Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 43



"Elisaaa!!" teriak seseorang dengan senyuman sumringah berlari menghampiri mereka berdua. Elisa menoleh kearah Jay yang berlari kearahnya.


"sedang apa kau disini?" tanya Elisa menatap heran bertemu Jay di kantor polisi. "oh aku abis kena tilang,makanya ngurus surat tilang disini. Dia siapa?" tanya Jay menatap Gazza bingung.


Belum sempat Gazza menjawab,Elisa langsung memotong. "oh ini kenalkan dia abangku,Gazza." ucap Elisa,Gazza langsung melotot tajam kearah istrinya.


"wah,senang berkenalan dengamu Gazza,aku Jay. Aku ini tetangga apartemen nya." ucapnya masih dengan senyum lebarnya. Gazza berdecak kesal,dulu apartemen yang ia kira bisa menampung istrinya disana justru sekarang membuat malapetaka baginya. Ck,rasanya aku ingin menjual tuh apartemen sialan itu. gerutunya dalam hati.


"kalian sedang apa disini? jangan bilang kau juga kena tilang El?" tebak Jay langsung dianggukan oleh Elisa.


"seperti yang kau duga Jay." ucapnya pelan,sontak Jay tertawa pelan spontan memukul pelan punggung Elisa membuat Gazza mengepal tangannya.


Beraninya kau menyentuh punggung istriku!!. geramnya tetapi orang yang ia tatap tidak peka dengan tatapannya. Jay langsung merangkul Elisa sontak membuat gadis itu terkejut. "what,apa yang kau lakukan Jay." Elisa langsung menepiskan tangan Jay dari pundaknya.


"hei kau ini kenapa terkejut begitu sih. Aku sudah bilang kita ini sahabat dan tetangga yang dekat. Kau jangan sungkan padaku." serunya.


Sahabat bapakmu! mana ada sahabat byany merangkul istri orang seenaknya. geramnya lagi,Namun ia hanya bisa mengungkapkan itu dalam hatinya. Jika ia langsung menghadiahkan bogem pada pria kurang ajar didepannya ini,malah akan membuat Elisa curiga padanya. ck,kenapa juga aku peduli,toh bentar lagi kami cerai. ucap Gazza dalam hati,namun setelah terbesit memikirkan kata-kata itu malah membuat dadanya sesak. Ia seolah-olah membenci kalimat itu.


"hei,kenapa kau bengong Za!" sentak Jay menatap Gazza yang hanya diam saja. Ia pun langsung mengajak keduanya untuk makan siang diluar. "ayoo,akan ku ajak kalian kesuatu tempat."


"tunggu...tunggu,mobilku masih disini."


"mobilmu bisa kau ambil lagi nanti,ayo kita isi perut dulu." seru Jay tidak memperdulikan ocehan Elisa yang terus menolak ajakannya. "Gazza kau juga ikut bro!" serunya menarik tangan kedua manusia it.


***


Kini mereka menikmati makanan yang sudah disajikan oleh pelayan restoran itu. Tidak ada satu katapun keluar dari mulut mereka untuk memulai percakapan ketiganya. Mereka lebih memiliih diam agar yang lain membuka topik.


"bagaimana kau bisa kenal Elisa Za? kau tau dia itu sangat baik sekali,apa aku boleh berkencan dengannya?"


uhuk.


Gazza langsung tersedak dan spontan Elisa mengambil air putih untuk Gazza. Pria itu menyambut air putih yang ada ditangan istrinya dan meneguk kandas.


"terimakasih." Elisa hanya mengangguk, sedangkan Gazza kembali menatap tajam kearah Jay.


Apa pria ini tidak tau malu? bagaimana dia ingin mengencani istri orang?!


Rasa laparnya langsung menguap,sejak kehadiran Jay moodnya langsung buruk dan sesak. Tetapi ia hanya bisa menghela napas pelan dan tidak membuat istrinya curiga.


"El,kau ada membawa obatmu kan? harus diminum abis makan." ucap Jay membuat Gazza menoleh kearahnya.


"obat?"


Jay menatap bingung, "loh,kau nggak tau jika Elisa koma selama dua tahun? kau kemana saja sih." ketusnya. Ia heran,bagaimana keluarga Elisa bisa tidak tau dengan keadaan sang adik.


Gazza memejamkan matanya menahan rasa amarah yang kian membuncah,memang ia akui ini adalah kesalahan fatal yang pernah ia lakukan,karena tanpa ia sadari jika istrinya ini sempat diambang Kematian.


Melihat atmosfer disekitar mereka terlihat tidak baik-baik saja,Elisa pun langsung mengalihkan topik. "ah iyaa,bagaimana kalau kita besok bakar-bakar sate?"


"wah iyaa pasti seru tuh. Malam besok?" Seru Jay antusias. Elisa mengangguk membuat Jay langsung bersorak riang dan tanpa sadar memeluk Elisa yang kebetulan duduk disampingnya. Gazza mengepal tangannya kuat. "aku ke kamar mandi dulu." ucapnya dingin meninggalkan mereka berdua,melihat mereka terlihat bermesra-mesraan didepannya membuat hatinya terbakar. Ia tidak suka istrinya dipeluk oleh laki-laki lain.


"sedang apa kau disini?"


"cih suka-suka aku lah,aku ingin buang kecil." selerohnya menuntaskan akitivitasnya. Gazza berdecak pelan." Jay tersenyum puas menatap raut kesal yang ditunjukkan Gazza.


Setelah Jay selesai menuntaskan panggilan alamnya ia berdiri disamping Gazza sambil mencuci tangannya. "aku menyukai Elisa,kalau kau tidak keberatan,bisakah kau menjauh dari Elisa."


Deg. Cukup,ia sudah tidak tahan lagi,amarah sudah mulai meledak. Ia langsung mencengkram kerah baju Jay dengan kuat. "berani sekali kau mengaturku!" geramnya sedangkan Jay hanya tersenyum remeh.


"kau hanya suaminya buruk baginya,lebih baik ceraikan saja dia dan aku yang akan menikah dengannya. Kau pengecut."


Deg. Mata Gazza membulat saat mendengar Jay ternyata sudah mengetahui statusnya dengan Elisa. "heh,trus kenapa kau tidak tau malu kalau sudah tau,berani sekali kau mendekati istriku?!"


"apa?! istri?! istri mana yang kau sebut itu Gazza? Elisa maksud mu? apa kau mencintainya? nggak kan."


Gazza langsung meninju pipi Jay sampai pria itu jatuh.


Bugh.


Jay terkekeh pelan,sambil mengusap sudut bibirnya yang sudah mulai mengeluarkan darah. Ia pun langsung berdiri dan mencengkram baju Gazza. "harusnya kau ngaca. Kalau kau tidak bisa menjaga Elisa lebih baik berikan padaku." ucapnya lalu mendorong Gazza. Dan ia merapikan kerah kemejanya lalu berjalan keluar. Gazza benar-benar tidak terima,ia pun langsung keluar menyusul Jay dan kembali menghajar pria itu. Jay yang tidak terima,pun membalas pukulan Gazza.


Semua orang yang melihat itu histeris dan berusaha menghentikan mereka. "tolong hentikan!!!" teriak mereka tetapi dua pria itu seolah-olah tuli dan masih meluapkan kemarahan mereka.


Elisa yang bingung kenapa banyak yang berkuruman dekat sana,ia pun langsung berjalan karena penasaran. "hentikan mereka cepat!!" seru dari beberapa pengunjung restoran itu. Elisa kembali menyerngit lalu sedikit menjijit agar ia bisa melihat siapa yang menyebabkan keributan di restoran itu.


Deg. Ia begitu terkejut melihat suaminya dan Jay berkelahi secara brutal. Sontak ia langsung masuk ke kerumunan dan menghentikan mereka. "Jay,Kak Gazza hentikan!!!" teriaknya langsung memegang tangan mereka berdua.


Kedua pria itu masih tidak mendengarkan Elisa,membuat Elisa begitu jengkel. "Kalau kalian nggak berhenti juga,jangan harap kita bertemu lagi!" ancamnya kesal lalu keluar dari kerumunan. Mendengar ancaman Elisa sontak membuat mereka berdua terdiam. Lalu mengejar Elisa yang sudah menghilang dari pandangan mereka.


Gazza langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Elisa. Sampai matanya melihat sosok yang ia cari berada diluar restoran. Ia pun langsung berlari menghampiri Elisa.


"jangan dekati Elisa,Gazza brengsek!!" umpat Jay menyusul Gazza. Gazza tetap tidak mempedulikan ucapan Jay, saat dirinya hendak menghampiri Elisa.


Sial. Gazza langsung mendorong tubuh Jay kebelakang dan ia langsung berlari cepat menyelamatkan Elisa yang hampir ditabrak mobil yang melaju kearah gadis itu.


Braaak.


Gazza langsung memeluk Elisa dan membiarkan dirinya terhantam mobil. tangannya melindungi kepala Elisa dari benturan aspal. Gazza tersenyum menatap Elisa yang berada dibawahnya,menatapnya dalam.


"aku tidak suka diriku yang menyukaimu,membuatku menjadi bodoh." lirihnya pelan. Kini ia menyadari perasaannya dan mengerti kenapa Almira saat itu mengorban nyawanya demi menyelamatkan Elisa,karena tidak ingin kehilangan orang yang sangat berharga baginya. Gazza pun langsung tidak sadarkan diri.


"Gazza!!!" teriak Elisa histeris,ia terus mengguncangkan badan suaminya agar tetap membuka mata pria itu.





~Please Forgive Me~