Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 39



"iniih??" gumam Elisa memandang isi lemari Gazza. Ia tertegun melihat kotak kayu yang sangat ia kenal itu. Kotak kayu buatan kakaknya sendiri.


Deg. Elisa hanya diam memandang tanpa berniat menyentuh kotak kayu berharga itu. Dasha melirik kearah Elisa yang terlihat murung menatap kotak kayu itu.


"kenapa?" tanya Dasha menepuk bahu Elisa. Elisa menggeleng pelan lalu menutup kembali lemari yang dari tadi membuatnya bumerang. Ia rasa cukup menuntaskan rasa penasarannya dengan lemari suaminya itu.


"hmm besok akan kuganti kuncinya." lirihnya terbesit rasa bersalah membobol lemari itu tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"kenapa kau tidak bilang daritadi,aku tau dimana letak kuncinya. Tuh ada dilaci meja belajar Gazza." seru Zayyan mendongak kearah meja belajar itu. Elisa dan Dasha sontak menatap horor kearah pria itu.


"ck,kenapa nggak bilang daritadi sih bang?!" gerutu Dasha gemas melihat suaminya. Zayyan hanya cekikikan pelan, "ya maunya nanya dong." ucap Zayyan tidak mau disalahkan.


Elisa hanya menarik napas pelan,tanpa sengaja matanya melirik kearah secarik kertas yang tergeletak dilantai saat ia membuka lemari tadi. Ia pun memungut kertas itu dan membaca isinya.


...Kenangan bukan berarti dilupakan begitu saja. Entah itu kenangan buruk atau pun baik,kenangan akan selalu diingat. Kenangan adalah tempat yang berharga yang pernah singgah dalam kehidupan seseorang....


"apa maksudnya?" gumamnya setelah membaca kata-kata itu. Terasa rumit dimengerti,namun ia merasa kata-kata itu sangat berharga dan ia pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.


Deg. Elisa teringat jika waktu itu kakaknya pernah membacakan kata-kata ini saat ia dikamar kakaknya saat menulis diary.


"tunggu Diary kakak ada dimana?" gumam Elisa lagi. Elisa langsung bergegas keluar meninggalkan kamar Gazza dan membuat sahabatnya kebingungan dengan tingkahnya.


"Elisa,kau kemana?" tanya Dasha begitu melihat Elisa hendak keluar dari rumah. Elisa berbalik sekilas, "aku pulang,bye Sha. Makasih sama maaf sudah mengganggu kalian." ucapnya langsung melesat berlari menuju mobilnya.


"eh Elisaa!!!" panggil Dasha berlari mengejar kembali sahabatnya itu, namun ia telat begitu Elisa sudah melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumahnya.


"ck,anak itu ada apa sih? ya ampun tingkahnya hari ini aneh banget." gerutu Dasha mendumel sahabatnya yang sudah tidak terlihat didepannya.


"sudahlah,kamu nggak boleh stres sayang." ucap Zayyan merangkul istrinya. Dasha menatap tajam kearah Zayyan, "aku khawatir dengan Elisa bang,apa dia akan baik-baik saja? dia kan pasienmu bang!" terlihat dari sorot mata Dasha cemas dengan keadaan sahabatnya itu.


"aku yakin dia baik-baik saja,beri dia waktu." ucap Zayyan menenangkan. Ia tahu apa yang dirasakan Elisa saat ini,ia yakin adik iparnya itu akan mencari sahabatnya sampai ketemu.


"abangku brengsek juga yaa,ingin rasanya aku siram pakai air panas diwajahnya itu,biar sadar." geramnya. Lalu kembali menatap sendu kearah perkarangan rumah yang terlihat basah air hujan, "aku tidak ingin Elisa menderita." lirihnya.


***


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan ia baru saja tiba dirumah. Elisa langsung masuk kedalam kamarnya.


"fyuuh aku harus nemuin diary kakak." gumamnya pelan,ia bergegas mengambil ranselnya dan memasukkan beberapa pakaian kedalam ranselnya itu. Tujuannya besok adalah pergi kerumah lamanya dulu,di kota kelahirannya.


Tidak ingin diketahui oleh siapapun termasuk orang tuanya,ia pun langsung menyembunyikan ranselnya dibawah kasur lalu bergegas tidur.


"yes." serunya langsung melesat mengambil ranselnya,tak lupa ia mengambil sepotong roti diatas meja makan dan berlari menuju mobilnya. Tanpa menunggu lama,mobilnya melaju meninggalkan perkarangan rumahnya.


Sudah satu jam berlalu,akhirnya ia sampai di kota kelahirannya. Kota kenangannya bersama sang kakak.


"kalau aku koma dua tahun,berarti sekarang sudah enam tahun yaa menginjakkan kaki dirumah ini." lirihnya memandang sendu rumahnya itu. Dengan langkah berat,ia melangkah perlahan berjalan menuju rumahnya. Untung saja tadi ia sudah membawa kunci rumah yang ia ambil dari kamar orang tuanya tadi.


Elisa membuka pintu tua itu secara perlahan,dapat ia lihat banyak perabot rumah yang sudah tampak berdebu. Memang keluarganya tidak berniat membawa semua perabot itu pindah,karena tidak ingin mengingat kesedihan kepergian Almira. Elisa melihat sekeliling ruangan dan ia berjalan sampai didepan kamar Almira.


Ia masih terlihat ragu untuk membuka pintu kamar kakak kesayangannya itu, Kenangan itu akan kembali membuka luka yang selama ini ia pendam sendiri. Memori kejadian itu kembali terulang diotaknya,tanpa sadar air matanya kembali lolos membasahi pipinya. Tangannya menggigil memegang gagang pintu.


"tarik napas hembuskan El,tenang...tenang..." ucapnya seraya menenangkan dirinya. Ia harus kuat dan tidak boleh lemah saat ini. Dan ia harus tau keberadaan suaminya. Elisa langsung menyeka air matanya,perlahan ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kakaknya itu.


Elisa berjalan perlahan masuk kedalam kamar dan melirik semua yang ada didalamnya. "masih sama." lirihnya duduk didekat kasur yang terlihat sudah mulai lapuk. Ia pun membuka jendela kamar itu agar ruangan tidak pengap. Setelah itu,ia kembali duduk menatap kosong foto kakaknya.


Tiba-tiba ia teringat dengan tujuan awalnya datang kesini,ia pun bergegas mencari diary kakaknya. Elisa langsung berjalan menuju meja belajar kakaknya. Satu persatu laci meja kakaknya itu. Tetapi,ia tidak menemukan diary itu disana.


"ada dimana diarynya?" gumamnya celingak-celinguk mencari sekeliling kamar. Bahkan ia pun membongkar lemari kakaknya mencari diary itu,tetapi juga tidak ada.


Elisa mengusap wajahnya pelan sambil memikirkan letak diary kakaknya itu. "kalau nggak ada di meja belajar,lemari,lalu ada dimana?" gumamnya lagi.


Tiba-tiba teringat tempat yang belum dicarinya,membuatnya langsung berdiri dan mengangkat kasur itu. Dan benar,diary itu ada disana. "dapat!!" serunya mengambil diary yang terlihat usang itu. Baru saja ia hendak membuka diary itu,terdengar suara dering ponselnya. Tidak ingin diketahui oleh siapapun,ia pun langsung mensilentkan ponselnya.


"huft,sebaiknya aku harus pergi dulu." ucapnya sambil memasukkan diary itu kedalam ranselnya. Tak lupa ia menutup kembali pintu kamar dan menutup jendela. Ia melirik sekali lagi kamar kakaknya itu,menghela napas pelan lalu menutup pintu itu rapat. "semoga kakak tenang disana,maafkan aku." lirihnya lalu berlari kecil keluar dari rumah. Elisa menutup pintu rumah dan berjalan menuju mobilnya.


Ia pun langsung menancapkan gas menuju hotel,toat penginapan sementaranya disini. Setelah check-in ia pun masuk kedalam kamar hotel yang ia boking dan meletakkan asal ranselnya. Elisa berjalan menuju jendela untuk melihat pemandangan darisana.


"sudah banyak berubah." gumamnya lagi,ia pun mengeluarkan diary itu dan mulai membacanya. Rasanya ingin cemburu tetap apa boleh buat,ia hanya bisa tersenyum ketir menatap foto Gazza dan Almira terlihat mesra. "Mereka berdua tampak serasi." lirihnya lalu membaca satu persatu kalimat yang ada diary. Ada satu kalimat yang membuatnya berpikir sejenak,mungkin saja kalimat itu bisa sebagai petunjuknya mencari keberadaan Gazza.


...Harapanku,suatu hari kami akan pergi ke negara impian kami,kami sangat suka dengan guguran daun marple yang berjatuhan di tanah....


Elisa tersenyum tipis,ia tau negara yang dimaksud kakaknya,hampir persis seperti yang ada dimimpinya saat koma. "apa kau ada di Kanada sekarang kak?"





~Please Forgive Me~