
Elisa sudah mulai membaik,walau matanya masih sembab akibat menangis tadi. Dasha langsung memberikan kain basah lalu meletakkan diatas mata Elisa,supaya mata gadis itu tidak sembab lagi.
"sudah lebih baik?" tanya Dasha menatap Elisa.
Elisa mengangguk, "terimakasih." ucapnya tulus.
"nggak usah formal kali beb,santuy. Kita kan sahabat,harus saling berbagi suka cita. Lain kali kalau ada masalah,cerita aja sama aku. Walau nggak sepenuhnya aku bisa membantu dalam menyelesaikan masalahmu setidaknya meringankan beban pikiranmu El."
"huft,tapi kau tidak boleh terlalu stres yaa mikirkan masalahku Sha. Kau itu berbadan dua,jangan karna aku kau kenapa-kenapa." ucap Elisa lagi.
"fyuuh, iyaa sih. Tapi aku senang dengarin cerita kau El, setidaknya aku ada disaat kau terpuruk." ucap Dasha,ia pun segera mengambil air putih diatas nakas.
"aku ada mau bicarakan sesuatu El." ucap Dasha serius membuat Elisa duduk menyilang dan melepaskan kain yang ada dimatanya. Ia menatap sahabatnya menyerngit bingung,
"kau ingin bicarakan apa? kenapa mukamu serius sekali?"
"aku ingin bertanya sesuatu tentang flashdisk ini." jelas Dasha sambil memegang flashdisk ditangannya.
"bukannya flashdisk itu yang ada dikasih sama orang yang misterius itu yaa?" tebak Elisa.
"iyaa,kau tau orang misterius itu adalah calon suamimu." balas Dasha lagi.
Mata Elisa membulat sempurna mendengar nama Ergin disebut sahabatnya. "tunggu? memangnya apa isinya?" tanya Elisa menatap curiga kearah Dasha. Ia yakin isi dalam flashdisk itu bukan anime yang dibilang Dasha kemarin, tetapi sesuatu lain yang disembunyikan Dasha.
"kau menyembunyikan sesuatu ya Sha?" tebaknya langsung dianggukan oleh Dasha.
"maafkan aku El,aku mencari waktu yang tepat dan hari ini adalah hari yang tepat kau tau sesuatu yang penting." ucapnya lalu mengambil laptop dan duduk disamping Elisa.
Elisa antusias menunggu apa yang akan dilihatnya nanti. Dasha dengan ragu-ragu membuka file dalam flashdisk itu dan sontak membuat tubuh Elisa menegang.
deg.
Mata Elisa mulai memerah kembali menatap video yang ditampilkan dalam laptop itu. Elisa sesenggukan mengingat kembali memori yang terjadi empat tahun itu,empat tahun dimana ia merasa bersalah karena melakukan sesuatu yang sangat fatal.
"kakak." lirihnya pelan,Dasha langsung memeluk Elisa erat, "kau tidak salah El,ini memang sudah takdir." ucap Dasha menenangkan Elisa lagi.
Sakit kembali menoreh hatinya,luka yang sudah lama terpendam kini mulai terbuka lagi. Elisa tidak akan bisa melupakan semua kesalahannya waktu itu semenit,sedetik apapun. Rasa bersalahnya akan menghantuinya sampai akhir hayatnya nanti.
"maaf,harusnya aku dari awal aku memberitahu tentang ini. Aku juga sama terkejutnya denganmu El,bagaimana pria brengsek itu bisa merekam kejadian itu tanpa merasa kasihan." geram Dasha mengingat hal itu.
Elisa melepaskan pelukannya, "tidak apa-apa,aku juga tidak tau kalau dia merekam semua itu." lirihnya lagi.
Sekarang Elisa paham,kenapa Ergin bersikukuh ingin menikah dengannya. Pasti ada sesuatu yang diincar pria itu dari dirinya,dan membuat Dasha juga ikut terlibat didalamnya.
Ergin sialan,apa maumu sebenarnya?!. geramnya dalam hati.
"Dasha dengarin aku,cukup sampai sini saja kau berhadapan dengan Ergin. Selebihnya biar aku yang menghadapinya, aku tidak mau kau kenapa-kenapa nanti." ucap Elisa memperingati Dasha. Elisa tidak ingin sahabatnya dalam celaka.
"tapi,aku juga takut kau dalam celaka El."
"dia nggak akan bisa mencelakaiku Sha selagi dia belum dapat apa yang dia inginkan,aku akan menikah dengannya dan mencari tau apa yang diincarnya. Kau tenang saja,aku bisa menjaga diri,aku ini kan kuat kan?" seru Elisa senang,ia harus menyakinkan Dasha agar tidak ikut lagi terlibat dalam masalahnya.
"baiklah,tapi kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku yaa." jawab Dasha walaupuj sebenarnya dirinya tidak yakin,tetapi ia terus berdoa agar sahabatnya ini akan baik-baik saja.
"okeee." seru Elisa lagi.
***
Gazza memandang langit malam,sambil menghela napas beberapa kali. Duduk ditepi bukit sambil memandang kebawah laut ombak dari atas bukit.
"ngapain kau disini?" tanya Gazza menyadari seseorang berjalan kearahnya,tanpa menoleh kebelakang ia tahu orang itu siapa,yang tak lain adalah Zayyan.
"memastikan kau tidak bunuh diri." selorohnya langsung dilempar kaleng minuman dari Gazza.
"thanks." cengirnya langsung duduk disamping Gazza.
"cih,kau mengangguku." gerutu Gazza kesal menatap Zayyan. Zayyan terkekeh pelan,tidak memperdulikan ocehan Gazza.
"kau langsung badmood saat mendengar nama Elisa? emangnya apa kau ada masalah sama dia?" tanya Zayyan lagi.
"tidak usah membahas dia." ketus Gazza meneguk minuman kalengnya.
"cih,sensi amat. Elisa itu aku lihat nggak ada masalah,malah dia baik aku lihat."
Gazza menatap tajam kearah Zayyan, "kau memujinya aku kaduin ke Dasha. Jangan sesekali kau menduakan adikku."
Zayyan membelalak, "gilaa,nggak yaa. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah kepikiran untuk menduakan Dasha." protes Zayyan tak terima.
"baguslah." ucapnya acuh tak acuh. Zayyan menghela napas pelan,pria disampingnya ini sangatlah aneh menurutnya.
"apa kau tau Ergin?" tanya Zayyan membuat Gazza menyerngit bingung.
"siapa dia?"
"dia orang misterius yang pernah dibilang Dasha." jelas Zayyan.
"apa dia masih menganggu Dasha?!"
"iyaa,tapi nggak lagi. Sekarang dia yang akan menjadi calon suami Elisa." sahut Zayyan.
uhuk...uhuk...uhuk.
Gazza tersedak setelah mendengar ucapan Zayyan. Zayyan menepuk punggung Gazza pelan, "astaga kau ini nggak bisa minum pelan-pelan apa?" gerutunya.
"aku pulang." ucapnya langsung berdiri berjalan menuju mobilnya meninggalkan Zayyan sendiri.
"woi rumah kita sama!!" teriak Zayyan berlari menuju mobilnya menyusul Gazza yang sudah menancap gas duluan.
"haduh,anak itu. Laju kali bawa mobil." kesal Zayyan,ia pun langsung masuk kedalam mobil dan memasang seltbelt.
"ahahaha aku yakin kau tidak terima jika Elisa bersanding dengan yang lain Za,aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan nantinya." seru Zayyan bersenandung riang melajukan mobilnya menuju rumah.
Zayyan dapat melihat gelagat Elisa dan Gazza, Mereka terlihat seperti menyimpan sesuatu. Zayyan hanya diam mengamati keduanya. Apalagi setelah mendapat dari Intel yang tak lain adalah istrinya sendiri,Zayyan bisa beramsumsi jika ada perasaan lebih antara keduanya yang masih belum jelas sampai sekarang.
Sementara Gazza dengan cepat memasukkan mobilnya kedalam bagasi rumah dan berjalan cepat menuju kamarnya. Entah kenapa ia begitu kesal dan frustasi,Gazza langsung menyambar handuk dan berjalan ke kamar mandi.
"siapa Ergin? kenapa dia ingin menikah dengan Elisa?? cih,buat apa aku peduli. Terserah merekalah mah nikah atau nggak kenapa aku yang resah?!" kesalnya lagi. Suasana hatinya lagi badmood,tetapi dirinya tidak tau apa yang membuatnya begitu kesal dan marah.
"arrgh,mengganggu pikiranku! akan aku cari orang yang bernama Ergin itu!!" gerutunya lagi.