Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 10



Gazza mengumpat pelan duduk didekat kaca sambil melirik kearah gadis yang membuatnya tidak tidur semalaman bersama seorang pria yang wajahnya masih belum tau seperti apa,karena pria itu membelakangi Gazza.


"ah sial,kenapa aku bisa mengikuti mereka?!" umpatnya lagi.


#flashback On


Gazza menggerutu kesal,ia tidak bisa tidur dengan langkah lungkai ia menuju dapur mengambil air putih untuk menenangkan pikirannya. Namun,ia mendengar suara samar-samar dari dapur membuat dirinya urung menuju kesana. Ia mengintip dan tertegun mengetahui jika Elisa tengah menelpon seseorang.


"untuk apa kita bertemu? bukannya kemarin kita sudah ketemu??" tanya Elisa kesal,pria yang akan menjadi calon suaminya terus menerornya menelpon ditengah malam.


"terserah kau saja,kita ketemu di cafe diseberang perpustakaan itu,kita ketemu jam delapan pagi." ucap Elisa langsung memutuskan teleponnya. Ia menghela napas pelan lalu ia dengan cepat meneguk segelas air putih.


"huft,aku lelah." lirihnya lagi. Gazza langsung bersembunyi saat Elisa hendak keluar dari dapur,gadis itu tidak menyadari jika daritadi Gazza berada disana.


Elisa langsung menaiki tangga menuju kamar Dasha. Gazza melirik kearah punggung gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Gazza yang awalnya ingin mengambil air,tetapi ia urung. Pria itu langsung melesat berjalan ke kamarnya. Ucapan gadis tadi membuatnya penasaran,dan memutuskan untuk menguntit gadis itu besok.


#Flashback Off


Untung saja Elisa tidak mengenali Gazza,karena pria itu memakai topi dan masker hitam sehingga siapapun tidak akan mengenalinya.


Gazza dapat melihat perdebatan antara keduanya,Elisa langsung berjalan keluar tanpa menghiraukan panggilan Ergin. Gazza yang melihat itu tersenyum smirk dan ikut keluar mengikuti Elisa.


Elisa berlari kecil tak tentu arah, tiba-tiba ia memegang dadanya terasa sesak. Ia kesulitan bernapas karena penyakit asma yang dideritanya,dengan cepat ia mengambil inhaler didalam tasnya dan menghirup inhaler itu. Elisa terduduk dilantai sambil mengatur napasnya.


Setelah merasa tenang,Elisa menghela napasnya pelan. "huft,aku tidak tau lagi harus gimana sekarang." ucap Elisa pelan memandang nanar lalu lalang mobil yang melintas. Hidupnya begitu pahit menjalani ini semua,semua desakan bertumpuh padanya.


"Haiiis semangaat El!!" serunya menyemangati dirinya sendiri. Ia tidak boleh lemah,ia harus bisa menghadapi semuanya. Elisa juga harus menyelesaikan sesuatu sebelum dirinya menikah nanti,yaitu merajut syal untuk Gazza terakhir kalinya.


Elisa berdiri sambil mengibas pakaiannya dan memasukkan nebulizer miliknya kedalam tasnya,ia pun berjalan menuju sebuah toko tempat bahan untuk syalnya.


Sementara Gazza yang mengawasi Elisa menyerngit bingung,ia cukup terkejut mengetahui jika Elisa memiliki penyakit asma tetapi ia juga bingung Elisa yang tiba-tiba bersemangat menuju toko diseberang sana.


"tunggu,ngapain aku ngikutin dia terus,ah sudahlah lebih baik aku pulang." gerutunya lagi langsung berbalik arah kearah cafe tadi.


Gazza berjalan dan melihat pria yang tadi bersama Elisa. Matanya memandang tidak suka menatap pria yang tengah menelpon itu. Tidak ingin memperdulikan pria itu,Gazza berjalan melewatinya.


"maa aku akan buat Elisa sengsara nanti,tenang aja maa." ucap Ergin santai.


Deg. rahang Gazza mengeras,menyorot tidak suka kearah Ergin. Ergin tidak menyadari tatapan Gazza,ia fokus menelpon dengan seseorang disana.


"kan kita memang mengincar hartanya maa,apalagi kecelakaan waktu itu bisa membungkamnya nanti." seru Ergin lagi. Ingin rasanya Gazza menghajar habis-habisan pria itu,tetapi akal sehatnya untung menyadarkannya. Ia tersenyum smirk saat mendapatkan ide untuk membuat pria itu jatuh.


"akan kubuat kau tidak mendapat harta darinya." gumam Gazza berlalu meninggalkan tempat itu.


***


"hei bang kenapa kau menekuk wajahmu gitu?" tanya Dasha heran melihat Gazza. Sejak pria itu tadi pulang,raut wajahnya terlihat tidak ramah.


"nggak ada."


"cih,kau seperti tidak biasanya bang." oceh Dasha lagi,ia kembali memandang abangnya.


"kau mau tau sesuatu tidak?" seru Dasha membuat Gazza melirik kearahnya.


"apa?" tanyanya sambil mengaduk adonan kue. Memang saat itu mereka tengah memasak kue atas permintaan ngidam si bumil,yang tak lain adalah Dasha sendiri.


"kau tau,sahabatku itu bentar lagi menikah." lirihnya.


Gazza melirik sekilas kearah Dasha, "lalu kenapa? bukannya kau harus bahagia?" tanya Gazza lagi sambil menuangkan adonan kedalam cetakan.


"ish,kau itu nggak ada perasaan sama sekali." sentak Dasha menatap tajam kearah Gazza.


"aku nggak ada perasaan? memangnya aku kenapa?"


"jangan dibahas lagi." ucapnya dingin dengan cepat langsung masukkan adonan tadi kedalam oven. Ia pun melepaskan celemek cepat lalu berjalan keluar tanpa menoleh kearah Dasha.


"sabar...sabar,itu Abang kesambet apa sih,sensi kali." gerutunya membereskan bekas membuat adonan. Ia menunggu adonan kuenya matang.


Dasha menoleh kearah pria yang tadi dinginnya seperti kulkas berjalan kembali ke dapur.


"ngapain?" tanyanya bingung menatap abangnya menghampirinya.


"mau ambil ponselku." ketusnya menyambar ponselnya diatas meja,Dasha menggeleng pelan melihat tingkah abangnya itu.


"Dasha." panggilnya membuat adiknya itu menoleh,


"apa?"


"nggak jadi." ucap Gazza berlalu membuat Dasha menggerutu kesal.


"dasar Abang labil!!" teriaknya kesal melempar serbet ditangannya.


***


Elisa bersenandung riang merajut syal yang dibuatnya saat ini. Ia tampak lebih mahir merajut syal itu.


"sebentar lagi aku menikah." gumamnya pelan. Lalu ia melirik kearah jendela kamarnya menatap langit malam dan angin yang menerpa wajahnya.


"kak,aku sebentar lagi menikah. Maaf kak,aku menyukai pacar kakak,serius aku tidak tau kalau kak Gazza pacar kakak. Tapi,aku ingin memberikan syal ini padanya. Aku ingin terakhir kalinya memberikan ini sebelum aku menikah,setelah itu aku akan fokus mencintai suamiku." gumamnya lagi,ia pun menyeka air matanya.


"tenang saja kak,aku akna baik-baik saja. Aku ini kuat kok,adik kakak ini kan kuat bukan lemah." lirihnya lagi. Elisa pun kembali menangis kencang meluapkan semua yang menyesakkan dalam hatinya malam ini.


"kau menangis lagi El?" tanya Dasha begitu khawatir melihat mata Elisa sembab. Mereka hari ini ada kelas tambahan untuk penentuan judul skripsi mereka.


"huft,aku tadi bermimpi bertemu kakak. Makanya nangis tadi." kilah Elisa bohong, Dasha pun langsung memeluk Elisa lagi.


"tenang,kakakmu itu sudah tenang disana." ucap Dasha lagi.


"ayo,kita beli eskrim biar kembali ceria lagi!" seru Dasha tanpa basa-basi menarik tangan Elisa keluar. Mereka langsung berlari kecil menuju tempat eskrim diluar sana.


Tangan Dasha langsung dipegang seseorang membuat langkah mereka langsung berhenti, Mereka pun langsung menoleh kearah orang itu.


"bang Zayyan!" sentak Dasha.


"hei sadar, kau itu sedang berbadan dua. Ah bisa-bisa kau berlari seolah tidak ada beban." gemas Zayyan menatap istrinya.


Dasha terkekeh pelan,hampir saja anak didalam terguncang berputar seperti gilingan mesin cuci. Zayyan menghela napas pelan menatap istrinya. Elisa juga terkekeh pelan melihat kelakuan sahabatnya.


"makanya pelan-pelan jalannya sha." ucap Elisa pada Dasha.


"iyaa...iyaa maaf. Maafkan mama ya nak,hampir aja kamu kegelinding." kekehnya membuat semua yang mendengar ucapan bumil itu tertawa.


"kak, kakak kok bisa disini?" tanya Elisa menatap suami sahabatnya berada dikampus mereka.


"oh itu, makhluk diujung sana katanya ingin kesini." tunjuk Zayyan kearah seseorang yang sedang duduk dibawah pohon itu.


Elisa mengikuti arah pandang Zayyan dan terkejut mengetahui yang tak lain adalah Gazza.





~Please Forgive Me~