Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 48



Elisa terdiam mencermati satu persatu kata-kata yang diucapkan pria itu. Apa dia salah dengar tadi?


"kak,katakan dengan jelas apa maksudmu?" tanya Elisa menatap serius kearah Gazza. Entah kenapa ia tidak suka dengan pembahasan ini jika menyangkut sang kakak.


"kau tidak mempermainkan perasaan kak Al kan?" tanyanya lagi mendesak. Sedangkan Gazza menatap lurus kearah istrinya.


Tidak ada jawaban dari pria itu membuat Elisa semakin kesal melihat Gazza. Satu fakta lagi yang mengejutkan dari pria plin-plan itu,mempermainkan perasaan seseorang dengan mudah.


"ah brengsek sekali kau kak." umpatnya membalikkan badannya. Jika saja kakinya tidak sakit,mungkin ia berlari keluar meninggalkan Gazza sendirian.


Gazza menghela napas pelan,padahal ia hanya bercanda saja untuk menghibur gadis itu,tetapi ekspetasinya tidak sesuai realita. Ia malah mendapatkan umpatan dari istrinya.


Benar kata Al,dia memang gadis yang unik. gumamnya menatap punggung istrinya. Lalu ia menatap langit ruangan dengan tatapan yang kosong. Mengingat kembali kisah lama yang sudah terkubur,kini berputar dalam memorinya.


Permintaan kakakmu itu terlalu berat El,tapi tidak disangka permintaannya teruwujud sekarang. Sepertinya dia sudah ada firasat saat itu.


#Flashback On


"kenapa kita berkencan disini?" tanya Gazza bingung menatap Almira yang sedang tersenyum tipis padanya lalu melihat kearah lapangan.


"kau lihat gadis itu!" seru Almira sambil menunjuk salah satu gadis yang tengah berada dikeramaian banyak orang. Gazza menyipit mencari orang yang dimaksud Almira.


"yang mana?"


"itu yang pakai jaket hitam." serunya lagi,mata Gazza akhirnya menemukan orang yang dimaksud Almira.


"dia siapa?" tanya Gazza bingung.


Almira tersenyum sumringah, "dia adikku yang menggemaskan."


"adik? kau punya adik?" tanya Gazza sedikit terkejut. Faktanya Almira tidak pernah mengungkit saudarinya kecuali kedua orang tuanya.


Almira mengangguk. "aku sangat menyayanginya sama seperti aku menyayangimu Za. Kalian sangat berarti buatku." ucapnya pelan,tetapi terlihat sedikit raut sedih yang terpancar diwajahnya.


"Bee,kau baik-baik saja?" tanya Gazza cemas.


Almira mengangguk dan kembali tersenyum seperti biasanya. "aku sangat baik Za." Almira memegang tangan Gazza erat. "kau mau nurutin permintaanku nggak?" tanya Almira menatap Gazza lurus.


Gazza sedikit curiga dengan eskpresi pacarnya,namun ia berusaha menepiskan pikiran negatif itu. "apa?"


"kau janji mau ngabulinnya?"


"Al,kau tidak memintaku yang berat-berat kan?" tanya Gazza lagi.


Almira terkekeh pelan,"nggak kok,lagian permintaanku sangatlah sederhana dan kau harus mempertahankannya sampai akhir hayat nanti."


"aku jadi penasaran,apa itu?"


"jika suatu saat nanti terjadi sesuatu padaku,aku mohon kau mau menikah dengan adikku Za." ucap Almira.


Mata Gazza melebar dan tidak percaya dengan permintaan Almira yang menurutnya saat ini sangat gila. "apa kau bercanda? tidak mung—"


"kau sudah berjanji Za,aku hanya ingin kau mengabulkan permintaan sederhanaku ini." ucapnya lagi namun Gazza tampak tidak terima dengan permintaan Almira.


"nggak. Aku tidak bisa melakukan itu dan kau jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal Al,tidak akan terjadi sesuatu padamu."


"kita tidak ada yang tau masa depan Za,aku hanya meminta permohonan saja."


"tapi tetap saja itu permintaan yang berat Al,aku menyukaimu,aku mencintaimu masa aku harus menikahi adikmu? yang benar saja."


"ayolah bee,kau sudah berjanji padaku."


"aku tidak ada janji untuk yang satu ini Al. Tolong jangan katakan hal buruk itu."


Almira menatap sendu kearah Gazza,seakan ia ingin permintaan kali ini harus diterima oleh Gazza. Gazza tidak mengerti mengapa Almira bersikeras untuk membuat janji yang tidak masuk akal itu.


"kan sudah aku bilang,jika terjadi sesuatu padaku tolong jaga adikku seperti kau menjagaku. Temani dia jangan sampai kesepian tanpa kehadiranku."


Gazza langsung memeluk Almira. "tolong jangan katakan hal mengerikan itu lagi Al. Aku akan tetap janji tetapi aku tidak yakin permintaanmu itu terkabul."


Almira membalas pelukan pria itu,tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis merasakan kehangatan itu.


"terimakasih Za." ucapnya pelan.


#Flashback Off


Gazza sekali lagi melirik kearah Elisa,Almira dan Elisa sungguh kedua gadis itu sukses membuat kehidupannya terombang ambing tidak jelas. Bahkan kehidupannya terlalu plin-plan dalam memutuskan sesuatu,malah keputusan itu membuat hati seseorang terluka karena perbuatannya.


"Elisa." panggilnya lagi,namun tidak ada sahutan dari istrinya. Gazza menghela napas pelan, "Hei,aku hanya bercanda saja El,tidak mungkin aku mempermainkan hati Almira."


"kau bohong." ketusnya tanpa berniat berbalik badan menatap Gazza.


"aku serius El,aku nggak akan pernah menyakiti perasaan Almira."


Elisa berdecak pelan,lalu menatap tajam kearah suaminya. "lalu yang kau katakan tadi itu apa kak? apa kau sudah tidak mencintai kak Al lagi?"


Gazza terdiam lalu mengangguk pelan. "aku sudah tidak ada perasaan lagi dengan Almira. Hatiku saat ini hanya mencintaimu saja El."


"kau bohong lagi,dasar pria plin-plan." ketusnya lagi.


Ya ampun,salah lagikah aku? haiss susah kali buat rebut hatinya. gerutu Gazza lagi.


"cih,ya sudah kalau nggak percaya." ucap Gazza langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sedangkan Elisa berdecak kasar menatap punggung suaminya.


"ish,harusnya aku yang marah kak,bukan kau!"gerutunya gemas.


***


Tak terasa sudah seminggu berlalu akhirnya mereka bisa keluar dari sangkar putih yang penuh dengan aroma obat-obatan. Elisa menghirup udara segar sambil mendorong kursi roda Gazza.


keadaan Elisa sekarang sudah lebih baik dibandingkan Gazza. Gazza untuk saat ini tidak diperbolehkan melakukan aktivitas yang banyak dan berat. "kak,lihat itu daunnya tumbuh." seru Elisa menatap takjub taman rumah sakit itu.


"Elisa,kau jangan katrok deh."


"apasih sibuk aja. Aku lagi menikmati udara luar,setelah seminggu berada diruang yang pengap itu." gerutunya jengah dengan ocehan suaminya.


"ish,dikasih tau malah melunjak dia. Dasar istri durhama" oceh Gazza pelan namun masih terdengar oleh Elisa. "iyaa...iyaa maaf ya suamiku yang tampan. Istrimu ini akan merawatmu dengan baik."


Gazza menggeleng heran dengan kelakuan Elisa. Tidak ingin mengambil pusing hanya meladeni ocehan istrinya,ia pun mendorong kursi rodanya menjauh dari Elisa.


Namun siapa sangka, keberuntungan kali ini tidak berpihak padanya membuat Gazza tidak meyadari penurunan disana.


Elisa yang masih kesal sontak menguap begitu saja melihat Gazza dalam bahaya. Dengan lari sekuat tenaganya ia berlari kearah Gazza.


"kak,apa kau baik-baik saja?" tanya Elisa panik yang berhasil memegang kursi roda Gazza agar tidak meluncur lagi.


Gazza tertegun menatap wajah Elisa. Wajah cantik gadis itu kini mulai memenuhi memorinya, terutama matanya fokus menatap bibir merah milik Elisa.


"boleh aku menciummu?" tanya Gazza.


Tanpa berpikir panjang Elisa mengangguk mantap. Tanpa basa-basi Ia pun langsung memegang tengkuk Elisa dan menempelkan bibirnya pada bibir merah gadis itu.


Mata Elisa membulat sempurna,yang tadi ia kira suaminya itu akan mencium pipinya justru dikejutkan dengan hal yang lain.


Deg.


~Please Forgive Me~