin dan kembali berujar, "Orang itu tidak bisa menyamai kecerdasanmu, Yun. Dia akan membuat temannya mati,"
Yun mulai memperhatikan ke arah pintu masuk labirin. Pemuda berpakaian ungu itu telah menutup matanya, menelan pil putih susu, dan sekarang memegang pedangnya dengan begitu erat.
Kabut putih yang menutupi labirin kembali menghilang. Rekannya yang bertugas menjadi pemimpin dan mengarahkannya mulai memutar otak untuk mencari jalan keluar.
Butuh waktu tiga menit sampai dirinya tahu jalan yang menghubungkan pintu masuk labirin dengan pintu keluarnya.
Pemuda tersebut mulai mengarahkan temannya untuk memasuki labirin. Temannya sendiri nampak kesulitan, ini pertama kali dirinya berjalan tanpa bisa melihat dan rasanya tidak mengenakkan.
"Aku harus kemana?"
["Tetap jalan. Monster di dalam labirin masih jauh darimu. Jika kau merasakan sesuatu di kakimu, maka segeralah melompat mundur. Kemungkinan itu adalah jebakan,"]
"Baiklah,"
Raiden bisa melihat monster golem hampir menuju ke arah pemuda di dalam labirin. Dia masih berwajah tenang, bahkan saat monster golem tersebut mulai bertarung dengan pemuda yang dia perhatikan.
"Menghindar!"
!!
Yun dan pemain yang lain terkejut saat pemuda di dalam labirin terkena serangan monster golem. Pemuda itu menubruk tanah dengan keras dan memuntahkan darah.
"Berguling ke kiri!"
Seruan dari pemuda yang menjadi pemimpin membuat seringai muncul di wajah Raiden, "Arahanmu terlalu lambat,"
AAKH!
!!
Mata Yun dan Lulu membulat, monster golem telah memberi pukulan mematikan pada dada pemuda di depannya. Tubuh pemuda berpakaian ungu itu sudah hancur bersamaan dengan tawa seorang pemain dari lantai atas yang pecah.
"Rai..!!"
Yun dan Lulu terkejut, nyaris saja jantung mereka runtuh akibat mendengar tawa Raiden di saat yang begitu menegangkan.
".. Maaf, maaf. Aku tidak tahan ingin menertawakan kebodohan mereka. Astaga.. Mataku sampai berair, ini lucu sekali.. ha ha ha.."
Yun dan Lulu sama sekali tidak melihat ada yang lucu, tapi teman mereka ini malah tertawa geli. Tingkah Raiden telah menjadi pusat perhatian, bahkan dirinya mendapat peringatan dari salah satu pengawas.
"Rai, kau mau kita didiskualifikasi? Tawamu membuat semua orang tegang,"
"Baiklah, aku akan menahannya.."
Raiden menepuk pelan pundak Yun, dia lalu mengedarkan pandangannya pada para pemain yang saat ini memberinya tatapan aneh.
Ekspresi mereka tentu saja normal, sebab tidak ada hal lucu namun pemuda bermata merah tersebut malah tertawa geli. Apa melihat seseorang mati mengenaskan menjadi hiburan baginya? Hanya psikopat yang mungkin akan tertawa seperti itu.
Sebenarnya, alasan Raiden tertawa adalah karena ketiga pemuda berpakaian ungu yang dia lihat merupakan tipekal pemuda yang memiliki keangkuhan tinggi.
Mereka meremehkan ujian dari labirin ini dan menganggapnya bukan masalah. Kepercayaan diri mereka berada di ambang batas dan hasilnya akan seperti tadi.
".. Jangan berpikir bahwa kami bisa melewatinya dengan mudah dan kalian juga dapat melakukannya. Ini adalah ujian kematian, salah strategi sedikit saja.. Kalian bisa mati,"
Perkataan Raiden membuat sebagian pemain nampak pucat, beberapa masih berwajah tenang, dan ada juga yang nampak tersenyum.
Di Elvort Garden, sangat wajar bila kita dapat menemukan pemain beraura psikopat, karena game ini dibuat untuk orang-orang seperti itu.
Dalam satu ruangan di mana Raiden berada saja, ada sekitar tujuh orang pemain yang matanya berkilat saat menyaksikan golem di dalam labirin memisah-misahkan tubuh pemuda berpakaian ungu hingga setiap tetesan darahnya berubah menjadi butiran cahaya.
Mendengar tawa Raiden tidak membuat mereka takut, tetapi malah nampak senang. Ujian kematian ini baru saja dimulai dan hiburan yang menyenangkan bagi mereka masih tetap akan berlanjut.
***