
Apa?. Elisa memastikan telinganya mendengar dengan benar. Tampak sesekali ia mengusap pelan telinganya itu agar memastikan apa yang ia dengar memanglah nyata bukan bohong belaka.
"wuiiih selamat yaa bang,udah nyatain perasaannya." seru Dasha tanpa permisi langsung menimbrung masuk kedalam kamar Gazza. Awalnya ia kira ada terjadi pertengkaran antara keduanya,tidak ingin hal buruk terjadi membuat Dasha tergesa-gesa menuju ke kamar Gazza.
Gazza berdecak kesal kearah adiknya,
ia marah akan dua hal,pertama adiknya itu selalu saja ceroboh lupa sedang berbadan dua,lalu kedua yang ia sangat kesalkan yaitu adiknya mengganggu waktunya berdua dengan Elisa. Padahal lidahnya sudah susah payah mengucapkan kata-kata itu tadi.
Dasha,kenapa kau kesini sih??? Elisa memberengut kedatangan Dasha yang tidak diundang. Bukannya tidak suka jika sahabatnya itu datang ke kamarnya,hanya saja waktunya tidak tepat. Dasha melirik bergantian wajah kusut suami istri itu yang sedang menatapnya. Ia terkekeh pelan saat menyadari dirinya mengganggu waktu mereka berdua.
Siapa suruh ada keributan? kan aku mengiranya kalian bertengkar. gumamnya tidak merasa bersalah. Lalu terbit ide cemerlang dari otaknya,seketika ia tersenyum smirk.
Nak,kamu tau apa yang mama pikirkan? bagaimana kita beri sedikit bumbu pada pasangan hambar didepan kita ini hehehehe. gumamnya senang seolah-olah ia sedang berbicara dengan bayi didalam kandungannya saat ini.
"a-aduh sakit." Sasha pura-pura memegang perutnya yang sakit sontak membuat kedua pasangan didepannya ini khawatir.
"ada apa Dasha yang mana yang sakit?" tanya Gazza panik apalagi Elisa langsung mengusap punggung Dasha.
"katakan padaku Dasha,apa yang sakit? kita pergi kerumah sakit yaa." bujuk Elisa bergegas mengambil ponselnya hendak menghubungi Zayyan.
"jangaaan!!" cegah Dasha masih dalam aktingnya. Ia tidak ingin suaminya itu akan mengacaukan rencananya,untung saja Zayyan sedang berada diluar saat ini.
"terus kami harus gimana? ayo kerumah sakit Dasha!" ajak Elisa,ia tidak ingin terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Lalu ia menatap tajam kearah suaminya yang diam menatap Dasha, "haiiis kak! cepatan bantuin Dasha bawa ke mobil,bukan diam bengong aja!!!" sentak Elisa membuat Gazza gelagapan. Baru kali ini Elisa membentaknya. Bukannya ia tidak ingin membantu tetapi adik liciknya itu hanya sekedar pura-pura saja,terlihat jelas dari wajah Dasha.
Melihat Gazza tak kunjung bergerak membuat Elisa langsung menendang suaminya itu hingga tersungkur kebawah.
Bruuk.
"cih lambat,aku nggak mau ada apa-apa dengan keponakanku ya kak! ayo cepat Dasha tinggalkan orang lemot ini!!!" ucapnya menggebu-gebu sambil memapah Dasha keluar kamar. Dasha hampir saja tertawa lepas melihat abangnya ditindas sahabatnya,ia pun terus mengulum senyum memandang Abangnya yang terlihat tidak berdaya itu.
Gazza mengumpat dalam hatinya sambil memegang bokongnya yang sukses mencium lantai,menatap tajam kearah Dasha yang sudah dipapah keluar oleh istrinya.
Cih,kenapa dia jadi sensi begini? gumamnya terkejut melihat Elisa tiba-tiba marah. Tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya,ia pun langsung bergegas menyusul mereka berdua.
"ma-mana kunci mobil??" tanya Elisa panik sambil mengobrak-abrik tempat kunci. Sangking paniknya ia tidak melihat jika kunci mobil sudah ada ditangan suaminya.
"haiis mana dia?!!" tanyanya gusar,ia pun tak menyerah terus mencari kunci mobil itu. "Dasha kau tunggu sebentar disitu,tahan bentar yaa." ucapnya tanpa menoleh kebelakang. Sedangkan Gazza berdiri disamping adiknya,ia melirik kearah Dasha yang menyerlingkan matanya kearahnya.
"aku bantu kau." bisiknya membuat Gazza tersenyum tipis,lalu mereka langsung bertos ria untuk bekerja sama. Gazza berdeham pelan berjalan menuju istrinya yang masih sibuk mengobrak-abrik laci.
"kau mencari ini?" tanyanya sambil mengayun-ayunkan kunci mobil ditangannya. Elisa berbalik langsung menatap tajam kearah Gazza, "bilang kek dari tadi!" ketusnya langsung merampas kunci ditangan Gazza.
Elisa langsung memapah Dasha untuk masuk kedalam mobil,tetapi saat dirinya hendak masuk kedalam kursi kemudi langsung dicegah oleh suaminya.
"biar aku saja yang mengemudi." ucap Gazza namun ditolak langsung oleh istrinya, "tidak. Biar aku saja." ketusnya langsung masuk kedalam mobil. Mau tak mau Gazza langsung masuk duduk dikursi penumpang belakang.
Elisa sungguh mengerikan,ia baru tau sisi lain dari istrinya begitu mengejutkan. Istrinya itu dengan lihai memotong jalur pengendara lain dengan sempurna. Bahkan Dasha sedikit ketakutan memegang selt beltnya kuat.
"Elisa jangan kencang-kencang!" pinta Dasha membuat sahabatnya itu memelankan laju mobilnya. Sangking paniknya Elisa hampir lupa jika dirinya bersama dengan wanita hamil.
"hmm kita nggak usah kerumah sakit,perutku nggak sakit lagi." kilah Dasha lagi. Ia lupa jika suaminya sedang dirumah sakit,jika mereka datang kerumah sakit akan menghebohkan pria itu. Ia harus mencari cara lain agar tidak kerumah sakit.
"benaran? nggak sakit lagi?" tanya Elisa sambil memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Dasha mengangguk pelan, "iyaa."
Elisa menepuk jidatnya saat menyadari sesuatu,suaminya kan dokter mengapa ia sampai sepanik ini kerumah sakit? Seketika ia menoleh kebelakang melihat suaminya terlihat ketar-ketir menatapnya.
Gazza menelan saliva saat merasakan aura yang tidak bersahabat disekitarnya,ia pun memasang wajah tersenyum kikuk pada istrinya, "kenapa kau menatapku seperti itu?"
"kau sebagai dokter tidak berguna banget. Adikmu sakit tapi tidak kau periksa." sindir Elisa membuat Gazza langsung melotot kearah Dasha. Sedangkan Dasha mengedik bahu memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Gazza.
"aku bukan dokter kandungan,aku dokter umum." sela Gazza lagi.
"ya kan sama aja, sama-sama dokter,lagian kau juga mau lanjut spesialis bedah kan di Kanada?" seru Elisa menghela napas. Lagi-lagi ia malah mengungkit masalah itu sedangkan disini ia sedang bersama Dasha.
Suasana seketika menjadi canggung begitupun dengan Dasha. Tidak ingin hanya berdiam diri,membuat bumil itu turun tangan untuk membuka suaranya.
"hmm aku ngidam!" serunya menatap kedua pasangan suami istri itu. "aku mau spageti pedas,jus jeruk,sama pie rasa bluberi!!" serunya langsung dianggukan oleh keduanya.
"ya sudah kuy kita beli." ajak Elisa untuk memenuhi keinginan sahabatnya itu.
"eeitss!!" cegah Dasha membuat Elisa menatap kearahnya, "ada apa?"
"aku ingin kalian sendiri yang buat."
"apa??" seru mereka kompak. Dasha tampak acuh tak acuh, "iyaa, keponakan kalian ingin Tante sama oomnya yang buat makanan untuknya." serunya.
"aku mana bisa buat pie Sha." protes Elisa mendengar permintaan Dasha.
"apalagi aku nggak bisa buat spageti,yang benar saja lah dek,lagian ada yang jual kenapa kita harus repot membuatnya." gerutu Gazza.
Seketika wajah Dasha murung, "jadi kalian nggak mau nih buat makanan untukku?" lirihnya menatap mereka hampir berkaca-kaca. Elisa tidak tega menatap sahabatnya itu langsung dianggukan cepat, "baiklah...baiklah,akan aku buat." ucapnya pasrah.
"bukan hanya kau saja El,tapi suamimu juga." seru Dasha tersenyum lebar.
"nggak papa,dia nggak perlu ikut. Dia saja nggak bisa buat spageti." tolak Elisa.
"enak saja ngomongnya,aku bisaaa." protes Gazza tidak terima dikatakan tidak mampu. Entah apa lagi rencana yang dibuat adiknya itu,tetapi ia cukup berterimakasih dengan ini ia akan semakin dekat dengan Elisa.
Aku berutang Budi padamu adek iblisku. gumam Gazza dalam hati sambil mengacungkan jempol melirik kearah spion begitupun dengan Dasha yang ikut mengacungkan jempolnya kearah abangnya.
"yey kalian mau,ya sudah kuy kita beli bahan-bahannya,aku yakin dirumah tidak ada bahannya." ucap Dasha riang,Elisa menghela napas pelan sebelum melanjutkan perjalanannya menuju supermarket.
•
•
•
~Please Forgive Me~