
Suha dibuat bingung dan tidak tau harus membantah pria itu seperti apa,jika sekali berbicara pasti tatapan tajam itu akan tertuju padanya.
"ba-baiklah. Aku akan menghubungi bibi dulu,takutnya dia mencemaskan ku." ucap Suha langsung mengetik pesan diponselnya. Sedangkan Jay berdiam diri lalu melirik ponselnya yang tergeletak diatas nakas kamarnya berbunyi pesan masuk. Sekilas Jay tersenyum samar menebak si pengirim pesan yang tak lain adalah Suha sendiri.
#Flashback On
Jay merasa ada yang tidak beres dengan keluarga gadis itu,tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Tetapi,hatinya merasa ia harus melakukan sesuatu yang mungkin suatu hari akan ia sesalinya jika tidak berbuat apa-apa untuk gadis itu.
Jay menghapus nomor bibinya Suha dan memasukkan nomornya dengan nama kontak bibi agar Suha tidak curiga. Sedikit mempermainkan gadis itu sepertinya akan seru baginya,apalagi melihat raut ketakutan membuat ia ingin terus mengerjai gadis itu.
#flashback off
"kau bisa tidur dikamar tamu sana." serunya menunjuk kamar yang terletak disamping kamarnya. Suha mengangguk, "terimakasih. Hmm maaf aku belum kenalkan namaku. Namaku Suha,artinya seperti bintang kecil yang cahayanya tersembunyi." serunya sambil tersenyum tipis.
"aku kan tidak menanyakan namamu apalagi sampai artinya. Aku Jay."
"Jay? singkat?"
Jay berdecak kasar, "suka-suka orang tuaku lah yang memberikan nama ya mereka."
"ah,maaf aku tidak bermaksud menyinggung namamu kak."
Jay melirik makanan yang terlihat sudah matang,Suha langsung meletakkan makanan itu diatas meja. Dengan segera ia mengambil piring untuk mereka berdua.
"ini,makan dulu kak." seru Suha menyodorkan piring pada Jay. Jay menurut langsung duduk ditempatnya,dan mengambil piring itu. Suasana makan mereka sedikit canggung lantaran tidak biasa makan bersama orang asing.
Jay mengambil cepat makanan miliknya dan memasukkan dalam mulut,sejenak ia terdiam menelan masakan gadis didepannya ini.
"gmana kak? enak kan?" serunya antusias menunggu reaksi Jay. Jay mengangguk pelan, "lumayan." ucapnya terus memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.
Suha tersenyum tipis melihat Jay begitu lahap memakan masakannya. Ia pun juga menikmati makanan yang ia buat sendiri. Setelah mereka selesai makan,gadis itu langsung membereskan bekas makan mereka dan mencucinya diwastafel. Itupun tak luput dari pandangan Jay yang terus memperhatikannya tanpa ia sadari.
Jay menggeleng pelan menyadarkan pikirannya,lalu berjalan masuk kedalam kamar tanpa mengatakan apa-apa pada Suha.
Ceklek.
Suha berbalik dan melihat sekilas pintu kamar Jay yang baru saja tertutup,lalu ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
***
"sial,ada apa denganku??" gusar Jay mengacak-acak rambutnya. Pikirannya kacau tidak menentu,bisa dibilang tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan perasaan yang kini ia rasakan. Begitu ambigu dan tidak jelas,tetapi mampu membuatnya tidak tenang.
Jay merasa gusar dan tidak bisa tidur,memutuskan untuk mencari udara ditengah malam. Ia menyibak selimutnya dan berjalan mendekati pintu. Namun,saat ia hendak memegang kenop pintu, samar-samar ia mendengar suara biola berbunyi merdu diluar.
Bulu kuduknya merinding tiba-tiba,melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul dua pagi. Ia menelan saliva sambil memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.
Dengan perlahan,ia membuka pintu lalu tertegun melihat seseorang tengah bermain biolanya. Gadis itu tampak membelakangi sambil menikmati alunan Canon In D, karya J. Pachelbel disetiap senar yang dimainkannya.
Begitu juga dengan Jay,tidak menyangka jika gadis itu selihai itu memainkan biolanya. Padahal biola itu sudah lama ia simpan,karena susah mempelajarinya kini malah dimainkan oleh seorang gadis kecil bertalenta itu.
Jay bersandar diambang pintu kamarnya,sambil memperhatikan gadis itu bermain biola. Senyum tipis muncul diwajahnya yang tampan itu. Sampai alunan itu berakhir,barulah Suha meletakkan biola itu pada tempatnya.
"kak? kau belum tidur? atau aku menganggumu?" tanya Suha merasa tidak enak. Ia sepertinya terlalu bersemangat sekali untuk memainkan biola yang baru saja ia temukan didalam lemari kamar yang ditempatinya.
"menurutmu?" tanya Jay balik membuat Suha menyerngit bingung. Suha mengedik bahu tidak tau harus menjawab pertanyaan pria itu.
"kau sangat lihai memainkan biola itu, dari mana kau belajar?" tanya Jay penasaran. Entah kenapa ia ingin mendengar lagi gadis itu memainkan biolanya.
"aku belajar sendiri,waktu itu ada yang membuang biolanya didekat panti asuhanku dulu,trus karna penasaran dengan bunyinya,ya udah aku pelajari sambil liat internet. Alhasil,jadi mahir."
Jay tertegun,gadis mungil itu begitu gigih belajar memainkan biola,sedangkan dirinya yang serba ada dan selalu dipenuhi semua keinginan,malah malas untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kalau saja ia dulu tidak menyerah,mungkin saat ini ia bisa mahir memainkan biola.
"kau sungguh hebat Suha." puji Jay sambil tersenyum tipis. Suha mendadak merasakan pipinya bersemu,apalagi melihat senyuman manis pria itu membuat jantung Suha berdetak lebih kencang.
Deg.
Ada apa dengan perasaanku??
Jay mendekat membuat kegugupan Suha semakin menjadi-jadi. "eh kau mau apa?"
Jay menyerngit bingung, "aku mau kau mainkan biola ini sekali lagi." ucapnya membuat Suha langsung bernapas lega.
Jay tersenyum miring, "kenapa? kau kira aku akan melakukan apa?" serunya tentu membuat Suha gugup lagi. Rasanya Jay ingin tertawa melihat ekspresi Suha yang begitu menggemaskan.
"a-aku? nggak ada mikir apa-apa kak." ucapnya pelan menunduk tidak berani menatap mata Jay.
Jay mengangkat dagu gadis itu,agar mata mereka saling bertemu. Jay tertegun melihat wajah Suha yang ternyata sangat cantik.
"kau tidak perlu takut denganku. Kau tidak tidur sekarang? istirahat lah." ucap Jay saat melihat sesekali Suha menguap.
Jay mengacak-acak rambut Suha dan berjalan menuju kamarnya,membiarkan gadis itu mematung terdiam menatapnya.
"Lepas!! lepaskan aku tolong!!"
Deg.
Jay tersentak mendengar suara seseorang minta tolong,diliriknya sekarang pukul delapan pagi. Dengan cepat ia menyibak selimutnya dan berlari keluar kamar.
"cepat masuk!! kau itu sudah dibayar dan bibi kau itu sudah membayar mu!!" sentak pria diluar. Mendengar keributan itu,Jay langsung membuka pintu apartemennya dan terkejut saat melihat Suha sedang ditarik paksa oleh pria berhidung belang.
Jay melotot tajam dengan cepat ia menepis kasar tangan pria itu. "lepaskan dia!!"
Pria itu menatap tajam dan mendorong Jay. "kenapa kau ikut campur hah?! menyingkirlah,karena dia milikku!!"
Jay langsung menghadang dan menarik tangan Suha dibelakangnya.
"kau cari masalah denganku hah? kau mau ku laporkan polisi?!" ancam pria itu.
Jay tersenyum miring, "kau ingin melaporkan ke polisi? apa kau sadar dengan memaksa gadis ini. Apalagi kau membayarnya? itu melanggar aturan perlindungan perempuan!!"
~Please Forgive Me~