
Tak terasa sudah seminggu berlalu,ini saat Gazza pergi ke Kanada untuk melanjutkan studinya. Semua berjalan lancar seperti yang direncanakan. Mereka berpamitan dengan keluarga mereka dengan embel-embel ke luar negeri untuk berlibur sejenak. Sejak seminggu yang lalu Elisa belum dapat kesempatan untuk memberikan syal dengan Gazza karena pria itu terlihat sibuk.
Walaupun sedih tetapi Elisa tetap membantu Gazza mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan pria itu. Awalnya Gazza menolak bantuan Elisa,tetapi Elisa bersikukuh keras untuk membantunya.
"Kak Gazza biarkan aku membantumu mempersiapkan ini semua. Setidaknya aku memudahkanmu mempersiapkan sesuatu kak." ucap Elisa memohon. Gazza melirik sekilas kearah Elisa,lalu menghela napas kasar.
"terserah kau saja." ucapnya lalu ia kembali mengurusi pekerjaannya. Elisa bersorak riang dalam hati dengan semangat ia mempersiapkan kebutuhan Gazza. Dimulai dari pakaian hingga perlengkapan mandi pun,dengan cepat ia selesaikan. Elisa tampak menimang untuk memberikan syal itu atau tidak sekarang. Padahal Gazza terlihat santai.
Hmm apa aku kasih sekarang aja? gumam Elisa lagi. Lagi-lagi Elisa diambang keraguan,jika ia kasih sekarang tentu ia tau reaksi Gazza akan seperti apa. Bisa jadi seperti bulan lalu dengan tega merobek syal pertama buatannya. Tetapi,kalau dirinya tidak memberikan sekarang entah kapan lagi ia akan bertemu pria itu. Yang pastinya lama.
Elisa melirik kearah koper Gazza,akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan syal itu kedalam koper Gazza tanpa sepengetahuan pria itu. Setelah siap barulah ia duduk ditepi kasur sambil memainkan ponselnya.
Dasha
Ciee mau liburan nih,lulululu mana lagi ke Kanada. Gila yaa.
Elisa tersenyum dengan pesan yang dikirim Dasha. Tetapi dalam hatinya begitu sedih bahwa semua itu hanya angan-angan saja.
Maaf Sha,aku tidak bisa memberitahumu.
Elisa
hehehehe.
Ia pun hanya membalas seadanya saja,lalu meletakkan ponselnya diatas nakas dan membaringkan dirinya ke kasur. Elisa menatap lekat kearah suaminya yang masih sibuk berkutat dengan laptop tanpa terasa matanya mulai terasa berat dan perlahan-lahan memasuki dunia mimpi.
Deg.
Elisa tersentak terbangun dari tidurnya,nyawanya belum terkumpul semua ia sudah bergegas turun dari kasur. Elisa hampir saja jatuh jika ia tidak menopang kursi didekatnya,sambil mengucek mata melirik sekeliling ruangan. Elisa panik dan napasnya tersengal-sengal berjalan tak tentu arah. Napasnya semakin sesak pertanda asmanya mulai kambuh secara tiba-tiba. Elisa langsung meraih ranselnya dan merogoh mencari nebulizer miliknya.
"hosh...hosh." sesaknya langsung menghirup cepat nebulizer itu. Elisa sempat terduduk dilantai menatap kosong didepannya sambil terus menghirup nebulizer itu.
Kepalanya sedikit pusing,ia pun menarik napasnya secara perlahan lalu menghembuskannya pelan. Berusaha tetap tenang mengatur napasnya.
"tenang...tenang..." gumamnya berusaha menenangkan dirinya. Setelah merasa sudah tenang barulah Elisa berdiri dari tempatnya,ia melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari.
"kemana kak Gazza?" gumamnya tidak menemukan suaminya ada didalam kamar. Elisa melirik kearah balkon juga tidak menemukan suaminya begitu juga didalam kamar mandi.
"apa kakak ke dapur ya?" gumamnya lagi. Namun saat ia hendak memegang handle pintu tiba-tiba Gazza muncul didepannya membuat Elisa terpekik.
Gazza langsung menutup mulut Elisa, "jangan berisik,kau bisa membuat yang lainnya bangun!" sentak Gazza menatap tajam kearah istrinya. Setelah itu ia pun menyingkirkan tangannya dari mulut Elisa dan berjalan mendekati sofa.
"kenapa kau belum tidur?" tanyanya sambil mengambil berkas ditangannya.
"aku udah tidur tadi,cuman asmaku kambuh." jawabnya jujur. Siapa tau jika Gazza mendengar tentang penyakitnya,pria itu sedikit lebih hangat padanya.
Gazza manggut-manggut seolah menganggap hal itu biasa saja. Hati Elisa sedikit kecewa melihat reaksi yang ditunjukkan Gazza tidak menunjukkan raut khawatir padanya. Dengan langkah lunglai ia kembali ke kasur.
Tetapi baru matanya terpejam,ia pun kembali duduk menatap suaminya yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Gazza yang merasa dilirik,ia pun mendongak kearah Elisa, "kenapa?"
"kak,kau belum tidur?" tanya Elisa pelan.
"tidak usah pedulikan aku,urus aja dirimu sendiri." ucap Gazza pelan tetapi menyakitkan bagi yang mendengar ucapannya.
"oo Okey,aku tidur duluan kak." ucapnya langsung membenamkan kepalanya dengan selimut. Gazza hanya berdeham pelan melanjutkan aktivitasnya.
Esok paginya mereka bersiap-siap untuk pergi. Tak lupa mereka berpamitan dengan keluarga mereka. Karena mereka pergi bertepatan dengan hari kerja membuat keluarganya tidak bisa mengantarkan mereka ke bandara. Alhasil Elisa dan Gazza hanya diantar oleh keluarganya didepan pintu rumah.
Dasha langsung menghampiri Elisa, "wiiih selamat."
Elisa mengerut dahinya menatap adik iparnya itu, "selamat untuk?"
"skripsimu lolos review sayang,doakan aku juga lulus yaa biar nggak ribet dengan urusan itu lagi. Dah capek aku." gerutunya.
"Alhamdulillah punyaku lolos,aku berdoa semoga kau lulus juga Sha. Aku yakin bisa." ucap Elisa yakin.
"kalau sampai di negeri orang kabarin yaa beb." seru Dasha. Elisa hanya senyum menanggapi dan menggangguk.
Aku tidak akan pergi Dasha. Hanya abangmu saja yang pergi. gumam Elisa menjerit dalam hatinya. Tetapi,ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir tentang dirinya. Cukup dirinya saja yang menyelesaikan masalahnya.
"kalau gitu kami pergi yaa." seru Gazza berpamitan dengan semuanya. Elisa dan Gazza masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan perkarangan rumah. Elisa dapat melihat Gazza melajukan mobilnya berlawanan dengan Bandara. Ia sudah menduga akan hal ini.
Sampai akhirnya mereka tiba di apartemen milik Gazza. Terlihat sederhana diluar tetapi mewah didalam. Elisa sempat berdecak kagum memandangi perabot yang ada didalam apartemen Gazza.
"Elisa." panggil Gazza membuat gadis itu menoleh kearah suaminya. Elisa berjalan menghampiri Gazza.
"ya kak?"
"ini semua perlengkapan dapurmu,kau bisa menggunakannya sesuka hati. Lalu disana kamar..." jelas Gazza panjang lebar,Elisa sesekali mengangguk. Dirinya tidak fokus mendengar apa yang diucapkan pria itu,pikirannya menerawang memikirkan kepergian suaminya dan meninggalkan dirinya sendiri disini.
Gazza yang tidak mendapat respon dari Elisa,menoleh kearah istrinya. "kau dengar aku?"
Elisa tersentak, dan mengangguk. "aku dengar kok." lirihnya pelan.
"bagus,kalau gitu aku pergi dulu. Tolong jangan sampai ketahuan dengan yang lain,kalau kau tinggal disini." ucapnya lalu melenggang keluar sambil meraih ponselnya diatas meja. Elisa langsung terburu-buru mengejar Gazza yang sudah memegang handle pintu.
"tunggu kak!" cegahnya membuat Gazza menoleh kearah Elisa.
"ada apa?" tanya Gazza dengan muka datarnya.
"hmm tidak ada, hati-hati dijalan." ucapnya sambil tersenyum tipis kearah Gazza. Gazza hanya diam menanggapi Elisa pun tetap berjalan keluar dari apartemennya. Tetapi,sebelum itu ia kembali menoleh kearah Elisa.
"kalau ada butuh sesuatu,hubungi aku." ucapnya singkat lalu ia menghilang dari pandangan Elisa.
"maafkan aku kak." teriaknya. Jika memang dirinya akan berjauhan dengan suaminya,setidaknya Elisa dapat bernapas lega saat mengucapkan kata maaf pada suaminya. Elisa menghela napas pelan,menyakinkan dirinya akan baik-baik saja disini.
Gazza berdecak pelan bosan mendengar kata maaf yang terus keluar dari mulut gadis itu. Tidak menanggapi Elisa ia tetap lanjut berjalan menuju mobilnya.
•
•
•
~Please Forgive Me~