Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 51



Dasha menatap heran melihat pasangan suami istri didepannya ini terlihat menyedihkan. Mata mereka sama-sama sembab seolah-olah menangis berjamaah,entah apa yang membuat mereka menangis sederas itu.


"kalian abis menangisi siapa?" tanya Dasha sontak membuat seluruh keluarga yang tengah menikmati sarapan mereka menoleh kearah Elisa dan Gazza.


Mereka berdua tersentak,lalu menggeleng bersamaan. "tadi malam kami nobar film sedih." kilah Elisa bohong. Mereka berdua sepakat untuk tidak memberitahu pada siapapun soal video Almira.


"buahaha terlalu menghayati sekali." ledek Dasha. Sedangkan Zayyan acuh tak acuh,ia tahu ada kisah pelik diantara keduanya,tetapi ia lebih memilih diam dan tidak ikut campur urusan mereka.


"nanti kasih kain basah untuk mata kalian,biar nggak bengkak lagi." ujar Ibu menyudahi makannya dan menatap anak dan menantunya.


"oke Bu." jawab mereka serempak. Setelah sarapan pagi bersama,mereka melanjutkan aktivitas masing-masing termasuk Gazza,yang saat ini ikut bersama Zayyan kerumah sakit.


"okee dokter yang sudah karatan,kau kan sudah lama tidak praktek kan? hari ini kau jadi asistenku!" seru Zayyan membuat Gazza menatap malas kearahnya. Mereka saat ini berada di ruangan kerja Zayyan.


"idih sombong." cibir Gazza,sedangkan Zayyan tergelak pelan. "hei,kau harus kerja bro,kalau kau nggak kerja istrimu makan apa hah? masa duit orang tua trus dipakai."


"cih,lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Gazza lagi.


"hmm pertama kau mengecek keadaan pasien,beritahu aku apa-apa saja yang kau dapat dari rekam medis mereka." ucap Zayyan menyerahkan tablet miliknya pada Gazza.


"lalu setelah itu?" tanya Gazza sembari membuka rekam medis yang ada didalam tablet itu.


"nanti aku beritahu. Aku ada pasien yang harus ku obati,sampai jumpa." Zayyan melenggangkan langkahnya menuju keluar ruangan meninggalkan Gazza yang masih sibuk memandang tablet itu.


"huft,mari kita coba." ucap Gazza berjalan keluar.


***


Lain hal dengan Gazza,Elisa kini menggedong Edward menemani Dasha membeli kebutuhan sehari-hari di pasar. Wanita itu tampak telaten dalam tawar menawar dengan pedagang disana. "abis ini kita beli apa lagi?" tanya Elisa saat melihat Dasha sudah selesai belanja.


"hmmm bawang putih sama seledri belum kayaknya. Tapi aku sedikit lelah sekarang El,atau gini saja. Aku minta tolong kau belikan dua bahan itu,nanti aku tunggu dimobil."


"okee,kau duluan saja Sha,biar aku yang gendong Edward sekalian beli itu. Lagian barangnya nggak banyak juga pun."


"ya sudah,kalau gitu aku duluan yaa." ucap Dasha lalu mengusap kepala putranya pelan,ia pun membawa belanjaan menuju mobilnya.


"ayook kesayangan aunty,kita belanja!" serunya pelan. Mereka berjalan menyusuri pasar mencari tempat yang menjual bawang putih dan seledri itu. Mata Elisa menyipit melihat seseorang dikenalnya berada ditempat yang sama.


"Jay?" seru Elisa membuat siempunya nama berbalik dan terkejut bertemu dengan Elisa.


"eh,Elisa? kau disini?" tanyanya sambil menyodorkan uang pada penjual tersebut. Elisa dapat melihat banyak belanjaan yang dibeli oleh pria itu.


"wah tidak disangka,kau bisa belanja juga."


"hehehe." Jay menatap bocah kecil dalam dekapan Elisa. "Ini anak siapa El?"


"oh,ini keponakanku namanya Edward." serunya meniru suara anak kecil. Jay terkekeh pelan sembari mengacak rambut Edward. "tampan, ngomong-ngomong kau pergi sendiri?"


"nggak,aku ditemani Dasha." sahut Elisa.


"oh wanita pemarah itu yaa..."


"hei ini ada anaknya loh,kau mau digeprek nanti hah?" canda Elisa membuat mereka berdua tertawa.


Lama asyik mengobrol membuat Dasha menelpon dirinya,dengan buru-buru Elisa langsung membeli barang yang diminta lalu berpamitan pada Jay.


"kenapa kau lama? tersesat?" tanya Dasha bosan menunggu mereka.


Mata Dasha menyipit, "Jay? jangan bilang pria tengik itu?!"


Elisa terkekeh pelan, "hei bagaimanapun dia temanku Sha. Oh ya aku ada belikan boba nih." ucap Elisa menyodorkan boba untuk Dasha,membuat wanita yang tadinya marah kini tersenyum lebar menyambut minuman segar itu.


"makasih." ucapnya langsung menyeruput bobanya, Lalu melirik Edward yang tergiur dengan minuman punya Dasha. "kamu mau minum nak? iyaa? tapi kamu belum cukup umur sayang." seru Dasha mencubit gemas pipi Edward.


"kasian sekali kamu Ed. Aunty jadi gemas." ucap Elisa gemas. Ia berharap bisa segera memiliki anak yang menggemaskan seperti Edward.


"makanya nyusul El,biar Edward ada kawan bermain." ucap Dasha seolah-olah membaca pikiran Elisa.


Elisa tersenyum tipis, "doain aja."


***


Gazza langsung duduk setelah menyelesaikan pekerjaan bagiannya. Ia pun berjalan menuju ruangan Zayyan.


"oi ini semua yang kau minta." ucapnya sambil menyodorkan rekam medis itu pada Zayyan. Zayyan langsung mengecek semua data yang sudah dikumpulkan Gazza.


"bagus,sekarang ikut aku!" serunya keluar membuat Gazza menghela napas pelan dan pasrah mengikuti adik iparnya itu.


"Za,kau obati lukanya." titah Zayyan melihat pasien yang terlihat luka. Gazza pun mengangguk dan mengobati pasien tersebut.


Zayyan berjalan keluar ruangan dan melihat tantenya duduk dilorong ujung sana. Ia pun menghela napas lalu melirik sekilas kearah Gazza yang tengah mengobati pasiennya lalu ia berjalan menghampiri Livana.


"kenapa kau kesini lagi?" tanya Zayyan dingin. Livana mendongak lalu berdiri dihadapan keponakannya. "maaf,aku kesini hanya untuk minta maaf." lirihnya.


Zayyan tertegun melihat Livana sudah tidak terlihat seperti dulu,mungkin ini efek dari masik penjara beberapa hari yang lalu karena Dasha. Istrinya itu tidak tega membiarkan Livana masuk penjara dan membebaskan gadis itu dengan syarat untuk tidak menganggu keluarga kecil Elisa.


"minta maaf untuk? aku tidak ada masalah denganmu Van,ku harusnya minta maaf pada mereka." ucap Zayyan datar.


"aku tau,tapi aku tidak menemui mereka."


"temui saja mereka,aku yakin mereka mau menemui mu Van. Tuh,kau bisa menemui Gazza,dia ada disana. Ingat,move on." ucap Zayyan melenggang meninggalkan Livana yang masih terdiam ditempat.


Livana sedikit ragu melangkahkan kakinya menuju ruangan Gazza saat ini. Ia dapat melihat pria yang pernah disukainya dulu sampai rela nekat ingin membunuh pria itu agar ikut mati bersamanya.


Lidah Livana terasa kaku,tangannya begitu gemetaran berdiam diri diambang pintu menatap Gazza dari kejauhan yang tengah berbincang pada salah satu pasien disana.


Gazza yang baru saja selesai berbicara dengan pasien tanpa sengaja matanya melirik kearah seseorang yang hanya diam berdiri menatapnya diambang pintu. Gazza berdecak pelan,tidak ingin menemui wanita yang membuat nyawanya terancam.


"Gazza." panggil Livana melihat Gazza enggan menemuinya. Rasa sakit hatinya mulai tergores dan berusaha untuk tetap tegar didepan pria itu.


"ada apa lagi?" tanya Gazza tidak ramah. Ia tidak menyangka jika wanita itu nekat melakukan kejahatan.


"a-aku minta maaf." lirihnya menunduk,tidak berani menatap mata tajam pria itu.


Gazza menghembus napasnya pelan, "apa kau sudah sadar dengan apa yang kau lakukan kemarin hah? jujur,aku tidak menyangka kau bisa senekat itu. Mungkin maaf jika tindakanku menolong kaukemarin malah membuat kau salah paham Livana. Aku hanya mencintai Elisa,dan wanita yang ada didalam hatiku hanya Elisa."


Deg. Sungguh Livana sangat terluka mendengar pengakuan itu,tetapi ia akan berusaha ikhlas melupakan cintanya yang pernah tumbuh mengakar dihatinya itu.


"aku tau,dan untuk itu kita terakhir bertemu Za. Setelah ini aku akan pergi,tolong sampaikan maafku untuk Elisa. Kalau begitu aku permisi." ucap Livana langsung bergegas berlari kecil meninggalkan Gazza. Ia tidak ingin air mata yang sedari ditangan meluncur dihadapan Gazza.


Ia berharap suatu hari nanti,ia menemukan kebahagiaan lain,kebahagian yang menggantikan kepedihan luka dihatinya.


~Please Forgive Me~