Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 11



"bang Gazza? ada angin apa dia kesini?" tanya Dasha bingung. Abangnya itu sangat jarang mengunjungi kampusnya,terlebih dia kini sudah tamat kuliah.


"mana kutau tanya aja sendiri." ucap Zayyan acuh tak acuh.


"hmm dari kemarin aneh terus tingkahnya. Oh ya sayang,kata bang Gazza,dia mau ngajak nonton kan waktu itu? tapi sayang kemarin nggak bisa karena ada kendala kan?" tanya Dasha menatap suaminya.


"iyaa tapi bukan aku yang ada urusan,tuh babang tampan kalian." seru Zayyan lagi melirik kearah Gazza. Gazza tidak menyadari jika dirinya menjadi sorotan ketiga orang dibelakangnya itu.


"tapi pokoknya hari ini harus jadi nonton!" seru Dasha menarik tangan keduanya. Elisa hanya pasrah mengikuti Dasha begitupun juga dengan Zayyan.


"bang!" panggil Dasha membuat Gazza menoleh kebelakang, "kenapa?" tanyanya dengan muka datar.


"ayo nonton!" seru Dasha lagi.


"tidak." jawab Gazza.


"loh kok tidak? kata kau kemarin mau nonton." protes Dasha memberengut kearah abangnya.


Tepat saat Gazza mau menjawab, tiba-tiba ada suara klakson yang menggema pendengaran mereka. Semuanya langsung melirik kearah pria yang bersandar didepan pintu sambil memakai kacamatanya.


"Elisaa!!" teriaknya. Elisa menyerngit bingung sekaligus terkejut saat melihat Ergin ada disini. Tidak ada sahutan dari calon istrinya,Ergin langsung menghampiri Elisa.


"haii." sapanya ramah. Elisa hanya mengangguk pelan, " ada apa?"


"ayoo kita ke butik. Kita harus fitting baju pernikahan kita." seru Ergin lagi,tanpa permisi ia merangkul Elisa. Itu semua tidak luput dari pandangan Gazza.


Elisa merasa tidak nyaman,ia pun melepaskan rangkulan Ergin.


"Sha, sepertinya aku tidak bisa ikut nonton. Kita lain kali aja yaa." ucap Elisa sedikit lesu. Ia sangat ingin pergi menonton bioskop bersama Dasha dan yang lainnya.


Dasha hanya menghela napas pelan dan menepuk pundak Elisa, "sabar bestie,biar adil kita hari ini tidak jadi nonton. Kita akan nonton saat Elisa bisa saja." ucapnya berbisik. Elisa mengangguk pelan dan berterimakasih pada Dasha.


"ayoo cepat!" seru Ergin tidak sabaran langsung menarik tangan Elisa cepat menuju mobilnya.


"kita jadi nonton?" tanya Zayyan menatap Dasha dan Gazza saat Elisa sudah hilang dari pandangan mereka.


"tidak." sahut kakak beradik itu serentak dengan ketus. Gazza langsung beranjak dari tempatnya menuju mobilnya begitu juga dengan Dasha berjalan menuju mobilnya.


"cih kenapa mereka jadi serentak? loh kok aku ditinggalin?? Dashaa!!!" teriak Zayyan langsung menyusul istrinya.


***


Dasha mengumpat dalam hatinya begitu kesal melihat abangnya Kasak-kusuk tidak karuan didepannya.


"hei bang kau bisa tidak tenang sebentar?! aku pusing liat kau mondar-mandir tidak karuan gitu." gerutunya membuat Gazza menoleh kearahnya.


"kalau pusing,ya sudah sana cari tempat lain." sahut Gazza,ia tidak memperdulikan tatapan tajam yang ditunjukkan adiknya saat ini.


"ya ampun Dasha, bagaimana kau bisa mempunyai Abang seperti ini??" gumamnya lalu berjalan menuju tangga meninggalkan pria yang bertingkah aneh tidak karuan.


Gazza membuang napasnya kasar,perasannya tidak tenang daritadi. Ia pun berjalan mengambil air putih untuk melegakan hatinya.


"kau mau minum segalon langsung Za?" tanya Zayyan yang baru saja tiba dari swalayan. Ia terkejut melihat Gazza memegang galon dan hendak memasukkan kedalam mulutnya.


"cih,diamlah." gerutunya lagi lalu diletakkan galon itu disamping dispenser dan berjalan mendahului Zayyan.


"itu anak kenapa lagi??" gerutu Zayyan heran,ia pun meletakkan minuman kaleng pesanan istrinya kedalam kulkas.


Sementara Elisa hanya diam mengikuti arah Ergin berjalan. Dirinya ingin segera pulang sekarang juga.


"kau suka yang mana? yang warna putih atau cream?" tanya Ergin memegang kedua gaun mewah itu.


Elisa tampak tidak berminat memilih gaun diantara keduanya itu. Percuma ia memilih yang bagus tetapi untuk acara yang sama sekali tidak ia minati. Terlebih menyangkut masa depannya yang sudah terlihat tidak ada setelah menikah nanti.


Fyuuh masa depanku yang suram. lirihnya dalam hati. Dengan asal ia memilih gaun yang berwarna putih dan berjalan mendahului Ergin.


Ergin langsung menarik tangan Elisa dengan keras dan memasukkan wanita itu kedalam mobil. Elisa begitu terkejut sekaligus meringis kesakitan saat tangannya dicekal oleh Ergin tadi. Ergin langsung berputar dan duduk dikursi kemudi.


"kau itu kenapa?!" sarkas Elisa tidak terima diperlakukan kasar.


"bisa tidak kau itu tidak dingin padaku hah?!" bentak Ergin membuat Elisa terdiam.


"cih,kau itu merepotkan sekali." gerutu Ergin lagi. Elisa yang begitu kesal hendak membuka pintu mobil namun langsung ditahan oleh Ergin.


"kau berani keluar,akan ku pastikan video kecelakaan itu tersebar!!" ancam Ergin membuat Elisa menatap nanar kearahnya.


"bagus,kau sudah menunjukkan sifat aslimu!" bentak Elisa lagi.


Sontak Ergin tertawa lebar membuat Elisa sedikit ketakutan melihat tawa meremehkannya. Air matanya hampir menetes membasahi pipinya.


"Elisa Qamela,kau harus nurut denganku. Atau keluargamu yang akan menanggung malu,liat saja nanti!!" sentak Ergin lagi.


"kita akan menikah besok,jadi selama datang dikehidupanku Elisa." seru Ergin menatap nakal kearah Elisa.


"sialan,apa mau mu sebenarnya?!" bentak Elisa lagi.


"harta warisanmu!" jawab Ergin tersenyum puas melihat kecutnya Elisa.


"kau gilaa!!" bentak Elisa lagi,ia pun langsung keluar dari mobil dan membanting pintu berjalan masuk kembali kedalam mall.


"Elisa!!" panggil Ergin lagi,namun Elisa sama sekali tidak menoleh kearahnya membuat Ergin langsung tersenyum evil.


"akan ku buat kau seperti didalam neraka,lihat saja besok!" seru Ergin langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu Elisa.


Elisa berjalan menuju tempat eskrim untuk mengembalikan moodnya yang hancur berantakan tadi.


"mbaak saya beli eskrim yang rasa vanila blue yaa." ucap Elisa pada penjual eskrimnya. Setelah pesanannya sudah jadi,barulah Ia mencari tempat duduk untuk menikmati Eskrimnya.


"yummy"


Setelah menghabiskan eskrimnya,ia pun langsung beranjak dari tempatnya. Ia sudah tau jika dirinya ditinggal pergi, Elisa pun memesan ojek online.


Sampai dirumah Elisa langsung berjalan menuju rumahnya. Elisa dikejutkan dengan kedatangan calon mertuanya tengah bercengkrama dengan mamanya.


"Nah itu dia orangnya." tunjuk Mama melihat anaknya baru saja masuk kedalam rumah,Elisa tersenyum tipis dan menyalami kedua tangan wanita itu. Elisa duduk disamping mamanya menatap calon mertuanya.


"wah nggak sabar yaa,kita bakalan jadi besan." seru Calon mertuanya itu. Elisa hanya mengangguk pelan menanggapinya. Ia sudah pasrah yang akan terjadi kedepannya.


"kamu tau nggak? Ergin bilang kamu mau cepat-cepat menikah,mau besok yaa?" tanya calon mertuanya antusias. Elisa tampak terkejut dengan pernyataan yang terlontar itu,ia mengumpat kesal dalam hatinya.


Damn! bisa-bisa dia memutarbalikkan fakta?!


"ya ampun sayang,mama nggak nyangka kamu nggak sabaran gitu." ucap mama tersenyum kearah Elisa. Elisa hanya diam tersenyum menanggapi mamanya.


"ya sudah Zeline,bagus juga besok kalau mereka menikah." seru mama Teresa,Elisa membulatkan matanya terkejut, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Toh, percuma karena keputusan akan selalu ditangan orang tuanya.


"okee,kita cepatin saja besok." ucap Zeline menyetujui usulan besannya. Setelah berbincang panjang lebar masalah pernikahan yang akan diadakan besok secara mendadak,akhirnya orang tua Ergin itu pulang. Elisa langsung membersihkan bekas minuman yang ada diatas meja tamu.


"mama senang kamu mengambil keputusan ini nak." ucap mama Teresa mengelus kepala Elisa lembut lalu ia berjalan menuju kamarnya. Elisa hanya memandang nanar punggung perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya ini. Ia ingin menjerit dan bilang jika dirinya tidak ingin menikah dengan Ergin. Tetapi,ia tidak boleh durhaka kepada orang tuanya,ia harus yakin jika pilihan orang tuanya adalah yang terbaik.


Tapi Mama apa aku boleh egois sedikit?





~Please Forgive Me~