RAIDEN

RAIDEN
42 - Kemenangan Mutlak



Hujan adalah keuntungan bagi pemain Elvort Garden yang memiliki perubahan jenis Vit berunsur petir seperti Raiden. Dia akan sangat mudah mengalahkan lawannya jika saja mereka bukan berasal dari Guild Armonia.


Raiden melemparkan satu belati yang sudah dia aliri Vit hingga terdengar suara gemuruh nyaring dan bagaikan menyatu dengan tetesan hujan. Lima lawannya terkena serangan itu, namun tidak ada di antara mereka yang merasa kesakitan.


Salah seorang yang menjadi lawan pemuda bermata merah itu bernama Eder. Sosok pria besar yang mengatur tiap gerakan teman-temannya dan seolah menjadi pelindung mereka.


!!


Raiden sebenarnya tidak terhambat dengan adanya hujan ini, namun yang membuat dirinya bisa berada dalam kondisi bertahan adalah karena kerja sama kelima anggota Guild Armonia ini yang sulit dia atasi.


"Tsk, sepertinya memang tidak bisa memakai cara yang halus membunuh mereka..." Raiden merasa akan semakin kewalahan jika terus dalam kondisi ini.


"... Menyebalkan, padahal aku ingin memberi mereka kematian yang lama dengan memakai belatiku."


Raiden sudah mengasah belati miliknya untuk situasi di mana dia akan menusuk leher lawannya dan menarik keluar urat-urat leher mereka. Namun nampaknya itu tidak akan terjadi bila menghadapi lawan yang berjumlah lebih dari satu orang.


!!


Serangan salah seorang pemain berhasil membuat Raiden terdorong mundur. Dia dan teman-temannya lantas menyerang dengan cepatan membabi buta. Namun siapa yang tengah mengendalikan alur pertarungan itu belum dapat dipastikan.


Eden dan dua orang pemain Guild Armonia adalah sosok yang memiliki perubahan jenis Vit berunsur petir. Sementara rekan mereka yang lain mempunyai perubahan jenis Vit berunsur air, kondisi yang jelas sangat menguntungkan mereka.


"Raiden! Ini adalah hari kematianmu!" salah seorang pria berseru.


Jika saja ada status bar yang terlihat, kemungkinan besar lawan Raiden itu memiliki level yang tinggi. Kerja sama mereka terlalu hebat hingga mampu memojokkan Raiden.


"Semua yang kau lakukan di masa lalu... Hari ini akan dibayar dengan nyawamu!"


Raiden tertawa sinis mendengarnya, "Kalian rupanya datang kemari untuk menagih hutang. Tapi sayang sekali... Yang akan mati adalah kalian,"


Warna mata Raiden merah menyala. Pemuda itu kembali bertukar serangan dan saat ada dalam posisi yang pas----dia pun mulai menarik pedangnya. Suara ledakan disertai petir menggelegar tiba-tiba saja terdengar hingga mengejutkan semua orang dalam radius 1 km.


Sungguh, itu adalah suara paling dahsyat yang bahkan membuat para pemain dan NPC yang berada jauh di lokasi kejadian merasakannya. Yun yang saat ini ada di jarak 30 meter saja langsung terjatuh dengan wajah yang memucat.


Tidak hanya gandang telinga Yun yang terasa sakit seperti akan meledak, tetapi juga detakan jantungnya yang dia rasa nyaris berhenti. Tidak diragukan lagi, ada kemungkinan banyak pemain dan NPC yang tewas karena jantungan akibat suara menggelegar bagai langit dibelah itu.


Yun bahkan memuntahkan darah, "Rai..."


*


*


*


Raiden meraih kemenangan yang mutlak jika bertarung dengan memakai Yiling, pedangnya. Bahkan bila yang dia lawan lebih dari lima orang sekali pun.


Buktinya, pertarungannya dengan Eder dan empat pemain dari Guild Armonia hanya berlangsung tidak sampai 7 menit sebelum tubuh lawan-lawannya hangus hingga menjadi abu. Yang tersisa adalah sosok Raiden yang berdiri sambil melihat abu tersebut bercampur dengan air hujan dan mulai berubah menjadi butiran cahaya.


"Aku sudah memberi kalian kesempatan," Raiden menengadah dan mulai fokus merasakan hujan yang menetes turun membasahi tubuhnya.


Tangan kanannya memegang Yiling yang bilahnya tidak lagi sudah masuk kembali ke dalam sarungnya. Raiden sudah beri kesempatan bagi lawan-lawannya untuk mengeluarkan kemampuan mereka, tapi sepertinya dia begitu diremehkan.


"Aku orang yang baik..." Raiden menutup matanya perlahan sebelum kembali membukanya, "Kupikir aku orang yang baik. Kupikir aku bisa menjadi orang yang baik. Tapi sepertinya... Aku bukan orang yang dapat melakukan itu,"


Tidak butuh waktu lama sampai Raiden merasa ada seseorang yang berjalan di belakangnya. Dia pun lantas berbalik dan kemudian berujar saat tahu bahwa yang datang itu adalah temannya.


"Kau terlambat, Yun..."


Yun sendiri nampak terengah-engah. Dia menatap Raiden dengan tangan kanan yang menyentuh dadanya. Dirinya bisa melihat sebelah tangan pemuda bermata merah itu meneteskan darah segar.


"Rai, kau..." Yun tahu Raiden baru saja memakai Yiling. Kulit tangan kanan temannya itu bahkan terlihat sangat hitam dan seperti sudah tidak bisa digerakkan lagi.


Dengan langkah pasti, Yun menghampiri temannya. "Rai... Apa kau membunuh mereka?"


"Salahku," Raiden berujar pelan. "Seharusnya kubiarkan salah satu di antara mereka hidup hingga aku bisa menggorok lehernya dengan belatiku yang bilahnya sudah kuasah dengan sempurna. Seharusnya aku tidak memberi mereka kematian semudah ini,"


"Raiden," Yun memegang erat bahu temannya. "Kau hanya perlu memberi mereka pelajaran dan buat mereka takut. Kenapa kau justru membunuh mereka? Tidakkah kau tahu bahwa mereka adalah pemain. Nyawa pemain di Elvort Garden hanya satu. Apa kau lupa?!"


"......"


Raiden mungkin saja bisa bermain-main dengan orang lain atau bertarung penuh kesungguhan sambil memakai belati miliknya. Namun dia tidak akan pernah menerima jika lawannya mengungkit hal yang selama ini ingin dia kubur dalam-dalam serta menungkit sesuatu yang berusaha dia sembunyikan dari dunia. Tentu, itu adalah masa lalunya.


"Mereka tidak pantas bertarung melawanku, Yun. Bahkan aku muak bertukar serangan dengan orang-orang seperti itu. Aku tidak mau membuang waktu melayani mereka,"


Mendengar ucapan Raiden membuat Yun kesulitan berkata-kata. Pemuda bermata merah ini selalu melukai diri sendiri. Rasa sakit yang disebabkan oleh penggunaan Yiling secara berlebihan akan sulit untuk dihilangkan. Penggunaan banyak potion bahkan tidak mampu menghilangkan rasa sakitnya.


Yun, "Aku tahu pertarunganmu akan cepat selesai jika memakai Yiling. Tetapi resiko dalam penggunaan pedang itu sangatlah besar. Kau mempertaruhkan nyawamu sendiri,"


"Tapi tidak hanya lawan-lawanmu. Suara keras yang merupakan efek penggunaan Yiling secara berlebihan telah membunuh orang-orang yang tidak jauh dari tempat ini." Yun memperkirakannya. Meski tanpa mengetuk satu persatu pintu rumah tiap penduduk di sekitar kediaman kosong ini, dia tetap tahu ada orang yang menjadi korban dari dampak pedang Yiling. Selain anggota Guild Armonia.


Raiden tersentak mendengarnya, dia tidak memperkirakan hal tersebut. Dia terlalu fokus menghabisi lawan-lawanny dan akhirnya berhasil membuat mereka semua tewas. Pedang lawannya pun juga menjadi abu karena dirinya.


*


*


Apa yang dikatakan Yun benar. Beberapa pemain yang sebenarnya ingin hidup tenang di Elvort Garden justru mengalami nasib buruk hanya karena suara keras yang dihasilkan oleh dampak pedang Raiden.


Tubuh mereka berubah menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang. Mayat para pemain itu seakan memenuhi lantai bawah tanah perusahaan HD Corporation.


"Kita pernah mendapatkan kiriman tulang-belulang manusia, kemudian abu dan sekarang mayat yang sama sekali tidak nampak bekas luka di tubuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam game itu?"


Seorang pria berpakaian putih, memakai sarung tangan dan penutup kepala serta masker terlihat bertanya pada rekannya. Dia merupakan pegawai yang bertugas untuk mengangkat tiap mayat dan baru saja keluar dari game Elvort Garden.


"Aku juga penasaran," rekan yang bersamanya buka suara. "Biasanya yang kita temui adalah mayat yang lehernya tertebas. Tapi entah mengapa sekarang menjadi tulang-belulang. Apalagi kini juga ada kumpulan abu. Dan jika pendapatku benar, maka abu ini juga adalah pemain game yang tewas."


"Tapi ini mengherankan. Jika pemain itu tewas karena terbakar----tidak mungkin tubuhnya sampai bisa menjadi abu. Dia pasti tetap terbungkus kulit dan memiliki tulang-belulang. Pemain akan langsung di teleport kemari saat sudah kehilangan nyawa, bukan menunggu sampai tubuh pemain itu menjadi abu. Kecuali..."


"Mn, benar. Pemain ini kemungkinan menghadapi sesuatu yang langsung membuatnya menjadi abu."


"Hebat sekali, para pemain Elvort Garden itu kurasa adalah orang-orang yang tidak waras. Benar-benar sebuah dunia bagi para penjahat,"


Setiap harinya, lantai bawah tanah HD Corporation selalu sibuk dengan mayat-mayat para pemain. Mereka begitu hati-hati mengumpulkan tubuh para pemaian dan memasukkannya ke dalam kantong mayat. Hanny sendiri memperhatikan kinerja para bawahannya.


Mayat pemain yang sudah ada di dalam kantong masing-masing selanjutnya akan dikumpulkan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang sudah tidak lagi diakui oleh anggota keluarganya. Itulah sebabnya ketika ada mayat pemain Elvort Garden yang ditelepor kemari----mereka akan langsung dikirim ke rumah sakit.


Para mayat itu akan diambil organ dalamnya untuk digunakan menolong banyak orang. Dan bagi perintis game ini, hanya dengan begitu masyarakat yang sudah dianggap sampah dapat tetap berkontribusi dalam pembangunan dunia yang ideal ini.


"......"


Aroma tembakau memenuhi sebuah ruangan yang memang dikhususkan bagi para perokok. Seorang wanita berambut panjang dengan pakaian putih terlihat baru saja selesai menghisap sebatang rokoknya dan keluar dari ruangan itu. Dia sungguh memiliki wajah cantik dan lekuk tubuh yang luar biasa bagus.


Wanita itu bernama Tiffani, berusia 27 Tahun dan mempunyai posisi yang dapat dikatakan sejajar dengan Hanny. Dia dan Hanny juga sebenarnya adalah sepupu.


Tiffani baru akan menuju ke ruangannya saat dia tiba-tiba berpapasan dengan Hanny. Wajah cantiknya berubah ketus dan dingin ketika bertemu pandangan dengan wanita bertubuh bagus tersebut.


Hanny mengerutkan kening dan berhenti berjalan saat dirinya tepat di samping Tiffani. Dia pun buka suara, "Apa kau baru saja merokok lagi?"


"Kenapa kalau iya? Masalah untukmu?"


Ada persaingan di antara kedua wanita itu, namun rasa ketidaksukaan lebih jelas terlihat pada raut wajah Tiffani.


Untuk Hanny sendiri, dia nampak lebih dewasa. "Bukankah kau seorang dokter? Apa pantas bagi seseorang yang selalu berurusan dengan kesehatan orang lain, justru tidak peduli pada kondisi tubuhnya sendiri? Berhentilah merokok. Tidak baik untuk kesehatanmu,"


Tiffani tersenyum sinis, dia kemudian mendengus. "Kau menyuruhku berhenti merokok, lalu bagaimana denganmu yang setiap harinya meminum kopi? Kau tahu tidak bahayanya kafein, huh?"


Hanny, "Kafein akan berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan dan setidaknya aku tak membuang-buang uang dengan membakarnya seperti yang kau lakukan. Bukankah harusnya kau yang perlu cemas dengan nikotin pada benda yang sering kau hisap itu?"


Tiffani tidak terima, dia dan Hanny mulai berdebat. Bahkan saat seorang pria datang dan berjalan di dekat mereka----keduanya belum juga berhenti berdebat.


"Apa kalian berdua tidak bisa membahas hal lain?"


Suara pria yang begitu jantan, dingin dan terdengar indah membuat kedua wanita itu tersentak. Mereka lantas menoleh dan terkejut saat tahu bahwa yang barusan bicara adalah Kenshin Yanji. Profesor muda yang sudah berkontribusi banyak atas perkembangan game Elvort Garden.


Kenshin Yanji merupakan cucu tertua dari tuan Hiro. Dia adalah pria dengan wajah bersih, berparas tampan dan memiliki postur tubuh yang atletis.


Kacamata yang selalu dipakainya justru semakin membuat Kenshi Yanji nampak mempesona. Sosoknya penuh wibawa dengan aura pria dewasa yang begitu mengagumkan.


"Tuan Yanji..." Tiffani seakan melupakan perdebatannya dengan Hanny. Wajahnya terlihat bersemburat dan seolah tidak kuat bertatapan mata dengan pria yang luar biasa ini.


Hanny sendiri nampak menggeleng pelan sebab raut wajah Tiffani begitu mudah ditebak. Dia pun bicara dengan Kenshi Yanji, "Prof datang kemari apa sedang istirahat? Aku kebetulan juga akan pergi ke restoran, apa Prof mau ikut? Ada hal yang harus kubicarakan denganmu,"


Tanpa menunggu jawaban dari pria itu----Hanny langsung melenggang pergi. Dia memang tahu tipekal pria seperti Kenshi Yanji ini akan sulit ditaklukkan. Jika dia menunggu jawaban atas ajakannya tadi, maka yang akan Hanny dengar adalah penolakan.


Kenshi Yanji juga pasti akan berujar ketus dan mengatakan agar dia bicara di sini saja. Sesuatu yang jelas sudah Hanny perkirakan sebelumnya. Karena itu dia memilih berjalan pergi dan seakan-akan memberi isyarat pada lawan bicaranya untuk ikut dengannya. Cara ini membuat Kenshin Yanji penasaran terhadap apa yang ingin dia bicarakan.


"......"


Tiffani tertegun ketika pria yang dia kagumi pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun kepadanya. Buruknya lagi, sosok tersebut justru mengikuti Hanny.


Tangan Tiffani terkepal kuat, dia menggertakkan giginya dan menggeram kesal di dalam hati. "Dasar wanita j*****g!"


***