
"kau itu bodoh atau tidak punya otak?" tanya Zayyan menggerutu melihat sahabatnya itu. Setelah Gazza menceritakan semua panjang lebar masalahnya,Zayyan hanya menatap datar kearah Gazza.
"ck,entahlah." jawab Gazza asal. Saat ini mereka berdua berada diruang tengah sama-sama meratapi nasib tidur diluar.
"sekarang aku tanya kau,apa kau mencintai istrimu itu? kalau tidak, tidak mungkinkan kau repot-repot menyewa wanita penggoda agar pernikahan Elisa dan Ergin gagal." tanyanya sambil menopang dagunya.
Gazza terdiam,saat itu yang terlintas dipikirannya hanya tidak ingin Elisa dimiliki oleh orang lain. Hatinya begitu marah saat Elisa bersanding dengan pria lain.
"akui sajalah Za,nggak usah mengelak gitu." ledek Zayyan terkekeh menatap wajah Gazza. Gazza menatap tajam kearah Zayyan.
Gazza langsung membaringkan badannya ke sofa tanpa menjawab ocehan Zayyan. Zayyan tersenyum ledek kearah Gazza lalu ia ikut membaringkan dirinya disofa tepat berseberangan dengan sofa yang ditiduri Gazza.
Tepat tengah malam seseorang menuruni anak tangga,lalu ia memperhatikan wajah pria yang sedang tidur damai disofa. Elisa tersenyum tipis lalu merapikan selimut yang digunakan suaminya itu.
"kalau kau tenang begini,kau sangat tampan kak." gumamnya sambil menatap lekat wajah suaminya. Setelah puas menatap wajah suaminya,ia pun pergi kedapur mengambil segelas air minum untuk menghilangkan dahaganya. Hampir saja ia memuncratkan air yang diteguknya lantaran tangan seseorang yang lancang memeluknya dari belakang. Elisa langsung segera menepis tangan laknat itu.
"lepaskan!!" sentaknya namun,tangan itu malah semakin memeluknya erat. Dapat ia rasakan deru napas yang menerpa lehernya membuat tubuh Elisa meremang.
"biarkan seperti ini sebentar." gumam Gazza memeluk istrinya erat.
Elisa tidak ingin goyah,ia pun melepaskan tangan Gazza perlahan lalu berbalik menatap suaminya, "tidak kak." lirihnya lalu berjalan keluar meninggalkan Gazza yang mematung ditempat.
Elisa berlari kecil menuju kamarnya,deru napasnya tidak teratur. "ya ampun gila,hampir saja." serunya tak percaya dengan kejadian tadi. Ia harusnya senang,jika suaminya itu mulai menerimanya namun,ia ingin memastikan suatu hal dulu.
***
"Elisa,kamu mau kemana?" tanya ibu menatap menantunya terlihat rapi.
"eh ibu,aku ingin pergi ke kampus Bu." jawab Elisa menghampiri ibu mertuanya.
"nggak sarapan dulu nak?" tanya ibu lagi. Elisa menggeleng pelan, "tidak Bu,Elisa pamit dulu ya Bu." pamitnya sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya itu. Ibu hanya mengangguk pasrah dan membiarkan menantunya pergi.
Tak berapa lama setelah Elisa pergi,Ibu dikejutkan dengan kelakuan putranya yang tergopoh-gopoh menuruni anak tangga,salah langkah saja mungkin dirinya sudah berguling-guling ditangga.
"ck,kamu kemana buru-buru nak?" tanya ibu heran. Gazza celingak-celinguk mencari seseorang namun,orang yang dicari tidak menampakkan batang hidungnya.
"kamu cari Elisa?" tebak ibu membuat Gazza menoleh dan mengangguk pelan. "dia dimana Bu?"
"barusan pergi,emang kenapa?" tanya Ibu lagi.
"dia kemana?" tanya Gazza lagi tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Ia begitu Kasak-kusuk hendak menyusul istrinya itu.
"haiiis bisa diam sebentar dulu Gazza! kamu buat ibu pusing mondar-mandir nggak jelas gini." gerutu ibu jengah melihat anaknya.
Gazza tersenyum kikuk sambil menggarukkan tengkuknya tidak gatal. "hehe...maaf Bu."
"kamu udah minta maaf belum sama istri kamu?" tanya ibu penasaran,karena yang ia lihat tadi menantunya tidak ada terlihat sedih atau bahagia. Tampak biasa-biasa saja.
Gazza menggeleng pelan,"doain aku yaa Bu,biar istriku memaafkanku. Dia ke kampus kan Bu? aku pergi dulu." pamit Gazza buru-buru keluar. Ibu hanya menggeleng-geleng lihat kelakuan Gazza. Setidaknya putranya itu sadar dengan kesalahannya,bahwa pernikahan itu bukan main-main.
Gazza melajukan mobilnya menuju kampus Elisa. Sesampai disana,Gazza enggan keluar dari mobil. Ia hanya melihat dari kejauhan kampus Gazza. Tampak satu persatu mahasiswa keluar dari gedung itu,namun ia tidak melihat istrinya diantara orang banyak-banyak itu.
Gazza berdecak kesal,ia pun keluar dari mobil dan melenggang keluar menuju kampus Elisa. Kedatangan Gazza sontak membuat para kaum hawa berdecak kagum menatap sosok pria itu. Sedangkan pria itu tampak tidak memperdulikan tatapan mereka dan fokus mencari istrinya.
Sedangkan Elisa bersenandung riang mencari buku yang ia akan gunakan sebagai referensi untuk sidangnya besok. Elisa duduk disalah satu tempat duduk yang tepat disamping jendela besar.
"astagfirullah!!" ucapnya terkejut saat ia melirik kearah seseorang yang berdiri didepan jendela,persis di hadapan Elisa.
Pria itu tersenyum tipis,lalu berlari mencari pintu masuk perpustakaan. Elisa terngaga melihat senyuman yang ditunjukkan suaminya itu. Sangat langka sekali suaminya tersenyum setampan itu.
"ya ampun jantungku,tolong bekerja samalah." gerutunya pelan menepuk dadanya pelan. Baru saja ia tenang,jantungnya kembali berpacu cepat memandang wajah Gazza yang sangat dekat dengannya. Sejak kapan pria itu masuk?
"kau disini rupanya." seru Gazza masih menampilkan senyum lebarnya. Ia pun duduk dihadapan Elisa lalu ia mengambil buku yang tengah dibaca Elisa.
"kapan kau sidang skripsi?" tanya Gazza membolak-balik buku yang dipegangnya. Sedangkan Elisa terpaku menatap kearah Gazza, "besok." jawabnya.
"Dasha,dua hari lagi." jawab Elisa tanpa mengalihkan pandangannya dari suaminya itu.
Astaga El, sadar!! kau tidak boleh terpesona dengan suami ghostingmu itu!!. gerutu Elisa dalam hati. Ia pun menghela napas pelan.
"kenapa kakak kesini?" tanya Elisa membuat Gazza mendongak kearah istrinya.
"aku ingin menjemputmu sekalian makan siang."jawabnya santai.
"hah? makan siang?" tanya Elisa melongo,pasalnya baru jam sepuluh sekarang,dan suaminya ini mengajaknya makan siang.
"iyaa,emangnya kenapa?" tanya Gazza balik.
"kak ini baru jam sepuluh loh. Makan siang dua jam lagi." jawab Elisa pelan.
"eh?" Gazza langsung melirik jam tangannya dan menepuk jidatnya pelan, "ya ampun iyaa,aku lupa. Ya sudah sebelum makan siang,kita jalan-jalan dulu." seru Gazza lagi,berharap istrinya mau ikut dengannya.
Elisa hanya menghela napas pelan, padahal dalam hatinya begitu menjerit bersorak ria akan berkencan. Namun, lagi-lagi ia tertampar dengan kenyataan bahwa pria itu belum sepenuhnya merasa bersalah. Ia takut jika dirinya terlena dengan perhatian pria itu,malah ditinggalkan begitu saja seperti sebelumnya.
Senyum Elisa memudar,lalu ia bangkit dari tempat duduknya membuat Gazza bingung dan mengikuti Elisa.
"Elisa!" panggilnya langsung memegang lengan Elisa.
"lepas kak." ucapnya dingin,ia tidak mau menoleh kearah Gazza. Ia pun menepis tangan Gazza dan melenggang keluar dari perpustakaan.
"huft,dia masih belum memaafkanku yaa." lirih Gazza membiarkan Elisa pergi. Gagal sudah rencana jalan-jalan dan makan siang bersama istrinya itu.
Hari menjelang malam,Elisa enggan melangkahkan kakinya pulang,entah kenapa hatinya menjadi galau tidak karuan. Terbesit dihatinya rasa bersalah karena meninggalkan Gazza tadi. Padahal itu adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan ia dapatkan lagi nantinya.
Satu langkah demi langkah ia jalan tak tentu arah hanya untuk menghilangkan kegusaran didalam hatinya. Rasa sesaknya masih menyeruak seluruh tubuhnya,bahkan terlintas bayangan kecelakaan kakaknya itu membuat memori kelam muncul kembali.
Elisa memandang sendu kearah langit yang setia menampakkan beberapa bintang kelap-kelip diatas. Tanpa sadar jika dirinya saat ini dalam bahaya berada di tempat yang tidak seharusnya ia berpijak. Elisa tersentak saat mendengar suara asing tak jauh darinya berdiri,sontak ia langsung melirik kearah pria berbadan kekar itu.
"hei gadis cantik,kamu mau kemana sayang?" ucapnya tersenyum seringai.
Sial,aku harus gimana?. gumamnya panik,ia bertambah panik saat tangan laknat itu mencengkram tangannya.
"lepaskan!!!" sentaknya langsung menepis tangan itu dan berlari kencang menghindarinya.
"sial dia kabur! tangkap dia!!!" seru pria jahat itu menyuruh anggotanya menangkap Elisa. Elisa berlari tak tentu arah sekencang-kencangnya,mencari tempat persembunyian.
Deg.
Langkah Elisa perlahan-lahan mulai lambat,ia memegang dadanya yang terasa sesak itu. Napasnya mulai tidak teratur. Gawat,asmanya mulai kambuh disaat tidak tepat. Elisa bahkan bisa mendengar suara samar-samar preman itu berlari,tetapi ia tidak sanggup lagi untuk kabur.
Napas Elisa semakin tercekat,sampai ada tangan yang menariknya bersembunyi. Elisa ingin berteriak namun dibungkamkan oleh seseorang didepannya ini. Orang itu tampak melirik sekilas kearah preman yang mengejar Elisa dari tempat persembunyian mereka.
"bernapas dengan benar Elisa!!" seru pria itu yang tak lain adalah Gazza menatap istrinya tersengal-sengal. Gazza teringat jika Elisa memiliki riwayat penyakit asma.
"dimana nebulizer mu?" tanya Gazza lagi,tetapi istrinya tidak mendengarkannya sama sekali membuat pria itu berdecak pelan langsung merogoh tas istrinya.
"damn! ini kosong!" umpatnya saat mengetahui nebulizer milik Elisa sudah habis. Gazza menghela napas pelan seraya menangkup wajah Elisa.
"Elisa tatap mataku! kau akan baik-baik saja,berusaha bernapas dengan baik Elisa,kau bisa sayang!!"
•
•
•
~Please Forgive Me~