
Elisa sedikit merinding saat mengingat hal langka tadi didepan matanya. Walaupun terlihat samar karena lampu dibioskop sedang mati tidak menutup kemungkinan Elisa melihat bayangan mereka. Untung hanya dirinya seorang yang melihat kejadian itu. Lalu matanya beralih kearah suaminya.
"kenapa kau bisa ada disini kak?" tanya Elisa penasaran. Dalam hatinya ia begitu senang suaminya datang kesini,apakah suaminya cemburu?. Elisa menyembunyikan senyumnya dengan muka datarnya.
Lain halnya dengan Gazza,sedikit gugup dan bingung menjelaskan alasan apa,jika saja Jay tidak bertindak kurang ajar mungkin penyamarannya tidak akan ketahuan.
Sial,aku harus menjawab apa? kenapa otakku tiba-tiba buntu?! gerutu dalam hati sambil mengusap kasar pipinya yang sudah tercemar.
Jay berdecak kesal karena rencananya gagal,ia ingin sekali menendang jauh suami Elisa itu,tetapi ia urung mengingat Elisa mencintai suaminya.
"kenapa? apa aku nggak boleh kesini?" tantang Gazza berbalik tanya.
Elisa menggaruk tengkuknya tidak gatal,siapa juga yang melarang suaminya datang? justru ia snagat senang suaminya ada disini.
"bukan itu,tadi saat aku ajak kau tidak mau ikut." kilah Elisa lagi.
"kapan kau ajak aku? kau tidak ada bilang apa-apa tadi ya El." protesnya.
"eh iyaa yaa? maaf kak." sesalnya pelan,Gazza menghela napas pelan lalu menarik tangan Elisa, "kak,filmnya belum selesai."
"nggak seru." ketusnya tetap menarik tangan istrinya keluar. Lama-lama berada didalam bioskop itu membuatnya terus tekanan darah tinggi. Elisa hanya pasrah menurut mengikuti suaminya.
"kak,kita mau kemana?" tanya Elis bingung mengikuti suaminya yang berlawanan arah dengan tempat parkir Mall. Gazza tidak menghiraukan Elisa dan tetap berjalan terus kedepan. Sampailah mereka ditempat toko eskrim. Mata Elisa berbinar menatap beranekaragam eskrim itu. Gazza dapat melihat istrinya sangat suka dengan eskrim sama dengan adik bungsunya yang menyebalkan itu.
"kau ingin pesan apa?" tanya Gazza sembari melihat menu dipegangnya. Elisa langsung merampas menu yang sedang dipegang Gazza,tanpa memperdulikan jika pria itu akan marah padanya. Namun diluar dugaan pria itu malah mengelus kepala Elisa dengan lembut membuat Elisa salah tingkah.
"aku mau yang vanila toppingnya caramel." seru Elisa menyebutkan pesanannya,Gazza mengangguk lalu memesan rasa yang sama dengan istrinya. Sembari menunggu,Gazza terus memperhatikan wajah istrinya yang tampak antusias melihat proses pembuatan eskrim gulung itu.
Diam-diam Gazza mengambil gambar istrinya sambil tersenyum tipis menatap hasil gambar Elisa diponselnya. Elisa menoleh kearah Gazza seketika senyumnya luntur disaat pria itu tengah tersenyum tetapi bukan untuknya melainkan menatap ponsel pria itu membuat dirinya salah paham. Elisa yakin jika ada seseorang yang berhasil merebut hati suaminya itu selain kakaknya,dan baru kali ini Elisa melihat senyuman Gazza sejak kematian kakaknya.
Apa kau tidak bisa mencintaiku kak? atau apa kau tidak bisa melihatku sebagai istrimu? lirih Elisa dalam hati. Elisa tidak tahu jika pria itu tengah memandang gambar dirinya,bahkan pria itu sengaja memasang gambarnya sebagai walpaper didalam ponselnya.
"kenapa kau terlihat murung?" tanya Gazza bingung menatap wajah istrinya. Elisa menggeleng pelan,tampak enggan menjawab suaminya dan ia lebih memilih melihat pembuatan eskrim itu daripada melihat wajah suaminya.
***
Gazza dibuat bingung dengan sikap istrinya yang terlihat dingin padanya,Elisa bagaikan suhu termometer,suka berubah-ubah dalam waktu tertentu kadang tersenyum cerah,kadang sedih,kadang marah,kadang tidak jelas,dan sekarang gadis itu terlihat diam menatap kearah samping tanpa mau menoleh kearahnya.
"ada apa?" tanya Gazza lagi,ia harus esktra sabar menghadapi istrinya. Ia tidak mau kembali berdebat lagi, sungguh membuatnya lelah.
Sesampai dirumah,Elisa langsung bergegas keluar dari mobil tanpa menunggu Gazza. Ia pun berjalan menuju kamarnya. Gazza hanya menghela napas mengikuti istrinya itu. Saat ia masuk dapat ia dengar gemericik dalam kamar mandi menandakan istrinya sedang mandi.
Sembari menunggu Elisa selesai,Ia pun memainkan ponselnya. Namun, lagi-lagi ia pikirannya kembali terganggu disaat ada pesan email dari kampusnya. Ia menghela napas pelan,rasanya ia masih bimbang untuk memutuskan apa yang terbaik saat ini.
Tanpa sadar Elisa sudah berada didepannya,pria itu masih sibuk melamun membuat Elisa menyergit bingung. Ia pun langsung mengambil ponsel Gazza membuat pria itu tersadar dan mendongak kearah Elisa.
"kak,kenapa kau tidak pergi kesana?" tanya Elisa menatap lekat kearah suaminya itu. Ia sangat penasaran kenapa suaminya itu menyia-nyiakan impiannya? apa yang sebenarnya dipikirkan pria ini?
"kenapa kau ingin aku kesana? kau tidak suka aku disini?" tanya Gazza balik dengan tatapan tidak suka dengan pertanyaan Elisa. Sungguh,ia tidak mau jauh dari istrinya apalagi pria yang bernama Jay itu masih berkeliaran disini.
Elisa berdecak pelan,lalu duduk tepat didepan Gazza, "kak,aku bukannya nggak senang kau disini. Tapi,kampus itu impianmu kan? pergilah." ucap Elisa pelan.
Gazza mencengkram bahu istrinya sedikit keras tetapi membuat gadis itu sedikit kesakitan, "kau ingin mengusirku supaya kau bisa bersama Jay kan?!" bentak nya membuat Elisa menatap nyalang kearahnya. Dengan segera ia menepis tangan Gazza dan mencengkram kerah baju Gazza kuat.
"kak apa kau sudah gila?! untuk apa aku bersama dengannya kalau aku sudah menikah?! pikiranmu itu terus negatif tentangku?! kau terus membenciku tidak jelas,aku ini istrimu kak!! istrimu!!" bentak Elisa membuat pria itu terdiam. Ia juga sedikit terkejut dengan tindakan istrinya saat ini.
"Elisa!!" sentak Gazza memegang lengan istrinya,amarah Elisa semakin memuncak menatap suaminya. "apaaa?! kau membenciku kan kak?? karna itu kau menikah denganku kan?? kau dengan sengaja mengacaukan pernikahanku? kenapa kau terus membuatku menderita kak? kenapa kau tidak membiarkan aku menikah dengan Ergin waktu itu? apa rencanamu selama ini kak??"
Gazza diam membiarkan istrinya meluapkan semua kekesalan yang ada dalam hatinya. Ia merasa menyesal membuat istrinya merasa terbelenggu menikah dengannya. Gazza tidak ingin Elisa bersanding dengan siapapun kecuali dengannya,ia sangat tidak suka siapapun yang mendekati Elisa. Dirinya begitu marah jika ada yang menyentuh Elisa,kecuali dirinya.
"kenapa kau diam kak?!" sentak Elisa sambil menangis sesenggukan,entah kenapa emosinya meningkat tanpa ia sadari. Mungkin sudah terlalu banyak beban yang membuatnya sesak dihatinya. Ia hanyalah manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Ia hanyalah seorang perempuan yang lemah.
Gazza kebingungan harus berkata apa,jika ia berbicara takut membuat Elisa salah paham lagi. Dirinya pun memilih diam tetapi membuat Elisa semakin marah padanya.
"oh aku tau,kau sudah memiliki perasaan dengan perempuan lain kan? aku paham. Dengan bodohnya aku mencintaimu disaat kau membenciku kak." ucapnya sudah melantur kemana-mana. Gazza mengeras rahangnya,kesal dituduh tidak-tidak dan semakin membuat hubungannya dengan Elisa semakin runyam.
"aku mencintaimu Elisa!!! apa kau dengar??" teriak Gazza menatap tajam kearah Elisa sambil menangkup wajah istrinya itu agar menatap matanya lekat.
"yeeey!!!" seru seseorang didepan pintu kamar mereka.
•
•
•
~Please Forgive Me~