
"ck." Gazza berdecak kesal menatap istrinya yang masih tertidur pulas dikasurnya. Padahal hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi tetapi gadis itu masih nyaman dalam mimpinya. Gazza pun melirik kearah infus yang sudah kosong,tak lupa ia mengecek keadaan istrinya lagi.
"sudah mendingan." gumamnya lega. Ia pun perlahan-lahan membuka infus itu dan memplester bekas area penusukan jarum ditangan Elisa. Ia melirik kearah wajah istrinya,yang terlihat damai dan tenang. Tanpa sadar ia tersenyum melihat wajah Elisa.
Cantik. Gazza pun merapikan selimut yang digunakan Elisa dan berjalan keluar untuk membeli makanan. Dua tahun ia tinggal di daerah pemukiman ini,menghilang tanpa kabar hanya untuk menghindari sesuatu yang asing di kehidupannya. Ia sadar jika dirinya adalah pengecut yang tidak berani menghadapi tanggung jawab setelah apa yang ia lakukan.
Menikah dengan Elisa yang seharusnya tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga,malah menghilang bak hilang dari bumi. Ia sebenarnya bukan membenci istrinya hanya saja mengingat Elisa sama saja mengingat kembali Almira. Tetapi,dirinya juga tidak terima jika Elisa bersanding dengan pria lain,sungguh egois bukan?
"huft,ah sudahlah." gerutunya berjalan cepat untuk membeli sarapan paginya. Tak lupa ia juga membelikan sarapan untuk istrinya,mengingat semalam ia begitu terkejut saat melihat Elisa pingsan.
Awalnya ia kira gadis lain yang ingin diganggu oleh kedua preman yang sedang mabuk itu,namun siapa sangka jika gadis itu adalah istrinya. Bagaimana gadis itu bisa berada disini? apa yang ia cari disekitar sini?
Lamunan Gazza pun buyar saat terbentur tiang listrik. Gazza mengumpat kesal memegang keningnya yang sempat bersilaturahmi dengan tiang itu,lalu bergegas pulang kerumah kontrakannya. Bisa lebih tepat rumah pelariannya selama dua tahun itu.
Gazza begitu panik saat mendengar suara tangisan dari dalam rumahnya,dengan cepat ia langsung membuka pintu. Ia bahkan sampai termor memasukkan kunci kedalam lubang kunci, sangking kesalnya ia menendang pintu itu keras.
"bodoh kau Gazza,ini rumah kontrakan,jangan sampai menambah biaya hanya untuk ganti pintu yaa." ucapnya bermonolog sendiri. Ia pun akhirnya berhasil membuka pintu dan langsung berlari menuju kamarnya.
Braaak.
Ia begitu terkejut melihat Elisa meringkuk sambil menangis sesunggukan. Gazza langsung menghampiri Elisa. "El,El ada apa??" tanyanya cemas. Bukannya menjawab pertanyaan Gazza,gadis itu langsung memeluk erat suaminya. "jangaaan pergiii." lirihnya sesenggukan. Ia memeluk Gazza begitu erat seolah tidak ingin melepaskan pelukannya itu.
"Elisa tenanglah,aku disini." ucap Gazza pelan. Dirinya tidak mengerti mengapa gadis itu begitu ketakutan dan gemetaran. Gazza membiarkan istrinya itu memeluknya sampai tenang.
Dua puluh menit kemudian,barulah Elisa menguraikan pelukannya dan menatap lekat kearah Gazza. "maafkan aku,aku minta maaf. Aku salah yang menyebabkan kak Al pergi,harusnya aku tidak pergi kesana. Harusnya aku tidak kesana,harusnya kakak tidak menyelamatkan waktu itu,haru—"
"Elisa itu bukan salahmu!!" sentak Gazza memegang tangan Elisa erat. Ia pun menatap lekat kearah Elisa,hatinya sakit melihat tangisan Elisa yang terus menyalahkan dirinya atas kematian Almira. Sungguh,jika ia berpikir secara rasional Elisa tidak salah dalam hal ini,hanya saja keberuntungan tidak berpihak pada Almira yang membuat gadis itu tewas ditempat.
Kata seandainya terus mengakar dipikirannya,tetapi semua itu sudah terlambat dan tidak ada gunanya lagi. Semua kejadian itu seolah-olah berjalan dengan cepat sampai ia pun tidak bisa bertindak dengan cepat waktu itu.
"aku minta maaf." lirihnya lagi. Gazza menggeleng langsung memeluk istrinya. Tidak ada kata-kata yang ia ungkapkan untuk istrinya,hanya diam membisu saling memeluk satu sama lain dengan erat untuk menenangkan diri masing-masing.
Perasaan yang bercampur aduk antara keduanya tidak bisa dileraikan lagi. Kini ia paham,bukan hanya dirinya saja yang menderita melainkan gadis yang ada dalam dekapannya ini lebih menderita darinya. Harusnya Gazza mengikhlaskan kepergian Almira agar hatinya lapang dan tidak dipenuhi rasa bersalah.
Gazza pun langsung menguraikan pelukannya dan beranjak dari kasur untuk mengambil makanan diatas meja yang sempat ia letak tadi. Lalu ia berikan pada Elisa, "nih makan." ucapnya lalu keluar dari kamar tanpa mengatakan satu katapun.
***
"kemana mobilmu?" tanya Gazza pelan. Elisa menggeleng, "aku yakin tadi malam parkir disini kak."
"huft,jangan bilang—" ucap Gazza langsung menarik tangan Elisa ikut bersamanya. Entah kemana pria itu membawanya,tetapi membuat Elisa senang. Genggaman hangat yang ia rasakan,membuat semangatnya kembali tumbuh. Sampai ia menyadari kantor polisi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Gazza langsung masuk kedalam kantor polisi tersebut.
"selamat siang pak,ada yang bisa saya bantu?" tanya slaah satu petugas disana.
"saya ingin tau,apa mobil warna hitam yang terparkir didekat jembatan kemarin ada disini?" tanya Gazza.
"oh mobil itu,tadi pagi kami mendereknya karena mobil itu diparkir sembarangan,apa mobil itu punya bapak?"
"bukan itu punya dia." tunjuk Gazza kearah Elisa. Petugas tadi menoleh kearah Elisa, "maaf mbak,bisa anda tunjukkan STNK mobil anda?"
"maaf pak,STNK saya ada didalam mobil saya. Boleh saya mengambilnya?"
"baiklah,mobil anda ada diluar." ucap Petugas itu langsung Elisa berlari menuju mobilnya berada. Ia merutuki kecerobohan meninggalkan mobilnya begitu saja tanpa beban. Sangking semangatnya ia mengikuti suaminya itu,sampai lupa denagn mobilnya.
"huft,untung ada." ucapnya tenang lalu berbalik masuk kedalam kantor polisi. Setelah itu ia pun mengurus surat pelanggaran parkir sembarangan. Setelah itu barulah ia diperbolehkan membawa mobilnya kembali.
"terimakasih pak." ucapnya tulus lalu berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Gazza mengikutinya dari belakang,Elisa membuka pintu lalu mengeluarkan tasnya untuk memasukkan surat pelanggarannya kedalam tas,namun tas itu terjatuh dari tangannya membuat semua isi dalam tas berserakan.
"oh ya ampun." ucapnya langsung memungut satu persatu barang-barang yang tergeletak dilantai. Gazza melirik sekilas kearah barang-barang itu namun ia ikut jongkok dan terkejut saat melihat sebungkus obat disana. Gazza langsung mengambil dan memeriksa obat itu satu persatu.
Deg. Kenapa obatnya sebanyak ini? dan bukannya ini obat??
"apa yang terjadi padamu hah? kenapa kau bisa memiliki obat ini hah?" cercanya menatap tajam kearah Elisa. Elsia gelagapan langsung merampas obat itu yang ada ditangan Gazza. Gazza yang melihat gelagat curiga langsung merampas lagi obat itu.
"katakan padaku,apa yang terjadi hah? bagaimana kau bisa—"
"iyaa aku koma kemarin,dan dua tahun aku koma kak karena kecelakaan ditabrak mobil." ucapnya nyaris pelan.
Mata Gazza membulat sempurna,berusaha menghindari Elisa,ia justru dikejutkan dengan fakta yang baru saja terlontar dari mulut gadis itu. Dimana gadis itu koma tetapi dirinya tidak ada disisi gadis itu.
sial,kau sangat brengsek Gazza. umpatnya untuk dirinya sendiri.