
Jay melirik kearah Suha yang masih sesunggukan meluapkan perasaannya. Ia paham,gadis itu sangat kecewa dengan kelakuan bibinya yang tidak bermoral itu. "sampai kapan kau menangis trus hah?" seru Jay membuat Suha menoleh tajam kearahnya.
"suka-suka aku!" ketusnya sambil menyeka air matanya. Ia berjalan menuju kamarnya dan membanting pintu itu kuat sehingga pria itu terperanjat kaget. "astaga, bar-bar sekali dia." kesal Jay berdecak pelan. Ia pun memutuskan untuk memasak makan siang mereka berdua.
Jay mengambil apron dan beberapa bahan makanan lainnya. Dengan lincah pria itu memotong sayur-sayuran menjadi irisan lalu dimasukkan kedalam panci yang airnya sudah ia didihkan sejak tadi. Tak lupa memasukkan beberapa bumbu penyedap secukupnya. Ia mengambil bihun instan lalu merendam terlebih dahulu sampai mie tersebut terasa lembek.
"akhirnya selesai." serunya mengelap keringatnya menatap dua mangkuk mie kuah buatannya sudah jadi. Perutnya langsung berbunyi setelah mencium aroma masakan buatannya,ia pun dengan semangat menghidangkan diatas meja.
"Suha! suhaaa." teriaknya menggedor-gedor pintu kamar gadis itu. Namun,tidak ada sahutan dari dalam membuat Jay menyerngit bingung. "Suha, kalau kau tidak menjawab aku akan buka paksa pintu ini!" ancamnya namun setelah beberapa menit ditunggu tidak juga terbuka.
"sial." umpatnya kesal berlari mengambil kunci cadangan dilaci kamarnya. Mendadak perasaannya tidak enak,dan cemas tentang gadis itu. Ia dengan cepat membuka pintu dan terkejut saat melihat Duha sudah tergeletak dilantai.
"suhaaa!" teriaknya langsung mengangkat gadis itu keluar. Ia dengan sekuat tenaga membawa gadis itu menuju parkiran dan memasukkannya kedalam mobil. Jay menancapkan gas dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
***
Elisa memandang sendu ukiran nisan didepannya ini. Yap,hari yang tidak terlalu cerah ini, ia dan suaminya mengunjungi makam Almira. Mereka sama-sama diam tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil mengelus batu nisan Almira.
"kak,permintaanmu sudah kami kabulkan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi." lirih Elisa langsung dipeluk Gazza.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Gazza saat ini. Ia masih sedikit terluka dengan kepergian Almira yang begitu mendadak baginya. Masih belum percaya,gadis ceria itu kini sudah tidak ada lagi. Melainkan,takdir membawanya bertemu dengan Elisa,adiknya Almira. Rasanya takdir sedang bercanda dengannya.
"yuk,kita pulang." ajak Gazza menggandeng istrinya. Ia sudah memutuskan untuk mencintai Elisa dan selalu bersamanya sampai maut memisahkan. Istrinya itu adalah wanita yang sangat spesial baginya.
Elisa mengikuti suaminya membawanya keluar dari pemakaman. "sekarang kita mau kemana?" tanya Elisa bingung sambil memasang seltbeltnya. Gazza menoleh kesamping dan mengelus kepala istrinya. "terserah kau saja,kali ini kau yang tentukan tempatnya sayang."
"yey,aku mau ke tempat wisata yang belum pernah aku kunjungi,bentar aku liat di internet dulu." seru Elisa sambil merogoh saku roknya dan mengetik sesuatu diponselnya.
Gazza tersenyum tipis memandang istrinya sudah kembali ceria seperti dulu lagi. Elisa sungguh beruntung memiliki Gazza,cintanya sekarang sudah terbalaskan. Tidak ada kebencian apapun lagi diantara mereka setelah mengetahui perasaan masing-masing. Kini,mereka menjalani apa yang sudah menjadi masa depan mereka dan memperkokoh rumah tangga mereka kembali.
Lain halnya dengan pasangan suami istri itu,kini Jay dibuat pusing oleh tingkah Suha yang terlalu nekat mencoba mengakhiri hidupnya. Tidak menyangka akan sedepresi itu Suha kecewa terhadap bibinya. Jay merasa bersalah karena sempat membuatnya kesal sebelum membanting pintu tadi,apalagi berita Suha masuk rumah sakit terdengar oleh seluruh keluarganya,entah bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi secepat itu.
"Jay,kenapa kau lalai begini sih?! kau tau,harusnya hibur bukan dibentak!" cerca Bella geram melihat tingkah anaknya hampir saja membuat calon menantunya tewas. Beruntung,ia mendengar berita dari mata-mata yang mengawasi anak dan calon menantunya itu,dengan segera ia langsung berlari kerumah sakit setelah mendengar berita buruk itu.
"ya aku tidak tau mii." kesal Jay frustrasi,bagaimanapun tidak semua salahnya. Ini juga ada salah bibi Suha yang membuat gadis itu sampai nekat.
Tak lama kemudian,Suha perlahan-lahan tersadar dan membuka kelopak matanya menatap seisi ruangan disekitar. Ia merasa pusing,hendak duduk namun,ada tangan seseorang yang menahannya untuk bangun.
"kau istirahat aja dulu,jangan banyak bergerak!" pinta Jay sambil melirik kearah maminya yang tengah menyiapkan air putih untuk Suha. Bella dengan cepat menyodorkan air putih itu pada Suha.
"terimakasih Tante."
"hais kau tidak perlu memanggilku Tante,panggil mami sayang." seru Bella mengelus kepala Suha. Suha sedikit canggung hanya tersenyum kikuk menatap wanita paru baya itu.
"sudah mami putuskan,kalian akan segera menikah besok!" seru mami membuat Suha tersedak. Sedangkan Jay terkejut menatap maminya.
"what? apa yang mami katakan?? "
"sudah mami putuskan bukan? kalian tidak boleh nolak termasuk kamu Suha. Karena kamu tidak punya keluarga selain bibi sialan itu,aku akan menjadikan menantu kesayanganku. Harus mau!" titah Bella tidak ingin dibantah membuat Suha dan Jay tidak bisa berkata-kata lagi selain menuruti kemauan keras kepala Bella.
Ini juga tidak merugikan bagi Jay,malah ia sedikit merasa senang dengan keputusan maminya melakukan hal ini padanya. Dengan begitu,ia akan leluasa menguasai gadis ini.
"aku setuju mii." seru Jay bersuara membuat Suha melotot padanya. "hmm mami apa boleh aku bicara dengan kak Jay dulu?" tanya Suha sopan langsung dianggukan Bella.
"oh Bagus, kalian bahas aja dulu. Mami mau keluar sebentar membeli buah untukmu nak. Jay titip Suha dengan baik." ucap Bella berjalan keluar meninggalkan Suha dan Jay berdua disini.
"kak,apa yang kau katakan? bagaimana bisa kit—"
"aku sudah memutuskannya,dan aku rasa itu adalah pilihan yang tepat!" seru Jay duduk disamping Suha.
"hei,ini masa depanku kak,kau tidak bisa memutuskan kehidupan ku akan seperti apa nantinya!" kesal Suha. Sedangkan Jay tersenyum miring,lalu dengan sengaja mencium bibir Suha dengan lembut.
Mata Suha membulat sempurna,tidak percaya apa yang dilakukan pria itu padanya. "kak!" sentaknya mendorong pria itu. Namun,semuanya sudah terlambat,disaat itu tidak tepat karena kebetulan keluarga besar pria itu datang dan tidak sengaja menyaksikan hal itu,sontak mereka bersorak riang menyambut Suha dengan suka cita.
Tanpa terasa waktu berjalan,Suha yang awalnya menolak Jay kini sudah menjadi istri sah dari pria itu. Ia masih tidak percaya apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Bingung tidak tau harus berbuat apa,dan hanya pasrah menjalani semua yang sudah ditakdirkan untuknya.
Tujuh Bulan Kemudian
Suha mengelus perut buncitnya sambil menunggu sahabatnya datang. Yap,kini wanita itu tengah mengandung anak pertama Jay. Ia jadi teringat waktu pertama kali bertemu dengan suaminya,salah masuk apartemen. Sungguh,ia tidak menyangka takdir akan membawanya kedalam keluarga bahagia ini.
"Suhaa!!" teriak wanita yang sama kondisinya dengan Suha,bedanya wanita itu sudah memasuki usia kandungan delapan bulan.
"kak Elisaa!" serunya menyambut sahabatnya itu,sahabat lamanya waktu dirinya dikampus dulu,kakak tingkat mereka yang sangat baik sampai menjadi sahabatnya. mereka bertiga dipertemukan kembali saat tidak sengaja bertemu disuatu tempat. Dan lama-kelamaan,mereka memutuskan untuk mempererat silaturahmi diantaranya.
"dimana kak Dasha?" tanya Suha celingak-celinguk mencari satu sahabatnya lagi. Elisa berdecak pelan,lalu mendongak menunjuk kearah gerai penjual eskrim itu. "tuh,dia beli eskrim. Katanya ngidam." gerutu Elisa sambil mengipas-ngipas wajahnya. Dasha sambil memakan eskrim berjalan kearah mereka. Kini,wanita itu hamil anak kedua,tetapi usia kandungan wanita itu masih lima bulan.
"yuhuuu para bumil akhirnya berkumpul!!" seru Dasha duduk disamping Suha. "wah sudah semakin besar aja perutmu Suha." serunya sambil mengelus perut Suha.
Suha terkekeh pelan, "kakak juga akan menyusul pun kayak gini."
"heh,aku udah berpengalaman ya melewati tiga trimester ini. Jadi yaa santai aja." serunya asyik menikmati es krimnya.
"aku masih tidak menyangka jika Jay suamimu Ha. Walaupun kau udah cerita panjang lebar,aku masih tidak menyangka aja."
"iyaa aku juga."
"samaa. Aku lagi yang tidak menyangka bisa mengandung anaknya." seru Suha sontak membuat tawa ketiga bumil itu. Mereka bercanda ria sambil bernostalgia waktu kuliah dulu.
Sampai-sampai tidak sadar jika para suami mereka menjemput istrinya masing-masing. "astaga,kalian tidak mengenal waktu." gerutu Zayyan berdecak pelan memandang para bumil itu masih betah bercengkrama.
Dasha menyengir pelan, "hehehe,lagi asyik bang." serunya.
Sedangkan Gazza mengelus perut Elisa dan mencium kepala Elisa sayang, "kau tidak capek?" Elisa menggeleng pelan sambil tersenyum kearah suaminya. Sedangkan Jay mengacak-acak rambut Suha gemas.
"ya ampun beb,nggak ada romantis-romantisnya!" gerutu Suha memandang sebal kearah suaminya. Jay terkekeh pelan,lalu mencium bibir istrinya lembut didepan mereka.
"ah sial,tidak tau tempat!" umpat Elisa memberengut,begitu juga dengan Dasha tiba-tiba me menatap pasangan yang tidak tau tempat itu bermesraan. "kasian kita yaa,dunia rasa milik mereka berdua." sindir Dasha
Mereka semua tertawa pelan,lalu beranjak dari tempat mereka menuju mobil masing-masing. Keluarga besar itu,berencana akan makan siang bersama.
Elisa tersenyum tipis melihat pemandangan didepannya sambil melirik sekilas kearah Gazza yang fokus mengemudikan mobilnya. "kenapa?" tanya Gazza sempat melihat istrinya melirik kearahnya.
"nggak ada." serunya sambil menurunkan kaca mobil dan menikmati udara luar yang menerpa wajahnya.
Please Forgive Me, kata-kata yang terus ia ucapkan agar bisa mendapatkan maaf dari pria itu,kini sudah terealisasikan. Masa lalu sudah terlewat begitu saja,mereka akan membuka lembaran baru dan belajar dari setiap kesalahan masa lalu yang pernah dialami. Semua masalah bisa dihadapi jika diselesaikan secara bersama. Elisa berharap keluarga kecilnya akan selalu harmonis untuk selama-lamanya dan tidak ada lagi penyesalan seperti yang sudah pernah ia alami.
~TAMAT~
Hallo semuanya,sebelumnya aku minta maaf karena Please Forgive Me sampai sini. Alasannya,aku takut ceritanya akan jadi bertele-tele makanya aku langsung tamatkan di bab ini. Dan aku juga minta maaf,karena upload babnya tidak setiap hari karena aku kehabisan ide. Nggak tau kenapa tiba-tiba buntu cerita hehehehe😂🙏
Silahkan tinggalkan coment boleh berupa kritikan tapi dengan bahasa yang sopan yaa,jangan lupa like dan favoritkan ceritanya supaya aku lebih semangat dan bagus lagi buat cerita yang lain.
Jangan lupa mampir ke novelku yang baru 'im your wife'. Ceritanya aku buat ringan dan berbeda,jadi cus langsung kesana yaaa🤭
terimakasih 🥰
follow igku : @ _water_blue2