Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 23



"apa??" Elisa masih terkejut dengan apa yang didengarnya.


Mengapa Gazza melakukan itu? apa tujuan sebenarnya?? gumam Elisa sambil berpikir keras.


"dari mana kau tau Sha tentang ini?" tanya Elisa lagi.


"aku tau dari bang Zayyan." ucapnya pelan,lalu ia berjalan duduk kembali ke sofa sambil mengambil cemilan diatas meja milik Elisa.


"kak Zay? kenapa dia tidak bilang apa-apa waktu itu?"


"haiss mereka itu ternyata main rahasiaan. Eh, lebih tepatnya suamiku itu memergoki bang Gazza pas malam tuh." jelas Dasha menceritakan semua yang apa yang ia dengar dari Zayyan kemarin malam. Memang Dasha mendapatkan informasi itu dengan cara mendesak Zayyan untuk membuka rahasia mereka. Dasha tau jika Zayyan mengetahui kejanggalan yang dilakukan Gazza. Awalnya Zayyan masih bungkam,namun saat Dasha mengancamnya untuk tidur diluar membuat pria itu kalang kabut dan mau menceritakan semua kejadian pernikahan Elisa semua. Dasha sendiri juga tidak menyangka abangnya melakukan hal senekat itu.


"astaga." ucap Elisa setelah mendengar Dasha panjang lebar.


"aku juga tau apartemenmu ada disini El,sebelumnya aku nyari di lantai berapa kau tinggal. Tapi,tadi itu siapa sih??" tanya Dasha penasaran.


Dahi Elisa mengerut,"siapa? yang mana?"


"ish,itu loh cowok tadi. Siapa sih kok dia mau jadiin kau pacarnya?" tanya bumil itu menggerutu. Ia tidak ingin ada yang mengganggu keluarganya walaupun abangnya itu anak sialan yang meninggalkan istrinya disini sendirian.


"bukan siapa-siapa,aku pun aja kaget dia nyatain perasaannya tiba-tiba." ucap Elisa jujur.


"huft,aku rasa kita perlu memberitahu dia kalau kau sudah menikah El,aku tidak ingin ada masalah kedepannya." usul Dasha membuat Elisa berpikir sejenak.


Iya juga yaa,kalau misalnya Jay menyatakan perasaannya padaku,aku harus menolaknya. Biarlah sakit hati diawal tetapi tidak diakhir. Aku juga tidak ingin ada penyesalan nantinya.


"baiklah."


"bagus, pertama-tama kau ambil semua bajumu!" pinta Dasha.


"eh? buat apa? tunggu...tunggu...jangan bilang kau membawaku kerumah?"


"iyaap,tuh mau kemana lagi? tentu saja kerumah." cerocos Dasha.


"hmm tapi kan..."


"tidak ada tapi-tapi Elisa,kita harus beritahu ibu yang sebenarnya. Jangan dipendam kayak gini atau masalah kalian semakin besar. Kita juga nggak tau berapa lama bang Gazza ada di sana? dia bisa-bisa bohong soal liburan padahal dia kuliah disana." ocehnya panjang lebar.


"kau tau juga hal itu??" tanya Elisa terkejut dengan Dasha yang tahu semuanya. Dasha mengangguk, "tentu saja aku tau El. Cih,kau ini main rahasiaan trus,masa aku trus sih yang tau dari yang lain,aku ingin tau dari kau sendiri beb." gerutunya lagi.


"hehehe maaf beb,aku tidak ingin menambah beban pikiranmu." sesal Elisa.


"ah sudahlah. Skuy kita pergi!" ajak Dasha sambil menenteng tasnya.


"Mau kemana?"


"cek kandunganku,bang Zayyan nggak bisa kawanin karna ada urusan dengan kakek. Jadi aku ingin ajak kau ikut pergi." seru Dasha.


"okee bentar aku siap-siap dulu."


"ngapain? kau kan udah rapi gini."


Elisa spontan melihat pakaian yang dikenakannya, "eh iyaa, lupa ayoklah." cengirnya sambil mengambil ranselnya diatas sofa.


"sekalian bawa koper kau juga,kita nanti pulang."


"oke...oke bentar." ucap Elisa pasrah,percuma juga menolak toh bumil satu itu tidak bisa dibantah. Setelah Elisa siap membereskan kopernya barulah ia keluar dari kamar.


"eh? tidur pula dia." Elisa berdecak pelan melihat Dasha tertidur disofa sambil menggenggam cemilan di tangannya. Elisa langsung membangunkan Dasha mengingat perempuan itu harus melakukan cek up kandungan.


"Sha! bangun!"


"Hem? udah selesai?" Dasha sambil mengucek matanya,ia sekilas menguap sambil melirik jam dinding.


"maaf lama,ayok." ajak Elisa memegang tangan Dasha,ia menatap perut Dasha yang terlihat membuncit itu.


Aku kapan ya?. gumam Elisa dalam hati,namun ia langsung menepis pikirannya dan fokus membuka pintu apartemen.


Dasha membawa Elisa keluar dari apartemen, sebelumnya ia sempat melirik tajam kepada pria yang tampaknya mengganggu Elisa selama sahabatnya itu tinggal di Apartemen ini.


"maaf aku akan pulang kerumahku. Terimakasih atas bantuannya selama ini." ucap Elisa sopan pada Jay. Jay sedikit kecewa dengan keputusan yang diambil Elisa tiba-tiba,apalagi ia belum mendengar jawaban dari pernyataan yang ia lakukan tadi.


"boleh kita bicara sebentar berdua?" harap Jay menatap kearah Elisa. Elisa sedikit enggan lalu melirik kearah Dasha.


"huft,kalian bisa bicara sebentar,tapi hanya lima menit!" ucap Dasha sambil duduk di bangku yang tak jauh dari apartemen Elisa.


"cepatlah!" seru Elisa pada Jay. Jay melirik sekilas kearah Dasha yang tengah menatap mereka.


"kita agak jauh dari dia. Ayo ikut aku." ajak Jay berjalan mendahului Elisa,Elisa menghela napas sambil melirik kearah Dasha lalu berjalan mengikuti Jay.


"katakan." ucap Elisa langsung.


"gimana dengan jawaban dari pernyataan ku tadi El? apa kau menerimanya?" tanya Jay menatap lekat kearah Elisa. Elisa sedikit merasa bersalah, tetapi ia harus menjelaskan yang sebenarnya pada Jay.


"maaf Jay,aku tidak bisa menerimanya."


Tampak jelas Jay kecewa dengan pernyataan Elisa, "kenapa? apa alasanmu menolakku?"


Elisa menarik napas pelan lalu ia menunjukkan cincin emas yang melingkar manis di jari manisnya, "aku sudah menikah Jay."


Deg.


Hanya beberapa kata terucap,tetapi terdengar menyakitkan. Baru saja ia berangan bisa mendapatkan hati gadis didepannya ini sekarang menjadi sirna.


Elisa dapat melihat raut kecewa yang ditunjukkan pria itu, "aku minta maaf dan terimakasih untuk semua yang kau lakukan selama aku tinggal disini." lirih Elisa tulus. Elisa hendak berjalan tetapi,tangannya ditangan oleh Jay.


"Jay!" sentak Elisa menepis tangan Jay,ia menatap tajam kearah Jay.


"lalu dimana suamimu? kenapa dia tidak ada disini? kenapa dia tidak tinggal bersamamu?" cerca Jay seperti tidak menerima alasan Elisa menolaknya.


Elisa terdiam,lalu ia mendongak kearah Jay. "itu privasiku Jay,aku tidak ingin membeberkan apapun tentang rumah tanggaku." ucapnya pelan lalu meninggalkan Jay yang masih terdiam ditempat.


Elisa berjalan tanpa menoleh kembali ke belakang. Ia tahu rasanya sangat sakit ditolak oleh seseorang yang disukai,karena ia sendiri juga mengalami hal itu. Tetapi,cerita Elisa berbeda ia mencintai orang yang membencinya. Sungguh miris bukan?


Elisa berjalan mendekati Dasha, "yok."


"udah? ayo." ajak Dasha lalu ia merogoh tasnya dan memberikan kunci mobil pada Elisa.


"hmm tolong mengemudi mobil yaa El hehehehe."


"dasar bumil satu ini,ya sudah skuy lah." ajak Elisa menggandeng tangan Dasha. Mereka berjalan menuju lift tetapi sebelum lift itu tertutup. Elisa dapat melihat Jay berlari kearahnya.


"Elisa suatu saat jika kau bercerai dengan suamimu,aku akan selalu menunggumu!!!" teriaknya tepat pintu lift menutup rapat.


Baik Elisa dan Sasha tertegun dengan ucapan Jay, "gilaa dia sangat menyukaimu El,wow saingan abangku keren juga nih." puji Dasha dengan keberanian Jay.


"huft,aku tidak ingin memikirkan itu Sha."


"harusnya bang Gazza tau kalau istrinya ditembak pria lain,aku ingin tau gimana reaksinya." ucap Dasha membayangkan kejadian itu.


Elisa menghela napas pasrah,"entahlah."


Kalau kak Gazza marah,aku mungkin akan senang. Tetapi rasanya mustahil lah .gumamnya dalam hati.


Sementara disisi lain, tepatnya di dalam pesawat Gazza tersedak saat meminum kopi yang ia pesan didalam pesawat.


"uhuk...uhuk..." Gazza menepuk dadanya pelan.


ck,kenapa rasanya ada yang membicarakan ku yaa??





~Please Forgive Me~