Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 54



"sial!" umpatnya langsung melenggang pergi meninggalkan Jay dan Suha disana. Tetapi,sebelum kakinya melangkah lebih jauh,ia pun berbalik menatap Suha dengan tatapan dendam. "akan ku minta uangku kembali!" sentaknya.


Suha mematung ditempat,tidak menyangka jika bibinya yang paling ia sayangi malah menjual dirinya pada pria itu. Rasa takut yang terus menjalar membuatnya menggigil hebat. Jay langsung membawa Suha dalam pelukannya guna menenangkan gadis itu.


"sudah tidak apa-apa,kau aman sekarang." ucapnya pelan. Untung saja ia mendengar suara jeritan Suha tadi. Jika tidak, mungkin gadis itu sudah dibawa masuk oleh pria brengsek itu.


"a-aku takut kak." sesaknya membalas pelukan Jay dengan erat. Tangisannya langsung pecah bersandar didada bidang Jay.


Jay mengelus rambut gadis itu lembut dan membiarkan gadis itu meluapkan perasaannya saat ini,tetapi matanya menyipit menatap sosok orang yang tengah berjalan kearahnya. What? mami kesini?? paniknya saat menyadari jika wanita paruh baya itu adalah maminya.


Suha yang masih meluapkan perasaannya tidak sadar jika pria itu sedang mode panik dalam pelukannya,Jay celingak-celinguk untuk membawa gadis itu masuk kedalam apartemennya.


"Sudah... sudah,Suha ayo kita masuk!" ajaknya tanpa permisi menarik tangan gadis itu masuk. Jay tahu kedatangan maminya pasti ingin mempertemukannya dengan seorang gadis.


Suha masih sesunggukan duduk disofa. Ia terus menyeka air matanya yang terus membasahi pipinya. Belum sempat ia menarik napas, tiba-tiba pria yang menolongnya itu memeluknya dari belakang tepat saat seseorang membuka pintu apartemen itu.


Deg.


Suha terkejut melihat sosok wanita paruh baya tampak menatapnya sinis,sekilas ia mirip dengan pria yang kini memeluknya dari belakang. Suha tersadar langsung melepaskan paksa pelukan pria itu.


"Jay." panggil wanita itu menatapnya tajam,sementara siempunya nama hanya diam menatap balik.


"apa -apaan kau ini?! ini anak orang!!" sentak Bella—maminya Jay menjewer telinga anaknya gemas. Bella sepertinya harus memberikan pelajaran yang keras agar anaknya tidak berbuat macam-macam apalagi dengan seorang gadis yang menurutnya polos disampingnya itu.


Bella langsung melirik kearah Suha,ditatapnya dari kepala sampai ujung kaki,membuat Suha merasa salah tingkah. "siapa nama kamu?" tanya Bella pelan.


"Suha." Bukan Suha yang menjawab melainkan Jay yang berdiri disamping gadis itu.


"mami tidak bertanya denganmu,mami bertanya dengan menantu mami." seru Bella.


Baik Jay dan Suha sontak mendongak menatap maminya dengan raut terkejut. "apa?" tanya mereka spontan.


Bella menyadari sesuatu yang janggal,dilihatnya wajah gadis itu tampak sembab seperti baru saja menangis. Bella langsung memukul bahu Jay berkali-kali. "ish! ini bocah nggak ada hati! kau buat Suha menangis kayak gini,pokoknya kamu harus tanggung jawab. Nikahi dia atau mami coret dari kartu keluarga!" ancam mami sontak membuat keduanya kelimpungan.


"wait...wait mom,ini ada kesalahpahaman loh. Biar aku jelasin sebentar." cegah Jay menghadang jalan maminya untuk tidak pergi keluar. Jika tidak,kesalahpahaman ini akan terus berlanjut sampai ke telinga keluarga besarnya.


Bella menghela napas pelan,menepis tangan putranya yang terus mencegahnya keluar. "mami tidak ingin mendengar alasan apapun,kamu udah buat dia nangis kayak gitu,jadilah seorang pria yang mau bertanggung jawab Jay. Nikahi dia." ucap Bella tetap kukuh dengan keputusannya saat ini.


Jay mengacak-acak rambutnya,kesal karena maminya tidak mendengar penjelasannya. Bella sudah pulang terlebih dahulu meninggalkan anaknya yang terlihat bingung dengan kehidupannya.


Tanpa Jay sadari,jika Bella terkekeh pelan melihat ekspresi anaknya. Awalnya ia ingin menarik paksa anaknya untuk pulang bertemu dengan seorang gadis pilihannya,namun setelah melihat apa yang terjadi tadi. Ia tersenyum tipis melihat anaknya begitu keren melindungi gadis itu dari jeratan pria bertubuh kekar didepannya. Melihat kesempatan dalam kesempitan,Bella langsung menjebak keduanya untuk segera menikah. Dengan begitu,tidak lama lagi ia akan segera menimang cucu.


"anakku keren sekali." gemasnya pelan. Ia tidak sabar menggosipkan kepada keluarganya yang super cerewet. Rumah besar itu tidak seru jika penghuninya pendiam,rumah yang selalu banyak suka cita didalamnya menguatkan tali persaudaraan diantara mereka semua.


***


"SUHA DIMANA KAU?!" teriak seseorang dari luar meneriaki namanya.


Deg.


Ia kenal suara itu yang tak lain adalah bibinya,sontak Suha ketakutan dan melangkah mundur. Bahkan tanpa ia sadari mengunci pintu itu agar tidak ada satupun yang membawanya keluar.


Jujur, kejadian tadi pagi membuatnya sedikit trauma. Masih belum percaya jika bibinya tega melakukan hal itu padanya. Suha mondar-mandir mengelilingi meja makan guna mengurangi kegugupannya saat ini. Sesekali ia melirik kearah ponselnya,berharap pria itu menelponnya.


"bodoh,dia saja bahkan tidak tau nomormu." gumam Suha menyadari kebodohannya. Lebih baik saat ini ia bersembunyi dulu sampai pria itu pulang.


"DIMANA KAU SUHA?!" teriak Bibinya lagi. Sepertinya bibinya itu akan membuat kegaduhan diluar sana. Suha mengabaikan panggilan yang terus berdering diponselnya. Ia belum sanggup mendengar suara bibinya itu.


Melihat tidak ada sahutan dari Suha membuat Jay berdecak kesal. Jay dibuat kelimpungan oleh gadis yang baru ia kenal itu,sedikit merasa curiga takut terjadi apa-apa dengan gadis itu. Ia pun menelpon petugas keamanan menanyakan keadaan apartemennya.


Terkejut mendengar pengakuan petugas itu karena terjadi keributan,membuat Jay bergegas pulang ke apartemen.


"bro kau kemana?" tanya teman Jay yang melihat pria itu buru-buru pulang. Jay menoleh sekilas, "aku pulang." jawabnya.


Jay mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar sampai dengan cepat ke apartemennya. Hatinya begitu gusar dan cemas memikirkan Suha. Hampir saja ia menabrak gerobak pedagang kaki lima jika saja tidak membelokkan stirnya cepat.


Akhirnya ia sampai diparkiran apartemen dan memakir mobilnya sembarangan. Dengan cepat ia berlari menaiki anak tangga darurat.


Plaaak


Mata Jay membulat sempurna,melihat Suha ditampar oleh bibi gadis itu. Pria itu langsung berlari dan menghampiri Suha.


"hei apa yang kau lakukan?!" sentak Jay menatap tajam kearah wanita paruh baya itu. Suha langsung memegang lengan Jay dan menggeleng pelan untuk tidak melakukan apapun.


"siapa kau?! aku tidak ada urusan denganmu! aku berurusan dengan dia yang selalu membuat masalah." cerca bibi terus menghujat Suha.


"dia adalah urusan saya! saya tidak akan segan-segan memberi perhitungan pada bibi untuk menyakitinya. Kalian sama-sama perempuan tetapi tidak punya hati pada perempuan lain. Kau tau? betapa dia sangat menyayangi mu tapi kau malah berniat menjualnya!!"


Wanita paruh baya itu tersenyum sini, "huh, menyayangiku? untuk apa? aku saja tidak menyayangi dirinya. Dia hanya alat disaat waktu yang tepat. Hanya saja,dia ini selalu saja bisa lolos dari para pelangga—"


"cukup!!!" teriak Suha menatap tajam kearah bibinya. Sudah,ia tidak tahan lagi mendengar kata demi kata yang terlontar dari mulut bibinya itu. Ia yang selama ini menyayangi beliau dengan tulus malah dibalas dengan penghinaan.


"mulai hari ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi bibi,kau bukan lagi bibiku!" ucapnya melenggang masuk kedalam apartemen Jay. Sedangkan pria itu menghela napas pelan lalu mengikuti gadis yang berlari duluan kedalam. Tetapi, sebelum langkah kakinya menjauh, ia pun berbisik pelan pada bibi itu.


"nyonya,harusnya anda sadar disaat ada seseorang yang tulus menyayangi anda,harusnya ada bersyukur bukan seperti ini. Karena saya yakin tidak ada orang yang setulus Suha." Ucap Jay penuh tekanan berjalan masuk.


~Please Forgive Me~