
Elisa langsung membantingkan badannya ke kasur sembari membenamkan wajahnya dengan bantal. Astaga,ia masih belum percaya jika dirinya begitu nekat mencium suaminya. Mau letak dimana mukanya? Elisa meredam malu sambil berguling-guling tidak jelas dikasir terus merutuki perbuatan laknatnya tadi.
Sedangkan Gazza mengumpat kesal saat tidak sengaja melihat adegan berbahaya yang dilakukan oleh pasutri Abstrud itu. Entah kapan mereka pulang,ia pun tidak tau.
"woii tutup pintunya sialan!!!" teriaknya kesal membuat pasutri tadi terkejut mendongak kearah pintu yang meninggalkan sedikit cela,spontan Zayyan langsung menutup tubuh istrinya dengan selimut.
"Gazza tutup pintu!!!" teriak Zayyan,Gazza berdecak kesal langsung menutup pintu dengan keras.
Braak.
"cih dasar sahabat nggak ada akhlak." gerutunya berlalu menuruni anak tangga,sebelumnya ia sempat melirik kearah kamarnya yang masih tertutup rapat. Ia pun menghela napas pelan seraya mengalah pada istrinya itu.
"huft,lebih baik mengalah aja." ucapnya berlalu. Ia pun pergi ke kamar tamu untuk membersihkan dirinya.
Malam pun tiba,Gazza menatap lekat ponselnya yang menampilkan surat peringatan dari kampusnya itu.Ia menghela napas pelan merasa bimbang harus memilih apa. Seketika dirinya teringat saat meninggalkan Elisa sendirian disini membuat dirinya begitu menyesal.
"cih,andai aku bawa aja Elisa kesana,mungkin tidak akan terjadi seperti ini." sesalnya pelan,ia saja bingung harus melakukan apa saat ini,disisi lain kampusnya memberikan peringatan jika lebih dari tiga hari dari sekarang ia akan dikeluarkan secara paksa,namun disisi lain ia harus mendapatkan maaf dari Elisa kalau tidak istrinya itu akan menggugat cerai padanya,ia tidak mau bercerai dengan istrinya itu.
"sudah selesai melamunnya kak?" ucap Elisa menatap dingin kearah Gazza,Gazza menghela napas,perasaan tadi mereka sempat berciuman dan tatapan Elisa terasa hangat. Namun apa ini? kenapa dia terlihat seperti dingin padanya? apa dia masih belum memaafkan Gazza?
Gazza hanya diam tanpa menjawab pertanyaan istrinya. "kalau kau udah siap melamunnya,ibu menyuruh kita makan malam." ucap Elisa berlalu meninggalkan Gazza yang masih berdiam ditempat.
"haduh,kalau aku bicara sekarang rasanya tidak tepat,manalagi dia kemarin marah mendengar aku balik kenada lagi." frustasi tidak tau harus memutuskan apa,ia pun berjalan menuju ruang makan.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka semua,entah tidak ingin mengatakan apapun atau lebih menikmati makanan yang mereka makan. Gazza pun menyudahi makannya dan beranjak dari tempatnya begitu juga dengan Elisa yang hendak menyusul suaminya.
"ibu,aku pamit ke kamar dulu." pamitnya berlalu setelah mendapat anggukan dari mertuanya. Elisa menyusul Gazza yang hendak masuk kedalam kamar tamu,tanpa pria itu sadari Elisa sudah masuk kedalam sebelum dirinya tutup pintu.
"kak Gazza." panggilnya membuat siempunya nama terjingkat kaget.
"Astagfirullah." ucapnya sambil mengelus dadanya. Ia menyergit heran saat menatap istrinya sudah berada didalam kamar,entah sejak kapan gadis itu masuk.
"ada apa?" tanyanya dengan wajah datarnya melihat istrinya hanya diam menatapnya. Elisa menghela napas pelan, "kak aku izin pergi nonton bioskop dengan Jay." pamitnya tanpa merasa bersalah jika keluar bersama dengan laki-laki lain. Ia ingin melihat reaksi suaminya apakah cemburu atau tidak.
Gazza menatap lekat kearah Elisa,jauh dalam lubuk hatinya ia ingin melarang istrinya itu pergi. Namun ia teringat jika ia melarangnya pasti hubungannya dengan Elisa akan semakin merenggang. Permasalahan akan semakin dalam,dan ia juga tidak akan berkesempatan untuk berbicara dengan Elisa nantinya.
"boleh,tapi nanti pulang tidak boleh larut malam." jawab Gazza lalu keluar dari kamar. Elisa hanya melongo menatap pintu yang terbuka lebar, sedetik kemudian ia murung dan menganggap jika jawaban suaminya itu menandakan pria itu tidak cemburu.
***
"maaf,apa kau sudah lama menunggu?" tanya Elisa pelan. Jay tidak mengindahkan ucapan Elisa,dirinya terlena dengan penampilan Elisa saat ini. Elisa hanya mengenakan Hoodie moka dipadukan dengan celana jeans hitam ditambah gadis itu mengepang satu rambutnya membuat Elisa terlihat imut Dimata Jay.
Elisa mengerut dahinya,ia pun melambai-lambai didepan wajah Jay, "hallo Jay,kau melamun??" serunya membuat pria itu tersadar.
"ah,aku tadi sedang memikirkan sesuatu." kilahnya lalu mengambil popcorn dan minumannya.
"ayo masuk,sebentar lagi filmnya dimulai." ucap Jay menarik tangan Elisa,Elisa sedikit tidak nyaman tangannya digenggam oleh Jay,perlahan ia melepaskan genggaman itu. Sontak pria itu mendongak kearahnya, "ada apa?"
"jangan berpegangan,aku tidak nyaman." ucap Elisa jujur.
"oh maaf,tapi kalau kau tidak berpegangan tangan denganku,nanti kita kesusahan didalam sana." jelas Jay yang sudah pasti hanya alibinya saja. Elisa mengangguk pelan walaupun ragu,ia pun membiarkan Jay menggenggam tangannya masuk.
Gazza mengeras rahangnya saat melihat tangan istrinya digenggam oleh pria brengsek itu. Tentu tidak semudah itu Gazza memperbolehkan istrinya pergi tanpa pengawasannya. Gazza meneliti pakaian yang dikenakan untuk aksi penyamarannya. Ia tidak ingin Elisa tau jika dirinya mengikuti dari belakang.
"rasanya aku ingin menghajar habis itu anak." gerutunya kesal. Apalagi saat ia masuk menganga tidak percaya jika tempat itu terlihat sepi. Ada beberapa jarak dari tempat duduk didalam bioskop itu duduk berpasangan dengan kekasih mereka masing-masing tak terkecuali Elisa dan Jay saat ini. Orang akan menganggap mereka sepasang kekasih yang cocok.
"sialan,Elisa tidak bilang kalau bioskopnya mulai jam setengah sepuluh malam,cih aku harus memberikan pelajaran untuknya." gerutunya hendak memergoki mereka,namun langkahnya berhenti saat mengingat untuk bersabar agar mereka berdua tidak curiga. Sontak niatnya tadi hilang dan ia pun duduk tepat dibelakang Elisa dan Jay.
Film bioskopnya pun mulai,Elisa dan Jay tampak tertarik dengan cerita film yang tengah ditayangkan saat ini. Tidak dengan Gazza yang tidak tertarik dengan cerita action itu dan hanya fokus menatap istrinya. Gazza tersenyum tipis menatap Elisa bersemangat menonton adegan parkor yang ditunjukkan aktor dalam film itu. Ia mengumpat kesal saat matanya melirik kearah Jay yang sama melakukan hal dengannya. Memandang lekat kearah Elisa dari samping membuat emosi Gazza naik.
Berhenti menatap istriku brengsek!. umpatnya dalam hati,tidak mungkin ia lontarkan secara langsung. Bisa-bisa penyamarannya sia-sia. Tidak sampai itu saja,Gazza mengepal tangannya saat melihat Jay menyuapi popcorn kemulut Elisa.
Anj**r tuh anak,mau ngajak gelud aja nih orang!!!. umpatnya lagi. Rasa kesalnya mulai menyeruak,ingin rasanya menarik Elisa dari sana dan membawa gadis itu pulang. Tetapi,akal sehatnya masih mengingatkan jika itu akan berdampak buruk untuk hubungannya dengan istrinya.
Damn! tidak bisa dibiarkan lagi!. umpatnya saat Jay dengan berani hendak mencium pipi Elisa,Gazza pun langsung menghadang dengan wajahnya sendiri.
Cup. bibir Jay mendarat sempurna dipipi Gazza,sedangkan Elisa sangat syok dengan kedatangan suaminya disini dan melihat hal yang mengejutkan dilakukan Jay.
"astaga apa yang kau lakukan Jay?!"
•
•
•
~Please Forgive Me~