Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 6



Elisa terbangun dari tidurnya memandang sekeliling ruangan,ia tidak menemukan Dasha.


"ada dimana dia?" gumamnya lalu beranjak dari kasur,sambil menggaruk-garuk kepalanya ia keluar dengan muka bantal menuruni anak tangga.


"masyaAllah anak gadis,ya ampun nak ngapa kamu belum mandi sih?!" oceh sang mama melihat penampilan putrinya yang berantakan.


"hehehehe." seru Elisa lalu berjalan menuju dapur mengambil air dingin dalam kulkas.


"Dasha mana ma?" tanyanya sambil menuangkan air dingin tadi kedalam gelasnya.


"tuh,diluar. Dia bantuin Mama nyiramin bunga. Ish kamu ini malah kayak kebo,ndak tengok kawan kamu tuh lebih rajin dari kamu hah?!" omel mama membuat Elisa menghela napas pelan.


"iya..iyaa maa,nanti aku bantu mama yaa." ucapnya pasrah lalu melangkah menuju tangga.


"eh? mau kemana?" cegah Mama saat melihat Elisa menaiki tangga.


"mau keatas,mandi maa." serunya sambil melenggang keatas. Mamanya hanya menggeleng kepala melihat tingkah anaknya itu.


"aduh itu anak." gerutu mama,baru saja beliau hendak berjalan menuju dapur ia mendengar suara dering ponselnya diatas meja. Dengan cepat ia segera mengangkat telepon itu.


"haloo, assalammualaikum."


"......"


"okee,nanti datang aja kesini,Elisa dirumah kok." seru mama.


Dengan sumringah mama menutup teleponnya dan segera melenggang menuju kamar anaknya.


"Elisa!!" panggilnya langsung menyerobot masuk ke kamar Elisa. Dapat ia dengar suara gemericik air dari kamar mandi menandakan sang anak sedang mandi.


"Elisa!" panggilnya lagi sambil menggedor pintu kamar mandi.


"yaa ma?" sahut Elisa dari dalam kamar mandi.


"nanti kamu dandan yang cantik yaa,kita kedatangan tamu!" seru mama lagi,lalu melenggang keluar kamar.


Sedangkan Elisa terdiam,ia tahu siapa yang akan datang nanti dirumahnya kalau bukan orang yang mau dijodohkan olehnya. Elisa hanya menghela napas pasrah, sia-sia ia berbicara untuk menolak pernikahan ini. Dalam hatinya masih ada tersemat seseorang,yang tak lain adalah Gazza. Orang yang kemarin membuat hatinya tersayat.


"huft,aku harus ikut yang mana? kata hatiku? atau kata orang tua?, aku bingung." lirihnya lalu ia menatap dirinya yang sudah menggunakan kimono di cermin.


"siapa yang aku pilih? memang benar mengikuti kata orang tua adalah benar. Orang tua tidak akan salah memilih jodoh untuk anaknya,tetapi lain halnya dengan hati. Hati kecil ini berbeda menyematkan nama orang yang masih ghosting ia raih.


"fyuuh Elisa,apa yang harus kau lakukan sekarang?" gumamnya lagi,lalu keluar dari kamar mandi.


"Nah akhirnya." seru Dasha yang sedang duduk dipinggir kasur sambil memainkan ponselnya. Dengan cepat gadis itu berlari kecil ke kamar mandi melewati Elisa, "Sha numpang bentar,dah kebelet." seru gadis itu tergopoh-gopoh masuk. Elisa hanya menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu.


"iyaa." ucapnya berjalan ke lemari untuk mengambil pakaiannya. Saat Elisa tengah memakai pakaiannya,ia melirik ponsel Dasha berdering. Melihat sang pemilik masih didalam kamar mandi,membuat Elisa langsung berjalan mengambil ponsel Dasha.


"Sha,ada yang nelpon nih!!" teriak Elisa.


"hah? tolong angkat El!" jawab Dasha dari kamar mandi.


Elisa langsung mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Dasha,kau pulang kan jam 10? skuylah kita pergi nonton,aku lagi bosan sekarang!" seru Gazza dari seberang sana.


Elisa terdiam,jantungnya berdetak kencang tanpa izin. Mendengar suara pria itu terus menghantui dengan perasaan bersalah.


Maafkan aku. lirihnya dalam hati,sambil memegang dadanya yang berdenyut nyeri.


"haloo? kenapa kau diam aja Sha?" seru Gazza tidak mendapatkan kunjung respon dari seberang sana.


"maaf kak,Dasha ada di kamar mandi." ucap Elisa pelan.


"o." ucap Gazza langsung mematikan teleponnya.


Elisa hanya diam,ia hanya memandangi layar ponsel Dasha yang sudah mati.


"segitukah kau membenciku kak?" lirihnya lagi.


"dari siapa El?" tanya Dasha yang sudah ada dibelakang Elisa. Elisa terkejut langsung menyeka air matanya cepat dan tersenyum pada Dasha.


"oo ini dari kakakmu Sha." ucapnya sambil menyerahkan ponsel itu pada Dasha.


"iyaa? apa katanya?"


"nji**r tumben nih anak ngajak,hmm aku mencium bau-bau mencurigakan." gumamnya sambil mengetik diponselnya.


"eh tapi seru juga sih kalau nonton bioskop nanti malam. Skuylah El ikut!" ajak Dasha bersemangat.


"hah? aku?"


"iyaa,apa kau tega membiarkan Gazza sendirian. Kalau aku sih nggak mau nemanin dia,malas." seru Dasha menggebu.


"ish,kau ini adik laknat sekali."


"iyalah aku mau kencan berdua sama Zayyan,kalau ada Gazza ntar jadi nyamuk dia."


"gilaa,kalian kurang ajar kali." umpat Elisa membuat Dasha tertawa lepas.


"aduh." Dasha tiba-tiba memegang perutnya, membuat Elisa yang melihat itu langsung khawatir.


"Dasha kenapa?" tanyanya.


Dasha menggeleng pelan, "nggak tau, tiba-tiba keram perutku." lirihnya pelan,Elisa langsung sigap membimbing Dasha berjalan ketempat tidur. Elisa membaringkan sahabatnya itu dikasur.


"fyuuh kau kenapa Sebenarnya Sha?" tanya Elisa menatap Dasha yang masih merintih kesakitan memegang perutnya.


"sssh nggak tau." gerutunya menahan sakit yang dirasakannya.


"Sha,sebaiknya kita kerumah sakit!" serunya panik menatap Dasha semakin merintih kesakitan. Mau tak mau Elisa menyambar ponsel Dasha dan mencari nomor Zayyan.


"kak Za-zay!" seru Elisa saat teleponnya diangkat oleh suaminya Dasha.


"ada apa? dimana Dasha?" tanya Zayyan merasa ada yang janggal.


"di-dia sakit perut kak,katanya keram!!" seru Elisa lagi.


"kau ada dimana El?" tanya Zayyan lagi.


"dirumahku kak," jawab Elisa.


"aku kesana." ucap Zayyan langsung mematikan teleponnya.


Tak berapa lama menit kemudian,Zayyan datang tergesa-gesa masuk kerumah Elisa. Elisa yang mengetahui kedatangan Zayyan,langsung membawa pria itu ketempat Dasha berada.


"dimana kamarnya?" tanyanya panik.


"diujung sana kak!" serunya sambil menunjuk keraau pintu kayu diujung sana. Zayyan langsung melesat menuju kamar itu,Elisa yang hendak menyusul Zayyan tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang masuk kedalam kamar tamu.


Elisa memberontak saat orang itu membungkam mulutnya,dengan segala cara ia melepaskan dirinya dari dekapan pria itu.


"diam!" sentak pria itu membuat Elisa terdiam. Ia sangat mengenal suara ini dan baru tercium aroma pria ini. Merasa dekapan itu longgar,dengan cepat Elisa berbalik badan menatap kearah pria itu.


"kak Gazza!!" pekiknya langsung menutup mulutnya.


"diam,jangan berteriak!" seru Gazza menatap tajam kearah Elisa. Sedangkan Elisa hanya terdiam sambil menghela napas pelan.


"ada apa kak?" tanya Elisa memberanikan dirinya menatap pria itu.


"apa yang kau lakukan pada Dasha? apa kau menyakitinya hah?!" cerca Gazza menatap tajam kearah Elisa.


Elisa terkejut,bagaimana pria itu bisa menuduhnya dengan serendah itu, " ya tuhan kak,kenapa kau menuduhku hah? aku tidak melakukan apapun kak!"


"lalu kenapa dia kesakitan hah? kalau bukan kau pasti dia sekarang tidak kenapa-kenapa." seru Gazza lagi.


Elisa berdecak kesal,harga dirinya sudah direndahkan oleh pria ini. Pria yang ia sukai tetapi membuat luka goresan dihatinya.


"kau asal menuduhku kak! akan ku perjelas kalau aku tidak melakukan hal jahat pada Dasha!!" bentak Elisa lalu melenggang keluar. Elisa berlari ke kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya keluar. Air matanya jatuh membasahi pipinya, sambil menangis tersedu-sedu dengan air shower membasahi tubuhnya.





~Please Forgive Me